NovelToon NovelToon
Sistem: Peluang 100%

Sistem: Peluang 100%

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Naik Kelas
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.

[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]

Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Kontrak

Udara dingin dari pendingin ruangan perlahan turun. Mengendap di atas bahu Sri Arsila. Tekanan atmosfer di meja bundar itu terasa sepuluh kali lebih padat dari sebelumnya.

Pernyataan Sri barusan menggantung di udara. Menguap bersama bau parfum sintesis yang memuakkan.

Fais tidak merespons. Ia membiarkan wanita itu terbakar perlahan oleh kata-katanya sendiri.

Sri menarik napas lambat. Tangannya merogoh tas kulit di pangkuannya.

Sebuah map tipis ditarik keluar. Berwarna hitam pekat.

Suara gesekan map dan meja marmer terdengar tajam. Memotong sisa denting piano dari sudut restoran. Dua lembar kertas bergeser mulus, berhenti tepat di hadapan Fais. Tinta hitam tercetak sangat rapat di atas kertas putih bersih itu.

"Ini drafnya." Sri bersuara datar. Berusaha mati-matian menutupi getaran di ujung pita suaranya.

Fais menunduk. Menatap tumpukan huruf di depannya.

"Posisi kau sebagai penyuntik dana. Saya sebagai operator lapangan." Sri mulai merapal isi kertas itu. Tatapannya tidak lepas dari rahang Fais. "Pembagian hasil. Hak pengelolaan aset harian. Semuanya standar."

Fais tidak berkedip. Ia mengangkat kertas itu pelan.

Matanya menyapu baris pertama. Kepalanya mendadak terasa dihantam balok kayu.

Pasal satu. Ketentuan umum. Klausul penjaminan.

Kosakata itu. Kosakata sialan itu lagi. Teks ini terlihat seperti barisan sandi rumit peninggalan zaman kuno.

Dulu, melihat teks sepadat ini akan membuat isi perutnya bergejolak hebat. Otaknya akan memblokir informasi itu secara otomatis. Ia akan merobek kertas ini dan menyuruh orang bicara langsung ke intinya.

Tapi malam ini ia menahan tangannya. Ia memaksa matanya tetap terbuka lebar. Memaksa saraf-saraf di kepalanya bekerja gila-gilaan.

Siksaan membaca buku tebal berminggu-minggu belakangan ini membantunya. Ia mulai mengenali pola.

Kata 'profit sharing' tidak lagi terdengar seperti mantra santet. Kata 'operator' mulai memiliki bentuk fisik dan alur kerja di dalam benaknya.

Fais sadar. Dirinya berkembang. Otot di dalam tengkoraknya tidak lagi kejang saat disuruh mengunyah informasi kaku.

Namun itu belum cukup. Kenyataannya, ia nyaris tidak memahami separuh dari kalimat majemuk yang tertulis di kertas ini. Bahasa hukum korporat adalah monster jenis lain.

Fais menahan napas. Ia membaca. Ia membaca huruf itu satu per satu. Sangat lama. Sangat lambat.

Hanya satu hal yang bercokol kuat di kepalanya. Ia tidak boleh terlihat bodoh. Pantang baginya terlihat seperti preman pasar yang kebingungan mengeja brosur perumahan.

Ia mempertahankan raut wajahnya. Membekukan setiap otot di pipi dan dahinya. Datar. Kosong. Tanpa ekspresi.

Di seberang meja, Sri Arsila sedang berperang melawan kewarasannya sendiri.

Wanita itu menatap Fais lekat-lekat. Memperhatikan mata tajam pria itu yang menelusuri setiap inci kertas.

Detik berganti menit. Fais tidak kunjung membalik halaman. Pria itu menatap satu paragraf di tengah halaman pertama dengan intensitas yang mengintimidasi.

Sri menelan ludah paksa. Kulit belakang lehernya terasa ditarik kasar.

Pria ini sedang membedah drafnya. Mencari celah. Pria ini sedang mencari lubang jebakan sekecil atom yang mungkin sengaja Sri tanam di antara tanda koma dan titik.

Ketelitian tingkat iblis. Begitu pikir Sri.

Sebuah gelas kristal di meja sebelah berdenting beradu dengan botol anggur. Suara pelan itu terdengar seperti lonceng eksekusi di telinga Sri.

Pria di depannya terlalu tenang. Keheningan absolut Fais menyiksa paru-paru Sri pelan-pelan. Meremukkan sisa-sisa tembok arogansinya.

Padahal, Fais hanya sedang mengeja kata 'komprehensif' di dalam hati agar tidak lidahnya tidak keseleo jika terpaksa mengucapkannya.

Sri tidak tahan lagi. Ruangan ini terasa semakin sempit. Ia harus mengambil kendali sebelum mentalnya benar-benar hancur berantakan di atas meja ini.

Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Masih ada sisa."

Suara Sri membuat mata Fais perlahan terangkat dari kertas. Sorot mata itu menabrak langsung ke retina Sri. Begitu pekat. Begitu gelap.

"Masih ada aset perusahaan lama saya yang belum sempat diendus Wawan dan anjing-anjingnya." Sri melanjutkan kata-katanya. Napasnya ditahan di dada.

Fais meletakkan draf itu kembali ke atas meja. Menunggu.

"Sebuah gudang logistik di pinggiran barat kota. Izin operasionalnya masih atas nama entitas hukum yang benar-benar terpisah dari induk perusahaan saya yang hancur."

Mata wanita itu memancarkan kilat putus asa. Kilat yang coba dibungkus rapat dengan sisa harga diri seorang mantan direktur.

"Tapi bangunan itu mati total. Untuk menstabilkan operasional awal, mengurus pajak tertunggak, menyuap preman lokal, dan menyalakan kembali mesin-mesin di sana..."

Sri berhenti sejenak. Menyedot oksigen dari ruangan berpendingin ini.

"Saya butuh dua ratus juta."

Angka itu terlempar ke udara. Jatuh berdebum di atas marmer italia yang memisahkan mereka.

Sri meremas jari tangannya sendiri di bawah meja. Ia sebenarnya sedang melempar dadu kosong.

Uang itu nominal yang sinting. Untuk ukuran orang asing tanpa latar belakang jelas seperti Fais, meminta uang sebesar itu di pertemuan kontrak pertama adalah tindakan bunuh diri secara profesional.

Ia tidak berharap Fais benar-benar mengeluarkan uang itu malam ini. Ia menunggu Fais tertawa sinis. Ia menunggu pria itu mulai membentak. Atau setidaknya, menguliti rencananya dan menawar nominal itu hingga ke angka paling dasar.

Fais terdiam. Lama.

Lampu kristal raksasa di langit-langit restoran memantulkan cahaya di iris matanya.

Dua ratus juta.

Fais tidak paham bagaimana sirkulasi uang sebesar itu bekerja dalam skala bisnis pabrik. Tapi ia sangat hafal digit nominal di dalam saldo tabungannya.

Fais menunduk. Tangan kanannya masuk perlahan ke dalam saku jaket.

Ia menarik keluar sebuah ponsel pintar. Bodinya lecet di ujung. Terlihat sangat salah tempat berada di atas meja marmer impor ini.

Ibu jari Fais bergerak di atas layar kacanya. Mengetuk beberapa kali. Cahaya kebiruan dari layar memantul tipis di wajahnya yang sedingin pahatan batu.

Ia tidak bicara. Ia hanya menatap layar. Memastikan deretan angka nol yang ia ketik sudah benar.

Satu ketukan terakhir di tombol konfirmasi.

Pria itu mengunci layar ponselnya. Meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan sangat pelan.

Sunyi keparat kembali menguasai teritori meja mereka.

Sri mengerutkan kening. Kebingungan merayap naik ke ubun-ubunnya. Apa yang baru saja terjadi? Apa pria ini sedang mengirim pesan ancaman pada anak buahnya?

Getaran kasar mendadak mengoyak paha Sri. Ponsel di dalam saku kemejanya menyala terang.

Wanita itu menarik ponselnya dengan gerakan kaku. Matanya melirik layar yang menampilkan notifikasi terbaru.

Satu pemberitahuan dari aplikasi perbankan prioritasnya.

Deretan angka hijau memenuhi layar kacanya. Terpampang tanpa ampun.

Transfer Masuk: Rp200.000.000,00.

Darah di wajah Sri Arsila menyusut habis seketika. Kulitnya pucat pasi.

Untuk pertama kalinya malam ini, topeng besi wanita itu retak parah. Matanya menganga menatap layar ponsel, lalu perlahan beralih menatap makhluk mengerikan di seberang mejanya.

Bukan karena jumlah nominal uang itu. Dua ratus juta hanyalah biaya makan malam sirkel lamanya di masa jaya.

Tapi karena proses gila ini. Pria ini tidak bertanya sama sekali. Tidak berkedip sedikit pun. Tidak ada negosiasi berdarah. Tidak ada adu urat leher.

"Kau..." Suara Sri tersendat di pangkal tenggorokan. Terdengar seperti suara orang tercekik.

Fais menatapnya lurus. Wajahnya datar. Tidak ada otot yang berkedut.

"Kau bahkan tidak memeriksa laporan keuangannya." Dada Sri naik turun dengan ritme kacau. Jari-jarinya gemetar memegang pinggiran ponsel.

Fais diam. Ia menatap mata wanita itu dengan sorot kosong.

Tentu saja ia tidak memeriksa apa pun. Fais bahkan tidak tahu wujud fisik laporan keuangan itu seperti apa. Kertas grafik warna-warni? Tabel angka rumit? Ia buta huruf soal beginian.

Namun, di mata Sri yang sudah dipenuhi paranoia akut, keheningan absolut itu memiliki makna yang seribu kali lebih menakutkan.

Sri menyadari satu hal. Ia baru saja menjual jiwanya pada iblis yang salah.

"Kau benar-benar gila." Sri berbisik pelan.

Fais mengabaikan ucapan itu.

Tangannya bergerak lambat merayap ke tengah meja. Meraih sebuah pena bermerek berbalut logam perak yang tergeletak di sana.

Ia menarik napas panjang. Merasakan dinginnya tabung logam pena di sela jari telunjuk dan ibu jarinya.

Ujung tinta pena menyentuh bagian paling bawah kertas kontrak. Menarik garis tegas dan cepat. Membentuk tanda tangan yang kasar, berantakan, tapi mengunci nasib mereka berdua secara permanen.

Kertas itu disorongkan kembali ke arah Sri Arsila.

Denting sendok perak menyentuh porselen terdengar lagi dari ujung ruangan. Pelayan restoran berjalan cepat dengan wajah menunduk.

Lalu, sebuah suara mekanis yang sangat familier bergema di dalam tengkorak Fais.

Ting.

Panel layar transparan mendadak mencuat di sudut pandangannya. Membelah realitas ruangan mewah ini.

[Negosiasi berhasil!]

[Misi Passive Income Progress meningkat.]

[Progress: 5%]

1
ghost
novel ga jelas...ga usah di baca
Ironside: Terima kasih /Joyful/, kalau boleh tahu. Apa yang perlu aku perbaiki?
total 1 replies
ghost
novel tolol
Ironside: Oke /Smile/
total 1 replies
Cecilia
up heii, udh nunggu agak lama masih 25 chapter. 200 chapter lah kakk
Ironside: Apa-apaan kamu Kak /Curse/. Aku sedang revisi /Scream/
total 2 replies
Gege
kan bisa turun di ruangan fitness apartemen, lari diatas tritmil Thor...🤣🤣
Ironside: Iya sih /Facepalm/
total 1 replies
Gege
pelit bener systemnya Thor...dimana mana ada system buat memudahkan, dan banyak cheat..hiburan harapan dalam bentuk tulisan yang mengalir ringan..🤣
Ironside: Untuk perkembangan sifat MC juga, karena pengalamannya sebatas tukang bangunan aja 😆.
total 1 replies
Cecilia
mana Insectnya kak
Ironside: Tidak ada /Scream/
total 1 replies
Yui
Akhirnya setelah 3x bulan purnama, author ini bikin nopel yang ada insectnya /Proud//Proud/
Ironside: Sembarangan /Curse//Curse//Curse/, tidak ada insect di sini /Grievance/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!