"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"
Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Diet Racun dan Rayuan Istri Budiman
Kepala Lia terasa seperti habis diputar-putar dalam blender saat ia perlahan membuka mata. Namun, rasa pening itu mendadak hilang digantikan oleh binar kekaguman saat ia melihat sekeliling.
"Wah... gila. Ini kamar atau aula konser?" Lia langsung bangkit dan melompat-lompat di atas tempat tidur.
Kasurnya begitu empuk, jauh lebih nyaman daripada kasur busanya di rumah. Ia memeluk selimut sutra yang terasa sejuk di kulit.
"Ya ampun, ternyata gini rasanya tidur di kamar orang kaya. Kalau tiap hari begini, gue betah deh dikurung!"
Lia merebahkan tubuhnya kembali dengan senyum lebar. Ia ingat dalam novel, Aurellia asli selalu mengamuk jika berada di kamar utama ini. Dia lebih suka kabur dan akhirnya malah berakhir di kamar pengasingan.
"Kenapa ya pemilik karakter ini bodoh banget? Rugi dong nolak kemewahan begini," gumam Lia sambil membayangkan wajah Alistair.
"Punya suami keren, ganteng, kaya raya pula. Oke fix, mulai hari ini gue siap jadi istri nurut, baik, dan budiman sepanjang masa. Demi saldo aman dan nyawa tenang!" teriaknya menggebu-gebu.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu menyadarkannya.
"Masuk!" seru Lia semangat.
Seorang pelayan masuk dengan tubuh gemetar dan kepala menunduk dalam, seolah-olah ia sedang masuk ke kandang singa lapar. Lia menautkan alisnya bingung. Padahal, ia sedang tersenyum manis, bukan sedang memegang pisau.
"M-maaf Putri, mengganggu waktu istirahat Anda..."
Lia teringat, Aurellia asli memang hobi melempar barang ke arah pelayan jika merasa terganggu.
"Ada apa?" tanya Lia sesantai mungkin.
"Pangeran Agung mengajak Putri makan malam bersama," ujar pelayan itu dengan nada suara yang hampir hilang karena takut.
Lia mengangguk mantap.
"Baiklah, aku akan datang. Aku mandi dulu, setelah itu aku turun."
Si pelayan langsung mendongak, matanya membulat tidak percaya. Biasanya, jika diajak makan malam, Aurellia akan berteriak histeris atau mogok makan selama tiga hari.
"Kenapa? Muka saya ada sisa iler ya?" tanya Lia jahil.
"T-tidak Putri! Permisi!" Pelayan itu langsung kabur seolah baru saja melihat keajaiban dunia kedelapan.
Lia tertawa kecil.
"Makan malam, ya? Oke, Lia. Waktunya eksekusi rencana 'Istri Penurut' demi hidup makmur!"
Di depan cermin, Lia menyadari bahwa wajah Aurellia adalah versi lebih tirus dari wajahnya sendiri. Tulang pipinya menonjol karena Aurellia asli sering mogok makan demi mengancam Alistair.
"Duh, kurus banget ini mah. Udah kayak tulang dibungkus baju," gerutu Lia sambil memoles sedikit perona di pipinya.
"Mulai sekarang, no more mogok makan. Rugi, Lia! Inget, di sini makannya gratis dan enak!"
Setelah merasa cukup cantik, Lia turun ke ruang makan. Di sana, Alistair sudah duduk di kursi rodanya, menunggu di ujung meja panjang yang penuh hidangan. Saat Lia masuk, Alistair menoleh dan seketika terpaku.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Aurellia berdandan rapi dan menatapnya tanpa kilat kebencian. Lia yang menyadari suaminya terpesona, langsung mendekat dan membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu di telinga Alistair dengan senyum jahil.
"Gimana? Aku cantik, kan?"
Refleks, Alistair mengangguk.
"Cantik sekali," ucapnya jujur sebelum akhirnya tersadar dan berdehem keras untuk menutupi kecanggungannya.
Apa-apaan ini? Kenapa dia mendadak jadi manis begini? batin Alistair curiga.
"Hidangkan makanannya!" perintah Alistair tegas.
Berbagai olahan daging dan sayuran herbal aromatik mulai memenuhi meja. Lia sudah siap menyantap semuanya, namun matanya tertuju pada satu mangkuk olahan tanaman herbal yang hendak dimakan Alistair.
Sebagai putri dokter yang memiliki insting medis otomatis dari karakter Aurellia, otak Lia langsung berdenyut. Ia tahu tanaman itu memang baik untuk darah, tapi bagi penderita kelumpuhan seperti Alistair, itu justru bisa memperburuk sarafnya.
"Jangan makan itu!" larang Lia spontan sambil menahan tangan Alistair.
"Kenapa tidak boleh?" Alistair heran.
Seorang pelayan memberanikan diri menyela.
"Maaf Putri, bukannya sebelumnya Anda sendiri yang memerintahkan kami memasak ini setiap hari untuk kesembuhan Pangeran Agung?"
Lia tersentak. Oalah... jadi Aurellia asli sengaja mau meracuni suaminya pelan-pelan? Gila ya ini cewek! batinnya ngeri.
"Oh... itu... anu," Lia memutar otak.
"Aku baru nemu literatur baru! Obat itu udah ketinggalan zaman, malah bisa bikin efek samping! Pokoknya jangan dimakan lagi!"
Tanpa menunggu persetujuan, Lia langsung berlari ke dapur kerajaan. Ia mencari-cari bahan di lemari rempah, namun tidak ketemu.
Lia kemudian lari ke halaman belakang sampai menemukan Ilalang Merah yang tumbuh liar. Dengan sedikit aliran energi dari tangannya, kemampuan bawaan Aurellia, Lia mampu mengolah ilalang itu menjadi minuman hangat beraroma segar.
Lia kembali ke meja makan dan menyodorkan gelas itu ke depan Alistair.
"Ini, minum. Obat buatan istri tercinta."
Alistair menatap gelas itu dengan tatapan dingin dan tawa hambar.
"Terakhir kali kamu memberiku minuman, aku pingsan tiga hari dan kamu hampir berhasil menyeberangi perbatasan."
Lia memutar bola matanya. Duh, Ali versi galak ini susah banget dipercaya ya.
Tanpa banyak bicara, Lia merebut gelas itu dan meminumnya setengah tepat di depan mata Alistair.
"Tuh, kalau aku mau ngeracunin kamu, aku duluan yang mati. Puas?" ucap Lia sambil cemberut.
Alistair tertegun. Melihat Lia baik-baik saja, ia akhirnya meminum sisanya. Rasanya hangat dan entah kenapa, aliran energi di kakinya terasa sedikit lebih ringan.
Lia kembali duduk dan melanjutkan makannya dengan diam, meskipun dalam hati ia masih kesal.
Gini amat ya perjuangan hidup. Di dunia nyata nyari duit susah, di sini duit banyak tapi manusia yang dihadapi rasanya pengen ngeluarin khodam.
Ali... aku kangen kamu sayang. Ali yang asli mah dikasih air putih aja bilang makasih sambil senyum, yang ini dibuatkan obat malah nuduh ngeracunin! Rasanya pengen kasih racun beneran.