Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Hank mengangguk tegas, melaporkan dengan intonasi bariton yang stabil.
“Seluruh marga Bellucci telah dilenyapkan.”
Detik itu juga, gerakan pena perak di tangan Aragon terhenti.
Keheningan yang mencekam mendadak merayap tajam, membekukan udara di sekitar ruangan.
Gerakan memutar cincin di jemari Aragon pun ikut terhenti. Merasakan kode visual itu, Hank melanjutkan laporannya dengan suara yang tetap datar, sedingin es.
”Target terakhir, adik perempuan Rafael Bellucci yang berada di Asia, baru saja dieksekusi. Pengawal kita di lapangan sudah mengonfirmasi bahwa semuanya telah dibereskan tanpa ada satu pun yang tersisa.”
Tidak ada nada ragu, tidak ada pula secuil penyesalan dalam intonasi suara Hank. Bagi orang-orang di lingkaran terdalam De Hartmann, meruntuhkan sebuah dinasti dan melenyapkan satu keluarga besar beserta keturunannya hanyalah bagian dari rutinitas pekerjaan dan perintah mutlak.
Sebuah konsekuensi logis bagi siapa saja yang berani mengusik wilayah kekuasaan De Hartmann.
Aragon akhirnya menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya perlahan pada kursi kebesaran berbahan kulit mahal. Tatapan matanya yang setajam elang beralih dari kertas, menembus dinding kaca masif, menatap hamparan Kota S yang berada di bawah kendali penuh jemarinya.
“Bagus.”
Hanya satu kata itu yang lolos dari bibir. Tenang. Dingin. Dan mutlak. Seolah-olah puluhan nyawa manusia yang baru saja melayang dalam semalam tidak lebih berharga daripada debu yang menempel di sepatunya.
Bagi Aragon, darah keluarga Bellucci hanyalah angka statistik dari sebuah pembersihan yang tak terhindarkan.
Beberapa detik berlalu, Aragon kembali menarik selembar berkas baru ke hadapannya. Ia membuka halaman pertama, lalu kembali menggoreskan pena peraknya dengan santai. Seakan-akan berita pembantaian nyawa milik manusia yang bahkan tidak tahu kesalahan apa yang mereka lakukan hanya karena mereka menyandang marga Belluci, dimana Rafael yang melakukan kesalahan dan mereka mendapatkan hukuman kematian juga, hanyalah urusan sepele yang sama sekali tidak berhak mengganggu jadwal kerja dan fokusnya siang hari ini.
Hank tetap berdiri tegak layaknya patung di depan meja marmer hitam milik Aragon. Meski laporannya mengenai genosida keluarga Bellucci telah usai, ia tahu tugasnya siang ini belum benar-benar selesai.
Ada badai lain yang sedang mengintai di cakrawala.
Ruangan itu kembali tersedot ke dalam keheningan yang pekat. Di luar dinding kaca masif, langit Kota S mendadak berganti kelabu. Rintik hujan mulai memukul kaca jendela dengan suara samar, berbaur dengan denting jam dinding mekanis yang berdetak konstan.
Dua suara itu menjadi ritme monoton di tengah atmosfer ruangan yang kian membeku.
Aragon membuka lagi dan lagi lembaran berkas baru tanpa riak ekspresi di wajahnya. Tatapan matanya yang dingin menyusuri barisan angka dan grafik, seolah-olah pembantaian satu keluarga besar di benua seberang hanyalah catatan kaki sepele yang tidak berhak menyita waktu berpikirnya lebih dari beberapa menit.
Namun, Hank tahu ada satu hal lagi yang harus disampaikan. Ia menarik napas pendek sebelum kembali memecah kesunyian.
“Tuan Aragon.”
“Hm?” Aragon merespons tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas, hanya gumaman rendah yang keluar dari tenggorokan.
“Siang ini Anda memiliki janji pertemuan dengan Steven Gu.”
Gerakan pena perak di jemari Aragon terhenti seketika.
Hanya dengan satu nama itu, suhu di dalam ruangan masif tersebut seolah merosot drastis. Udara terasa lebih berat, membawa presensi tak kasatmata yang menuntut kewaspadaan penuh.
Steven Gu.
Nama itu bukan nama sembarangan di dunia interogasi bawah tanah. Dia adalah sang gurita dari timur, salah satu penguasa mafia terbesar dan paling disegani di seluruh Asia. Mulai dari jalur perdagangan ilegal yang melintasi samudra, kasino-kasino bawah tanah berskala masif, hingga jaringan penyelundupan komoditas hitam di berbagai negara berada di bawah kepalan tangannya.
Dan yang paling krusial bagi bisnis gelap di bawah tanah De Hartmann, Steven Gu adalah pembeli utama untuk proyek senjata rakitan mutakhir milik Aragon.
Hank melanjutkan laporannya dengan nada bariton yang datar, menyembunyikan ketegangan yang merayap di tengkuknya.
“Steven Gu kembali menuntut kepastian mengenai barang pesanannya. Pihaknya meminta konfirmasi titik koordinat pengiriman siang ini.”
Sepasang mata elang Aragon perlahan terangkat dari berkas. Tatapannya yang tadi tenang kini berubah sedingin es yang siap mengoyak.
Keterlambatan ini adalah sebuah anomali bagi De Hartmann. Seharusnya, pengiriman pasokan senjata rakitan generasi terbaru itu sudah mendarat di pelabuhan pribadi Steven Gu beberapa hari yang lalu. Namun, seluruh rantai logistik berantakan akibat Rafael Bellucci, belum lagi dalang nya masih berkeliaran di luar sana dan muatan milik Aragaon menghilang bak ditelan bumi.
“Rafael tetap bungkam mengenai lokasi penyimpanan barang tersebut hingga napas terakhirnya,” lanjut Hank, melaporkan fakta pahit itu tanpa bumbu. “Dan hingga detik ini, tim pelacak kita di lapangan masih belum menemukan indikasi keberadaan kargo yang hilang.”
Ruangan mendadak terasa semakin sunyi, menyisakan suara hujan yang kian menderu di luar.
Aragon perlahan menyandarkan tubuh tegapnya ke sandaran kursi kulit. Jemari tangan kirinya yang mengenakan cincin signet hitam kini mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan ritme lambat yang konstan.
“Tuk... Tuk... Tuk...” Suara ketukan itu terdengar seperti hitung mundur kematian bagi siapa saja yang berada di posisi bersalah.
Hank berdeham pelan sebelum menambahkan,
“Kabar dari informan kita di Hong Kong menyebutkan, Steven Gu mulai menunjukkan rasa tidak senangnya secara terang-terangan.”
“Wajar saja.” Kata Aragon.
“Siapa yang tidak akan marah, saat sudah kehilangan uang dengan nominal tidak sedikit namun barang belum juga sampai pada tenggatnya.” Lanjut Aragon masih dalam suasana tenang dan tak terbaca.
Penguasa Asia itu bukan sekadar memesan barang recehan, ia telah menyetor dana fantastis di awal sebagai jaminan penyerahan tepat waktu. Dan sekarang, komoditas yang dijanjikan justru lenyap tanpa jejak.
“Beberapa petinggi di jaringan Asia bahkan mulai berbisik bahwa hubungan Anda dan Steven Gu tengah berada di titik kritis, Tuan. Mereka berspekulasi akan ada gesekan senjata jika masalah ini tidak selesai dalam minggu ini.”
Bukannya murka, sudut bibir Aragon justru terangkat tipis. Sebuah seringai yang sarat akan arogansi dan dominasi mutlak, tanpa ada secuil pun kehangatan di dalamnya.
“Dia tidak akan cukup bodoh untuk mengibarkan bendera perang denganku hanya karena satu keterlambatan logistik,” ucap Aragon. Nadanya rendah, lambat, namun getaran suaranya justru terdengar jauh lebih mengancam daripada bentakan paling keras sekalipun.
Hank memilih untuk tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun berdiri di balik bayangan Aragon, ia paham betul peta kekuatan dunia hitam yang di miliki Aragon.
Steven Gu memang monster yang mengerikan dengan jutaan anak buah di Asia. Namun, Aragon De Hartmann? Pria di hadapannya ini adalah iblis tertinggi yang bahkan ditakuti oleh para monster.
Seseorang yang memegang kendali atas pasokan besi panas dunia, yang kekuasaannya tidak bisa disentuh oleh hukum maupun oligarki internasional.
Kendati demikian, masalah utama mereka saat ini bukan sekadar ego atau tenggat waktu dengan Steven Gu.
Masalahnya adalah gengsi atau harga diri.
Seseorang telah memiliki nyali untuk mencuri dari seorang Mafia, Aragon De Hartmann, dan fakta bahwa senjata rakitan pemusnah massal itu masih berkeliaran di tangan yang salah adalah tamparan keras bagi dinasti De Hartmann yang tak pernah terkalahkan.
Bersambung.