Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENGSARA MEMBAWA NIKMAT
Kejadian pagi yang penuh drama itu berakhir dengan keputusan medis yang tidak bisa dibantah. Maheer harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa hari ke depan. Meskipun ia seorang bos besar yang biasanya memerintah, kali ini ia hanya bisa pasrah di atas ranjang. Namun, ada satu hal yang membuatnya tidak keberatan dengan situasi ini; rasa bersalah Assel yang mendalam membuatnya tidak pernah beranjak jauh dari sisi Maheer.
Siang itu, Maheer mulai mengeluh. "Assel, tubuhku terasa sangat lengket. Rasanya tidak nyaman sekali karena keringat ini."
Assel yang sedang merapikan buah-buahan menoleh. "Ya sudah, aku panggilkan perawat laki-laki untuk membantumu lap tubuh ya?"
"Tidak mau," potong Maheer cepat dengan wajah cemberut. "Apakah kau tega membiarkan tubuh suamimu ini dipegang-pegang oleh orang lain? Bukankah perawat juga ada yang wanita? Kau mau mereka melihat bagian tubuhku?"
Assel mendengus kesal, menyadari jebakan logika yang dipasang Maheer. Dengan wajah bersungut-sungut, ia akhirnya mengambil waslap dan baskom berisi air hangat. Dengan gerakan kaku, ia mulai mengelap lengan dan dada Maheer. Maheer justru memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan istrinya.
"Nah, begini kan enak. Rasanya ini yang dinamakan sengsara membawa nikmat," gumam Maheer sambil tersenyum lebar.
Cubit!
"Aduh! Sakit, Assel!" pekik Maheer saat jari lentur Assel mendarat tepat di pinggangnya yang tidak cedera.
"Mulutmu itu perlu disekolah lagi, Maheer," ketus Assel sambil terus menggosok lengan suaminya dengan lebih bertenaga.
Maheer meringis sambil memegangi pinggangnya. "Sepertinya kau sangat dendam padaku ya? Kau selalu mencari celah untuk membuatku kesakitan. Tulang ekorku sudah retak, sekarang pinggangku kau cubit."
Assel seketika menghentikan gerakannya, wajahnya tampak menyesal. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Itu hanya reflek karena ucapanmu terlalu percaya diri."
Setelah Maheer selesai dibersihkan dan berganti pakaian yang lebih segar, Maheer menatap wajah Assel yang terlihat agak pucat. Ia tahu wanita itu kurang istirahat.
"Assel, sekarang pulanglah. Istirahat di rumah bersama Razka. Aku tidak mau kau kelelahan lalu jatuh sakit lagi," ujar Maheer dengan nada suara yang melembut.
Assel menggelengkan kepalanya pelan. "Lalu siapa yang akan membantumu kalau kau butuh sesuatu di tengah malam? Kau kan tidak boleh banyak bergerak."
"Kalau hanya mengambil minum atau memanggil dokter, aku bisa minta bantuan perawat," jawab Maheer. Ia kemudian menyeringai jahil. "Terkecuali untuk urusan lap tubuh atau ganti baju, perawat tidak boleh menyentuhku. Karena tubuh ini hanya milik wanita galak yang ada di depanku ini."
Assel langsung melotot marah. Tangannya sudah siap untuk mencubit lagi, namun kali ini Maheer lebih sigap menangkap pergelangan tangan istrinya.
"Apakah perkataanku salah, hm?" tanya Maheer, matanya menatap dalam ke netra Assel. "Bukankah aku ini memang suamimu yang sah? Itu artinya diriku ini milikmu, Assel. Begitu juga sebaliknya."
Wajah Assel memerah sempurna seperti kepiting rebus. Ia mendengus kesal untuk menutupi rasa salah tingkahnya. Ia segera menarik tangannya dan menyambar tas kecilnya. "Ya sudah! Urus saja dirimu sendiri! Aku pulang!"
Maheer tertawa puas melihat Assel yang berjalan terburu-buru keluar ruangan dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan. Ia merasa bersyukur. Meskipun kata-kata Assel masih ketus, namun wanita itu sudah mau menatap matanya dan berinteraksi secara fisik. Baginya, itu adalah kemajuan besar dibandingkan hari-hari sebelumnya di mana ia dianggap seperti hantu yang tidak terlihat.
Malam harinya, Maheer hanya ditemani oleh Hans. Ia terus melirik ke arah pintu, berharap sosok berhijab instan itu muncul membawa aroma masakan rumah. Namun hingga jam sembilan malam, Assel tidak kunjung datang.
"Hans, apakah candaanku tadi siang sangat kelewatan?" tanya Maheer dengan nada gelisah. "Kenapa dia tidak datang malam ini? Dia hanya menyuruhmu membawakan makanan saja."
Hans yang sedang memeriksa jadwal rapat di tabletnya mendongak bingung. "Mungkin Nyonya kecapekan, Tuan. Sudah tiga hari beliau merawat Anda tanpa henti di sini. Den Razka juga pasti merindukan Ibunya."
Maheer menghela napas panjang. "Iya, kau benar. Aku yang terlalu egois." Ia akhirnya memilih untuk memejamkan mata, meski tidurnya tidak senyenyak saat Assel ada di kursi samping ranjangnya.
Keesokan paginya, Maheer terbangun karena mendengar suara gemerisik wadah makanan. Ia membuka mata dan menemukan Assel sudah berdiri di sana, sedang menata rantang sarapan. Assel memakai hijab instan berwarna hitam yang membuat kulit putihnya tampak sangat kontras dan bersih meski tanpa polesan make-up sedikit pun.
"Mau makan dulu atau mau dibersihkan dulu tubuhnya?" tanya Assel tanpa menoleh, namun nada suaranya terdengar lebih tenang.
"Makan dulu saja," jawab Maheer dengan senyum merekah. "Aku lapar sekali. Apalagi masakanmu selalu pakai bumbu cinta, rasanya beda."
Assel kembali merona, namun ia memilih untuk mengabaikan gombalan suaminya. Ia mengambil mangkuk berisi bubur ayam hangat dan mulai menyuapkan sesendok ke mulut Maheer. Selama proses makan itu, mata Maheer tidak berkedip sedikit pun menatap wajah Assel.
"Kenapa lihat-lihat terus sih? Mau aku cubit lagi?" ancam Assel sambil mengarahkan sendok dengan tegas.
"Iya, iya, ampun," sahut Maheer sambil terkekeh. Ia akhirnya mengalah dan hanya sesekali mencuri pandang.
Setelah sarapan dan sesi bersih-bersih selesai, dokter datang untuk memeriksa kondisi tulang ekor Maheer. Dokter memeriksa gerakan kaki dan respon saraf Maheer dengan saksama.
"Sudah banyak kemajuan, Tuan Maheer. Sepertinya Anda sangat patuh untuk tidak banyak bergerak ya?" puji sang dokter.
Maheer langsung melihat celah. "Kalau begitu, Dok, bolehkah saya menjalani perawatan di rumah saja? Saya bosan di sini."
Assel langsung menyela. "Jangan mengambil keputusan sendiri, Maheer! Itu berbahaya kalau di rumah tidak ada peralatan medis yang lengkap."
Maheer tidak menghiraukan protes istrinya. Ia menatap dokter dengan wajah memohon. "Dok, tolonglah. Saya janji akan tetap disiplin. Lagipula di rumah, saya punya istri yang sangat galak. Tidak mungkin saya berani bergerak sembarangan kalau perintahnya adalah titah yang tak bisa dibantah."
Dokter tertawa melihat interaksi pasangan suami istri itu. Setelah menimbang-nimbang, dokter akhirnya mengizinkan Maheer pulang dengan syarat ia harus tetap menggunakan bantal khusus dan tidak boleh melakukan aktivitas berat selama beberapa minggu.
"Baik, Anda boleh pulang hari ini," ujar dokter tersebut.
Maheer bersorak dalam hati. Saat perawat membawakan kursi roda, Maheer menatap Assel dengan tatapan penuh kemenangan. Assel hanya bisa menghela napas panjang sambil memijat keningnya.
"Ayo, Nyonya Arasyid. Bantu suamimu ini naik ke kursi roda," panggil Maheer manja.
Assel mendekat, memegang lengan Maheer untuk membantunya berpindah posisi. Meskipun mulutnya menggerutu tentang betapa keras kepalanya Maheer, tangannya tetap bekerja dengan sangat hati-hati untuk memastikan suaminya tidak kesakitan. Maheer tersenyum tipis. Baginya, pulang ke rumah bukan hanya soal kenyamanan fisik, tapi tentang memulai babak baru hidupnya di bawah atap yang sama dengan Assel, tanpa bayang-bayang fitnah masa lalu yang dulu memisahkan mereka. Ia berjanji, setiap detik di rumah nanti akan ia gunakan untuk menghapus setiap luka yang pernah ia torehkan di hati wanita itu.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah