NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembantaian Raja Fana

Lorong bawah tanah itu dipenuhi oleh debu batu hitam dan bau darah pekat dari puluhan prajurit pilihan yang tercabik-cabik. Di tengah kekacauan itu, sosok Chu Chen melangkah keluar, diiringi oleh perwujudan bayangan sebuah bangunan megah yang melayang di belakangnya.

Itu bukanlah Istana Jiwa fana yang bercahaya putih suci. Itu adalah istana yang pilar-pilarnya terbuat dari tulang naga hitam legam, atapnya berkobar oleh Api Teratai Merah, dan setiap sudutnya memancarkan Niat Pedang Purba yang bisa memotong hukum alam.

Ketiga Panglima Raja Fana dari Kekaisaran Matahari Suci mundur selangkah secara naluriah. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa seperti rawa hisap yang sangat berat.

"I-Istana Jiwa..." Panglima berkapak raksasa bergumam dengan suara serak, matanya melebar menatap bayangan di belakang Chu Chen. "Dia baru saja menembus Alam Istana Jiwa? Tapi bayangan apa itu?! Kenapa tekanannya lebih mengerikan dari Hukum Raja Fana?!"

Panglima Jangkung yang sebelumnya menindas Bai menggertakkan giginya hingga berdarah. Ia menolak untuk tunduk pada ketakutan yang merayap di sumsum tulangnya. Ia adalah panglima pilihan kekaisaran!

"Jangan biarkan bayangan semu ini membodohi kalian!" raung Panglima Jangkung itu. "Dia memiliki sayap tulang hitam! Dialah penyusup yang dicari Jenderal Agung! Dia baru saja menembus Tahap Awal Istana Jiwa, fondasinya pasti masih goyah! Serang bersama-sama, gunakan Hukum Mutlak kita!"

Ketiga Panglima itu serempak membakar saripati darah mereka. Sebagai prajurit kawakan, mereka tahu ini bukan saatnya menahan diri.

Hukum Raja Fana: Rantai Cahaya Penghukum Dewa! Hukum Raja Fana: Kapak Pembelah Gunung Berlian! Hukum Raja Fana: Tombak Badai Penusuk Jiwa!

Tiga serangan mematikan, yang masing-masing bisa meratakan sebuah kota kecil di Benua Biru Langit, melesat secara bersamaan. Cahaya emas, perak, dan biru meledak menyilaukan mata, memenuhi seluruh ruang lorong sempit tersebut dan mengunci Chu Chen dari tiga arah yang mustahil dihindari.

Di lantai, Bai memalingkan wajahnya. Serangan gabungan tiga Raja Fana di ruang sempit ini adalah hukuman mati mutlak.

Namun, di tengah badai cahaya pemusnah itu, Chu Chen bahkan tidak mengangkat tangannya.

"Fondasi yang goyah?" Chu Chen menyeringai tipis, memperlihatkan deretan giginya yang seputih mutiara. "Kalian mengukur lautan menggunakan mangkuk air."

Chu Chen hanya mengambil satu langkah ke depan.

Di saat kakinya menginjak lantai batu, Istana Jiwa Naga di belakangnya bergetar satu kali. Sebuah auman naga purba yang tak terdengar telinga fana namun menghantam langsung ke dalam lautan kesadaran meledak.

BUMMMMM!!!

Ranah penindasan mutlak dari Istana Jiwa Naga menyapu keluar.

Seketika, Rantai Cahaya emas milik Panglima Jangkung berhenti di udara dan hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu. Kapak Berlian raksasa milik Panglima kedua meleleh menjadi uap sebelum sempat menyentuh sehelai rambut Chu Chen. Tombak Badai biru berbelok arah secara paksa dan menabrak dinding lorong hingga runtuh.

"Apa?!" Ketiga Panglima itu menjerit tertahan, memuntahkan darah hitam akibat hukum alam mereka dipatahkan secara biadab.

"Hukum fana kalian tidak berlaku di dalam istanaku," suara Chu Chen terdengar dingin dari balik kepulan asap.

Sebelum para Panglima itu bisa menarik napas, sosok Chu Chen telah menghilang dari tempatnya berdiri. Kecepatan Alam Istana Jiwa Chu Chen kini puluhan kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia berada di Puncak Inti Emas.

WUSH!

Chu Chen muncul tepat di depan Panglima berkapak raksasa. Tangan kanannya yang dilapisi sisik hitam legam menembus dada pria bertubuh kekar itu seolah melewati lapisan udara kosong.

"Ukh..." Panglima berkapak itu menunduk, melihat lengan pemuda itu telah menembus jantung dan Dantiannya sekaligus.

Pusaran Ketiadaan.

Daya hisap yang kini didukung oleh fondasi Istana Jiwa Naga meledak dengan kekuatan seribu kali lipat lebih buas. Panglima kekar itu bahkan tidak sempat menjerit. Dalam satu detik, tubuh raksasanya mengerut, mengering, dan menjadi abu yang berjatuhan ke lantai. Seluruh energi Raja Fananya ditelan habis, langsung menstabilkan dan memperkuat fondasi Istana Jiwa Chu Chen yang baru saja lahir.

Melihat rekan mereka musnah dalam sedetik, sisa keberanian Panglima Jangkung dan Panglima Ketiga hancur lebur tanpa sisa.

"LARI! KITA BUKAN TANDINGANNYA! LAPORKAN PADA JENDERAL!" jerit Panglima Ketiga, berbalik dan melesat ke arah tangga melingkar menuju lantai atas.

Panglima Jangkung, orang yang sebelumnya menginjak-injak Bai, juga ikut membalikkan badan dengan panik. Wajahnya yang angkuh kini dipenuhi air mata ketakutan.

"Kalian yang datang ke pintuku. Siapa yang memberi kalian izin untuk pergi?"

CRAAAT!

Chu Chen tidak mengejar dengan kakinya. Dari punggungnya, sepasang Sayap Tulang Naga hitam legam membentang lebar. Ia mengepakkan sayapnya satu kali dengan kekuatan penuh.

Dua bilah Niat Pedang Purba raksasa yang terbentuk dari angin kepakan sayapnya melesat membelah ruang.

SRAAT! SRAAT!

Panglima Ketiga yang baru saja mencapai anak tangga pertama mendadak berhenti. Tubuhnya perlahan terbelah dua dari ujung kepala hingga ke pangkal paha, potongannya meluncur jatuh menuruni tangga dengan suara basah yang mengerikan.

Sedangkan Panglima Jangkung, bilah angin itu memotong kedua kakinya sebatas lutut.

"AAAAAAARRRGHHH!"

Panglima Jangkung itu jatuh tersungkur di lantai batu, darah menyembur dari tunggul kakinya. Ia mencoba merangkak menggunakan kedua tangannya, menyeret tubuhnya menjauhi Chu Chen sambil menangis histeris. Dewa fana yang biasanya menyiksa pengungsi ini kini merayap layaknya cacing tanah.

Langkah kaki Chu Chen yang pelan dan berirama terdengar mendekat.

Chu Chen berhenti tepat di depan Panglima Jangkung yang sedang merangkak. Ia menunduk, lalu menginjak punggung pria itu, memakukannya ke lantai batu yang berlumuran darah.

"Kau bilang ingin mencabut ingatan dari kepalanya dan melemparnya ke barak prajuritmu?" Chu Chen melirik ke arah Bai yang masih tergeletak di sudut lorong, lalu menatap kembali ke bawah sepatu botnya.

"Sayang sekali. Ingatanmu jauh lebih berguna untukku saat ini."

Chu Chen membungkuk dan mencengkeram tengkorak Panglima Jangkung tersebut.

Pria itu meronta-ronta, matanya membelalak penuh keputusasaan. "J-Jangan... Jenderal Agung tidak akan... ugh!"

Seni Kaisar Naga: Pelahapan Memori dan Jiwa.

Daya hisap gelap meledak. Chu Chen secara beringas mengobrak-abrik lautan kesadaran sang Panglima. Berbagai rahasia pertahanan militer Kekaisaran Matahari Suci, tata letak kota atas, jumlah pasukan, dan kelemahan susunan formasi Jenderal Agung mengalir masuk ke dalam otak Chu Chen layaknya buku yang sedang dibaca cepat.

Bersamaan dengan itu, saripati kehidupan dan energi Raja Fana sang Panglima disedot habis. Panglima terakhir itu mengering menjadi sekam, lalu hancur menjadi serbuk tulang yang tertiup sisa-sisa energi di dalam lorong.

Hanya dalam waktu kurang dari setengah batang dupa, tiga panglima Raja Fana dan puluhan pasukan pilihan Istana Jiwa Puncak dari kekaisaran musnah tanpa sisa.

Chu Chen berdiri tegak di tengah lorong yang kini sunyi senyap dan penuh ceceran darah. Ia menarik napas panjang. Energi dari tiga Raja Fana yang ia sedot sekaligus membuat Istana Jiwa Naga di dalam Dantiannya benar-benar padat dan kokoh. Cahaya merah darah dan perak memancar selaras di dalam tubuhnya.

Tahap Awal Istana Jiwa yang sempurna. Sebuah pijakan yang melampaui segala hukum yang ada di Benua Tengah.

Ia melangkah perlahan ke sudut lorong, mendekati Bai yang masih menatapnya dengan pandangan kosong, dan Meng Fan yang pingsan dengan tulang rusuk patah.

Chu Chen menjentikkan jarinya, mengirimkan seutas Qi Yin-Yang yang sangat murni untuk menutupi luka Meng Fan, memastikan pria tua itu tidak akan mati. Ia lalu menatap Bai.

"Bisa berdiri?" tanya Chu Chen datar.

Bai menelan ludah. Ia memaksakan diri bangkit, menahan rasa ngilu di tulang-tulangnya. Wanita yang dulunya merupakan penguasa itu kini menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Chu Chen. "Y-Ya... Tuan."

Kata 'Tuan' itu keluar dari mulutnya secara alami. Di depan kekuatan mutlak yang meremukkan tiga Raja Fana bagaikan memencet kutu, harga diri fana tidak ada artinya lagi.

"Bagus," Chu Chen menyeringai tipis. Ia mengarahkan pandangannya ke atas, ke arah tangga melingkar yang menuju ke kota atas. "Bawa Meng Fan. Pertunjukan pemanasan di pasar gelap ini sudah selesai."

"Kita... kita akan lari lewat jalur rahasia?" tanya Bai ragu-ragu.

Chu Chen menoleh, mata emas vertikalnya berkilat di tengah kegelapan lorong.

"Lari?" Chu Chen mendengus pelan, sebuah tawa yang dipenuhi penindasan purba bergema di lorong batu tersebut. "Aku baru saja memakan tiga anjing peliharaannya, dan kini aku tahu tata letak kandangnya. Kita tidak akan lari ke mana-pun, Bai. Kita akan naik ke atas, dan aku akan mencabut jantung Jenderal Penyatuan Langit itu dari dadanya hari ini juga."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!