Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH dan terlepas dari penjara keluarga beracun
Pak Rahmad sebenarnya masih belum rela,kalau putrinya lebih memilih Elang ,disamping melihat Elang yang terlihat miskin,dia juga akan kehilangan jaminan hutangnya .
"Arumi aku memberi kesempatan kamu untuk yang terahir kalinya,kamu tetap menjadi putri ayah,dan kamu jangan menikah dengan pria miskin itu." pak Rahmad mencoba membujuk Arumi,dia berharap Arumi bisa merubah keputusannya .
"Tidak Yah,aku akan tetap memilih menikah dengan mas Elang."
"Arumi kamu jangan bodoh,kalau kamu memilih dengan penjual bakso itu,hidup kamu akan susah,kamu akan hidup seperti di neraka."
"Walupun aku miskin,dan hanya penjual bakso,aku tidak mungkin menciptakan neraka dalan keluargaku,aku akan menciptakan surga untuk kami."
"Dasar kere,sok - sok an ,untuk makan saja susah ,bagaimana kamu bisa menciptakan surga ,surga tidak mungkin bisa tercipta dengan perut yang lapar." ucap Bu Lastri dengan tatapan merendahkan pada Elang .
"Arumi ,Benar kata mama ,kamu itu cantik mau - maunya kamu hidup miskin dengan pria dekil itu ,mending kamu nikah dengan pak Dirga,walaupun dia sudah tua paling tidak hidup kamu terjamin,dan kamu bisa hidup dengan kemewahan." sahut Rani dengan dramanya .
"Aku tidak seperti kamu Rani ,aku tidak perlu hidup mewah dan berkecukupan dengan menggadaikan harga diri,kalau kamu ingin kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan pak Dirga?"
"Aku tidak Sudi,pacarku lebih tampan dan lebih kaya,dia memberikanku kemewahan ,dan segala yang aku inginkan tidak seperti kamu,jadi kamu yang lebih pantas menikah dengan pak Dirga,dari pada kamu jadi perawan tua."
"Jadi pelakor saja kamu bangga ,seharusnya kamu malu Rani." sahut Arumi dengan lebih merendahkan,Rani merasa kesal .
"Apa yang kamu katakan,aku bukan pelakor."
"Bulan pelakor kok pacaran sama pria yang sudah beristri,itu apa namanya kalau bukan pelakor ."
"Sekali aku bukan pelakor,dia sebentar lagi bercerai dengan istrinya dan dia akan menikahiku "
"Lihat saja nanti." jawab Arumi dengan senyum sinisnya.
"Sudah! Sudah! kenapa kalian ribut?" sahut pak Rahmad menegahi."
"Arumi ,jadi keputusanmu benar- benar bulat,kamu lebih memilih menikah dengan pria miskin itu,dari pada jadi anak ayah dan tinggal bersamaku ?"
"Keputusanku sudah bulat .'
"Baiklah kalau begitu,aku akan menikahkan kamu ,dan kamu jangan menyesal .
***
Prosesi pernikahan itu pun dimulai dengan sangat sederhana, bahkan bisa dibilang menyedihkan. Tidak ada dekorasi bunga, tidak ada musik pengiring, dan tidak ada tamu undangan yang memberikan ucapan selamat. Hanya ada keheningan yang mencekam di bawah lampu ruang tamu yang temaram.
Elang duduk di hadapan Pak Rahmad. Meskipun hanya mengenakan pakaian sederhana, aura Elang saat mengucapkan ijab kabul terdengar sangat mantap dan tenang, seolah ia sudah biasa menghadapi situasi hidup dan mati.
"Saya terima nikahnya Arumi putri binti Rahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah!" jawab para saksi.
Arumi memejamkan mata saat doa dibacakan. Air mata menetes di pipinya. Ia kini resmi menjadi istri dari seorang pria yang bahkan belum ia ketahui latar belakangnya secara lengkap.
Begitu doa selesai, Pak Rahmad langsung berdiri. "Selesai. Sekarang, ambil barang-barangmu dan pergi dari sini! Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini!
"Semoga bahagia hidup di gerobak bakso ya, Arumi," sindir ibu tirinya itu.
Arumi tidak membalas.
***
Dengan perasaan campur Aduk ,Arumi berjalan kekamarnya
"Mas ... kita mau ke mana?" tanya Arumi lirih. Ia merasa sangat rapuh saat ini.
Elang menatap Arumi, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti saat ia menawarkan bakso bakar di taman tadi, namun kali ini terasa lebih hangat.
"Kita ambil motor dan dagangan saya dulu di taman. Setelah itu, saya akan membawamu ke tempat yang aman. Kamu jangan takut, Arumi. Kamu adalah istriku sekarang, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu, termasuk bayangan Juragan Dirga sekalipun."
Arumi mengangguk, mereka saling diam ,Arumi menyadari bahwa hidupnya yang baru saja dimulai mungkin tidak akan semudah dongeng, namun setidaknya ia tidak lagi berjalan dalam ketakutan sendirian. Ia telah menukar kemewahan semu dengan sebuah perlindungan dari seorang pria yang muncul di saat paling gelap dalam hidupnya.
Dan di balik ketenangan Elang, Arumi tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya itu menyimpan sebuah rahasia besar yang akan mengejutkan semua orang yang telah meremehkannya malam ini
Arumi dengan air mata yang terus mengalir,di dalam kamar yang selama dua puluh dua tahun menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya ,ia sedang melipat pakaian terakhir. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang telah lama membeku kini mulai mencair menjadi tekad.
Di sampingnya Elang berdiri dengan sigap. Dia bukan sekadar suami bagi Arumi, Elang adalah satu-satunya dahan kokoh di tengah badai yang menghancurkan hidupnya. Elang membantuk menutup koper tua yang sudah tampak usang.
"Hanya ini, Arumi?" bisik Elang. Matanya menatap tumpukan barang yang sangat sedikit di atas ranjang. "Pakaianmu, aksesorimu ... bukankah perempuan biasanya memiliki banyak kenangan dalam bentuk barang?"
Arumi tersenyum getir, sebuah senyuman yang lebih mirip luka yang terbuka kembali. "Memang benar, Mas Elang. Biasanya seorang anak perempuan memiliki lemari yang penuh. Namun, bagiku, lemari ini adalah saksi bisu penjarahan. Sejak Ibuku meninggal, setiap helai kain bagus dan setiap perhiasan kecil yang aku miliki selalu berakhir di tangan mereka."
Elang merasa tersentuh,ia melihat kalau Arumi didalam rumah itu tidak di perlakukan dengan baik dan Adil .
"Tenang saja Arumi ,Nanti aku akan memberimu pakaian dan perhiasan dan apapun yang tidak kamu dapatkan dirumah ini ."
Arumi menatap Elang dengan tatapan campur Aduk ,antara bahagia ,dan juga merasa di hargai .
"Aku tidak butuh semua itu mas,aku hanya butuh bahagia dan di hargai,bagiku pakaian bagus,dan perhiasan hanya perhiasan semu semata ,yang aku butuhkan adalah perhiasan yang nyata ,kebahagian ,disayangi dan dihargai ."
Elang tersenyum dia kagum dengan prinsip Arumi ,dan didalam hatinya ia akan berusaha mewujudkan apa yang diinginkan Arumi .
Aruni menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri sesosok wanita yang kemunculannya sepuluh tahun lalu telah merobek kebahagiaanku. Ibu tirinya. Dia berdiri dengan angkuh, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu sambil bersedekap, mengawasi setiap gerak-gerik kami seperti burung nazar yang menunggu bangkai.
"Sudah semua? Tidak ada barang milik rumah ini yang kamu selipkan di koper kumuh itu, kan?" suaranya melengking, penuh penghinaan.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap Elang, yang rahangnya tampak mengeras mendengar ucapan itu. Elang adalah pria yang sabar, tapi Arumi tahu dia sedang menahan diri demi menghormatinya