Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.
Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.
Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.
Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yhtp *13
Ia menghela napas pelan sambil membuka tali sepatunya di depan pintu. Tubuhnya terasa lelah sekali seharian berlarian ke sana ke mari mengurus Yara.
"Mer?" panggilnya pelan ke dalam keheningan.
Tidak ada jawaban. Tidak ada sapaan balik. Tidak ada suara apa pun. Pria itu berjalan pelan menuju kamar tidur. Di sana, ia melihat Merlin sudah berbaring memunggunginya di atas kasur. Lampu tidur di meja kecil menyala redup, menciptakan suasana suram.
Reyno mendekat perlahan, duduk di sisi tempat tidur. Ia menyentuh bahu istrinya pelan.
"Mer ... kamu udah tidur?" bisiknya.
Merlin tidak bergerak sedikit pun. Diam. Kaku.
"Aku minta maaf banget ya soal hari ini. Aku gak nyangka bakal kejadian kayak gitu," ucap Reyno lagi, suaranya terdengar lelah dan penuh penyesalan. "Aku tau aku salah. Maafin aku ya."
Tetap tidak ada jawaban. Hanya keheningan panjang. Reyno menghela napas panjang, lalu membiarkan tubuhnya jatuh duduk lebih santai di pinggir kasur. Ia menatap sekeliling ruangan untuk mencari alasan atau tanda bahwa istrinya sudah makan atau belum.
Dan saat itulah, matanya menangkap dua benda kecil di atas meja nakas dekat ranjang.
Dua lembar tiket bioskop. Masih utuh. Belum terpakai sama sekali. Masih ada lipatan kecil bekas disimpan di tangan.
Di sampingnya ada secarik kertas kecil, tulisan tangan Merlin yang rapi dan indah.
"Aku kira hari ini bakal menyenangkan."
Kalimat pendek itu tertulis begitu sederhana, namun rasanya seperti pukulan keras yang langsung menghantam dada Reyno. Napasnya tersendat. Dadanya langsung terasa sesak luar biasa.
Untuk pertama kalinya malam itu, Reyno benar-benar sadar dan menyadari satu hal besar, bahwa ada seseorang di rumah ini, istrinya sendiri, yang sedang terluka pelan-pelan, hari demi hari, detik demi detik.
Dan penyebab luka itu ... penyebab rasa sakit itu ... penyebab kesedihan yang mendiamkan istrinya itu ... adalah dirinya sendiri.
***
Sejak kejadian hari Sabtu itu, hari di mana janji pergi berdua kembali diingkari demi orang lain, ada sesuatu yang berubah di antara mereka. Bukan perubahan yang besar dan mencolok. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada teriakan, tidak ada amarah yang meledak-ledak.
Namun justru perubahan-perubahan kecil itulah yang mulai terasa jauh lebih menyakitkan dan menyesakkan dada. Merlin masih terlihat sama di luar. Ia masih menyambut Reyno pulang dengan senyum di bibir. Masih memasakkan makanan kesukaan suaminya. Masih menyiapkan pakaian kerja dan keperluan Reyno setiap pagi dengan rapi. Semuanya masih sama persis seperti dulu, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Namun Reyno mulai menyadari perbedaan itu, pelan tapi pasti. Merlin tidak lagi banyak bercerita. Tidak lagi berbagi hal-hal kecil yang ia lihat atau ia rasakan seharian. Tidak lagi bersikap manja atau bercanda riang seperti dulu. Bahkan saat Reyno pulang terlambat, Merlin tidak lagi mengeluh, tidak lagi bertanya kenapa lama, tidak lagi memprotes. Ia hanya diam, mengangguk, lalu membiarkan suaminya istirahat.
Dan anehnya, sikap diam dan pengertian berlebihan itu justru membuat Rey semakin tidak tenang. Ada rasa gelisah yang terus menggerogoti hatinya setiap kali ia menatap wajah istrinya yang makin sering kosong pandangannya.
Malam itu, Reyno pulang lebih cepat dari biasanya. Jarum jam di dinding bahkan belum menunjukkan pukul delapan malam saat ia memutar kunci pintu apartemen. Ia sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih awal hari ini, berniat menebus hari-hari kemarin yang ia habiskan jauh dari Merlin.
Begitu masuk dan meletakkan tas kerja, matanya langsung berkeliling mencari sosok istrinya. Tidak ada di ruang tengah, tidak ada di dapur, tidak ada di kamar tidur. Hingga akhirnya ia melihat sosok itu di balkon kecil di ujung ruangan.
Merlin duduk bersandar di kursi anyaman dengan sebuah buku tebal terbuka di atas pangkuannya. Di belakangnya, cahaya lampu-lampu kota tampak samar-samar berkelap-kelip di kegelapan malam. Angin malam bertiup pelan, menerbangkan sedikit rambut panjang wanita itu, menciptakan siluet yang begitu indah dan tenang.
Cantik. Sangat cantik. Namun entah kenapa, Rey merasa wanita itu terlihat begitu jauh. Jauh seolah ada tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka berdua. Meski saat itu jarak fisiknya hanya beberapa langkah saja.
Reyno melangkah mendekat, membuka pintu kaca balkon pelan-pelan agar tidak mengejutkan istrinya. "Tumben belum tidur? Biasanya kalau jam segini udah mimpi indah," ucap Rey lembut sambil menarik kursi kosong yang ada di sebelah Merlin.
Merlin hanya menoleh sekilas, memberikan pandangan singkat, lalu kembali menatap halaman bukunya. "Belum ngantuk. Mau duduk aja di sini sebentar," jawabnya pelan.
"Ngapain di sini sendirian? Anginnya kan lumayan dingin," tanya Reyno lagi, berusaha memulai obrolan seperti dulu.
"Nyari angin aja. Di dalam kan gerah kalau mati AC," jawab Merlin datar, tanpa mengalihkan perhatiannya dari tulisan di depan mata.
Keheningan melanda mereka sejenak. Hanya suara angin dan suara kendaraan samar dari jalan raya di bawah sana.
Dulu, di momen seperti ini, Merlin pasti sudah mulai bercerita sendiri. Menceritakan kucing liar yang ia lihat di depan lobi. Menceritakan tetangga sebelah yang bertengkar, atau sekadar bercanda hal-hal yang tak penting sampai Rey pusing sendiri mendengarnya.
Dulu, suasana seperti ini pasti akan penuh tawa dan obrolan panjang. Namun sekarang, wanita itu hanya diam, membalik halaman buku pelan-pelan, seolah keberadaan suaminya yang di sampingnya bukanlah hal yang istimewa lagi.
Reyno mulai merasa tidak nyaman. Ada rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya. Ia meremas pelan kedua tangannya di atas paha.
"Kamu marah sama aku, Mer?" tanyanya tiba-tiba, memecah kebisuan itu. Suaranya terdengar ragu dan hati-hati.
Merlin mengangkat kepalanya perlahan. Wajahnya sedikit berkerut, seolah bingung mendengar pertanyaan itu. "Marah? Buat apa?"
"Gak tau. Rasanya kamu berubah belakangan ini. Jadi dingin, jadi diam banget. Aku ngomong pun jawabnya seperlunya aja," ucap Reyno jujur, menatap lekat wajah istrinya. "Terus kenapa jadi gini? Ada yang bikin kamu gak suka ya?"
Merlin terdiam beberapa detik. Ia menurunkan bukunya sedikit, lalu tersenyum kecil. Senyum yang tipis, pucat, dan tidak sampai ke matanya.
"Aku biasa aja, Rey. Cuma emang lagi gak banyak omong aja. Mungkin capek," jawabnya santai.
Jawaban itu entah kenapa justru membuat dada Reyno semakin terasa sesak dan sakit.
Karena ia tahu. Ia tahu betul Merlin tidak biasa saja. Ia hafal benar watak wanitanya. Ia tahu kalau Merlin diam, itu bukan karena tenang, tapi karena sudah terlalu banyak menahan diri. Ia tahu kalau Merlin berhenti menuntut, itu bukan karena sudah mengerti, tapi karena sudah mulai lelah berharap.
Pria itu menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit yang mulai penuh bintang. "Aku tau, aku salah. Aku akhir-akhir ini emang sibuk banget. Urusan kantor numpuk, terus ada urusan Yara juga yang minta perhatian terus," ucap Reyno mencoba menjelaskan, meski ia sadar alasan itu sudah terlalu sering ia ucapkan.
🥹🥹