"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu Buta Sang Pemungut Sampah
Gudang Berkah Arumi pagi itu sangat sibuk. Truk-truk besar bermuatan rempah pilihan berbaris rapi, menunjukkan betapa pesatnya kemajuan bisnis yang dikelola Arumi. Di tengah kesibukan itu, Setya tampak sedang berjongkok di dekat saluran air, menyikat lumut yang membandel dengan tenaga yang tersisa. Keringat bercucuran di pelipisnya, dan punggungnya terasa encok karena terus membungkuk.
Pekerjaan ini benar-benar menghancurkan sisa-sisa harga diri Setya. Tapi yang lebih menghancurkannya adalah pemandangan di lantai dua—kantor kaca Arumi. Dari posisinya di bawah, Setya bisa melihat Arumi sedang tertawa sambil menunjuk beberapa dokumen di meja bersama Dhanu. Mereka terlihat sangat serasi; yang satu cantik dan berwibawa, yang satu tampan dan mapan.
"Harusnya aku yang duduk di sana," gumam Setya sambil meremas sikat lantainya hingga buku jarinya memutih. "Dulu aku yang dipandangnya dengan cinta, bukan pria asing itu!"
Rasa cemburu itu mulai berubah menjadi obsesi yang berbahaya. Setya merasa seolah-olah ia masih memiliki hak untuk melindungi Arumi dari pria lain. Ia mulai mengabaikan tugasnya menyapu halaman dan malah terus mengawasi gerak-gerik Dhanu.
Siang harinya, Dhanu keluar dari kantor untuk menuju mobilnya. Ia membawa beberapa sampel bumbu baru yang akan dipasarkan. Setya melihat sebuah kesempatan. Ia melihat ada genangan air limbah cucian gudang yang cukup dalam di jalur yang akan dilewati Dhanu.
"Akan ku buat kamu malu di depan Arumi, pria sombong!" bisik Setya licik.
Setya sengaja menyiramkan lebih banyak air sabun ke area itu agar permukaannya menjadi sangat licin. Ia berharap Dhanu akan terpeleset, jatuh ke dalam air kotor, dan merusak setelan jas mahalnya. Dengan begitu, Arumi akan melihat betapa cerobohnya pria itu.
Saat Dhanu berjalan mendekat sambil asyik menelepon, Setya berpura-pura sibuk menyapu di dekat sana. Jantungnya berdebar kencang. Satu langkah lagi ... dua langkah lagi ...
SREEEET!
Seseorang terpeleset. Tapi bukan Dhanu.
Justru Arjuna, putra bungsu Setya, yang tiba-tiba berlari keluar dari kantor Arumi untuk mengejar Dhanu. Arjuna ingin memberikan kembali bolpoin Dhanu yang tertinggal. Karena lantai yang sangat licin akibat sabotase Setya, Arjuna tergelincir hebat dan jatuh tersungkur dengan wajah nyaris menghantam pinggiran pot beton.
"JUNA!" teriak Arumi dari balkon kantornya dengan wajah pucat pasi.
Dhanu dengan sigap langsung menangkap tubuh kecil Arjuna sebelum kepalanya membentur beton, akibatnya, kaki Dhanu sendiri yang terkilir dan jas mahalnya kotor terkena cipratan air sabun yang disiapkan Setya.
Setya mematung. Senjata makan tuan. Ia berniat mencelakai Dhanu, tapi malah hampir membuat anak kandungnya sendiri terluka parah.
Arumi berlari turun dengan histeris. Ia langsung menyambar Arjuna dari pelukan Dhanu. "Juna! Kamu nggak apa-apa, Sayang? Mana yang sakit?"
Arjuna menangis ketakutan. "Sakit, Bunda ... licin banget di sini."
Arumi menoleh ke arah lantai yang penuh busa sabun berlebihan, matanya beralih ke arah Setya yang masih memegang ember dan sapu dengan tangan gemetar. Arumi bukan wanita bodoh. Ia tahu persis bahwa area itu harusnya sudah kering sejak satu jam yang lalu.
"Setya ... apa yang kamu lakukan?" suara Arumi rendah, bergetar karena amarah yang memuncak.
"Aku ... aku tadi cuma mau bersihin, Rum. Nggak sengaja..." Setya mencoba membela diri.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Setya. Semua karyawan yang ada di area parkir terdiam seketika. Setya memegangi pipinya yang terasa panas, tapi rasa panas itu tak sebanding dengan sorot mata Arumi yang penuh kebencian.
"Kamu mau mencelakai Dhanu? Kamu begitu iri sampai tega membahayakan nyawa anakmu sendiri?!" teriak Arumi. "Lihat Juna! Kalau bukan karena Dhanu, kepala anakmu sudah pecah menabrak beton itu!"
"Aku nggak bermaksud begitu, Rum! Aku cuma..."
"Cukup! Kamu benar-benar sampah, Setya! Aku memberimu pekerjaan karena kasihan pada Ibu, tapi kamu malah membalasnya dengan cara yang menjijikkan ini!" Arumi kemudian menoleh pada Dhanu yang sedang memijat pergelangan kakinya yang bengkak. "Dhanu, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf atas kelakuan orang ini."
Dhanu berdiri dengan susah payah, ia tetap berusaha tersenyum meski wajahnya menahan sakit. "Tidak apa-apa, Arumi. Yang penting Arjuna selamat. Tapi sepertinya ... stafmu ini butuh pembinaan lebih lanjut. Dia berbahaya."
"Dia bukan stafku lagi untuk hari ini," ujar Arumi tegas. "Setya, lepaskan seragammu! Aku tidak mau melihat wajahmu di gudang ini sampai besok pagi. Dan sebagai hukuman atas kelalaianmu yang membahayakan nyawa orang lain, kamu tidak akan mendapatkan jatah makan dan gaji selama tiga hari ke depan. Pulang kamu sekarang!"
"Rum, tolong ... aku lapar, aku belum makan dari pagi..." rintih Setya.
"Makan saja sabun yang kamu sebar itu!" bentak Arumi. "Pergi sebelum aku berubah pikiran dan melaporkanmu ke polisi karena percobaan penganiayaan pada anak di bawah umur!"
Setya terpaksa melepaskan rompi birunya di depan semua orang. Ia berjalan keluar gerbang dengan langkah gontai, dihujani tatapan jijik dari rekan-rekan kerjanya. Dari kejauhan, ia melihat Dhanu masuk kembali ke kantor Arumi dengan dibantu dipapah oleh Arumi sendiri.
Pemandangan itu membuat hati Setya terasa robek. Niat hati ingin memisahkan mereka, ia justru menjadi makcomblang yang membuat Arumi merasa sangat berhutang budi dan semakin perhatian pada Dhanu.
Sementara itu, di sebuah sel sempit yang gelap, Raya juga sedang menerima hadiah yang tak kalah menyakitkan.
"Heh, pembakar gudang!" teriak Mbak Lastri. "Hari ini jatah air minum kamu dikurangi karena kamu nggak bersih nyikat WC-nya. Dan ingat, besok adalah hari kunjungan. Kalau suamimu yang kuli itu nggak datang bawa makanan enak buat kami, kamu bakal tidur di depan lubang WC!"
Raya hanya bisa meringkuk, memeluk lututnya yang gemetar. Ia meratapi nasibnya yang malang, tidak tahu bahwa di luar sana, suaminya yang ia harapkan bisa menolongnya justru sedang mengais sisa makanan di tong sampah karena tidak punya uang sepeser pun.
Hukum tabur tuai sedang bekerja dengan sangat aktif. Arumi yang dulu ditindas kini menjadi hakim atas hidup mereka, tanpa perlu mengotori tangannya sendiri dengan kejahatan. Cukup dengan memberikan kesempatan bagi Setya untuk mempermalukan dirinya sendiri.