Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai ruang makan yang luas, memantul di atas meja marmer yang selalu tampak mengkilap sempurna. Seperti pagi-pagi sebelumnya dalam lima tahun terakhir, Siham sudah berkutat di dapur sejak fajar menyingsing. Suasana rumah masih sunyi, hanya terdengar desis penggorengan dan aroma harum nasi goreng bumbu rempah menu kesukaan Dewangga yang mulai memenuhi ruangan.
Siham bergerak dengan ritme yang terjaga. Tangannya yang terbiasa memegang pena dan tablet, kini dengan lincah mengolah bahan makanan. Meski ia adalah seorang editor senior yang disegani di kantor penerbitannya, di rumah ini, ia tetaplah sosok yang menempatkan pelayanan di atas segalanya. Ia menata piring, gelas, dan perlengkapan makan dengan presisi seorang kurator museum. Semuanya harus sempurna, karena ia tahu, Dewangga adalah pria yang tidak menoleransi ketidakteraturan sedikit pun.
Langkah kaki yang tegas dan berwibawa terdengar mendekat. Dewangga muncul dengan setelan kerja yang sempurna; kemeja slim-fit berwarna biru gelap yang lengannya sudah terkancing rapi, serta rambut yang tersisir tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Sang CEO itu menarik kursi, duduk dengan wibawa yang seolah mampu membekukan suhu ruangan.
Siham meletakkan sepiring nasi goreng hangat di hadapan suaminya. "Selamat pagi, Mas," ucapnya lembut, sebuah rutinitas yang tak pernah absen.
Dewangga tidak menjawab salam itu. Alih-alih meraih sendok, ia justru membanting sebuah buku ke atas meja buku dengan nama pena Aksara Renjana yang semalam sempat ia kritik, namun kali ini dengan sorot mata yang jauh lebih murka.
"Siham, aku sudah memikirkan apa yang kamu katakan semalam," suara Dewangga rendah namun tajam, seolah sedang membacakan surat pemecatan.
"Dan aku sampai pada satu kesimpulan. Kamu bukan hanya mengedit buku sampah ini, kamu sudah mulai teracuni oleh isinya."
Siham tertegun sejenak, tangannya yang memegang teko kopi sedikit gemetar, namun ia segera menguasai diri. Ia menuangkan kopi hitam pekat ke cangkir Dewangga tanpa suara, lalu perlahan duduk di kursi seberang suaminya.
"Apa yang Mas maksud dengan teracuni?" tanya Siham tenang, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang.
Dewangga menunjuk buku itu dengan jarinya yang kokoh. "Semalam kamu bicara soal ruang aman dan wanita yang diam. Pagi ini, aku melihat tatapan matamu berbeda. Kamu seolah sedang merencanakan sesuatu di balik topeng istrimu yang penurut ini. Apa naskah sampah ini yang mengajarimu untuk mulai membangkang? Apa penulis ini yang memberimu ide bahwa menjadi istri yang melayani suami adalah sebuah penderitaan?"
Siham menarik napas panjang. Ia menatap buku karyanya sendiri itu, lalu beralih menatap suaminya. "Mas, buku itu tidak mengajarkan pembangkangan. Buku itu mengajarkan kejujuran. Kejujuran bahwa di balik rumah-rumah mewah seperti ini, banyak wanita yang jiwanya sudah mati sebelum raganya dikuburkan. Mas merasa terancam hanya karena aku mulai bicara menggunakan hati?"
Dewangga mendengus sinis, tawa hambar yang meremehkan itu kembali muncul. "Hati? Jangan konyol, Siham. Dunia ini tidak digerakkan oleh hati, tapi oleh logika dan kekuatan. Buku ini hanya kumpulan narasi orang-orang kalah yang ingin mencari pembenaran atas ketidakmampuan mereka menghadapi realita. Sebagai editor senior, seleramu seharusnya lebih berkelas daripada mengurusi racauan emosional seperti ini."
"Mungkin bagi Mas, itu buku sampah," jawab Siham dengan nada yang sangat dingin, sebuah ketenangan yang justru membuat suasana pagi itu terasa lebih tegang. "Itu karena Mas membaca dengan logika seorang CEO. Mas membaca dengan angka dan efisiensi, bukan dengan rasa. Mas tidak tahu rasanya menjadi wanita yang merasa sendirian meskipun ada suami yang duduk tepat di hadapannya setiap pagi."
Siham menjeda kalimatnya, matanya tidak berkedip sedikit pun dari Dewangga. "Wanita itu, Mas... kalau sudah terlalu lama diam dan tidak dianggap, dia bisa sangat berbahaya. Jika dia tidak punya ruang untuk bicara, dia bisa tiba-tiba berakhir tergantung di tali karena merasa dunia ini sudah tidak punya telinga untuk mendengarnya."
Dewangga tersentak. Tangannya yang tadinya hendak meraih sendok mendadak kaku. Ia menatap Siham dengan mata terbelalak, kaget luar biasa mendengar kalimat seekstrem itu keluar dari mulut istrinya yang biasanya manis.
"Apa yang kau bicarakan? Itu konyol dan menjijikkan," tukas Dewangga dengan nada tinggi. "Wanita yang melakukan itu berarti dia tidak memegang teguh iman. Putus asa adalah tanda lemahnya mental, bukan karena masalah buku atau perhatian suami!"
Siham tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kepedihan yang sangat mendalam. Ia bangkit, lalu mulai menyendokkan lauk tambahan ke piring suaminya dengan gerakan yang tetap lembut, seolah percakapan tentang kematian tadi hanyalah bumbu pelengkap sarapan.
"Jangan salah, Mas. Justru iman yang kuat sering kali membuat seorang perempuan menjadi sangat rapuh di titik lelahnya," ucap Siham tanpa menoleh.
"Karena imannya kuat, dia tidak akan ragu untuk merayu Tuhannya setiap malam di atas sajadah. Dia tidak akan ragu meminta Sang Pencipta untuk segera mencabut nyawanya karena dia tahu, hanya Tuhan yang bisa memberikan istirahat sejati. Dia tidak ingin bunuh diri, Mas, dia hanya ingin... pulang, karena di rumah ini dia merasa seperti orang asing."
Wajah Dewangga mengeras. Rahangnya mengatup rapat, dan guratan emosi terlihat jelas di dahinya. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang suami baru saja dikuliti habis-habisan.
"Cukup, Siham! Hentikan omong kosongmu!" bentak Dewangga, suaranya menggelegar di ruang makan yang sunyi. "Makan saja makananmu. Aku tidak mau mendengar teori psikologi murahanmu lagi. Setelah makan, sebaiknya kau periksa otakmu ke psikiater. Aku serius. Kau sudah terlalu banyak membaca naskah sampah sampai bicaramu mulai ngelantur, tidak logis, dan mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan mental!"
Dewangga segera menyambar sendoknya, menyuap nasi goreng itu dengan kasar seolah ingin membungkam semua argumen yang masih menggantung di udara. Siham terdiam, ia kembali ke mode diamnya. Ia tahu, jika ia terus membalas, Dewangga tidak akan segan untuk menghancurkannya dengan kata-kata tentang status sosial dan hutang budi.
Namun, sebelum Dewangga menyelesaikan makannya, ia meletakkan sendoknya dengan suara keras yang memekakkan telinga. Ia menatap Siham dengan sorot mata memerintah.
"Satu hal lagi. Sore ini, pulang kantor, jangan ada jadwal lembur. Kau harus sudah siap di rumah jam enam sore," ucap Dewangga dengan nada dingin yang mutlak. "Papa dan Mama mengundang kita makan malam di rumah besar jam tujuh malam. Papa ingin membicarakan ekspansi bisnis baru, dan Mama ingin melihat 'menantu kesayangannya' ini. Pastikan kau memakai pakaian yang pantas. Tutupi matamu yang kusam itu dengan riasan yang benar. Aku tidak mau Mama bertanya-tanya kenapa wajahmu tampak seperti orang yang sedang merencanakan kematian."
Siham menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Makan malam dengan mertuanya berarti ia harus kembali menjadi "Editor Kehidupan". Ia harus memoles wajahnya, memoles suaranya, dan mengedit naskah kebohongannya agar di depan Papa dan Mama Dewangga, mereka tetap terlihat seperti pasangan emas yang sempurna.
"Iya, Mas. Aku akan siap tepat waktu," jawab Siham patuh, matanya tertuju pada nasi yang mulai mendingin di piringnya.
Dewangga bangkit dari kursi, menyambar tas kerjanya tanpa menoleh lagi ke arah istrinya. Langkah kakinya yang berat menjauh, meninggalkan Siham yang masih terpaku dalam kesunyian yang mencekik. Di kepalanya, ia kembali menyusun sajak dalam hati, sebuah bait yang tak akan pernah ia bagikan kepada siapa pun.
"Pagi ini kau menyuruhku ke psikiater karena aku bicara soal luka, namun sore nanti kau memintaku berpura-pura bahagia di depan orang tuamu. Kau adalah sutradara yang hebat, Mas, namun kau tidak pernah sadar bahwa istrimu ini sudah lama kehabisan napas di tengah naskah yang kau buat."
Siham memejamkan mata. Ia tahu, babak berikutnya akan jauh lebih berat. Ia harus menghadapi Mama Dewangga yang perfeksionis dan Papa Dewangga yang sangat membanggakan pernikahan balas budi ini. Namun jauh di lubuk hatinya, satu nama mulai berbisik, mengingatkannya pada kotak bludru di perpustakaan yang belum sempat ia buka sepenuhnya semalam.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor