Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Hukum Ketiadaan dan Gerbang Istana Perunggu
Malam di Alam Rahasia Lembah Musim Gugur tidak membawa kegelapan, melainkan pendaran cahaya jingga suram dari langit yang tampak seperti lautan darah yang mengering.
Lin Tian melangkah menembus rimbunnya hutan berduri dengan kecepatan santai, namun setiap langkahnya memotong jarak hingga belasan meter, memendekkan ruang menggunakan tenaga fisik kakinya. Di dalam perutnya, Inti Teratai Pedang berputar pelan. Setiap kali benda itu berputar, sebuah medan tak kasat mata menyelimuti tubuh Lin Tian, melahap seluruh sisa energi Qi liar di udara dan memurnikannya menjadi Niat Pedang murni untuk memperkuat tulang-tulangnya.
Tiba-tiba, dari atas dahan pohon hitam di atasnya, seekor Macan Tutul Berekor Besi—binatang buas tingkat 3 puncak yang kekuatannya setara dengan kultivator Pembangunan Pondasi Akhir—menerkam tanpa suara.
Macan tutul itu membuka rahangnya, menembakkan bilah angin terkompresi (Qi) yang sangat tajam, cukup untuk membelah bukit kecil menjadi dua. Bilah angin itu melesat lurus ke arah leher Lin Tian.
Lin Tian tidak menghindar. Ia bahkan tidak mengangkat tangannya.
ZRAASH!
Saat bilah angin beraura destruktif itu berjarak satu inci dari kulit leher Lin Tian, aura perak memancar redup dari dadanya. Hukum Inti Teratai Pedang aktif secara pasif. Bilah angin pembunuh itu tiba-tiba hancur berkeping-keping seperti kaca rapuh yang menghantam dinding berlian, lalu menguap menjadi ketiadaan tanpa meninggalkan bekas luka sekecil apa pun di kulit Lin Tian.
Kemampuan melahap dan memotong energi Qi!
Macan Tutul Berekor Besi itu terbelalak di udara, insting buasnya mendadak menjeritkan tanda bahaya mutlak. Namun terlambat.
Lin Tian mendongak. Ia mengangkat tangan kanannya yang memiliki Tulang Pedang Sejati dan menjentikkan jarinya ke arah binatang buas raksasa yang masih berada di udara.
BOOM!
Satu sentilan murni dari kekuatan fisik itu menghasilkan peluru udara yang melesat melebihi kecepatan suara. Peluru udara itu menembus tepat di tengah kepala si macan tutul, meledakkan tengkoraknya sebelum tubuh tanpa kepala itu jatuh berdebam di dekat kaki Lin Tian.
"Sihir tingkat rendah tidak lagi berguna melawanku," gumam Lin Tian datar. Ia melanjutkan langkahnya, mengabaikan bangkai binatang buas yang menjadi buruan elit sekte itu seolah hanya menginjak semut.
Tiga jam kemudian, di jantung Lembah Musim Gugur.
Pohon-pohon hitam dan rawa darah telah tertinggal jauh di belakang. Di hadapan area ini, terbentang sebuah alun-alun raksasa yang terbuat dari batu pualam abu-abu yang dipenuhi retakan pertempuran masa lalu. Di ujung alun-alun, tertanam ke dalam punggung gunung batu, berdiri sebuah Istana Perunggu raksasa kuno.
Gerbang perunggunya setinggi tiga puluh meter, diukir dengan mural ribuan manusia yang sedang mengangkat pedang mereka menantang langit. Istana ini adalah pusat peninggalan dari Alam Rahasia Lembah Musim Gugur.
Saat ini, alun-alun itu dipenuhi oleh puluhan kultivator jenius terkuat yang berhasil selamat dari jebakan mematikan alam rahasia. Namun, suasana di sana sangat tegang.
Murid-murid dari sekte lokal seperti Paviliun Angin Musim Gugur (termasuk Feng Wuhen yang tampak pucat dan kehilangan satu lengannya) serta sisa-sisa sekte lainnya berdiri dengan kepala tertunduk di satu sisi alun-alun. Mereka tidak berani melangkah maju.
Di depan gerbang Istana Perunggu, berdiri sekelompok kecil kultivator muda berjubah putih bersih dengan sulaman pedang emas di dada mereka. Mereka memancarkan aura arogansi yang menindas. Ini bukan murid dari sekte pinggiran. Mereka adalah elit dari Sekte Pedang Surgawi, salah satu raksasa dari Benua Tengah yang secara khusus turun ke pinggiran untuk mengambil peninggalan ini.
Pemimpin mereka, seorang pemuda tampan dengan mata tajam bernama Chu Yun, sedang membelai sarung pedangnya dengan jijik sambil menatap para jenius lokal.
"Kalian sampah dari sekte pinggiran dengarkan baik-baik," suara Chu Yun bergema, mengandung tekanan Qi Puncak Pembangunan Pondasi yang sangat murni. "Istana Perunggu ini sekarang berada di bawah yurisdiksi Sekte Pedang Surgawi. Jika ada satu saja dari kalian yang berani melangkah maju sejauh sepuluh langkah, aku akan membantai seluruh klan dan sekte kalian. Mengerti?"
Feng Wuhen menggertakkan giginya menahan penghinaan, tapi ia tidak berani melawan. Kultivasi Chu Yun terlalu mengerikan, dan latar belakang Tanah Suci di belakangnya adalah sesuatu yang bisa menghancurkan sekte pinggiran hanya dengan satu perintah.
Chu Yun berbalik menghadap gerbang perunggu raksasa. "Gerbang ini disegel oleh Formasi Pedang Kunci Darah kuno. Butuh darah dari praktisi pedang fana untuk membukanya. Bawa mereka!"
Dua murid Sekte Pedang Surgawi menyeret maju lima kultivator pengembara lokal yang terluka parah. Tanpa ampun, mereka menggorok leher kelima kultivator itu dan menumpahkan darah mereka ke alur ukiran di depan gerbang perunggu.
"Tuan Muda Chu, darah sampah-sampah ini kurang murni. Gerbangnya hanya bereaksi sedikit," lapor salah satu pengawal.
Chu Yun mengerutkan kening. Pandangannya perlahan beralih ke arah kumpulan elit sekte lokal, tepatnya ke arah Feng Wuhen dan sisa murid Paviliun Angin Musim Gugur. "Kalau begitu, kita gunakan darah para jenius lokal ini. Tangkap mereka!"
Wajah Feng Wuhen pucat pasi. "Tuan Muda Chu! Kami dari Paviliun Angin selalu menghormati sekte Anda! Anda tidak bisa—"
"Menghormati kami? Menjadi darah tumbal untuk sekteku adalah kehormatan tertinggi bagi kalian," potong Chu Yun sambil tersenyum sinis.
Para pengawal Sekte Pedang Surgawi menghunus pedang mereka, melesat ke arah kelompok Feng Wuhen. Keputusasaan menyelimuti alun-alun. Mereka baru saja lari dari monster berbaju abu-abu di rawa darah, dan sekarang mereka akan dijadikan tumbal oleh penguasa Benua Tengah!
Namun, tepat sebelum pedang para pengawal itu menyentuh leher murid Paviliun Angin...
TAP. TAP. TAP.
Suara langkah kaki yang pelan dan ritmis menggema dari arah lorong kabut masuk alun-alun. Suaranya tidak keras, tetapi anehnya menembus semua kebisingan, membuat jantung setiap orang yang mendengarnya berdetak tidak teratur.
Semua mata, termasuk Chu Yun, menoleh ke sumber suara.
Dari balik kabut jingga, sesosok pemuda berjubah abu-abu kusam dan memakai topi caping bambu melangkah keluar. Ia berjalan lurus membelah alun-alun menuju Istana Perunggu, seolah puluhan elit Pembangunan Pondasi di sekitarnya hanyalah patung batu yang tak bernyawa.
Mata Feng Wuhen membelalak hingga nyaris robek. "M-Monster itu..." bisiknya dengan bibir bergetar, tanpa sadar merangkak mundur, keringat membasahi seluruh punggungnya. Ia lebih memilih menghadapi siksaan Chu Yun daripada berhadapan dengan iblis ini lagi.
Lin Tian tidak mempedulikan reaksi Feng Wuhen. Matanya dari balik caping hanya terkunci pada Gerbang Perunggu di ujung sana. Ia bisa merasakan panggilan Niat Pedang dari dalam istana kuno itu beresonansi kuat dengan Seni Pedang Sembilan Kematian-nya.
"Berhenti di sana, Pengemis!" bentak salah satu pengawal Sekte Pedang Surgawi, kesal karena ada seseorang yang berani mengabaikan otoritas mereka.
Dua pengawal dari Benua Tengah itu melesat ke arah Lin Tian, pedang mereka menyala dengan aura spiritual emas. "Mati!"
Dua pedang menebas ke arah leher dan dada Lin Tian secara bersamaan.
Lin Tian tidak berhenti berjalan. Ia membiarkan pedang spiritual kebanggaan Benua Tengah itu menghantam tubuhnya.
TRANG! TRANG!
Bunyi logam patah bergema nyaring. Dua pedang spiritual tingkat menengah itu terbelah menjadi belasan kepingan saat menyentuh bahu Lin Tian, seolah mereka baru saja menebas gunung baja.
Kedua pengawal dari Benua Tengah terbelalak kaget. Namun sebelum mereka bisa merespons, Lin Tian terus berjalan maju, bahunya menabrak dada kedua pengawal tersebut tanpa sengaja.
BAM! BAM!
Tabrakan "ringan" dari bahu Tulang Pedang Sejati itu menciptakan ledakan kinetik di dalam tubuh kedua pengawal. Dada mereka amblas seketika, organ dalamnya hancur menjadi bubur. Tubuh mereka terlempar ke udara dan jatuh ke tanah sebagai mayat, darah menyembur dari mulut mereka.
Langkah Lin Tian masih belum berhenti, ritmenya sama sekali tidak terganggu.
Keheningan mutlak menyelimuti alun-alun. Chu Yun dari Sekte Pedang Surgawi memicingkan matanya, keterkejutan yang luar biasa melintas di wajahnya. Pengawalnya adalah elit Puncak Pembangunan Pondasi yang dilatih khusus di Benua Tengah! Dibunuh hanya dengan ditabrak?!
"Seni kultivasi fisik tingkat apa ini?!" Chu Yun menggeram, kesombongannya merasa terancam. Ia menghunus pedang peraknya. "Berani membunuh anjing dari Sekte Pedang Surgawi, kau sama saja mengumumkan perang dengan seluruh Benua Tengah! Siapa namamu?!"
Lin Tian akhirnya menghentikan langkahnya, berjarak sekitar dua puluh meter dari Chu Yun dan Gerbang Perunggu. Ia perlahan mengangkat kepalanya, menyingkirkan pinggiran caping bambunya, memperlihatkan mata yang dihiasi kilau perak redup.
"Benua Tengah," suara Lin Tian terdengar datar, sekeras es abadi. "Apakah anjing di sana selalu menggonggong sekeras ini sebelum mati?"
Wajah Chu Yun berubah merah padam. "Cari mati! Pedang Surgawi Membelah Awan!"
Chu Yun melesat maju, kecepatannya meninggalkan bayangan (afterimage). Seluruh Qi di Dantiannya diledakkan, membentuk pilar cahaya pedang emas raksasa yang menyelimuti tubuhnya. Ini adalah jurus mematikan tingkat tinggi yang bisa membunuh setengah ahli Inti Emas! Aura destruktifnya meretakkan lantai pualam di bawahnya.
Namun, di mata Lin Tian, serangan yang dibanggakan jenius Benua Tengah itu hanyalah gumpalan energi rapuh.
Lin Tian mengambil napas pelan. Inti Teratai Pedang di perutnya berputar cepat. Ia menarik tinju kanannya ke belakang. Niat Pedang Sembilan Kematian berkumpul di kepalan tangannya, menciptakan ruang hampa udara yang menyedot cahaya di sekitarnya.
Saat Chu Yun berada di depannya, Lin Tian meninju ke depan.
BAMMMMMMMMM!!!
Tinju Lin Tian menghantam ujung pilar cahaya pedang emas Chu Yun. Tidak ada perlawanan. Formasi pedang kebanggaan Tanah Suci itu hancur berkeping-keping layaknya kaca jendela yang dihantam palu raksasa.
"Mustahil—!" Chu Yun menjerit ngeri saat energi Qi-nya dipotong dan dilahap habis oleh aura ketiadaan Lin Tian.
Tinju perunggu Lin Tian tidak berhenti, melesat terus dan menghantam tepat di tengah dada Chu Yun.
KRAAAAK!
Tulang dada Chu Yun remuk ke dalam. Pemuda jenius dari Benua Tengah itu memuntahkan darah segar beserta serpihan jantungnya. Tubuhnya terlempar ke belakang dengan kecepatan peluru meriam, langsung menuju Gerbang Perunggu raksasa di belakangnya.
DDUUUAAARRR!!!
Tubuh Chu Yun menghantam Gerbang Perunggu dengan kekuatan hantaman yang tak masuk akal. Mayat jenius sombong itu hancur menjadi bercak darah di atas ukiran pintu raksasa.
Darah Chu Yun yang merupakan darah kultivator dengan fondasi sangat murni mengalir masuk ke dalam alur formasi gerbang perunggu. Ditambah dengan sisa energi kinetik dari pukulan Lin Tian yang menggetarkan fondasi gunung, gerbang kuno yang telah tertutup selama ribuan tahun itu akhirnya mengeluarkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
KREEEEAAAKKK...
Gerbang Perunggu perlahan terbuka belah dua, melepaskan hembusan angin purba yang membawa bau darah dan dominasi seorang Raja Pedang dari masa lalu.
Di alun-alun, sisa-sisa elit sekte lokal pingsan di tempat karena teror absolut. Elit dari Benua Tengah... jenius tak terkalahkan itu... mati dibunuh dalam satu serangan pukulan biasa oleh pemuda bertopi caping!
Lin Tian tidak melirik mayat Chu Yun yang menempel di pintu. Ia melangkah menaiki tangga pualam dan berjalan masuk ke dalam kegelapan Istana Perunggu yang terbuka lebar.