NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngarai Angin

Pagi di reruntuhan kuil datang dengan suara burung spiritual yang berkicau di kejauhan. Kabut Hutan Kabut sedikit menipis saat matahari naik, menciptakan berkas-berkas cahaya keemasan yang menembus celah pepohonan raksasa.

Xiao Chen sudah terjaga—atau lebih tepatnya, dia tidak pernah benar-benar tidur. Wei Ling masih di pelukannya, napasnya teratur, wajahnya damai. Satu tangannya mencengkeram jubah Xiao Chen, seolah takut dia akan menghilang saat terbangun.

Dia membiarkannya beberapa saat lagi sebelum akhirnya bergerak. Wei Ling menggeliat, matanya terbuka perlahan.

"Pagi," bisiknya, suaranya serak karena baru bangun.

"Pagi." Xiao Chen mencium keningnya. "Saatnya berangkat."

"Satu menit lagi."

"Kau bilang itu kemarin."

"Kemarin satu menit. Hari ini dua menit."

Xiao Chen tertawa kecil. "Baiklah. Dua menit."

Mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman. Dari luar tenda, suara Zhang Yuan yang sedang bertengkar dengan kuda spiritual terdengar—"Kenapa kau tidak mau makan? Ini apel yang bagus!"—diikuti dengusan kuda yang jelas-jelas tidak tertarik.

"Aku harus bangun," kata Wei Ling akhirnya.

"Ya."

"Aku tidak mau."

"Kau yang bilang sendiri."

Wei Ling mendesah dan duduk, rambutnya berantakan. Dia menatap Xiao Chen yang masih berbaring, dan pipinya sedikit memerah. "Kau... kau selalu terlihat sempurna bahkan saat baru bangun. Itu tidak adil."

"Aku tahu."

"Jangan setuju!"

Setelah sarapan cepat—daging kering, buah hutan, dan teh herbal yang diseduh Wei Zhen—rombongan melanjutkan perjalanan. Hutan Kabut perlahan menipis seiring mereka bergerak ke selatan, digantikan oleh pemandangan yang semakin liar.

Ngarai Angin menunggu.

Dari kejauhan, ngarai itu sudah terlihat—sebuah celah raksasa di permukaan bumi yang membentang sejauh mata memandang. Tebing-tebingnya menjulang setinggi ratusan meter, berwarna cokelat kemerahan dengan urat-urat mineral yang berkilau. Angin bertiup kencang melalui celah itu, menciptakan suara melolong yang konstan—seperti seribu suara yang berbisik sekaligus.

"Angin di sini bisa mencapai kecepatan yang berbahaya," kata Xu Mei, memeriksa peta. "Kita harus berhati-hati. Ada jembatan batu kuno yang melintasi ngarai. Itu satu-satunya jalan."

"Jembatan batu kuno?" Zhang Yuan menelan ludah. "Seberapa tua?"

"Sekitar lima puluh ribu tahun."

"Dan masih berdiri?!"

"Formasi kuno."

Mereka tiba di tepi ngarai saat matahari mencapai puncaknya. Jembatan batu itu terbentang di depan mereka—lebar sekitar tiga meter, tanpa pagar, membentang sejauh hampir satu kilometer melintasi jurang yang dasarnya tidak terlihat. Di bawahnya, hanya ada kegelapan dan suara angin yang menderu.

"Aku benci tempat tinggi," gumam Zhang Yuan.

"Kau bisa terbang," kata Feng Mo datar.

"Itu berbeda! Terbang itu terkendali. Berjalan di jembatan tanpa pagar di atas jurang tak berdasar itu..."

"Menyenangkan," potong Lin Yao, sudah melangkah ke jembatan. Jubah hijaunya berkibar keras diterpa angin, tapi langkahnya tetap stabil.

"Dia gila," bisik Zhang Yuan.

"Aku dengar itu," kata Lin Yao tanpa menoleh.

Satu per satu, mereka menyeberang. Kuda-kuda spiritual menolak pada awalnya, tapi setelah Xiao Chen menepuk leher mereka satu per satu, mereka langsung tenang dan mengikuti dengan patuh.

Di tengah jembatan, angin semakin kencang. Xu Mei, yang berada di depan, sedikit kehilangan keseimbangan. Sebelum dia bisa jatuh, tangan Xiao Chen sudah mencengkeram pinggangnya.

"Hati-hati," katanya, suaranya tenang di tengah lolongan angin.

Xu Mei menoleh. Wajah mereka sangat dekat—hanya beberapa sentimeter. Mata ungu keemasan Xiao Chen menatapnya dengan hangat, dan Xu Mei bisa merasakan jantungnya berhenti selama satu detik.

"Aku... aku baik-baik saja," katanya, tapi suaranya bergetar.

"Yakin?"

"Ya. Terima kasih."

Xiao Chen melepaskan pinggangnya, tapi tidak sebelum jari-jarinya sedikit menekan—sentuhan ringan yang entah kenapa terasa seperti api di kulit Xu Mei. Dia berjalan melanjutkan perjalanan, wajahnya merah padam, dan dia sangat berharap tidak ada yang memperhatikan.

Wei Ling memperhatikan. Lin Yao juga. Mereka bertukar pandang sekilas—tatapan yang mengatakan, "Satu lagi."

---

Setelah Ngarai Angin, pemandangan berubah drastis.

Hutan lebat berganti menjadi padang rumput liar yang ditumbuhi bunga-bunga biru bercahaya. Di kejauhan, pegunungan rendah membentang, dan di baliknya—menurut peta Xu Mei—terletak Lembah Seribu Bintang.

"Bunga-bunga itu," kata Wei Zhen, menghentikan kudanya. "Itu Bunga Ingatan. Konon, mereka hanya tumbuh di tempat yang pernah disentuh oleh energi surgawi."

"Berarti kita sudah dekat," kata Xiao Chen.

Denyutan dari kain emas di balik jubahnya semakin kuat sekarang—bukan hanya getaran, tapi hampir seperti tarikan fisik. Menariknya ke selatan. Ke pegunungan di depan.

"Kita berkemah di sini malam ini," kata Wei Zhen. "Besok kita capai Lembah Seribu Bintang."

Malam di padang bunga adalah pemandangan yang menakjubkan.

Bunga-bunga Ingatan bersinar dalam gelap—biru lembut, seperti lautan bintang yang turun ke bumi. Langit di atas juga penuh bintang, menciptakan ilusi bahwa mereka berjalan di antara dua cermin.

Setelah makan malam, Xiao Chen duduk di atas bukit kecil, menatap pegunungan di kejauhan. Kedua potong kain emas sudah dikeluarkannya, dan keduanya bersinar lebih terang dari biasanya. Pola-pola formasi berputar cepat, menciptakan bayangan di tanah yang menunjuk ke satu arah.

"Aku bisa merasakannya," bisiknya. "Potongan ketiga. Sangat dekat."

"Kau tidak bisa tidur?"

Xu Mei muncul dari balik bukit. Dia sudah berganti pakaian—jubah merah marunnya diganti dengan gaun malam sederhana berwarna biru gelap, kontras dengan rambut hitamnya yang tergerai bebas. Tanpa tusuk giok dan riasan profesional, dia terlihat lebih muda, lebih lembut.

"Aku tidak butuh tidur," jawab Xiao Chen.

"Aku tahu. Tapi kadang-kadang, duduk sendiri di malam hari... itu bukan tentang tidur. Itu tentang sesuatu yang lain." Xu Mei duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan—tapi tidak terlalu jauh. "Apa yang kau pikirkan?"

"Banyak hal."

"Bisa kau sebutkan satu?"

Xiao Chen menatap bintang. "Aku memikirkan apa yang akan kutemukan besok. Dan apa artinya bagiku."

Xu Mei mengangguk pelan. "Aku sudah bekerja untuk Paviliun Harta Surgawi selama delapan puluh tahun. Aku sudah melihat banyak misteri—artefak kuno, reruntuhan yang hilang, harta karun dari Alam Immortal. Tapi ini..." Dia menatap kain emas di tangan Xiao Chen. "...ini berbeda. Ini bukan hanya artefak. Ini... hidup."

"Aku tahu."

"Dan aku takut."

Xiao Chen menoleh, alisnya terangkat. "Kenapa?"

"Karena..." Xu Mei menarik napas. "Karena aku tidak ingin kau menemukan jawaban yang membuatmu pergi."

Kalimat itu menggantung di udara.

"Aku tidak akan pergi," kata Xiao Chen.

"Kau tidak tahu itu. Bagaimana kalau kain ini membawamu ke Alam Immortal? Atau Alam Dewa? Bagaimana kalau jawabannya ada di tempat yang tidak bisa kami ikuti?"

Xiao Chen menatapnya lama. Lalu, tanpa peringatan, dia meraih dagu Xu Mei dan menciumnya.

Xu Mei membeku. Matanya terbelalak, lalu perlahan terpejam. Ciuman ini berbeda dari yang di balkon—lebih dalam, lebih penuh, lebih pasti. Lidah Xiao Chen menyentuh bibirnya, dan dia membalas tanpa ragu. Tangannya naik ke lehernya, mencengkeram kerah jubahnya.

Mereka berciuman di bawah lautan bintang, di tengah padang bunga yang bersinar, sementara angin malam membawa aroma manis dari Bunga Ingatan.

Ketika akhirnya mereka berpisah, napas Xu Mei tersengal. "Kau... kau tidak bisa seenaknya—"

"Aku tahu. Tapi aku tetap melakukannya."

"Itu—itu tidak sopan!"

"Memang tidak."

Xu Mei menatapnya, wajahnya merah, bibirnya sedikit bengkak. Lalu dia tertawa—tawa kecil yang campuran antara frustrasi dan bahagia. "Kau benar-benar tidak bisa diperbaiki."

"Aku tahu." Xiao Chen menyelipkan rambut di belakang telinganya. "Tapi aku tidak akan pergi, Xu Mei. Ke mana pun kain ini membawaku, aku akan selalu kembali pada kalian."

"Janji?"

"Janji."

Xu Mei menatapnya, lalu mengangguk. "Kalau begitu... aku akan ikut. Ke mana pun."

Keesokan paginya, mereka mencapai mulut Lembah Seribu Bintang.

Lembah itu tersembunyi di balik dua tebing raksasa yang hampir bertemu di puncaknya, menciptakan celah sempit yang hanya bisa dilewati satu orang. Dari dalam, cahaya aneh berpendar—bukan cahaya matahari, tapi sesuatu yang lebih tua. Lebih purba.

"Ini," kata Xu Mei, suaranya bergetar. "Kita sudah sampai."

Xiao Chen turun dari kudanya. Denyutan kain emas sekarang sangat kuat sehingga dia bisa merasakannya di seluruh tubuhnya. Tarikannya tidak tertahankan.

"Aku akan masuk," katanya.

"Aku ikut," kata Wei Ling dan Lin Yao bersamaan. Mereka saling menatap, lalu mengangguk.

"Aku juga," tambah Xu Mei.

"Aku akan menunggu di sini," kata Wei Zhen. "Seseorang harus menjaga jalan keluar."

Feng Mo dan Zhang Yuan mengangguk setuju. Mereka akan berjaga di mulut lembah.

Satu per satu, Xiao Chen, Wei Ling, Lin Yao, dan Xu Mei memasuki celah di antara tebing. Begitu mereka melewatinya, pemandangan di dalam membuat mereka semua terpaku.

Lembah Seribu Bintang.

Sebuah kawah raksasa membentang di depan mereka, dasarnya dipenuhi kristal-kristal raksasa yang bersinar dalam berbagai warna—biru, ungu, emas, perak. Kristal-kristal itu menjulang seperti menara, menciptakan hutan cahaya yang memantul ke segala arah. Di tengah kawah, melayang di atas platform batu kuno, sebuah bola energi berputar perlahan.

"Bintang-bintang itu..." bisik Wei Ling. "...itu bukan kristal biasa. Itu adalah bintang yang jatuh."

Dan di bawah bola energi, di atas platform batu, sesuatu berkilau.

Sepotong kain emas.

"Akhirnya," bisik Xiao Chen.

Dia melangkah maju. Tapi begitu kakinya menyentuh lantai kawah, tanah di bawah mereka bergetar. Kristal-kristal mulai berdengung. Dan dari balik menara-menara kristal, sesuatu bergerak.

Penjaga batu.

Tiga makhluk raksasa yang terbuat dari batu hitam, masing-masing setinggi sepuluh meter, dengan mata merah menyala. Tubuh mereka dipenuhi ukiran formasi kuno. Mereka telah tertidur selama puluhan ribu tahun, dan sekarang... mereka terbangun.

"Jadi ini jebakannya," gumam Lin Yao, mencabut pedangnya.

Tapi sebelum dia bisa melangkah, Xiao Chen sudah mengangkat tangannya.

"Berhenti."

Satu kata. Hanya satu kata. Tapi suaranya bergema dengan sesuatu yang bukan milik manusia—sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, lebih absolut.

Para penjaga batu berhenti di tengah langkah. Mata merah mereka berkedip. Tubuh mereka gemetar.

Lalu, perlahan-lahan, mereka berlutut.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!