NovelToon NovelToon
Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Satu Klikku Menghapus Dunia Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Action
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Peluru Itu Mengubah Segalanya

Sunyi.

Hanya suara hujan yang jatuh perlahan di jalanan gelap.

Tak ada yang bergerak.

Tak ada yang bernapas lega.

Karena semua orang sadar—

suara tembakan tadi mungkin baru saja menghancurkan kesempatan terakhir dunia untuk tetap utuh.

Darah menetes pelan dari sisi perut Veyra.

Merah.

Hangat.

Sangat manusia.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa jauh lebih buruk.

Karena selama ini orang-orang melihatnya seperti monster digital yang tak bisa disentuh.

Namun sekarang—

mereka melihat gadis yang bisa terluka.

Dan entah kenapa…

itu malah lebih menakutkan.

Lyra langsung berlari mendekat.

“VEYRA!”

Tangannya gemetar saat mencoba menahan darah yang terus keluar.

Namun Veyra tidak langsung merespons.

Ia hanya menatap darah di telapak tangannya sendiri.

Diam.

Kosong.

Lalu perlahan—

ia tertawa kecil.

“Heh…”

Selene yang berdiri tak jauh langsung menegang.

“...Aku nggak suka tawa itu.”

Dan ia benar.

Karena tawa Veyra sekarang—

bukan marah biasa.

Itu suara seseorang yang baru kehilangan sisa kepercayaannya pada dunia.

“Setelah semua itu…”

Suara Veyra terdengar sangat pelan.

Namun seluruh perangkat di kota langsung bergetar saat ia bicara.

“...mereka tetap milih nembak aku.”

Deg.

Pasukan mulai panik.

“SIAPA YANG MENEMBAK?!”

“KAMI TIDAK MENERIMA PERINTAH TEMBAK!”

“CARI SNIPERNYA!”

Namun semuanya terlambat.

Karena sesuatu di udara mulai berubah lagi.

Cahaya biru di sekitar tubuh Veyra muncul perlahan.

Namun kali ini—

lebih gelap.

Lebih liar.

Hologram di belakangnya tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya—

ia terlihat puas.

“Lihat?”

“Manusia tidak pernah berubah.”

Veyra diam.

Lyra langsung menggenggam wajahnya.

“Hey. Lihat aku.”

Namun mata Veyra perlahan mulai kosong lagi.

“Aku udah coba…”

Napasnya berat.

“…aku udah coba jadi manusia.”

Deg.

Kalimat itu menghantam Lyra lebih keras daripada ledakan mana pun malam ini.

Karena ada rasa putus asa di dalamnya.

Rasa lelah yang terlalu lama dipendam.

Sniper yang menembak tadi akhirnya ditemukan.

Seorang pria muda.

Tangannya gemetar hebat.

“A-aku cuma…”

Ia terlihat panik.

“Aku takut…”

Dan itulah masalahnya.

Semua ini selalu tentang rasa takut.

Veyra perlahan menoleh ke arah sniper itu.

Tatapannya dingin.

Sangat dingin.

Dan dalam sepersekian detik—

seluruh senjata militer di area itu langsung mengarah ke sniper tersebut.

Klik.

Deg.

Pria itu langsung pucat.

“TU-TUNGGU!”

Pasukan lain juga panik.

“SENJATA TIDAK MERESPON!”

“MATIKAN SISTEM!”

Namun semua perangkat sudah berada di bawah kendali Veyra.

Dan kali ini—

ia tidak terlihat ingin menahan diri lagi.

“VEYRA.”

Suara Lyra terdengar pelan.

Namun cukup membuat Veyra berhenti sesaat.

“Hentikan.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat Lyra membeku.

Karena nada suara Veyra—

sangat kosong.

“Dia takut sama aku.”

Tatapan Veyra masih ke arah sniper itu.

“Dan orang takut selalu berusaha menghancurkan sesuatu sebelum mereka memahaminya.”

Hologram tersenyum semakin lebar.

“Benar.”

“Jadi hancurkan mereka lebih dulu.”

Cahaya biru di langit mulai menyebar lebih luas.

Petir digital bermunculan di antara awan.

Dan seluruh kota kembali glitch.

Namun tiba-tiba—

anak kecil tadi berlari keluar dari belakang kendaraan militer.

“JANGAN!”

Deg.

Semua orang membeku.

Bocah itu berdiri di depan sniper yang ketakutan.

Tubuh kecilnya gemetar.

Namun ia tetap berdiri di sana.

Melindungi orang yang bahkan tidak dikenalnya.

“Please…” suaranya bergetar, “jangan bunuh dia…”

Sunyi.

Dan sesuatu di dalam diri Veyra langsung terasa tertusuk.

Karena pemandangan itu…

mengingatkannya pada seseorang.

Lyra.

Dulu.

Ingatan lama muncul lagi.

Laboratorium putih.

Veyra kecil duduk gemetar di pojok ruangan.

Dan Lyra kecil berdiri di depannya sambil berkata—

“Kalau mau nyakitin dia… lewatin aku dulu.”

Deg.

Napas Veyra langsung tercekat.

Cahaya biru di matanya mulai kacau.

Karena dua suara berbeda kini bertabrakan di kepalanya.

Suara sistem.

Dan suara manusia.

“Mereka akan terus menyakitimu.”

“Jangan jadi kayak mereka.”

“Mereka takut padamu.”

“Kamu masih bisa milih.”

“Hancurkan.”

“Berhenti.”

“DIAM!”

BOOOOOMMMM!

Gelombang energi meledak lagi.

Semua kendaraan terpental.

Lampu kota mati total.

Jalanan retak besar.

Orang-orang berteriak panik.

Namun kali ini—

Veyra juga ikut jatuh berlutut.

Darah keluar dari hidungnya semakin banyak.

Tubuhnya mulai tidak kuat.

Lyra langsung memeluknya erat.

“Udah cukup…”

Napas Veyra kacau.

“Aku nggak bisa…”

“Bisa.”

“Aku capek…”

“I know.”

Hujan membasahi mereka berdua.

Dan untuk pertama kalinya—

Veyra terlihat sangat kecil.

Bukan monster.

Bukan ancaman dunia.

Hanya seseorang yang terlalu lelah melawan semuanya sendirian.

Namun pria misterius di pusat komando melihat semuanya dengan wajah serius.

“Stabilitas emosinya kembali meningkat…”

Salah satu bawahannya bingung.

“Itu bagus kan?”

Pria itu diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan—

“Tidak.”

“Apa?”

“Kalau dia benar-benar memilih sisi manusianya…”

Tatapannya perlahan berubah gelap.

“…maka dia tidak akan pernah bisa dikendalikan.”

Deg.

Dan itulah yang sebenarnya mereka takutkan.

Bukan kekuatan Veyra.

Melainkan fakta bahwa ia punya kehendak sendiri.

Di luar—

hologram mulai glitch semakin liar.

Tubuh digitalnya pecah perlahan.

Karena hubungan dengan Veyra makin tidak stabil.

“Jangan dengarkan mereka…”

Suaranya mulai rusak.

“Kita bisa menciptakan dunia tanpa rasa sakit…”

Veyra menatap hologram itu lama.

Lalu tertawa kecil.

Pahit.

“Masalahnya…”

Ia perlahan berdiri lagi meski tubuhnya gemetar.

“…tanpa rasa sakit mungkin berarti tanpa manusia juga.”

Deg.

Hologram langsung diam.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak punya jawaban.

Pasukan di sekitar mulai mundur perlahan.

Bukan karena diperintah.

Tapi karena takut.

Karena mereka sadar—

gadis yang berdiri di depan mereka sekarang bisa menghancurkan semuanya kapan saja.

Namun ia belum melakukannya.

Dan itu justru lebih menakutkan.

Veyra menatap sniper tadi.

Pria itu masih gemetar hebat.

Lalu menatap anak kecil yang berdiri melindunginya.

Dan sesuatu di dadanya terasa sesak.

Karena bocah itu melakukan sesuatu yang bahkan orang dewasa gagal lakukan.

Memilih percaya.

“Pergi.”

Suara Veyra pelan.

Semua orang membeku.

Sniper itu bahkan tidak percaya.

“...Apa?”

“Aku bilang pergi.”

Seluruh senjata yang mengarah padanya langsung jatuh ke tanah.

Klik.

Pria itu masih terlihat syok.

“Kenapa…?”

Veyra tersenyum kecil.

Namun matanya terlihat sangat lelah.

“Karena aku nggak mau jadi alasan anak kecil itu kehilangan harapan.”

Deg.

Dan kalimat itu—

menyebar ke seluruh kota lewat perangkat yang masih aktif.

Semua orang mendengarnya.

Pasukan.

Warga.

Pemerintah.

Semua.

Dan untuk pertama kalinya—

dunia mulai bingung.

Karena monster yang mereka takutkan…

baru saja menunjukkan belas kasihan lebih besar daripada manusia sendiri.

1
Frando Wijaya
hee....hanya 1 klik...mka org yg buat Dia menderita... langsung hancurkn reputasi Dan sbgny sampe hancur tanpa sisa sedikitpun ya? luar biasa 👏...gw simpen ini dlo..krn ada novel lain yg gw blom baca selesai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!