NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

"Apa yang kamu lakukan selama sepekan di sana?"

Adrene bertanya sambil memijat-mijat lengan Ilyar yang jauh lebih berisi dan padat. Ototnya pun terlihat sedikit menonjol terutama pada bagian biseps.

Gadis itu baru saja selesai mandi dan berganti pakaian setelah sejam lalu diantar ke ruangan dengan penampilan kusam dan dekil. Aroma busuk menguar tajam dari pakaian serta tubuhnya padahal Rubia dan Adrene yang sering merasakan perenungan di lantai tujuh tidak pernah seperti itu.

"Itu karena sedikit latihan," jawab Ilyar.

Adrene dan dua lainnya memandangi Ilyar lekat, tidak ada lagi bocah yang terlihat penakut, seolah Ilyar sekarang sudah beradaptasi dengan Dakrossa, padahal begitu banyak peristiwa buruk yang dialami. Entah hal apa saja yang telah dilewatkan selama Ilyar lepas dari perhatian mereka.

"Kemari." Adrene menepuk sisi kosong di sampingnya.

Ilyar tidak bertanya apa-apa dan patuh. Duduk di samping Adrene, tapi kemudian alkemis tersebut memintanya untuk duduk memunggungi. Saat itu pula Adrene meletakkan telapak tangan pada pusat punggung Ilyar, memejamkan mata untuk memeriksa kondisi pusat energi bocah tersebut. Cukup mengejutkan mengetahui ener Ilyar berkembang pesat dan itu tidak terlalu wajar.

Dalam beberapa kasus, seseorang yang tidak mampu mengendalikan atau salah dalam meningkatkan ener bisa mengalami luka fatal sampai mampu merusak inti jiwa. Namun, Ilyar yang baru memahami dasar dari pengendalian ener telah melakukannya dengan baik. Adrene bisa menilai itu hanya dari merasakan aliran energi yang tampak stabil, kuat, dan berlimpah dalam tubuh gadis itu.

"Bagaimana bisa kamu mengumpulkan begitu banyak energi spiritual dalam tubuhmu?" Adrene mengernyit.

"Aku hanya mengikuti intruksi kalian. Aku bahkan sampai terbawa mimpi."

"Mimpi?" Rubia mendekat.

Ilyar mengangguk. "Ya, saat tertidur aku merasa perlu melakukannya kemudian jiwaku seperti berkelana di suatu tempat yang sangat tenang. Aku duduk di sana lalu fokus merawat enerku melalui meditasi ringan. Jujur saja, lebih nyaman melakukannya di dalam mimpi."

"Gila, dasar monster!" Valeris membungkam mulutnya setelah berseru demikian. Bukan hanya Valeris yang menunjukkan keterkejutan, melainkan pula Adrene dan Rubia yang terkesiap.

Saat tertidur jiwa bisa keluar dan berkelana ke alam roh, ke tempat-tempat berenergi spiritual murni yang jauh lebih besar kualitasnya ketimbang di alam sadar. Hanya segelintir orang yang mampu melakukannya, namun ada resiko untuk setiap keuntungan itu. Misal, jika salah langkah atau mengalami hal tidak terduga, jiwa bisa tersesat dan lupa arah pulang sehingga terjebak. Membuatnya jatuh dalam tidur abadi atau kondisi vegetatif.

"Tidak salah lagi. Dia bisa melakukannya," gumam Adrene.

Rubia langsung meremas sepasang bahu Ilyar, menjelaskan secara ringkas tentang pengumpulan ener dan bahayanya jika melakukan itu saat tidur.

Ilyar mengangguk-angguk mengerti dan berjanji akan lebih berhati-hati ke depannya. Setidaknya janji itu membuat ketiganya lega.

"Kalau begitu beristirahatlah. Besok adalah hari bebas, kita akan menghabiskan waktu di perpustakaan saja lalu mulai sekarang jangan berkeliaran tanpa memberitahu kami. Mengerti?"

"Baik, Bibi!"

"Ah, tidak! Jangan terpisah dari kami!" lanjut Rubia.

Ilyar mengulum senyum. Kekhawatiran mereka sangat berharga karena di istana selain ayahnya tidak ada yang memperhatikannya. Mengingat dia anak pertama, semua orang menuntutnya untuk bisa melakukan segala hal dengan sempurna, tidak peduli seberapa keras dia berusaha. Hanya kesalahan yang paling mencolok dan diperhatikan oleh orang-orang di sana. Semua mengharapkan kejatuhannya sebagai pewaris.

***

Dakrossa, Perpustakaan.

Hampir tidak ada pengunjung di perpustakaan pada hari bebas. Perawatannya pun kurang, tampak dari permukaan lantai batu retak ditumbuhi jamur tipis di sela-sela dan permukaannya, rak kayu tua yang disesaki buku-buku tua kusam berdebu yang terbuat dari perkamen dan aroma lembap bercampur perkamen tua dengan sedikit campuran dari logam besi berkarat.

Lihatlah, lentera minyak yang tergantung pada dinding batu memperlihatkan koloni lumut menyelimuti sudut-sudut ruangan. Meski begitu, Ilyar tidak terlalu terpaku pada penampilan dan kondisi ruangan, ia langsung menghampiri rak-rak kayu tua kasar yang tampak rapuh dimakan rayap disesaki buku-buku.

"Siapa tahu aku bisa menemukan manuskrip rahasia atau setidaknya kitab langka, "batin Ilyar seraya menyusuri rak demi rak demi menemukan sebuah buku yang langsung menarik minatnya. Dia bahkan tanpa sadar terpisah dari tiga rekannya. Lagi pula perpustakaan tidak terlalu luas, mudah menemukan satu sama lain apalagi hampir tidak ada pengunjung selain mereka.

Dug.

"Di mana kamu taruh matamu?" Seseorang mengintrupsi sesaat kaki tanpa alas Ilyar menyenggol kasar lututnya.

Ilyar yang nyaris terperosok langsung tersentak. Dia tidak memperhatikan langkah dan terlalu fokus mendongak, memandangi buku-buku pada rak tertinggi sehingga menyenggol lutut seorang pria yang duduk bersila di depan rak. Dipikir lagi dia tidak salah sepenuhnya karena pria itu menghalangi jalan.

"Tentu saja di sini." Ilyar mengerjap sembari menatap lebar si pria bermata merah itu.

Sejujurnya, Ilyar agak was-was karena pemuda itu sangat asing. Apa tahanan baru? Apalagi rune pada rantai borgol yang menjerat kedua tangan dan lehernya jauh lebih rumit dari pada milik Rubia.

"Bukannya minta maaf, kamu malah melototiku?" Pria itu berdiri dan saat itu pula setengah keberanian Ilyar hilang entah kemana.

Pria itu sangat tinggi dan Ilyar hanya mencapai dada bidangnya. Kini, pria tersebut menatap Ilyar dengan rendah tanpa menundukkan kepala.

"Rambut merah dan mata abu-abu...

Pemuda tersebut menatap Ilyar dari atas ke bawah. Ciri-cirinya sama seperti putri Agor.

"I-itu karena kamu duduk di tempat yang tidak seharusnya. Ini masih jalan." Ilyar membela diri.

"Ilyar Justina Valgard?" Pria itu mengabaikan jawaban Ilyar dan menebak nama dengan tampang keras dan sorot mata mengintimidasi.

"Kamu mengenalku?"

Pria itu, yakni Graven Calliso Elvareth, mengembuskan napas. Raut wajah dan sorot matanya melunak seketika dam hal itu membuat Ilyar agak kebingungan. Ilyar sendiri tidak mengenalinya padahal ketika pertama kali masuk ke Dakrossa sempat berpapasan. Bukan tanpa alasan, itu karena Graven telah memangkas rambut hitam panjangnya menjadi pendek.

"Warna rambut yang mencolok," jawab Graven.

Ilyar menatap langsung mata merah suram tanpa binar tersebut lalu menjawab, "Serasi dengan mata merahmu yang indah. Kupikir kita sama-sama mencolok."

Graven terkesiap untuk seperkian detik karena kalimat Ilyar mengingatkannya pada perkataan Agor beberapa tahun silam 'Mata merah yang indah.

Kenapa kamu mau merusaknya?'

"Boleh aku tahu siapa namam-"

"Ilyar!"

"Kamu di mana gadis kecil?"

"Hah, bocah itu membuat cemas saja."

Ilyar menoleh cepat ke sisi kanan, memusatkan perhatian pada celah susunan buku pada rak yang tidak rapat. Dia melihat ketiga wanita dewasa celingak-celinguk untuk menemukan kehadirannya sampai akhirnya mereka bertemu pandang dan ketiganya menghampiri.

"Sudah menemukan buku yang mau kamu baca?" tanya Valeris.

Ilyar menggeleng kemudian mengarahkan tangan kanan ke depan. "Tapi aku punya kenalan."

Huh?

Ketiganya menatap ruang hampa di depan Ilyar. Alis mereka terangkat sebelah, sedangkan Ilyar berkedip dua kali karena pria tadi sudah hilang dari hadapannya.

"Sepertinya rumor tentang perpustakaan berhantu benar adanya," komentar Rubia.

"Pasti itu arwah tawanan yang mati," timpal Adrene.

"Sudahlah. Selama kamu mencari buku, kami akan menunggumu di sudut sana," kata Valeris.

Ilyar mengangguk dan membiarkan ketiganya pergi.

"Padahal aku benar-benar melihatnya. Itu bukan hantu," ucap Ilyar pelan lalu hendak melanjutkan langkah, namun ujung kakinya menendang sebuah buku. Sebelumnya itu tidak ada di sana.

"Panduan dasar dalam bela diri." Ilyar membaca judul buku tersebut lalu menatap cepat ke depan. Baru saja dia menangkap sekelebat bayangan keluar dari perpustakaan. Itu pasti pria yang berbicara dengannya.

"Dia meninggalkannya untukku?" terka Ilyar seraya memungut buku tersebut.

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!