Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vania Menjemput
Hari Minggu sore. Suasana di dalam toko buku Gramedia terasa sejuk dan tenang. Aku dan Rasya sedang asyik membaca di sudut ruangan—ia sibuk membaca buku berjudul Psikologi Gelap, sedangkan aku memilih novel roman remaja, meski sedikit merasa malu memegangnya.
“Nayla, serius kamu baca buku itu?” tanya Rasya sambil melirik sampul buku yang bergambar seorang pemuda berwajah tampan dengan kacamata.
“Ini bagus lho. Ceritanya tentang cinta terlarang antara dua kerajaan yang saling bermusuhan.”
“Kedengarannya seperti alur sinetron saja.”
“Memang seperti sinetron versi buku, tapi tetap menyenangkan dibaca!”
Rasya hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun senyum tipis tak mampu disembunyikan dari wajahnya.
Tepat saat kami larut dalam kesibukan masing-masing, ponselku bergetar di saku.
Vania (15.33): “Nay, kamu di mana? Aku ada di mal, katanya kamu ada di sini juga?”
Aku segera memperlihatkan layar ponselku kepada Rasya. Wajahnya yang tadinya santai langsung berubah menjadi tegang.
“Vania tahu kamu ada di sini?” tanyanya pelan.
“Mustahil dia tahu. Aku tidak memberitahu siapa pun soal rencanaku hari ini.” Aku berpikir sejenak. “Aku hanya sempat menyebut kepada Andre kalau hari Minggu ini aku akan pergi ke toko buku, tapi tidak menyebutkan toko yang mana.”
“Jadi Andre yang memberitahunya?”
“Atau justru Vania yang sedang mengawasi gerak-gerik kita?”
Rasya segera menggenggam tanganku. “Lebih baik kita pergi sekarang juga.”
Namun sebelum kami sempat berdiri, sebuah suara yang sudah tidak asing lagi terdengar dari arah pintu masuk.
“Nay! Tuh kan, benar saja kamu ada di sini!”
Vania melambai-lambai sambil berjalan mendekat, diikuti oleh seorang pemuda yang wajahnya sangat kukenal.
Rio. Teman dekat Vania di kehidupan sebelumnya. Seorang yang cerdas, pandai berbicara dengan kata-kata yang menusuk, dan paling ahli dalam hal… merusak mental orang lain secara perlahan.
Keduanya berhenti tepat di hadapan kami.
“Nay, perkenalkan, ini Rio. Teman lamaku dari Bandung. Dia juga baru pindah ke sekolah kita,” ucap Vania sambil tersenyum penuh makna. “Pasti kalian akan cepat akrab.”
Rio menatapku lekat-lekat—bukan tatapan biasa, melainkan tatapan yang seolah sedang mengukur, mencari celah, dan menemukan kelemahan.
“Halo, Nayla,” sapaannya terdengar lembut dan sopan, namun matanya terasa sedingin es. “Vania sudah banyak bercerita tentangmu.”
“Bercerita apa saja?” tanyaku berusaha tetap tenang.
“Bercerita kalau kamu… istimewa.”
Kata istimewa diucapkannya dengan nada yang aneh, seolah ia menyimpan makna tersembunyi di baliknya. Seolah ia mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui orang lain.
Rasya segera berdiri, tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Rio. “Maaf, kami sedang sibuk.”
“Wah, tidak apa-apa, tidak mengganggu kok,” jawab Rio sambil tersenyum, namun senyumnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. “Kami hanya ingin berkenalan saja.”
“Sudah berkenalan. Sekarang permisi.” Rasya meraih tanganku dan membimbingku berdiri.
“Jangan buru-buru dong,” potong Vania sambil berdiri di depan kami menghalangi jalan. “Kan aku temannya Nayla. Masa teman saja tidak boleh mengobrol sebentar?”
“Boleh saja,” sahut Rasya menatap tajam ke arah Vania. “Tapi tidak sekarang.”
“Nay, pacarmu ini galak sekali ya,” kata Vania sambil mengalihkan pandangannya kepadaku.
“Dia bukan pacarku,” jawabku cepat. “Tapi dia pelindungku. Sama saja pentingnya.”
Vania dan Rio saling bertukar pandang sekilas. Lalu Rio tertawa kecil.
“Menarik sekali.”
Ia melangkah mendekat—terlalu dekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang menyengat.
“Nayla, hati-hati ya,” bisiknya tepat di telingaku, pelan agar hanya aku yang bisa mendengar. “Dunia ini sangat kejam bagi mereka yang terlahir kembali.”
Tubuhku seolah membeku di tempat.
Dia tahu. Mereka berdua tahu rahasia itu.
Rio mundur selangkah, lalu tersenyum lebar. “Sudah, Van. Lebih baik kita pergi saja. Sepertinya mereka memang sedang sibuk. Jangan sampai kami mengganggu.”
Ia menarik tangan Vania, dan keduanya berjalan meninggalkan toko buku, menyisakan aku dan Rasya yang masih berdiri terpaku di antara deretan rak buku.
Rasya menggenggam tanganku dengan erat. “Kamu mendengarnya kan?”
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tanganku terasa dingin, bahkan seluruh tubuhku seolah kehilangan kehangatan.
“Iya, dia tahu.”
“Apakah Vania juga tahu? Atau hanya Rio saja?”
“Aku belum pasti. Tapi satu hal yang jelas…” Aku menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantung yang berpacu cepat. “Kita tidak sendirian. Ternyata ada lebih banyak orang yang terlahir kembali daripada yang kita duga.”
Rasya memicingkan matanya, pandangannya tajam penuh kewaspadaan. “Dan tidak semuanya berpihak padamu.”
“Atau padamu.”
Kami berdua terdiam sejenak, merenungkan fakta baru yang baru saja terungkap. Pertarungan ini ternyata tidak hanya melawan dua musuh lama, melainkan bisa jadi melawan sekelompok orang yang memiliki rencana yang jauh lebih besar dan berbahaya.