NovelToon NovelToon
Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Balas Dendam / Wanita Karir
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.

Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.

Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?

Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelisah

Suara alarm berdering nyaring, membangunkan Alma dari tidurnya yang bisa dibilang kurang nyenyak semalaman. Jemarinya yang lentik otomatis terulur, meraba tempat tidur di sampingnya, tetapi hanya mendapati seprai yang dingin dan kosong. Seketika ia membuka mata lebar, lalu menghela napas panjang yang sarat kekecewaan.

"Bukankah dia bilang cuma tiga hari di luar kota? Tapi kenapa belum pulang juga? Ke mana dia sebenarnya?" gumamnya lirih.

Alma lantas memutuskan beranjak dari tempat tidur, melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, ia sudah mengenakan mukena, siap menunaikan kewajiban sholat Subuh. Di dalam sujudnya, segala keresahan dan firasat buruk yang bersarang di hatinya selama beberapa hari terakhir, meluap tak terbendung.

"Ya Allah... kenapa sejak beberapa hari ini perasaanku selalu gelisah tak menentu? Ada apakah gerangan? Kalau memang ada sesuatu, tolong tunjukkanlah pada hamba dan berilah kekuatan untuk menghadapinya, ya Allah..." doanya tulus dalam hati.

Selesai beribadah, Alma melipat rapi mukenanya lalu meletakkannya kembali ke tempat semula. Ia kemudian berganti pakaian mengenakan setelan kerja formal, blouse berwarna biru laut dipadukan dengan celana panjang biru dongker serta blazer warna senada. Sebagai penyempurna penampilannya, ia memakai hijab segiempat dengan motif gradasi warna navy-grey yang menambah kesan anggun sekaligus tegas.

Tanpa membuang waktu lama, Alma segera berangkat menuju kampus tempatnya bekerja sebagai seorang dosen. Lalu-lintas pagi hari itu cukup padat, membuat perjalanannya berjalan lamban. Saat kendaraannya berhenti di lampu merah, matanya tanpa sengaja menangkap sosok yang begitu ia kenal, keluar dari sebuah mobil mewah yang terparkir tak jauh dari posisinya.

"Itu... itu kan, Mas Nova?"

Jantung Alma seketika berdebar kencang. Netranya melebar tak percaya, melihat pria itu berjalan tergesa-gesa dengan langkah lebar. Wajahnya tampak begitu cemas, lalu menghilang masuk ke dalam lobi sebuah rumah sakit besar yang berada tepat di seberang jalan.

"Ngapain dia ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Kenapa dia nggak bilang apa-apa ke aku? Kemarin lusa dia bilang ada dinas luar kota, tapi ternyata...?"

Kekhawatiran serta firasat buruk langsung menyeruak memenuhi seluruh pikirannya.

"Sebaiknya aku ikuti dia," gumamnya penasaran.

Begitu lampu lalu lintas berubah hijau, Alma langsung membelokkan kendaraannya, masuk ke area parkir rumah sakit tersebut. Ia segera turun, kemudian menyusuri setiap koridor dengan langkah cepat. Matanya sibuk memindai setiap sudut bangunan itu mencari keberadaan suaminya.

Sampai akhirnya, ketika ia sampai ruang rawat bersalin, telinganya menangkap suara yang sangat dikenalnya. Suara yang selama ini selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang saat bicara padanya. Namun, kali ini terdengar begitu panik dan cemas. Pada siapa...?

"Bagaimana keadaan istri dan bayi kami, Dok? Apakah keduanya baik-baik saja? Apakah persalinannya berjalan lancar?"

Duarrr!!!

Alma seketika berdiri membeku di ujung koridor. Kalimat itu terlontar dari mulut pria yang selama tiga tahun ini menjadi suaminya. Bagaikan ledakan bom atom yang menghancurkan segalanya.

Suara itu... jelas-jelas suara Nova, suaminya sendiri. Namun, apa yang baru saja ia dengar? Istri dan bayi kami?

Alma memberanikan diri menoleh ke arah suara. Dan tak salah lagi, pria berstatus suaminya itu tengah berbicara dengan seorang dokter di depan salah satu ruang rawat.

Kaki Alma terasa lemas tak bertulang, tangannya mencengkeram kuat dinding koridor agar tak jatuh tersungkur. Kepalanya berdenyut hebat dengan berbagai pertanyaan. Rasa sakit di ulu hatinya bagaikan tertusuk pisau tajam yang berkarat.

Dengan sisa tenaganya, ia berjalan tertatih mendekati ruangan di mana Nova masuk ke dalamnya. Dari kaca pintu ia bisa melihat pemandangan yang mengoyak nuraninya, membuat air matanya tumpah deras tanpa kendali.

Terlihat di dalam sana, Nova berdiri di samping tempat tidur pasien, tangannya erat menggenggam tangan seorang wanita yang terbaring lemah, meski wajahnya tampak pucat tetapi bersinar bahagia. Di sampingnya, terlihat ibu dan ayah mertuanya tak kalah sumringah wajahnya, serta seorang perawat sedang menggendong bayi mungil yang masih terbalut kain putih, menangis pelan. Dan ekspresi di wajah Nova... tatapan penuh cinta, kekhawatiran, serta kebanggaan yang selama tiga tahun pernikahan mereka, tak pernah sekalipun ditujukan padanya dengan intensitas sedalam itu.

"Alhamdulillah, Pak, Bu. Bayinya laki-laki dalam keadaan sehat dan stabil. Berat badannya juga normal, selamat ya, Pak, Bu. Putra Anda tampan sekali," jelas perawat tersebut sambil tersenyum ramah.

Nova tersenyum lebar, lalu mencium punggung tangan wanita di depannya dengan lembut. "Dengar itu sayang, kamu hebat sekali. Terima kasih sudah memberiku hadiah terindah di dunia ini, terima kasih sudah berjuang keras melahirkan anak kita..."

Kata-kata itu menusuk telinga Alma, menghancurkan setiap kepingan hati yang masih tersisa. Ia sadar sekarang, ke mana saja suaminya menghilang selama ini. Kenapa dia selalu pulang larut atau bahkan tidak pulang berhari-hari dengan alasan ke luar kota.

Ternyata selama ini... ia bukanlah satu-satunya. Ternyata suaminya telah membangun kehidupan bersama keluarga lain di belakangnya, dan bahkan telah memiliki keturunan.

Alma menggigit bibirnya kuat-kuat menahan isakan yang hendak meledak. Ingin rasanya ia muncul di hadapan mereka, tetapi sisi hatinya yang lain menahannya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret dan merekam dengan berbagai sudut. Kemudian dengan langkah gontai meninggalkan tempat tersebut dengan membawa luka yang entah sampai kapan akan mampu ia obati.

Namun, karena berjalan dengan kepala tertunduk dan terlalu fokus dengan pikirannya, tak sadar Alma justru menabrak seseorang di depannya.

Brukkk

Alma terhenyak sesaat, tetapi kepalanya masih tertunduk, karena merasa malu dengan keadaan wajahnya yang sembab bersimbah airmata.

"Ma-maaf... Saya nggak sengaja," ujarnya seraya membungkuk, lalu dengan cepat melangkah pergi, meninggalkan sesosok pemuda yang tadi tak sengaja ditabraknya.

Pemuda itu mengernyit dalam, seolah mengingat sesuatu. "Siapa dia? Tapi suara itu aku seperti mengenalnya."

Entah apa yang ada dalam benaknya, pemuda itu pun bergegas mengejar kepergian Alma.

Sementara itu Alma telah sampai lobi. Ia tidak langsung kembali ke mobilnya, melainkan membawa langkahnya menuju taman kecil di samping rumah sakit tersebut. Ia lantas duduk di salah satu bangku panjang, tatapan matanya kosong ke arah depan, tetapi pikirannya sangat berisik.

Dibukanya ponsel di tangan lalu menekan nomor suaminya dan tersambung. Alma menarik napas panjang untuk menetralkan emosinya.

"Assalamualaikum...Mas, di mana, kapan pulang?"

"Waalaikumsalam, Sayang. Mas masih di luar kota. Mendadak proyek ada masalah, jadi..."

Alma segera memutuskan sambungan teleponnya tak ingin lagi mendengar kelanjutan ucapan Nova. Jika selama ini dia selalu menunjukkan kekhawatirannya, ketika Nova mengatakan kalimat yang sama, kini kalimat itu bagaikan palu godam yang menghantam dadanya. Terlalu sakit rasanya menerima kebohongan ini.

Airmata kembali berlomba melaju keluar seolah ingin menunjukkan bahwa sang pemilik raga tengah dirundung duka mendalam.

"Kenapa rasanya sesakit ini, ya Allah?" Alma menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyeri.

Tiba-tiba langit yang tadinya berawan perlahan berubah menjadi mendung hitam dan titik-titik air dari atas mulai berjatuhan. Alma tetap bergeming, meski air hujan mulai mengenai sekujur tubuhnya, seolah ingin melebur bersama hujan, menumpahkan kesedihannya.

Di bawah pohon pucuk merah, sang pemuda yang menatapnya dalam diam sejak tadi, akhirnya melangkahkan kakinya menghampiri. Di tangan kanannya memegang payung lalu berhenti tepat di hadapan Alma.

"Apa masa kecilmu kurang bahagia, Nona. Sampai-sampai sudah sedewasa ini pun masih bermain hujan?"

Seketika wajah Alma terangkat, kala melihat seseorang berdiri di hadapannya, dan....?

.

Salam hangat dan sehat selalu🤗

Selamat datang di karya baru Moms, semoga kalian suka dan betah.😍

Selamat membaca.😊

1
Rahmawati
baru denger ada daging batangan, lucu😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: intermezo mbak, biar gak serius serius amat🤣
total 1 replies
Rahmawati
kasian alma😭
sunaryati jarum
Benci dan irimu akan menghancurkan kamu dan keluarga kamu sendiri Marsha
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ laki Lo itu copy paste gak di baca jadi mana ngarti dia
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Suci Dava
Selamat hari raya Idul Adha 1447H utk seluruh saudara muslim seluruh dunia. Lanjut Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sami sami, selamat hari raya idul adha 🫰🫶
total 1 replies
Dew666
💃💃💃
Nar Sih
syukurin rasain pembalasan untuk laki,,pecundang seperti mu nova😂😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Nar Sih
rasakan pembalasan dri alma
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu nova,dan pasti dlm hti mu marah ngk terima
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: begitulah
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah itu pembalasan yang elegan dan berbobot, Alma.Bagaimana kau membalas Alma Nova,itu balasan sekarang tertuju padamu dan Marsha.Sebentar lagi rumah yang kau tempati bersama Marsha akan jatuh ke tangan Alma.Kau dan Marsha tidak akan pernah bisa menyentuh atau mencelakai Alma
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Selamat ya Al🥰🥰🥰
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih kak🫰
total 1 replies
Patrick Khan
seketika kertasnya kosong🤣🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sekarang kan gak perlu nulis tinggal ketik🤣
total 5 replies
Tiara Bella
aku suka gayamu Alma.....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih akak🫰
total 1 replies
Esther
Kerja Nova selama ini kalau dikantor cuma marah2 bu Alma🤭😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah betul itu🤣
total 1 replies
Patrick Khan
seketika nova jawab .maaf bu dulu yg ngerjakan istri saya..saya hanya trima jd🤣🤣🤣
Patrick Khan: /Facepalm//Determined//Determined//Determined/
total 2 replies
Tiara Bella
wow pembalasan Alma dimulai ....Nova km ky anak SD ckckck....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Patrick Khan
eh telat malah marah2 GK jelas nova
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
Nar Sih
waah...jdi gk sabar nunggu kejutan untuk novan
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: silakan menunggu🤭
total 1 replies
Nar Sih
selamat alma ,saat nya misi pembasan buat nova mulai😂
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih mam🫰
total 1 replies
Nar Sih
siap,,ngenes kmu nova🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: biar tahu rasa🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!