NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lautan Kabut Kematian

Lautan Kabut Kematian bukanlah samudra yang terbuat dari air garam. Hamparan tak bertepi yang memisahkan Benua Biru Langit dari Wilayah Suci Primordial ini adalah lautan cairan hitam pekat yang meleburkan segala sesuatu dan terus-menerus menguapkan kabut beracun ke udara.

Di tempat ini, burung tidak bisa terbang, ikan tidak bisa berenang, dan cahaya matahari tidak pernah menembus turun.

Di tengah pekatnya kabut kelabu tersebut, sebuah kapal terbang raksasa melaju dengan susah payah. Itu adalah Kapal Terbang Awan Merah, pusaka kebanggaan yang dulu ditakuti di Benua Biru Langit, namun kini terlihat rapuh bagaikan daun kering di tengah badai.

Kubah formasi energi kapal itu berkedip-kedip liar, mengeluarkan suara mendesis setiap kali kabut beracun mencoba menggerogotinya.

"Cepat! Masukkan lebih banyak Batu Roh ke inti formasi!" teriak Meng Fan dari ruang kemudi, wajahnya basah oleh keringat dan jelaga. Tangannya dengan gemetar membuang debu dari batu roh yang telah habis energinya, menggantinya dengan ratusan batu roh baru dari karung di sebelahnya.

"Kita sudah membakar tiga ribu Batu Roh Tingkat Menengah hanya dalam dua hari perjalanan!" keluh Meng Fan. Dantiannya yang baru terbentuk ulang bekerja keras untuk membantu mengarahkan kemudi kapal, tapi tekanan dari lautan ini membuatnya nyaris muntah darah. "Jika terus begini, kekayaan Sekte Awan Suci yang kita rampok akan habis hanya untuk menyalakan perisai!"

Di atas geladak haluan, Chu Chen berdiri mematung menembus terpaan angin kelabu. Jubah abu-abunya berkibar keras. Ia tidak mempedulikan teriakan panik Meng Fan. Matanya yang gelap, dengan pupil yang sesekali memancarkan kilatan naga emas, menatap ke arah cakrawala tanpa batas.

Di sisinya, Bai berdiri dengan wajah yang tertutup sebagian oleh kerudung barunya. Meski meridiannya telah distabilkan, hawa dingin lautan ini masih membuat wanita itu sedikit menggigil.

"Ini baru perairan luar," ucap Bai, suaranya berusaha menutupi getaran ngeri di hatinya. "Lautan ini dipenuhi oleh tulang-belulang para ahli yang gagal menyeberang. Semakin dekat kita dengan Benua Tengah, kabut ini tidak hanya menggerogoti formasi fisik, tetapi akan mulai menyerang pikiran dan menyerap Lautan Qi secara langsung."

Chu Chen tidak menoleh. "Berapa lama lagi hingga kita mencapai daratan?"

"Dengan kecepatan kapal fana ini? Setidaknya sepuluh hari lagi," jawab Bai. Ia melirik raut wajah Chu Chen dari samping. "Dan kau sebaiknya menyimpan keangkuhanmu, Chu Chen. Di Benua Biru Langit, membunuh ahli Istana Jiwa mungkin membuatmu menjadi dewa. Tapi di Benua Tengah, Istana Jiwa hanyalah penjaga pintu, dan Raja Fana adalah komandan pasukan biasa. Tempat ini adalah pembuangan."

Bukannya merasa gentar, sudut bibir Chu Chen justru melengkung membentuk seringai pemangsa.

"Penjaga pintu..." gumam Chu Chen, mengepalkan tangan kanannya yang kini memancarkan kekuatan Inti Emas Tahap Menengah. "Bagus. Aku benci jika makananku terlalu mudah dikunyah."

DUARRRRR!!!

Tiba-tiba, lambung kanan Kapal Awan Merah berguncang sangat hebat, seolah baru saja ditabrak oleh gunung. Meng Fan terlempar dari ruang kemudi, bergulingan di atas geladak kayu.

"Kita ditabrak!" jerit Meng Fan. "Ada sesuatu di dalam kabut!"

Chu Chen menyipitkan matanya. Niat Spiritual naganya langsung membelah kabut tebal di sebelah kanan kapal.

Dari dalam kabut yang bergolak, sebuah tombak jangkar raksasa yang terbuat dari tulang ikan paus hitam menembus perisai emas kapal dengan suara robekan yang mengerikan. Jangkar itu menancap dalam-dalam di geladak kapal, diikuti oleh rantai besi tebal yang ditarik tegang.

Melalui rantai itu, sebuah kapal lain perlahan muncul dari balik kabut. Kapal itu tidak terbuat dari kayu, melainkan sepenuhnya dirangkai dari tulang-belulang monster laut raksasa. Layarnya berwarna hitam kelam, dipenuhi noda darah dan lumut beracun.

"Bajak Laut Tulang Hitam," Bai berbisik, wajahnya memucat. "Mereka adalah para buronan dari Benua Tengah yang tidak berani kembali ke daratan, memilih hidup dengan merompak kapal-kapal pengungsi dari benua bawah yang mencoba menyeberang!"

"Hahahaha! Lihat apa yang kita tangkap hari ini, anak-anak!"

Sebuah tawa kasar dan parau menggelegar dari kapal tulang tersebut. Sosok seorang pria bertubuh raksasa dengan kulit berwarna biru kehitaman melompat melintasi rantai jangkar, mendarat dengan dentuman keras di atas geladak Kapal Awan Merah.

Pria itu bertelanjang dada, memegang sebuah pedang golok raksasa yang bergerigi. Di wajahnya terdapat tato berbentuk gurita laut dalam. Aura yang memancar dari tubuhnya langsung menekan udara di sekitar geladak, membuat Meng Fan memuntahkan darah segar dan jatuh berlutut.

Alam Istana Jiwa Tahap Awal!

Hanya seorang pemimpin bajak laut rendahan di perairan ini, namun kekuatannya setara dengan para Pemimpin Sekte yang dulu menguasai Benua Biru Langit!

Di belakang pria biru itu, puluhan anak buahnya yang berada di Alam Inti Emas berhamburan turun, mengepung haluan kapal dengan seringai buas. Di mata mereka, kapal kayu dari benua bawah ini hanyalah domba gemuk yang siap disembelih.

"Kapal dari Benua Biru Langit, eh?" Kapten bajak laut itu mengendus udara, menatap Chu Chen, Meng Fan, dan akhirnya matanya terkunci pada sosok Bai. Seringainya melebar, memperlihatkan gigi-giginya yang runcing bagai hiu. "Dan membawa harta karun yang sangat lezat. Wanita itu... auranya murni. Tangkap dia hidup-hidup untukku. Bunuh dua laki-laki kurus itu dan buang mayatnya ke laut!"

"Siap, Kapten Tuo!"

Tiga bajak laut di Alam Inti Emas Tahap Awal melesat maju dengan pedang terhunus, berniat memenggal Chu Chen dan Meng Fan dalam satu gerakan.

Bai karena dorongan naluri memundurkan langkahnya, tangannya bersiap membentuk segel es pelindung, meskipun ia tahu sisa kekuatannya tidak akan cukup untuk menahan mereka.

Namun, bayangan abu-abu melangkah melewatinya.

Chu Chen berdiri tepat di depan terjangan ketiga ahli Inti Emas tersebut. Wajahnya tidak menunjukkan riak emosi, matanya segelap lautan kabut di sekeliling mereka.

"Kalian menyela pelayaranku," bisik Chu Chen.

Ia tidak mencabut pedang. Ia hanya mengangkat tangan kanannya dan menampar udara kosong di depannya.

BAM! BAM! BAM!

Tidak ada gejolak Qi yang megah. Hanya ledakan tenaga fisik murni dari Zirah Tulang Naga Hitam yang kini didukung oleh Inti Emas Tahap Menengah.

Tamparan itu merobek udara dengan kecepatan yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Tiga ahli Inti Emas yang sedang melesat di udara itu membeku seketika. Kepala mereka berputar seratus delapan puluh derajat ke belakang dengan suara retakan tulang yang memuakkan, sebelum akhirnya leher mereka meledak menjadi kabut darah akibat tekanan angin yang terlampau keras.

Tiga mayat tanpa kepala jatuh berdebum ke geladak.

Tawa para bajak laut lainnya tercekik di kerongkongan. Senyum Kapten Tuo membeku.

"Apa..." Kapten Tuo menatap tiga anak buah pilihannya yang mati hanya karena kibasan tangan kosong. "Siapa kau?! Anak dari benua bawah tidak mungkin memiliki kekuatan fisik sebrutal ini!"

Chu Chen melangkah maju, membiarkan darah dari tiga mayat itu mengalir ke bawah sepatu botnya.

"Kau adalah orang pertama dari Benua Tengah yang menyambutku," Chu Chen memiringkan kepalanya, menatap Kapten Tuo dengan pupil emas vertikal yang kini menyala terang menembus kabut. "Sebaiknya kau memiliki rasa yang lebih lezat dari sekte-sekte fana yang kutinggalkan."

"Keparat sombong! Jangan mengira kau bisa menakutiku hanya karena membunuh kutu Inti Emas!" Kapten Tuo meraung. Keangkuhannya sebagai penguasa lautan tersinggung.

Ia memusatkan seluruh kekuatan Istana Jiwa-nya. Gejolak unsur air raksasa meledak dari tubuhnya, menyerap kabut beracun di sekitarnya untuk membentuk sebuah perisai pusaran air di sekeliling pedang goloknya.

Tebasan Pemutus Samudra Beracun!

Kapten Tuo melontarkan tubuh raksasanya ke udara, menebaskan goloknya lurus ke arah Chu Chen dengan kekuatan yang bisa membelah sebuah pulau kecil menjadi dua.

Menghadapi serangan tingkat Istana Jiwa, Chu Chen tidak menghindar. Ia justru mengambil langkah lebar ke depan, menekan pijakannya hingga geladak kayu besi itu retak.

Di dalam Dantiannya, Inti Emas Naga Hitam berputar ganas. Api Teratai Merah dan Niat Pedang Purba melebur menjadi satu, dialirkan langsung ke kepalan tangan kanannya.

Ia tidak menggunakan pusaran hisapan. Ia ingin menghancurkan keangkuhan benua baru ini secara mutlak.

"Hancur," raung Chu Chen.

Ia meninjukan kepalan tangannya langsung menyongsong mata golok raksasa yang turun tersebut.

BLAAAAAAAAR!!!

Ledakan dahsyat merobek kabut beracun dalam jangkauan satu mil. Cahaya merah darah dan perak menyilaukan mata semua orang di atas kapal.

Suara logam tebal yang remuk terdengar menyayat hati. Golok raksasa milik Kapten Tuo—pusaka tingkat tinggi yang telah memenggal ratusan ahli—hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan tinju telanjang Chu Chen.

"T-Tidaaaak!" Kapten Tuo menjerit ngeri.

Tinju Chu Chen tidak berhenti di situ. Membawa sisa hawa panas dan ketajaman pedang purba, tinju itu terus melaju, menghantam lurus menembus perisai air beracun sang kapten, dan mendarat telak di tengah dadanya.

KRAAAK!

Dada Kapten Tuo amblas ke dalam. Tulang rusuknya hancur menusuk paru-parunya. Tubuh raksasa setinggi dua meter itu terlempar ke belakang bagaikan peluru meriam, menghantam tiang utama kapal bajak laut tulang di seberang hingga tiang itu patah menjadi dua.

Kapten Tuo memuntahkan campuran darah dan serpihan organ dalam. Ia meronta-ronta di atas geladak kapalnya sendiri, matanya membelalak menatap pemuda berjubah abu-abu yang kini berdiri di ujung rantai penghubung.

Ahli Alam Istana Jiwa. Dikalahkan dengan satu pukulan tunggal.

Sisa puluhan bajak laut Inti Emas menjatuhkan senjata mereka, lutut mereka bergetar hebat. Ini bukan lagi perompakan; ini adalah pertemuan dengan kiamat.

Chu Chen berjalan perlahan melintasi rantai jangkar yang mengambang di atas cairan hitam mematikan, melangkah pindah ke atas kapal bajak laut tersebut.

"Jangan... ampuni aku..." Kapten Tuo merintih, berusaha merangkak mundur. Kesombongannya telah berubah menjadi kengerian murni. "Aku memiliki harta... aku tahu jalan aman ke Benua Tengah..."

"Harta dan jalan amanmu ada di dalam kepalamu. Aku bisa mengambilnya sendiri," bisik Chu Chen dingin.

Ia menempelkan telapak tangannya ke wajah Kapten Tuo.

Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan!

Daya hisap gelap gulita meledak. Saripati kehidupan, fondasi Istana Jiwa, dan kepingan ingatan di dalam otak Kapten Tuo ditarik paksa keluar. Pria raksasa itu menggelepar sesaat sebelum akhirnya mengering menjadi sekam layu yang tertiup angin laut.

Sensasi hangat mengaliri Dantian Chu Chen. Namun, tidak seperti saat ia masih di Alam Lautan Qi di mana satu ahli Istana Jiwa bisa membuatnya menerobos tingkat, kali ini energi itu hanya mengisi sedikit ruang di Inti Emasnya.

Jurang energi Inti Emas Naga ini benar-benar tidak masuk akal. Energi Istana Jiwa tahap awal sekarang hanya terasa seperti camilan ringan, batin Chu Chen, mengepalkan tangannya dengan ketidakpuasan.

Ia perlahan bangkit berdiri dan memutar tubuhnya, menatap sisa puluhan bajak laut Inti Emas yang kini bersujud di hadapannya, memohon ampunan dengan air mata dan ingus.

"Bersihkan geladak kapalku," ucap Chu Chen dengan suara sedingin lautan mati. "Pindahkan semua Batu Roh dari kapal lusuh itu ke kapal tulang ini. Mulai hari ini, kapal ini adalah milikku. Siapapun yang bergerak terlalu lambat, akan kugunakan sebagai umpan pancing di lautan ini."

Tanpa perlu diulangi, para perompak kejam itu berebut berdiri dan berlari melaksanakan perintahnya layaknya pelayan yang paling patuh.

Bai, yang masih berdiri di Kapal Awan Merah, menatap pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia sadar, tidak peduli di benua mana pun mereka berada, hukum alam fana akan selalu tunduk pada sang pemangsa puncak.

Perjalanan menuju Wilayah Suci Primordial baru saja dimulai, dan Chu Chen telah meninggalkan jejak darah pertamanya.

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!