Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Menemukan Sebuah Buku
Benjamin menyeringai, menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya. Dia menggelengkan kepala dan berkata, "Belum sekarang. Meskipun dia adalah pewaris seluruh kekayaan ini, dia membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami semuanya. Biarkan dia mengerti bagaimana hidup berjalan, aku tidak ingin tiba-tiba mengungkapkan semuanya dan memanjakannya dengan semua keinginan yang terpenuhi. Tugasku sekarang adalah membimbingnya untuk mengendalikan kekuatan itu. Jadi, jaga ini tetap rahasia."
Pria berpakaian hitam itu kembali menundukkan kepalanya kepada Benjamin dan berkata, "Baik, Tuan. Aku mengerti."
"Baik, silahkan lanjutkan. Bangunkan mereka pukul lima, kita akan pergi ke kota untuk makan malam di sana. Aku akan memperkenalkan Atlas kepada beberapa orang hebat yang bisa membantunya dalam pekerjaannya di masa depan," kata Benjamin.
Pria tua itu kemudian bertepuk tangan, dan pada saat yang sama, semua tirai tertutup. Tepat setelah pria berpakaian hitam itu pergi, Benjamin dengan mata tertutup berkata, "Tutup pintunya."
Pintu ruangan yang sebelumnya tidak terlihat muncul dari atas dan menutup ruangan dengan sempurna.
~ ~ ~
Atlas masih berdiri tegak di depan pintu kamar tidur. Wajahnya melebar menjadi senyum lebar saat dia menyadari kamar yang diberikan Benjamin benar-benar luas dan megah. Tempat tidur besar dengan kanopi dan tiang penyangga tinggi membuat Atlas merasa seperti berada di dalam istana. Lemari besar juga menarik perhatian Atlas.
"Wah!"
Atlas berseru kagum saat lemari itu terbuka, menampilkan koleksi pakaian dari merek-merek terkenal dunia yang tersusun rapi. Untuk pertama kalinya, Atlas merasa begitu dihargai oleh perhatian yang diberikan Benjamin kepadanya.
"Aku mungkin bahkan tidak akan mampu membeli lemari ini, meskipun aku mengetahuinya. Dia benar-benar gila. Aku jadi merasa terbebani untuk segera menyembuhkannya."
Atlas mengambil sebuah sweater hitam polos, kainnya begitu lembut hingga Atlas tak bisa menahan diri untuk mengusapnya sebelum memakainya.
"Ya ampun, aku bisa jadi gila kalau terlalu lama terjebak di sini!" Atlas membawa sweater yang kini sudah dikenakannya ke depan cermin di sudut ruangan.
Pesona yang diberikan oleh sweater hitam itu benar-benar memuaskan. Atlas merasa tampan dan lebih elegan. Dia tersenyum lebar dan tidak berkedip selama beberapa detik saat mengagumi bayangannya di cermin.
Akhirnya, mata Atlas tanpa sengaja tertuju pada sebuah buku hitam yang tergeletak di atas meja kecil di samping cermin.
"Buku apa itu?"
Atlas mendekat dan mengambil buku tebal itu. Di halaman sampulnya, terdapat kalimat aneh yang ditulis dengan tinta emas, 'Din udødelige kraft.'
Tentu saja hal ini membuat Atlas penasaran. Entah kenapa, darahnya berdesir lebih cepat. Rasa ingin tahunya memuncak saat dia perlahan membuka buku itu dan matanya membelalak ketika melihat gambar sebuah kalung di halaman pertama.
"Apa?!"
Atlas memfokuskan pandangannya pada buku itu. Dia tidak salah, kalung yang tergambar di sana persis sama dengan yang diberikan neneknya kepadanya.
"Black Star Diopside... kalung ini punya nama? Ini gila, apa maksud semua ini?"
Atlas terus membalik halaman buku itu, menemukan halaman kosong pada lima lembar berikutnya. Namun, di halaman keenam, mulai muncul petunjuk dan penjelasan tentang kalung itu serta kekuatannya.
"Ketika menyatu, maka itu akan menjadi pengendalimu, Black Star Diopside. Yang penyembuh."
"Penyembuh?" Atlas segera membaca petunjuk yang tertulis dengan cepat. Sekali lagi, dia terkejut dengan bukti bahwa bagian ini adalah sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menyembuhkan. Inilah yang dia cari untuk menyembuhkan Benjamin.
Tiba-tiba, Atlas menutup buku itu dan duduk di tepi tempat tidur, rasa bingung menyelimuti dirinya.
"Benjamin tahu tentang kekuatan yang kumiliki, dan dia memiliki buku ini. Apa itu berarti dia memahami kekuatanku? Apa dia sengaja memanggilku untuk mempelajari kekuatan ini dan menyembuhkannya? Sial!"
Atlas merasa cukup kesal, lalu dia memutuskan untuk kembali menemui Benjamin. Namun, ketika dia sampai di pintu, langkahnya terhenti.
"Tapi... jika dia benar-benar tahu tentang kekuatan ini, kenapa dia tidak mencariku sejak dulu? Kami baru bertemu kemarin. Apa mungkin buku ini tidak ada hubungannya dengan Benjamin?"
Atlas kembali ke tempat tidurnya dan membuka kembali halaman yang berisi bagian tentang penyembuhan. Kegelisahannya perlahan mereda, menganggap pertanyaan terakhir itu sebagai kemungkinan lain.
Matanya kini fokus pada sebuah bagian yang menjelaskan langkah-langkah untuk menyembuhkan penyakit mematikan.
-Ambil sehelai rambutmu, letakkan dalam sebuah wadah, dan tambahkan lima tetes darah.
-Aduk dan tambahkan tiga tetes air.
-Tekan bagian rahang orang yang akan disembuhkan dan berikan campuran itu secara oral.
-Berkonsentrasi dan keluarkan kekuatanmu pada orang yang sakit.
Atlas menatap tangannya dan perlahan mengangguk. Dia kemudian membuka kembali buku itu halaman demi halaman, dengan setiap petunjuk tertulis rapi, termasuk satu petunjuk yang diberi label ‘yang kematian’, yang dimaksudkan untuk mengakhiri hidup seseorang.
Jantung Atlas langsung berdegup kencang, dan kejutan yang dia terima adalah sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan. Kekuatan yang awalnya terasa menyenangkan kini berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Atlas menutup buku itu dan menelan ludah.
"Aku harus menyimpan buku ini, entah ini disengaja atau tidak oleh Benjamin, aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya. Aku harus kembali fokus pada tujuanku di sini, aku hanya perlu menyembuhkannya dan pergi. Ya! Aku hanya perlu melakukan itu.”
Dia kemudian menyimpan buku itu di bawah bantalnya. Seolah tidak terjadi apa-apa, Atlas kembali ke lemari dan mulai mencoba pakaian mewah lainnya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗