Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinyal yang Terganggu
Efek dari Bab 17 yang diunggah semalam benar-benar luar biasa. Pagi ini, kolom komentar di platform Nightshade meledak. Arkan sempat mengecek sebentar saat di mobil, dan hampir semua pembaca setianya—termasuk Laras, kalau benar apa kata Gibran—sedang histeris massal. Mereka menyukai sisi "Bima" yang posesif dan gelap, jauh berbeda dari gaya kaku di bab-bab awal.
Namun, di kantor Dewangga Group, suasananya justru berbanding terbalik. Arkan kembali mengenakan jas hitamnya, memasang ekspresi datar, dan bicara hanya seperlunya. Ia seolah ingin menghapus jejak intensitas yang terjadi di apartemennya semalam.
Sia masuk ke ruangan Arkan pukul sembilan tepat, membawa tumpukan dokumen dan kopi suhu 85 derajat kesukaan bosnya.
"Pagi, Pak," sapa Sia. Suaranya terdengar normal, tapi ia tidak berani menatap mata Arkan lebih dari dua detik.
"Pagi," jawab Arkan singkat tanpa mendongak dari tabletnya. "Jadwal hari ini?"
"Rapat koordinasi jam sepuluh, makan siang dengan perwakilan bank jam satu, dan sisanya peninjauan laporan proyek Surabaya," lapor Sia lancar. Ia meletakkan kopi di meja Arkan. "Oh, dan... selamat ya, Pak. Bab 17 sukses besar. Saya sempat intip komentar sebelum mandi tadi, semuanya pada minta Bima jangan dikasih kendor."
Arkan hanya mengangguk kecil. "Itu berkat riset kita. Tapi jangan terlalu terlena, Sia. Kita masih punya Bab 18 yang harus mulai digarap. Saya ingin tensinya tetap stabil, jangan sampai turun lagi."
Sia mencibir tipis di balik tumpukan kertasnya. "Bapak ini ya, baru juga dipuji sudah balik lagi jadi mesin. Santai dikit kenapa, Pak? Nikmati dulu kemenangannya."
"Dalam bisnis dan penulisan, jeda terlalu lama adalah awal dari kegagalan, Sia," sahut Arkan dengan gaya CEO-nya yang paling menyebalkan.
Baru saja Sia ingin membalas, pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Gibran melangkah masuk dengan senyum lebar dan gaya yang sangat kasual—terlalu kasual untuk standar kantor Dewangga.
"Pagi, kawan-kawan! Wah, auranya kok serius banget?" Gibran langsung duduk di kursi depan meja Arkan, lalu melirik Sia. "Sia, hari ini kami cantik deh. Warna bajunya cocok banget sama kamu."
Sia tertawa kecil, merasa suasana yang kaku tadi sedikit mencair. "Makasih, Pak Gibran. Ini baju lama kok, baru sempat dipakai lagi."
"Tetap aja kelihatan beda. Eh, nanti siang kamu ada acara nggak? Saya mau ke kafe baru di bawah, katanya kopinya juara. Temenin yuk?" ajak Gibran tanpa dosa.
Arkan yang sedari tadi pura-pura membaca dokumen, mendadak berhenti. Pulpen di tangannya terhenti tepat di atas kertas. Ia teringat kembali "riset posesif" semalam. Di kepalanya, suara Sia bergema: 'Bima nggak akan mukul orang itu. Dia cuma bakal narik Raya lebih dekat.'
Tapi masalahnya, ini bukan novel. Ini kantor nyata. Dan Arkan bukan Bima yang punya alasan untuk menarik Sia.
"Sia ada jadwal dengan gue nanti siang, Gibran," potong Arkan. Suaranya datar, tapi ada nada tajam yang tidak bisa disembunyikan.
Gibran mengernyit. "Lho? Tadi katanya jam satu lo makan siang sama orang bank, Kan? Masa Sia harus ikut juga? Biasanya kan lo sendiri."
"Ada beberapa detail laporan yang hanya Sia yang tahu. Gue butuh dia untuk mendampingi," bohong Arkan dengan sangat meyakinkan.
Sia menoleh ke arah Arkan dengan bingung. "Pak? Tapi saya sudah siapkan ringkasannya untuk Bapak bawa sendiri. Bapak bilang—"
"Laporannya berubah, Sia. Ada revisi mendadak," Arkan menatap Sia dengan tatapan yang seolah memerintah untuk tidak membantah.
Gibran mengangkat bahu sambil nyengir. "Yah, nasib deh punya bos gila kerja kayak Arkan. Oke deh, lain kali aja ya, Sia. Jangan lupa makan siang, nanti kamu sakit, Arkan malah tambah pusing karena nggak ada yang ngurusin jadwalnya."
Setelah Gibran keluar, suasana di ruangan itu mendadak jadi mencekam. Sia meletakkan tangannya di pinggang, menatap Arkan dengan penuh selidik.
"Pak Arkan. Laporan apa yang Bapak maksud? Saya nggak merasa ada revisi apa pun dari orang bank," tagih Sia.
Arkan menarik napas panjang, berusaha mencari alasan logis. "Saya hanya... merasa kamu harus ikut. Itu saja. Sebagai sekretaris, kamu harus siap kapan pun saya butuhkan."
"Bapak bohong, kan? Bapak cuma nggak mau saya pergi sama Pak Gibran?" tebak Sia frontal.
Arkan tertegun. Ia ingin membantah, ingin bilang kalau itu hanya demi efisiensi kerja. Tapi bayangan Gibran yang tertawa bersama Sia tadi membuatnya merasa sangat terusik.
"Sia, ini bagian dari profesionalitas. Kamu adalah sekretaris saya, bukan teman minum kopi Gibran di jam kerja," ucap Arkan, meskipun ia tahu argumennya agak lemah.
Sia berjalan mendekat ke meja Arkan, membungkuk sedikit hingga wajah mereka sejajar. "Pak Arkan, jangan-jangan Bapak lagi riset adegan 'cemburu' buat Bab 18 ya? Dan Bapak lagi mempraktikkannya sekarang?"
Arkan membalas tatapan Sia. Jarak mereka sangat dekat, sampai Arkan bisa mencium sisa aroma parfum Sia yang masih sama dengan semalam. "Kalau saya bilang iya, apa kamu akan tetap protes?"
Sia terdiam. Ia bisa melihat kilat di mata Arkan yang menunjukkan kalau pria itu benar-benar tidak suka dengan ajakan Gibran tadi. Dan anehnya, bukannya kesal karena dilarang, Sia justru merasa ada sesuatu yang berdesir di perutnya.
"Kalau untuk riset... oke, saya ikut Bapak makan siang sama orang bank," bisik Sia sambil tersenyum tipis. "Tapi ingat, Pak. Di novel, setelah Bima cemburu, biasanya dia bakal kasih sesuatu yang manis buat Raya sebagai kompensasi karena sudah bersikap egois."
Arkan berdeham, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang hampir runtuh. "Saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk novel saya, Sia."
"Baguslah," Sia menegakkan tubuhnya kembali. "Saya siapkan berkasnya sekarang. Jangan telat, Pak. Orang bank nggak suka menunggu."
Saat Sia keluar dari ruangan, Arkan menyandarkan punggungnya dan mengembuskan napas berat. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit berkeringat.
"Gila," gumamnya pada diri sendiri.
Arkan sadar, ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat impulsif dan tidak logis. Ia menggunakan posisinya sebagai bos untuk menghalangi Gibran. Dan yang lebih menakutkan lagi, ia mulai menikmati peran sebagai "Bima" di dunia nyata. Garis itu tidak lagi kabur, tapi seolah sudah menghilang sepenuhnya. Arkan sang CEO mungkin masih memegang kendali perusahaan, tapi Arkan sang Nightshade mulai mengambil alih kendali atas hatinya sendiri.