Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Tengah Kegelapan
"Ketika bahaya datang menghampiri tanpa ampun, naluri untuk bertahan hidup akan mengambil alih seluruh akal sehat. Lari bukan berarti kalah, melainkan strategi untuk tetap hidup demi menuntut keadilan di kemudian hari. Namun, ada kalanya cinta membuat kita rela mempertaruhkan nyawa sendiri, asalkan orang yang kita sayangi bisa selamat."
...****************...
Gelap pekat menyelimuti seluruh ruangan. Hanya cahaya remang dari lampu jalan luar yang sedikit masuk menerobos celah gorden, cukup untuk membuat bayangan-bayangan orang asing itu terlihat jelas bergerak seperti hantu.
Jantung Rosella berdegup kencang bagaikan genderang perang. Napasnya tertahan di tenggorokan, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuhnya menggigil hebat, bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut yang luar biasa.
Di sampingnya, Hariz memeluk tubuhnya erat-erat. Lengan kekar pria itu melindunginya seperti perisai hidup. Rosella bisa merasakan detak jantung Hariz yang juga berpacu cepat, namun tangan yang melingkar itu terasa begitu kokoh dan penuh keyakinan.
"Cari di kamar! Cepat!" bisik salah satu pria itu dengan suara serak. Terdengar suara langkah kaki berat berjalan menuju arah kamar tidur.
Satu orang masih berjaga di ruang tengah, berjalan mondar-mandir dengan hati-hati, memindai setiap sudut ruangan dengan senter yang diselimuti lakban agar cahayanya tidak terlalu menyilaukan dan mudah dilacak.
Hariz menatap tajam ke arah pintu dapur di mana terdapat jalan keluar darurat. Jaraknya sekitar lima meter dari tempat mereka bersembunyi. Itu cukup jauh dan berisiko besar. Namun mereka tidak punya pilihan lain. Jika tertangkap, nasib mereka pasti tidak akan baik. Mereka tahu terlalu banyak rahasia.
Hariz menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Rosella, berbisik sangat pelan hingga hampir tak terdengar.
"Saat aku kasih kode, lari secepat kilat ke pintu darurat. Jangan lihat ke belakang. Jangan berhenti. Mengerti?"
Rosella mengangguk pelan, air mata ketakutan mulai mengalir lagi. Ia menggenggam tangan Hariz erat-erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada pria itu.
"Apa kamu mau ikut sama aku?" bisik Rosella dengan isyarat bibir.
Hariz tersenyum tipis di dalam gelap, lalu menggeleng pelan. "Aku akan cari cara lain buat mengalihkan perhatian mereka. Kita bertemu di tempat yang aman."
Rosella ingin menolak, ia tidak mau berpisah, apalagi meninggalkan Hariz sendirian menghadapi orang-orang jahat itu. Tapi situasi tidak memungkinkan untuk berdebat. Detik itu juga adalah kesempatan emas mereka.
Pria yang berjaga di ruang tengah kini memunggunginya, sedang mengarahkan senter ke arah rak buku.
"SEKARANG!"
Dengan sekuat tenaga, Hariz mendorong bahu Rosella pelan namun tegas. Rosella langsung berlari sekencang-kencangnya. Kakinya bergerak secepat kilat melewati meja makan, menghindari kursi yang menghalangi jalan.
"ADA ORANG!!" teriak pria penjaga itu kaget. Senter langsung diarahkan ke arah Rosella yang sedang berlari.
"KEJAR!! JANGAN BIARKAN DIA LARI!"
Suara langkah kaki gemuruh terdengar di belakangnya. Rosella tidak berani menoleh. Matanya hanya fokus pada gagang pintu darurat yang sudah terlihat jelas di depan mata.
Tepat saat ia hampir mencapai pintu, sebuah benda keras terlempar ke arahnya, mengenai dinding tepat di samping kepalanya hingga pecah berkeping-keping. Rosella menjerit kecil namun terus memaksakan kaki untuk melangkah.
Tangannya menggapai gagang pintu. Krek! Pintu terbuka. Angin malam yang kencang langsung menerpa wajahnya. Di luar adalah tangga darurat besi yang menjulur turun ke bawah, tinggi dan mengerikan.
Tanpa pikir panjang, Rosella melangkah keluar dan menutup pintu itu kembali dari luar. Ia mendengar suara bantingan dan teriakan dari dalam, lalu suara pertarungan.
"ARGGHH!!"
Itu suara Hariz!
Rosella berhenti sejenak di tangga darurat. Hatinya hancur mendengar suara itu. Ia ingin masuk kembali, ingin membantu, tapi ia tahu jika ia kembali, semua usaha Hariz akan sia-sia.
"Teruslah berlari, Ella.. Demi aku..." bisik hatinya menirukan pesan Hariz.
Dengan air mata yang membanjiri wajah, Rosella menuruni tangga itu satu per satu dengan cepat. Tangannya mencengkeram pagar besi dingin itu hingga buku-buku jarinya memutih. Kakinya gemetar, namun adrenalin memaksanya untuk terus bergerak.
Di dalam apartemen, suasana berubah menjadi medan pertempuran kecil.
Saat orang-orang itu fokus mengejar Rosella, Hariz tidak tinggal diam. Dengan mengandalkan kegelapan dan pengetahuannya akan tata letak ruangan, ia menyergap dari samping.
"SIAPA KALIAN?!" bentak Hariz sambil memukul wajah salah satu pria itu dengan siku keras.
Bugh!
"Arrgh! Ada satu lagi di sini!" teriak salah satu dari mereka kaget. Mereka tidak menyangka ada pria kuat di dalam sana.
Tiga orang itu langsung membalikkan badan dan menyerang Hariz serentak.
Hariz menangkis tinju pertama dengan lengan, lalu menendang perut pria kedua dengan cepat. Namun jumlah lawan terlalu banyak. Sebuah pukulan keras mendarat di sisi rahangnya, membuat kepalanya berdenyut nyeri dan tubuhnya terhuyung mundur.
"Tangkap dia! Boss mau dia hidup atau mati, yang penting flashdisknya dapat!" teriak ketua mereka.
Hariz tersenyum sinis meski mulutnya terasa asin karena darah yang mulai keluar dari sudut bibir. "Kalian pikir segitu mudahnya mengambil apa yang bukan milik kalian?"
Dengan tenaga sisa, Hariz melempar vas bunga besar ke arah lampu darurat yang menyala redup di sudut ruangan.
Brak!
Lampu pecah. Kini ruangan benar-benar gelap gulita, tanpa sedikitpun cahaya.
"Di mana dia?! Cari! Senter nyalakan!" orang-orang itu mulai panik.
Dalam kekacauan itu, Hariz memanfaatkan kesempatan. Ia merayap pelan menuju pintu utama yang tadi dibiarkan terbuka oleh mereka. Dengan langkah senyap seperti kucing, ia keluar dari apartemen itu tepat saat salah satu senter mereka akhirnya berhasil dinyalakan.
"Dia lari! Kejar!!"
Hariz berlari menuruni tangga darurat gedung, bukan lift, untuk menghindari jebakan. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, dan lukanya terasa perih. Namun pikirannya hanya satu, yaitu Rosella. Ia harus memastikan wanita itu selamat.
Di bawah, di pinggir jalan raya yang cukup gelap dan sepi, Rosella berdiri mematung. Ia sudah turun dari tangga darurat, tapi ia tidak bisa pergi. Ia tidak bisa meninggalkan Hariz.
Ia menunggu dengan cemas, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar. Tiba-tiba, ia melihat sosok tinggi besar berlari keluar dari pintu samping gedung.
"HARIZ!!" teriak Rosella.
Hariz menoleh. Wajahnya memar sedikit, napasnya terengah-engah, namun ia tersenyum melihat Rosella masih di sana.
"Ella! Kenapa belum pergi?!" seru Hariz sambil terus berlari mendekat.
"Aku nggak bisa pergi tanpamu, Riz! Aku takut!" isak Rosella, langsung berlari menghambur ke dalam pelukan pria itu.
Hariz memeluknya erat-erat, memeriksa seluruh tubuh wanita itu dengan tangannya. "Kamu tidak apa-apa kan? Mereka tidak menyakitimu kan?"
"Tidak, Riz. Aku selamat. Tapi kamu... wajahmu berdarah..." Rosella menyentuh sudut bibir Hariz dengan jari gemetar.
"Tidak apa-apa. Luka kecil saja," jawab Hariz santai, meski sebenarnya sangat sakit. "Tapi kita tidak bisa berlama-lama di sini. Mereka pasti akan segera turun. Kita harus pergi dari tempat ini sekarang juga!"
"Tapi mobil kita di parkiran bawah tanah, terlalu berbahaya," kata Rosella panik.
"Naik taksi atau kendaraan umum saja. Kita harus pergi ke tempat yang benar-benar aman. Tempat yang tidak mereka duga," kata Hariz tegas. Mereka segera berlari ke jalan raya sambil melambai lambaikan tangan.
Beberapa saat kemudian, sebuah mobil berhenti. Mereka berdua masuk dengan tergesa-gesa.
"Jalan, Pak! Cepat!" perintah Hariz kepada sopir dengan nada mendesak.
Mobil itu melaju kencang meninggalkan area apartemen. Dari kaca spion belakang, mereka bisa melihat beberapa orang berjas hitam keluar dari gedung dan melihat ke sekeliling dengan marah.
Di dalam mobil, suasana hening. Hanya suara napas mereka yang tertata dan detak jantung yang mulai perlahan normal.
Rosella menyandarkan kepalanya di bahu Hariz. Air matanya masih mengalir, tapi kali ini adalah air mata lega.
"Terima kasih, Riz... Terima kasih sudah menyelamatkanku," bisiknya lemah.
Hariz menoleh, menatap wajah pucat itu dengan penuh kasih sayang. Ia mengusap bahu Rosella lembut guna menyalurkan ketenangan.
"Aku janji akan melindungimu. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan biarkan mereka menyentuh sehelai rambut pun," ucap Hariz lembut.
"Tapi sekarang kita jadi buronan?" tanya Rosella cemas. "Kita tidak punya tempat tinggal, dan mereka pasti akan mencari kita sampai dapat."
Hariz tersenyum tipis, menatap jalanan kota yang berlalu lalang di luar jendela.
"Biarkan mereka mencari. Selama kita bersama, selama kita masih memegang bukti ini..." Hariz menepuk saku dadanya tempat ia menyimpan flashdisk itu. "...maka kita masih punya harapan. Kemenangan ada di pihak yang benar, Ell."
Mereka kini benar-benar kehilangan segalanya. Rumah, kenyamanan, status, dan dikelilingi oleh musuh yang kuat. Namun anehnya, di tengah pelarian ini, Rosella justru merasa bebas. Bebas dari kebohongan, bebas dari kepura-puraan, dan kini ia memiliki Hariz yang siap berjuang bersamanya sampai tetes darah penghabisan.
Perjalanan menuju kebenaran masih jauh, dan bahaya masih mengintai di setiap tikungan jalan. Namun mereka berdua siap. Siap untuk menghadapi badai terbesar demi membalaskan dendam Arkan dan mengungkap wajah asli kejahatan yang selama ini bersembunyi di balik topeng tampan dan senyum manis.