Aina memutuskan untuk meminta cerai dari sang suami karena tidak sanggup untuk hidup berumah tangga dengan Darno lagi, Darno memang tidak berselingkuh namun segala sikap yang dia miliki begitu buruk serta sangat kasar sekali.
ekonomi mereka juga sangat turun sehingga membuat Aina begitu bingung untuk menghadapi ini semua, belum lagi mertua yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, membuat Aina gelap mata dan memutuskan untuk bercerai.
namun belum sempat itu terjadi malah kejadian mengerikan terjadi pada wanita cantik itu, Aina mendadak saja sakit pada kemaluan dan mengeluarkan ulat berwarna putih yang berjumlah begitu banyak.
Apa terjadi pada Aina?
mengapa mendadak saja Aina menderita penyakit seperti itu?
ikuti terus kisah mereka di cerita Novita Jungkook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Semakin parah
Aina termenung sendirian memikirkan apa yang akan terjadi pada nasib dia saat ini, mendadak saja ada penyakit seperti itu di dalam tubuh dan pantas saja sejak kemarin tubuh dia terasa begitu kesakitan, sejak semula memang darah yang keluar memang sudah tidak wajar sehingga pantas bila sekarang malah timbul penyakit lain di tubuh wanita ini.
Yang membuat dia bingung adalah saat ini itu adalah penyakit apa, Kenapa mendadak saja ulat berwarna putih itu keluar dengan jumlah yang begitu banyak sekali, selain ulat maka Aina juga merasakan sakit yang tidak terkira namun dia tetap berusaha tegar agar orang tua tidak terlalu memikirkan keadaan dia ini.
Andai saja Aina adalah wanita yang manja maka sudah semula dia mengatakan kepada semua orang bahwa dirinya sedang sangat kesakitan, mungkin selama ini ketika menikah dia terbiasa memendam rasa sakit sendiri sehingga masih terbawa sampai sekarang, untuk mengatakan apa yang membuat dia sakit terasa berat di lidah wanita ini.
Lebih baik memendam rasa sakit itu saja dan tidak lagi membicarakan terhadap orang lain, sebab ketika dulu masih bersuami dia sering mengatakan rasa sakit yang dia alami ketika lelah bekerja seharian, namun respon Darno sama sekali tidak baik dan dia mulai saat itu berhenti membicarakan rasa sakit yang dia alami.
Karena hal itu membuat dia terbiasa dan tidak pernah mengeluh lagi walau rasa sakit yang dia rasakan sungguh begitu besar, sama seperti sekarang walau tinggal di rumah orang tua sendiri namun tetap saja sifat itu masih terbawa pada diri Aina, merasa nanti orang tua tidak akan mendengarkan apa yang membuat dia sakit.
Padahal Pak Seno begitu menyayangi Aina dan akan melakukan apa saja demi kebahagiaan sang anak, sebenarnya sejak awal dia sudah tidak merestui hubungan antara Aina dan Darno ini tapi kala itu Aina begitu keras kepala sehingga dia tetap ingin menikah dengan pria tersebut hingga kemudian saat ini justru berpisah.
"Haaaaah sakit sekali perut ku sekarang." Aina meringkuk kesakitan.
"Kenapa mendadak saja aku memiliki penyakit seperti ini? apa yang telah terjadi kepada diriku ini sebenarnya!" pekik Aina namun tertahan.
"Sedikit saja kau tidak pernah bisa memberikan aku kebahagiaan, Ya allah? apa salah ku sebenarnya sehingga nasib yang ku jalani begitu perih sekali." isak Aina.
"Aku tidak pernah meninggalkan ibadah dan aku juga tidak pernah jahat kepada orang lain, namun kenapa aku harus menderita seperti ini?" Aina sungguh tidak paham dengan nasib dia.
"Hiks, hiks sakit sekali perut ku sekarang!" isak Aina semakin bergulung-gulung di atas ranjang kamar ini.
Sakit dan juga kerap mempertanyakan nasib yang begitu tidak beruntung di mata dia sendiri, kadang Aina juga sering mempertanyakan Kenapa harus mengalami nasib yang begitu buruk, padahal dia sendiri merasa tidak pernah menjalani hal yang di benci oleh Tuhan dan dia juga tidak pernah meninggalkan ibadah walau sambil kerja keras dan pontang-panting.
"Aaaah sakit sekali perut ku!" Aina sudah tidak tahan lagi.
"Itu suara Aina kan ya, Bi!" Wiwin yang baru pulang dari pasar langsung kaget mendengar suara sepupu dia sedang menangis.
"Ya Allah pasti rasa sakit yang sedang dia alami kembali kumat." Bu Putri segera pergi untuk melihat keadaan sang anak.
"Sakiiiiit, aaaaaghhh sakit sekali perut ku!" Aina memang sudah mulai tantrum.
"Aina, kau kenapa?!" Wiwin begitu panik ketika melihat keadaan Aina di atas ranjang.
"Ya Allah apa ini?!" Bu Putri jauh lebih shock ketika melihat sesuatu yang bergerak di atas ranjang dekat kaki Aina.
"Bibi itu apa?!" Wiwin menjerit kaget karena dia juga tidak menyangka.
Dengan mata kepala mereka sendiri menyaksikan ulat berwarna putih itu bergerak liar ke sana kemari dengan jumlah yang begitu banyak, bahkan Aina yang terus menggila karena merasakan sakit luar biasa pada bagian perut dan juga kemaluan sehingga dia sampai melepas celana dalam yang sedang dia pakai.
"Aina! Ai kamu kenapa begini?" Wiwin gemetar ketika melihat Aina yang membuka daster itu.
"Aina tolong sadar, Nak." Bu Putri juga kaget melihat tindakan Aina barusan.
"Sakit sekali, aaaaaghh sakit sekali." ujar Aina sambil menggaruk pada bagian kemaluan.
"Bibiiii itu keluar ulat semua!" Wiwin begitu histeris melihat benda putih berjatuhan dari sana.
Bukan hanya Wiwin saja tapi saat ini Bu Putri juga sangat ketakutan melihat keadaan sang anak yang semakin parah, dokter mengatakan bahwa Aina tidak memiliki penyakit apapun di dalam tubuh dia, namun kenapa sekarang penyakit itu semakin menjadi dan justru keluar benda asing yang sama sekali tidak biasa.
"Aaaagkkkk buang ulat ini dari aku, Win!" Aina telentang sambil membuka kaki lebar.
"Hueeeeek, Hueeeeeek." Wiwin muntah akibat mencium aroma yang sangat tidak enak dari sana.
"AINAAAAAAA!" Bu Putri semakin berteriak histeris dan segera menghampiri Aina yang semakin menggila karena dia merasakan sakit yang tidak biasa.
"BUAAAAANG, AAAAAHKKK BUANG ULAT INI." jerit Aina sambil kejang kejang karena merasakan sakit tidak terhingga.
"Kenapa ini?" Pak Seno juga mendengar keributan itu dan segera masuk ke dalam kamar.
Namun baru saja dia masuk maka langsung keluar lagi karena dia melihat hal yang tidak seharusnya dia lihat, mesti Aina adalah anak dia sendiri namun tetap saja pemandangan itu tidak pantas bila di lihat oleh mata pria, terlebih Aina sudah tidak memiliki rasa malu karena di bandingkan dengan rasa malu maka rasa sakit ini jauh lebih besar.
"Pak tolong ini Aina, kita harus gimana sekarang?" Bu Putri keluar dari dalam kamar untuk berbicara kepada sang suami.
"Aku akan memanggil ustad Toni saat ini juga." Pak Seno segera berlari keluar dari rumah.
Padahal ya baru saja pulang dari rumah Ustad itu namun karena sekarang kondisi memang sedang mendesak maka dia harus kembali lagi, tidak peduli nanti mau bagaimana tapi yang jelas Pak Seno akan berusaha keras agar Aina bisa sembuh dari penyakit yang aneh itu.
"Jelas ini semua pasti ulah Darno dan iblis itu tidak memfitnah sama sekali." gumam Pak Seno di dalam hati.
"Kau tunggu saja nanti ya, akan ku balas semua rasa sakit hati ini." geram Pak Seno sangat marah.
Rasa marah itu yang kadang membuat orang semakin terjerumus karena tidak bisa berpikir dengan jernih, segala sesuatu menjadi tidak karuan bila terbawa oleh emosi sehingga lebih baik untuk tidak emosi terlebih dahulu dan memilih untuk bungkam, saat emosi sudah turun maka bisa membicarakan hal itu dengan baik dan tidak perlu sampai marah.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
semoga ada kemudahan stlh kejadian barusan ,,, bisa melanjutkan perjalanan lg ke padepokan kyai Ahmad
apa cuma perasaanku ya kok sedikit ceritanya 🤭