NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Suasana di dalam apartemen terasa sepi dan dingin saat Bianca melangkah masuk. Rebecca sedang pergi berjalan-jalan bersama Isabella, mungkin sedang menghabiskan uang hasil taruhan yang mereka menangkan atau sekadar berburu barang-barang bermerek terbaru. Bianca sendirian di sana, benar-benar sendiri dan hanya ditemani oleh pikiran-pikirannya yang mulai berputar kacau seperti kawanan tawon yang mengamuk di dalam kepalanya.

Ia melempar tasnya ke sembarang tempat, lalu berjalan dengan langkah berat menuju kamarnya. Di depan meja rias, Bianca duduk diam terpaku. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di sana. Wajah yang tadi siang ia hiasi dengan senyum polos dan akting yang sempurna, kini tampak begitu lelah dan tak berdaya. Matanya yang merah bukan lagi hasil rekayasa untuk berakting, melainkan dampak dari beban berat yang hampir melewati batas kemampuannya menampung.

Bzzzt... bzzzt...

Ponsel yang tergeletak di atas meja rias bergetar hebat. Nama "Gwen" tertera jelas di layar. Bianca hanya melirik sekilas dengan tatapan yang kosong dan hampa. Ia membiarkan panggilan itu berhenti sendiri, lalu bergetar lagi, dan berhenti lagi. Untuk saat ini, ia sedang tidak ingin menjadi sosok yang pandai memanipulasi keadaan. Ia sedang tidak ingin menjadi tokoh utama dalam drama balas dendam yang ia buat sendiri.

Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk lewat aplikasi obrolan.

[18.45] Gwen: Bi, kok nggak diangkat? Gue lagi jalan ke apartemen lo nih. Gue beliin sushi favorit lo sama ada beberapa cemilan. Keluar yuk, kita nonton atau apa kek gitu. Lo jangan sedih terus gara-gara kejadian di taman tadi.

Bianca membaca isi pesan itu sekilas dari bilah notifikasi di layar kunci. Ia sama sekali tidak berniat membalas, bahkan tak ingin membuka pesan itu sepenuhnya. Ponsel itu pun ia letakkan begitu saja di atas kasur dengan posisi menghadap ke bawah. Ia kembali menatap bayangannya sendiri di cermin.

"Kenapa harus begini?" bisiknya dengan suara parau. Suaranya terdengar pecah dan hilang ditelan keheningan kamar yang sunyi.

Pikirannya berantakan tak karuan, hancur lebur persis seperti kapal yang dihantam badai besar di tengah samudera luas. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Bianca sebenarnya hanya ingin hidup dengan tenang. Ia ingin bangun di pagi hari tanpa harus memikirkan siasat atau rencana apa pun, ia ingin menikmati tawa yang tulus bersama ayahnya dan Rebecca tanpa dibayangi rasa takut, rasa bersalah, atau ingatan akan pengkhianatan. Tapi kenapa rasanya dunia ini seolah tak pernah mengizinkannya untuk bahagia? Kenapa setiap kali ia mencoba berdiri tegak kembali, takdir selalu punya cara untuk menjatuhkannya lagi ke dalam lumpur?

"Gue capek..." Bianca menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakan halus mulai terdengar dari mulutnya. "Gue bener-bener lelah harus pura-pura kuat setiap detik."

Ia ingin sekali memperlihatkan sisi rapuhnya pada dunia. Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya bahwa dirinya sedang hancur berkeping-keping. Namun di sisi lain, rasa harga diri dan dendam yang membara itu melarangnya melakukan hal itu. Jika ia menunjukkan kelemahan, ia merasa dirinya akan menjadi sesuatu yang tak berharga dan terbuang. Ia tidak mau dianggap remeh oleh keluarga Anderson.

Lama ia diam dalam posisi menunduk itu, sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah gunting kecil berkilauan yang terletak tak jauh dari jangkauan tangannya di atas meja rias. Dengan gerakan yang lambat dan kaku, seolah digerakkan oleh sesuatu yang gelap di dalam dirinya, tangan Bianca meraih benda tajam itu.

Ia menggenggam seikat rambut panjangnya yang hitam berkilau dan indah, rambut yang selama ini ia rawat dengan penuh kasih sayang. Rambut yang dulu sering diusap lembut oleh Jonathan sambil membisikkan pujian bahwa Bianca adalah gadis paling cantik yang pernah ia temui.

Sret!

Suara helai rambut yang terpotong terdengar begitu nyaring dan tajam di telinganya di tengah keheningan itu.

"Gue benci rambut ini..." Bianca mulai menangis dengan sangat pilu. Isakannya makin menjadi hingga berubah menjadi jeritan tertahan.

Sret! Sret!

Ia terus menggunting rambutnya secara sembarangan dan tak beraturan. Potongannya tidak rapi, berantakan, dan rambut-rambut itu jatuh berserakan di lantai persis seperti dedaunan kering yang berguguran di musim kemarau. Sekelebat ingatan masa lalu saat Jonathan mencium lembut rambutnya, kini beradu dengan ingatan kejadian tadi siang saat ia berada di dalam pelukan pria pengkhianat itu. Semua kenangan itu bergema keras di kepala Bianca, membuatnya merasa mual sekaligus jijik pada dirinya sendiri.

"Gue benci lo, Jo! Gue benci cinta! Cinta itu sampah!" teriaknya sambil terus membabat habis rambut indahnya tanpa henti.

Di puncak rasa putus asanya itu, mata Bianca yang sudah gelap tertutup emosi kini tertuju pada lengannya yang putih bersih. Rasa sakit yang menyiksa di hatinya sudah tak tertahankan lagi, dan ia membutuhkan sesuatu yang lebih nyata untuk mengalihkan rasa perih itu. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengarahkan ujung tajam gunting itu ke kulit lengannya.

Cring...

Sebaris garis merah tipis muncul di sana. Terasa perih. Rasa nyeri yang menyengat itu menjalar cepat ke seluruh ujung sarafnya. Namun anehnya, Bianca justru merasa sedikit lega. Luka di tubuh itu setidaknya terasa lebih nyata dan jujur dibanding rasa sakit di hatinya yang tidak berdarah namun justru membuatnya hancur berkeping-keping.

"Sakit... tapi kenapa hati gue tetep lebih sakit?" keluhnya dengan suara parau, tubuhnya perlahan meluncur jatuh ke lantai di antara tumpukan rambutnya yang berserakan.

Di luar pintu apartemen, Gwen berdiri membawa dua kantong plastik besar berisi makanan yang ia beli. Ia sudah menekan bel berkali-kali, namun tak ada jawaban sama sekali. Perasaannya mulai terasa tak enak dan gelisah. Jantungnya berdegup tak beraturan, sebuah firasat buruk menghantam keras dadanya.

"Bi? Bianca! Ini gue, Gwen!" panggilnya sambil mengetuk pintu dengan suara yang cukup keras.

Masih tak ada sahutan apa pun. Gwen lalu mencoba menempelkan telinganya ke permukaan pintu besi yang kokoh itu. Awalnya hanya keheningan yang ia dengar, namun sedetik kemudian, ada suara yang membuatnya membeku di tempat.

JERITAN.

Itu jelas suara Bianca. Suara jeritan yang penuh kepedihan luar biasa, diikuti oleh suara tangisan yang terdengar sangat menyayat hati. Suara itu sama sekali tidak seperti Bianca yang biasa ia kenal. Itu adalah suara seseorang yang sedang hancur lebur dan berada di ambang batas kewarasannya.

"BIANCA! BUKA PINTUNYA!" Gwen mulai panik tak terkendali. Ia menggedor pintu itu sekuat tenaga sampai telapak tangannya terasa panas dan perih. "BIANCA, LO KENAPA?! TOLONG JANGAN MACEM-MACEM!"

Di dalam kamar, Bianca masih terkulai lemas di lantai, menggenggam erat gunting yang kini ternoda setitik darah segar. Ia mendengar suara gedoran pintu itu, ia mendengar suara Gwen yang memanggil-manggilnya dengan nada penuh kekhawatiran yang luar biasa besar. Namun Bianca sama sekali tidak sanggup untuk bangkit. Ia hanya ingin tetap diam dan tenggelam di dalam kegelapan kamarnya sendiri.

"Bi, kalau lo nggak buka, gue dobrak sekarang ya!" teriak Gwen dari luar, suaranya kini bergetar hebat karena rasa takut.

Gwen mundur selangkah, bersiap mengerahkan tenaga untuk menghantamkan bahunya ke pintu itu. Ia sama sekali tidak peduli jika nanti harus berurusan dengan petugas keamanan apartemen atau bahkan polisi. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keselamatan Bianca. Kenapa gadis itu menjerit seperti tadi? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik pintu itu?

Tangan Gwen mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Di balik pintu tertutup itu, Bianca memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan seluruh dunianya runtuh sepenuhnya di dalam keheningan yang mencekam.

"Tolong..." bisik Bianca sangat pelan, tepat sebelum kegelapan benar-benar menelan seluruh kesadarannya.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!