SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Pagi hari di Bali datang dengan cahaya matahari yang cerah dan hangat, udara segar beraroma laut dan bunga-bunga tropis yang menyebar ke seluruh penjuru villa. Semua bangun dengan semangat membara, karena hari ini rencana mereka adalah berkunjung ke salah satu pantai paling indah dan ikonik: Pantai Pandawa. Setelah sarapan lezat yang disiapkan koki pribadi—mulai dari makanan tradisional Bali sampai hidangan internasional—mereka segera bersiap berangkat. Semuanya tampil dengan gaya santai, baju pantai yang nyaman tapi tetap berkelas, lengkap dengan kacamata hitam, topi, dan perlengkapan foto yang canggih.
Kendaraan mewah berjejer rapi di halaman depan. Mereka naik ke dalam mobil besar ber-AC dingin dengan pemandangan sepanjang jalan yang memukau: jalan berkelok di antara tebing-tebing kapur tinggi yang hijau rimbun, hingga akhirnya sampai di gerbang masuk Pantai Pandawa. Begitu turun dari mobil, semua serentak terpesona. Di hadapan mereka terbentang hamparan pasir putih halus seperti tepung, air laut berwarna biru gradasi hijau jernih sampai ke dasar, dan tebing-tebing megah yang mengapit pantai ini bak surga tersembunyi.
"WOHOOO! INI SIH BENERAN SURGA DUNIA! GILA INDAH BANGET SIH!" teriak Haechan paling kencang, langsung lari terobos pasir sambil menarik tangan Ningning yang tertawa-tawa mengikuti langkahnya. "Ningning sayang! Kita lari ke air yuk! Awas lo jangan ketinggalan ya, gue bakal ngejar ombak lebih cepet dari siapa pun!"
Ningning tertawa renyah, mengimbangi langkah cowoknya. "Iya iya, pelan-pelan aja nanti jatuh! Indah banget ya di sini... gue nggak nyangka pemandangannya seindah ini."
Mark dan Gisel berjalan beriringan agak di belakang, tangan mereka saling genggam erat. Gisel memandang sekeliling dengan mata berbinar kagum.
"Mark... makasih ya udah atur semuanya seindah ini. Tempatnya cantik banget, rasanya nggak mau pulang deh," ucap Gisel lembut, menyandarkan kepalanya sebentar ke lengan Mark.
Mark tersenyum hangat, mengecup puncak kepala ceweknya pelan. "Apa aja demi lo, Sayang. Gue seneng banget liat lo senyum lebar gini. Hari ini kita bakal main sepuasnya ya, nggak ada aturan, nggak ada jadwal kaku. Cuma kita dan kebahagiaan kita."
Di sisi lain, Jaemin sudah sibuk menggelar tikar besar di atas pasir bersih yang agak jauh dari keramaian, tepat di bawah pohon peneduh yang rindang. Winter duduk tenang di sana, memandang ke arah laut dengan tatapan damai dan tenang—ekspresi paling bahagia yang pernah Jaemin liat dari ceweknya.
"Winter... lo mau nyoba selancar nggak? Ombacknya di sini pas banget, nggak terlalu besar tapi cukup seru buat pemula. Gue udah sewa papan selancar khusus, dan ada instruktur pribadi juga kalau lo mau belajar," tawar Jaemin lembut sambil duduk di sampingnya.
Winter menoleh, senyum tipis mekar di bibirnya. "Boleh deh. Tapi lo yang ajarin ya? Gue cuma mau diajarin sama lo aja."
"Siap laksanakan! Gue bakal jadi pelatih paling sabar dan paling hati-hati sedunia. Gue jamin lo bakal bisa berdiri di atas papan, dan kalau lo jatuh... gue bakal nangkap lo duluan sebelum kena air," jawab Jaemin penuh percaya diri, bikin Winter ketawa kecil.
Sementara itu, Jeno dan Karina berjalan pelan menyusuri pinggir pantai, membiarkan air ombak kecil membasahi kaki mereka. Suasana di antara mereka selalu tenang, damai, dan penuh kehangatan. Karina menunjuk ke arah tebing yang ada ukiran patung-patung indah di sana.
"Jen, liat deh. Patung-patung itu ceritanya tentang legenda Pandawa kan? Indah banget ukirannya, detail dan megah. Bali emang kaya banget budaya dan keindahan alamnya ya," ucap Karina kagum.
Jeno mengangguk, merangkul bahu ceweknya agar lebih dekat. "Iya. Dan gue paling seneng bisa nikmatin keindahan ini bareng lo. Apapun tempatnya, seindah apa pun pemandangannya... kalau nggak ada lo di sebelah gue, rasanya bakal biasa aja. Lo itu keindahan sebenernya buat gue, Karina."
Karina tersipu malu, pipinya merona indah. Dia memeluk lengan Jeno lebih erat. "Manis banget sih lo hari ini... Makasih ya, Jen. Gue juga ngerasa hal yang sama."
Chenle sibuk banget beraksi di depan kamera ponsel Miyeon. Dia berpose macam-macam: berdiri gagah menghadap laut, duduk santai di atas batu, sampai melompat kecil di atas pasir—semua dengan gaya paling percaya diri dan penuh karisma.
"Lihat nih Miyeon! Hasil fotonya pasti keren banget kan? Gue emang fotogenik di mana aja sih, pantai, gunung, kota... semuanya cocok sama gue! Nanti pas diunggah, pasti banyak yang ngiri liat kita liburan sekeren ini," ucap Chenle sambil memeriksa hasil foto dengan puas banget.
Miyeon tertawa geli, mengusap rambut cowoknya yang kena angin berantakan dikit. "Iya iya, paling keren, paling ganteng, paling segalanya. Udah puas kan? Ayo kita ikutan yang lain main air, jangan cuma foto-foto terus."
"Siap Ratu gue! Apa aja perintah lo!" jawab Chenle semangat, langsung menarik tangan Miyeon lari ke arah ombak.
Dan pasangan bungsu, Jisung dan Shuhua, berjalan agak di belakang semua orang dengan tangan saling genggam erat dan malu-malu tapi bahagia banget. Sejak resmi jadian di pesawat kemarin, sikap mereka makin manis dan perhatian satu sama lain. Jisung selalu berjalan di sisi luar, menjaga agar Shuhua aman dari ombak atau orang lewat.
"Kak Shuhua... hati-hati jalannya, pasirlnya agak nggak rata. Pegang tangan gue yang erat ya," kata Jisung lembut, matanya penuh perhatian banget ke ceweknya.
Shuhua tersenyum manis, meremas tangan cowoknya. "Iya, Sayang. Makasih ya. Lo juga hati-hati ya, jangan sampai lo yang jatuh malah narik gue ikut jatuh hahaha."
"Enggak bakal! Gue kan udah jadi cowok sejati sekarang, harus kuat dan jagain Kakak terus," jawab Jisung dengan bangga, bikin Shuhua makin gemes dan sayang sama dia.
Hari itu mereka habiskan dengan seru banget. Ada yang belajar selancar—Jaemin beneran berhasil bikin Winter berdiri tegak di atas papan walau cuma sebentar, sementara Haechan malah jatuh bangun berkali-kali tapi tetap ketawa-ketawa sendiri. Ada yang main kejar-kejaran di air, berenang, atau sekadar berbaring santai di atas pasir sambil nikmatin sinar matahari. Semuanya bebas, semuanya bahagia, dan semuanya penuh canda tawa yang indah banget.
Saat sore mulai menjelang, matahari makin condong ke barat, warnanya makin keemasan hangat. Mereka semua kembali ke mobil, tapi rencana belum selesai. Malam ini sudah disiapkan kejutan spesial: Makan malam pribadi romantis di pinggir pantai, lengkap dengan meja hias, lampu-lampu gantung, bunga, dan suara musik alunan biola yang lembut.
Lokasinya di pantai lain yang lebih sepi dan eksklusif, dipesan khusus hanya untuk mereka berempat belas. Begitu turun dari mobil, mereka semua terpesona lagi. Di atas hamparan pasir bersih, ada meja panjang indah yang dihias cantik dengan kain putih bersih, karangan bunga segar, dan lilin-lilin menyala yang bikin suasana makin hangat dan magis. Di belakang mereka ada laut yang tenang, suara deburan ombak halus jadi irama alami, dan langit malam yang mulai bertabur bintang terang banget.
"Wah... gila mewah banget sih! Ini sih kayak di film-film aja ya!" seru Haechan sambil memutar badan kagum liat sekeliling.
Mark tersenyum bangga, dia yang mengatur semua ini diam-diam buat bikin teman-temannya senang. "Makan malam ini spesial banget. Menu makanannya makanan laut segar paling enak, dimasak sama koki terkenal. Kita nikmatin aja ya, rayain hari pertama petualangan kita yang indah ini."
Mereka duduk berpasangan masing-masing. Cahaya lilin memantul di mata mereka, menciptakan bayangan lembut di wajah-wajah bahagia itu. Musik biola mengalun pelan, lagu-lagu romantis yang pas banget sama suasana.
Di meja makan itu, percakapan mengalun hangat dan akrab. Mereka ngobrolin hal-hal lucu pas siang tadi, cerita momen-momen seru, dan saling berharap semoga sisa liburan ini makin indah lagi.
Mark mengangkat gelas minuman, menatap semua orang dengan mata berbinar.
"Buat kalian semua... sahabat terbaik gue, dan orang-orang paling berharga di hidup gue. Liburan ini bukan cuma soal jalan-jalan atau mewah-mewahan. Tapi ini soal kita. Soal kebersamaan kita, soal cinta yang kita punya sama pacar kita, dan persahabatan kita yang nggak bakal putus selamanya. Gue bersyukur banget bisa ada di sini bareng kalian semua. Selamat makan, dan selamat nikmatin kebahagiaan kita!"
"SELAMAT!" seru mereka semua serentak sambil beradu gelas, suara tawa dan sorak gembira menyatu indah di bawah langit bintang Bali.
Setelah makan selesai, mereka semua duduk melingkar di atas pasir, menjauh sedikit dari meja makan. Api unggun kecil disiapkan di tengah, memberikan cahaya hangat dan keamanan. Suasana makin damai dan romantis banget.
Gisel bersandar di dada Mark, memandang api unggun di depan. "Mark... rasanya gue pengen waktu berhenti di detik ini aja. Bahagia banget rasanya, lengkap banget rasanya."
Mark mengelus rambut panjang ceweknya pelan, mengecup puncak kepalanya. "Gue juga, Sayang. Tapi tenang aja, kebahagiaan ini nggak bakal berhenti. Masih banyak hari indah lagi nunggu kita, baik di Bali maupun pas kita balik ke sekolah nanti. Kita bakal selalu gini terus, bareng-bareng."
Di sisi lain, Haechan dan Ningning duduk berdua agak jauh dari lingkaran, di pinggir air laut. Ombak kecil menyapu pasir di dekat kaki mereka.
"Ningning... lo tau nggak? Dulu gue nggak pernah bayangin bakal senahagia ini. Punya lo, punya teman-teman hebat... hidup gue jadi berwarna banget," kata Haechan serius banget, jarang banget dia ngomong sehati itu.
Ningning tersenyum lembut, menyentuh pipi cowoknya. "Gue juga, Haechan. Lo yang bikin hidup gue jadi berisik tapi indah banget. Tetep gini terus ya? Tetep jadi diri lo sendiri yang ceria dan manis."
Jaemin merangkul bahu Winter yang kedinginan dikit kena angin laut. Dia melilitkan jaketnya ke bahu ceweknya. "Panas dikit ya? Biar lo tetep hangat. Gue seneng banget lo mau ikutan main siang tadi, seneng banget liat lo ketawa lepas gitu."
Winter menatap cowoknya dengan mata paling lembut. "Makasih ya, Jaemin. Semua ini karena lo. Semua kebahagiaan gue belakangan ini karena lo ada."
Momen indah itu terasa abadi. Di bawah langit penuh bintang, di pinggir laut Bali yang tenang, enam pasangan remaja itu saling mencintai, saling menjaga, dan saling berjanji dalam hati buat selalu ada satu sama lain. Hari ini udah jadi kenangan terindah, tapi mereka tau... petualangan masih panjang, dan besok bakal ada hal-hal seru dan indah lagi yang nunggu buat dijelajahi bareng-bareng.