NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memperbaiki

Xarena menarik tangannya dengan sentakan kasar, memutuskan kontak kulit yang sempat membuat hatinya berdesir. Ia mundur dua langkah hingga punggungnya membentur pintu kayu rumah joglo tersebut. Gerakan tiba-tiba itu membuat Ciara sedikit terusik dalam tidurnya, melenguh kecil sebelum akhirnya kembali terlelap di pundak sang ibu.

​"Jangan sentuh aku, Lan. Dan tolong, jangan ngomong seolah-olah semuanya gampang buat diselesaikan," kata Xarena. Suaranya tidak lagi bergetar ketakutan, melainkan berubah dingin dan datar.

​Alan perlahan bangkit dari berlututnya. Lututnya terasa agak kaku, namun hatinya jauh lebih sakit melihat benteng pertahanan yang langsung dibangun Xarena. "Ren, aku tahu aku salah. Aku ke sini bener-bener mau memperbaiki—"

​"Memperbaiki apa?" potong Xarena cepat, menatap Alan dengan tatapan jengah. "Kamu ke sini karena ngerasa bersalah? Karena kasihan setelah tahu cerita yang sebenarnya? Aku nggak butuh kasihan kamu, Lan. Lima tahun aku bisa hidup berdua sama Ciara tanpa kamu, dan kita berdua baik-baik saja."

​"Tapi kamu dikejar-kejar orang suruhannya Monique, Ren! Kamu kabur sampai ke pelosok begini apa namanya kalau bukan karena terancam?" Alan mulai frustrasi, melangkah satu langkah ke depan namun langsung dihentikan oleh isyarat tangan Xarena.

​"Jangan maju lagi," desis Xarena tajam. "Iya, aku takut sama Monique. Tapi tahu nggak apa yang lebih bikin aku capek? Melihat kamu ada di sini. Kedatangan kamu ke sini cuma bakal memperumit semuanya. Monique punya mata di mana-mana. Kalau dia tahu kamu nyusul aku, dia bakal makin gila buat hancurin hidup aku dan Ciara!"

​Alan mengusap wajahnya kasar. "Aku udah bilang kan, aku udah ceraiin dia. Aku udah lepasin jabatan CEO, mobil, apartemen mewah, semuanya. Aku nggak bawa apa-apa lagi dari Monique."

​Xarena malah tertawa hambar, sebuah tawa sinis yang terdengar menyakitkan di telinga Alan. "Terus kamu pikir aku bakal terharu? Kamu pikir aku bakal bilang, 'Oh, Alan, makasih ya udah berkorban demi aku'? Nggak, Lan. Itu namanya kamu bego. Kamu ngelepasin kemewahan yang kamu kejar setengah mati selama tiga tahun cuma buat nemuin perempuan yang udah kamu cap jalang dan matre? Lucu banget hidup kamu."

​"Ren, tolong... jangan ngomong kayak gitu," mohon Alan, suaranya melemah. "Aku tahu ucapan aku kemarin-kemarin keterlaluan. Aku buta karena dendam."

​"Nah, itu kamu tahu," sahut Xarena ketus. "Dendam kamu itu yang bikin kamu buta. Kamu nggak pernah nanya kenapa aku mutusin kamu dulu, kamu langsung lompat ke kesimpulan kalau aku perempuan gila harta. Sekarang, setelah semua kenyataan kebuka, kamu tiba-tiba dateng jadi pahlawan? Maaf ya, bioskopnya udah tutup, Lan."

​Dari dalam rumah, seorang wanita tua dengan kebaya lusuh dan kain jarik keluar. Itu adalah Budhe Sum, kerabat jauh Xarena yang menjadi tempatnya menumpang. Wanita tua itu menatap Alan dengan pandangan bertanya-tanya, lalu beralih ke Xarena.

​"Nduk, ada apa toh? Kok ribut-ribut sore-sore begini? Ini siapa?" tanya Budhe Sum dengan logat Jawa yang kental.

​Xarena mengatur napasnya, mencoba meredam emosinya di depan sang budhe. "Nggak apa-apa, Budhe. Ini... cuma orang dari Jakarta yang salah alamat. Tolong budhe bawa Ciara ke dalam kamar ya, kasihan angin malamnya makin dingin."

​Xarena mengoper Ciara yang masih tertidur lelap ke gendongan Budhe Sum dengan sangat hati-hati. Wanita tua itu menerima Ciara, menatap Alan sekali lagi dengan pandangan memperingatkan, lalu masuk ke dalam rumah dan menutup pintu geser joglo tersebut.

​Begitu pintu tertutup, suasana di teras itu kembali mencekam. Hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahutan di sela-sela pohon cengkih.

​Xarena melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada pilar teras, menatap Alan dengan pandangan mengusir yang sangat kentara. "Ciara udah di dalam. Sekarang, mending kamu pergi."

​"Ren, seenggaknya izinin aku nginep di daerah sini malam ini. Perjalanan dari Jakarta delapan jam, aku capek banget," cetus Alan, mencoba memakai taktik memelas agar tidak langsung diusir.

​"Nggak peduli. Kamu mau capek, mau pingsan di jalan, bukan urusan aku lagi," jawab Xarena tanpa belas kasihan. "Di desa ini nggak ada hotel. Dan jangan harap aku bakal izinin kamu tidur di emperan rumah ini."

​"Kamu kok jadi sekeras ini sih, Ren? Mana Xarena yang dulu aku kenal?" tanya Alan, hatinya mencelos melihat perubahan drastis wanita yang dulu begitu lembut padanya.

​Xarena maju mendekati Alan, menatap langsung ke dalam manik mata pria itu. "Xarena yang dulu udah mati, Lan. Dia mati malam itu, di kafe remang-remang, pas dia terpaksa bohong demi nyelametin cowoknya yang nggak tahu apa-apa. Xarena yang sekarang adalah seorang ibu yang bakal ngelakuin apa aja buat ngelindungin anaknya. Termasuk ngusir ayah kandung si anak kalau emang keberadaan dia cuma bawa sial."

​Kata 'bawa sial' itu menghantam dada Alan dengan telak. Dia terdiam, kehilangan kata-kata. All out penolakannya kali ini benar-benar nyata, bukan sekadar gengsi atau jual mahal. Xarena benar-benar sudah menutup rapat pintu hatinya.

​"Kamu denger aku kan, Lan?" tanya Xarena lagi, nadanya meninggi. "Pergi dari sini. Sekarang. Cari tempat lain, kembali ke Jakarta, atau ke mana aja terserah kamu. Jangan pernah muncul lagi di depan aku sama Ciara."

​Alan menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menahan sesak di dadanya. Dia tahu, memaksa Xarena malam ini hanya akan membuat hubungan mereka semakin hancur. Dia butuh mundur satu langkah untuk menyusun strategi lagi.

​"Oke," kata Alan akhirnya, mengalah. "Malam ini aku bakal pergi dari rumah ini. Aku bakal cari penginapan di kota Purworejo."

​Xarena tidak menyahut, dia hanya memalingkan wajahnya ke arah lain, enggan menatap Alan.

​Alan membalikkan tubuhnya perlahan, berjalan gontai menuju mobil Avanza milik Doni yang terparkir di luar pagar bambu. Namun, sebelum membuka pintu mobil, Alan menoleh kembali ke arah teras.

​"Aku bakal pergi malam ini, Ren. Tapi jangan harap aku bakal balik ke Jakarta," seru Alan dari kejauhan. "Aku bakal tinggal di Purworejo. Aku bakal cari kontrakan, cari kerjaan apa aja di sini. Aku nggak bakal pulang sebelum kamu izinin aku buat ketemu Ciara dan nebus semua kesalahan aku."

​Xarena tidak memberikan respons apa pun. Dia langsung berbalik, melangkah masuk ke dalam rumah joglo, dan membanting pintu kayu itu dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema di keheningan desa Bruno.

​Brak!

​Alan tersenyum kecut menatap pintu yang tertutup rapat itu. Dia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan mulai memutar balik mobilnya di jalanan berbatu yang gelap. Perjuangan hidupnya yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, dia tidak akan menyerah secepat lima tahun lalu.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!