NovelToon NovelToon
Toko Lorong Waktu

Toko Lorong Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: ANGWARUL MUJAHADAH

Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jam digital misterius

Aris memejamkan mata rapat-rapat. Suara ibunya adalah melodi paling indah sekaligus paling menyakitkan yang pernah ia dengar. Getaran dalam suara itu—nada cemas yang sangat ia kenali—seolah-olah menarik paksa jantungnya keluar dari rongga dada.

"Aris... Nak... Ibu tahu kamu di sana. Pulang, Aris..."

Tangan Aris yang memegang biola gemetar hebat, namun ia teringat peringatan Elias. Toko ini hidup dari hukum keseimbangan. Jika ia membuka pintu itu, atau bahkan sekadar menyahut, ia akan menghancurkan perlindungan yang selama ini menjaga orang-orang yang ia cintai tetap aman di dunia mereka.

"Dia bukan ibumu, Aris," Elias berbisik, suaranya sedingin es di belakang telinganya. "Itu hanyalah gema dari waktu yang kau ubah. Saat kau menyelamatkan Sonia, kau menciptakan riak. Dan sekarang, riak itu mencoba menarikmu kembali agar garis waktu bisa kembali stabil."

Aris menggertakkan gigi. Dengan gerakan kaku, ia membalikkan badan, membelakangi pintu hijau itu. Ia berjalan menuju rak paling belakang yang gelap dan meletakkan biola milik anak tadi di sana.

"Aku... aku tidak punya ibu lagi," gumam Aris, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Elias. "Ibu yang kukenal sudah lama tiada di duniaku."

Ketukan di pintu semakin keras, berubah menjadi gedoran yang putus asa. Namun, Aris terus bekerja. Ia mulai mengelap botol-botol kaca yang berisi memori, menyusun jam saku yang retak, dan mengatur timbangan kuno.

Baru saja jemarinya melepaskan timbangan kuno.... Sebuah suara berderit nyaring memecah keheningan gudang tua itu. Aris tersentak. Pintu hijau yang tadi ia hindari kini bergetar hebat. Engselnya memekik, dan perlahan, pintu itu terbuka lebar, menelan kegelapan di balik kusennya dengan hisap angin yang sangat kuat.

Sebelum Aris sempat berteriak, sebuah daya tarik magnetis yang luar biasa menyambar tubuhnya. Ia terhuyung, kakinya kehilangan pijakan, dan dunianya seolah terlipat menjadi satu titik cahaya. Dalam sekejap, ia terlempar ke dalam pusaran ruang yang berdenyut, dikelilingi oleh ribuan jam yang berdetak tidak beraturan.

Aris mendarat dengan keras di sebuah lantai perak yang terasa dingin. Ia berada di sebuah laboratorium kuno yang penuh dengan roda gigi raksasa dan kabel tembaga yang melilit langit-langit. Di hadapannya, seorang pria tua dengan kacamata berlensa ganda sedang mengutak-atik sebuah benda logam berbentuk cakram kecil.

"Ah, kau pengunjung pertama yang datang tanpa diundang dalam seratus tahun terakhir," ujar pria itu tanpa menoleh. Suaranya serak, namun penuh wibawa. "Aku Profesor Chronos, arsitek dari jam digital pertama yang memetakan denyut waktu."

Aris bangkit dengan napas tersengal, matanya menatap tak percaya pada jam-jam yang melayang di udara. "Profesor... di mana saya? Apakah ini masa lalu?"

"Ini adalah Ruang Antara," jawab sang Profesor, kini menatap Aris. "Tempat di mana detik dan menit tidak lagi menjadi penguasa."

Aris mendekat, sebuah ide nekat tiba-tiba muncul di kepalanya. "Profesor, Anda harus menolong saya. Saya perlu kembali ke masa lalu—bukan untuk mengubah dunia, tapi untuk memperbaiki satu kesalahan yang menghancurkan hidup saya. Bisakah Anda membuatkan saya alat? Sebuah jam digital yang bisa membuat saya keluar-masuk lorong waktu sesuka hati?"

Profesor Chronos terdiam, jemarinya berhenti memainkan cakram logam. Ia menatap Aris dengan mata yang menyimpan seribu rahasia. "Membuat kunci waktu adalah tindakan yang berbahaya, Nak. Jika kau salah melangkah satu detik saja, kau bisa terjebak di ruang hampa selamanya."

"Saya tidak peduli," protes Aris tegas!

Saya harus kembali."

Sang profesor menghela napas panjang, lalu mulai mengumpulkan sisa-sisa komponen dari meja kerjanya. "Baiklah. Jika itu tekadmu, aku akan merakit jam itu. Namun ingat, alat ini bukan sekadar penunjuk waktu. Ini adalah kompas takdir yang tidak bisa dirubah oleh siapapun!"

Di bawah temaram cahaya lampu gas, Profesor Chronos mulai merakit jam digital itu, sementara Aris menanti dengan jantung yang berdegup kencang, berharap bahwa waktu yang sudah berlalu akhirnya bisa ia jangkau kembali.

Sejauh mana Aris bersedia mengorbankan masa depannya demi mengubah satu peristiwa di masa lalu yang begitu menghantuinya?

Profesor menjelaskan kalau kamu masuk lorong waktu ada batas waktunya. Hanya 1jam saja. Tetapi kamu tidak bisa merubah apa - apa yang sudah terjadi, kamu hanya melihat saja dan orang lain tidak melihatmu, karena takdir tidak bisa di rubah!"

Profesor Chronos meletakkan jam digital berbentuk gelang perak yang baru saja dirakitnya ke tangan Aris. Jam itu berdenyut dengan cahaya biru pucat yang ritmenya seirama dengan detak jantung. Namun, sebelum Aris sempat mengenakannya, Profesor mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.

"Dengar baik-baik, Aris," suara Profesor kini terdengar jauh lebih serius, nyaris seperti peringatan dari seorang malaikat maut. "Jam ini hanya memberimu izin untuk menjadi saksi. Kau punya durasi tepat satu jam. Setelah itu, sistem akan menarikmu paksa kembali ke sini."

Aris menatap jam itu dengan penuh harapan, namun Profesor melanjutkan dengan nada yang lebih berat, "Dan ini hukum yang tidak bisa kau tawar: kau adalah hantu di masa lalu. Kau tidak bisa menyentuh apa pun, tidak bisa bersuara, dan tidak bisa mengubah apa yang sudah tertulis dalam sejarah. Takdir adalah garis lurus yang kaku; kau hanya diizinkan untuk melihat, tidak untuk mengintervensi."

Aris tertegun. "Jadi... saya tidak bisa mencegah kejadian itu? Saya tidak bisa menyelamatkan apa yang seharusnya selamat?"

"Jika kau mencoba mengubah satu kerikil saja di masa lalu, realitas akan meruntuhkan dirimu sendiri," jawab Profesor dengan tatapan dingin. "Kau akan terjebak dalam celah waktu selamanya, menjadi bagian dari debu yang tidak berarti. Kau datang ke sini untuk mencari jawaban, bukan untuk menjadi pahlawan. Ingat itu, satu jam adalah waktu yang sangat singkat untuk melihat kebenaran yang selama ini kau sangkal."

Aris memandang gelang di tangannya. Harapan untuk memperbaiki keadaan kini terasa hambar, digantikan dengan rasa takut akan apa yang sebenarnya akan ia lihat. Ia menyadari bahwa kadang-kadang, beban terberat dalam hidup bukanlah ketidaktahuan, melainkan kebenaran yang tak bisa diubah meski kita berada tepat di depannya.

Aris menarik napas dalam, memantapkan hatinya. Ia tidak bisa menyelamatkan apa pun, tapi setidaknya, ia bisa memahami mengapa takdir begitu kejam padanya.

1
Adi Rbg
berguna banyak pelajaran tentang hidup!
SANTRI MBELING: makasih kak
total 2 replies
Ariasa Sinta
bahasan nya udah berat ya, meskipun q kurang ngerti sama istilah²nya v lanjutkan saja, penasaran
Ariasa Sinta
hmmm...
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
SANTRI MBELING: ia kak. makasih
total 1 replies
SANTRI MBELING
makasih kak 👍👍👍👍🙏🙏😍😍
Ariasa Sinta
aku kasih kopi thor biar semangat update nya 💪
SANTRI MBELING: jangan lupa baca yang novel saya yg cinta zaenab
total 2 replies
Ariasa Sinta
banyak bgt kata2 d kepala ku thor buat komen tapi q bingung ngerangkai nya,
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
Ariasa Sinta
aduhhh banyak wow nya ini
Ariasa Sinta
aku merinding loh ...
Ariasa Sinta
aku mampir thor,
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor
SANTRI MBELING: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!