NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Istri Yang Kau Anggap Bodoh

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Pelakor / Tamat
Popularitas:64.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.

Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~

Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.

Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.

Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.

Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.

Rana tahu.

Rana melihat.

Ia menyadari.

Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.

Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?

Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26

Selamat membaca
please komen, subscribe, vote, dan like🫶

°°°°°

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pucuk 28

Keesokan harinya. Rana berjalan memasuki sebuah cafe yang tak jauh dari tempat suaminya bekerja. Saat membuka pintu, lonceng kecil terdengar khas. Netranya menyapu pandang, lalu melangkah tenang menuju kursi di dekat kaca jendela besar.

Seorang wanita muda menghampiri Rana dengan sopan, senyum manis yang menyambut tamu cafe mereka.

"Selamat siang, mau pesan apa, kak?" sapanya.

Wanita itu tersenyum ramah, dengan membawa tablet android ia berdirinya di di samping meja kaca.

"Saya pesan mojito mint satu, dingin." Jawab Rana lugas.

"Oh, baik kak . Lalu, ada tambahan?" tanyanya sembari mencatat pesanan.

"Ini mojito mint non alkohol, ya?" tanyanya lagi.

"Iya, kak."

Rana mengangguk kecil, lalu menatap lembut pada lawan bicaranya. "Nanti saya pesan lagi kalau rekan saya sudah datang."

Barista itu mengangguk, "baik, kak. Kalau begitu, si tunggu sebentar."

"Iya,"

Barista itu langsung pergi meninggalkan Rana. Rana merogoh ponsel dari tas Dior pemberian sang suami satu tahun lalu, mencari nama dari kontak yang sudah ia simpan. Mengirimkan pesan singkat pada Hamdan.

{ saya sudah di cafe Saturday }

Di sisi lain, Hamdan. Sekretaris Adhikara Pradipta Mahendra menatap layar ponselnya. Jantungnya berdetak kencang saat mendapatkan pesan teks dari istri bosnya. Dipta menoleh ke arah sekretarisnya yang terlihat mematung. Lift terbuka, namun Hamdan belum juga bergerak.

"Ada apa?"

Hamdan terkesiap mendengar pertanyaan dari bosnya, buru-buru ia memasukkan ponselnya kedalam saku jas lalu menatap Dipta.

"A-anu...Pak, saya...ada janji temu dengan..Bu.."

Dipta mengernyit, melihat keanehan pada sekretarisnya.

"Bu? Siapa?"

Hamdan salah tingkah sendiri, "ibu saya...saya ada janji temu dengan calon ibu mertua saya. Kebetulan beliau datang dari Magelang,"

Dipta mengangguk kecil, "oh..begitu. Ya sudah, kamu temui saja. Saya makan siang bareng Pak Galang."

"Ba-baik, kalau begitu...saya permisi."

Setelah mendapatkan izin dari bosnya, gegas ia keluar dari lift dan berjalan tergesa menuju lobi kantor. Dipta keluar dari lift dan mengarah menuju cafetaria kantor miliknya. Hamdan gegas membalas pesan dari Rana, memberitahukan jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju cafe yang sudah di janjikan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Rana duduk menatap Hamdan yang duduk di hadapannya. Ia menilik setiap gerakan dari pemuda itu.

"Saya belum pesan apa-apa, kamu mau pesan apa?" tanya Rana.

"Te-terserah ibu..., saya ikut ibu saja." Jawabnya gugup.

Rana terkekeh, "apa kamu gugup?"

Hamdan mendongak, "eh?"

"Santai saja, biar saya panggil barista." Ujar Rana.

Beberapa menit kemudian, minuman yang di pesan oleh Hamdan datang. Es Americano yang tadi ia pesan, juga beberapa cake yang sudah Rana pilihkan.

Rana menyandarkan punggungnya ke kursi, "saya dengar, ibumu sedang sakit keras, ya?"

"Eh? I-ibu tahu dari mana?" tanya Hamdan menatap lawan bicaranya.

Rana melipatkan kedua tangannya di dekat ulu hatinya, kakinya tersilang. Memperlihatkan betapa berkelasnya seorang Raden Kirana Wijaya.

"Kamu tidak perlu tahu soal itu. Kalau ibumu ingin sembuh, aku bisa membantumu. Kita bawa ibumu ke Singapura untuk pengobatan, bagaimana?" Rana mulai berbicara serius.

"Si-Singapur?" gugupnya, lalu tertawa kecil canggung. "Mana bisa, gaji saya...masih cukup buat bawa ibu berobat ke dokter sini, Bu. Lagian...saya juga harus bekerja, mana mampu saya bawa ibu ke Singapura."

Rana mengedip, "tenang saja. Saya akan membiayai pengobatan ibumu, hingga sembuh total." Rana menyanggupi.

"Eh?" ucap Hamdan tak jelas.

"Tapi ada syaratnya," ucap Rana.

"Syarat?" tanya Hamdan mulai gundah.

" Kamu keluar dari perusahaan suami saya, dan menjadi orang kepercayaan saya." Rana mulai negosiasi.

"Ke-keluar? Maksud Bu Rana...saya resign gitu?" tanya Hamdan terkejut.

"Ya." Jawab Rana singkat.

"Tapi...kalau saya resign...saya makan apa, Bu?" tanya Hamdan takut kehilangan pekerjaannya.

"Kamu bisa menyetir?" tanya Rana.

"Bi-bisa, dulu saya pernah jadi supir taksi di Jakarta." Jawab Hamdan.

"Bagus, nanti saya atur. Untuk masalah gaji, akan saya berikan tiga kali lipat." Ucap Rana lugas.

"Ti-tiga kali lipat?" ucapnya hampir meninggikan suara.

"Ya, tiga kali lipat!" ucap Rana penuh penegasan.

Hamdan terdiam sejenak, gaji tiga kali lipat cukup menggiurkan. Namun Hamdan kembali menatap Rana, penuh ingin tahu.

"Tapi...kenapa ibu mau menjadikan saya sebagai supir pribadi ibu?" tanya Hamdan.

Rana menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, lalu kembali menatap tegas pada Hamdan.

"Nanti saya ceritakan detailnya, sekarang kamu ikuti saja dengan ucapan saya." Ucap Rana seraya menyodorkan setumpuk uang merah di meja dan mengarahkannya kepada Hamdan.

"I-ini..."

"Nanti malam kita jadwalkan keberangkatan ibumu ke Singapura. Dia akan di temani oleh dua orang kepercayaan saya. Kamu tidak perlu khawatir soal itu, dan...aku juga akan memberimu rumah, dan mobil. Dengan syarat, kamu resign dari MY Rich sekarang." Ucap Rana tenang, namun penuh tekanan.

"Tapi Bu, kalau saya harus resign sekarang. Saya harus menemukan pengganti saya dulu. Peraturan perusahaan ibu dan Pak Dipta kan seperti itu," Hamdan nyengir polos.

"Aku sudah menemukan penggantimu, Alfian. Satu bulan lalu dia pindah ke tempatmu, bukan?" tanya Rana.

"Ma-Mas Alfian?" tanya Hamdan dengan nada cukup terkejut.

"Ya. Dia orang saya, untuk itu...kamu tidak perlu khawatir." Sahut Rana membenarkan anak rambutnya.

"Baik, demi ibu saya...saya akan melakukan semua perintah Bu Rana." Jawabnya mantap.

"Baiklah," Rana meraih paper bag hitam elegan berlogo merek kamera dan menyodorkannya kepada Hamdan. "Saya dengar, kamu juga pernah menjadi fotografer pernikahan selama masa kuliahmu? Tugasmu hanya satu, ambil gambar Laras." Pinta Rana seraya menyerahkan selembar foto kepada Hamdan.

Hamdan mencondongkan tubuhnya, lalu meraih foto tersebut dan menatapnya. "Ini kan...Bu Laras?"

"Ya. Teman lama suami saya. Saya ingin kamu mencari tahu informasi tentang Laras kepada saya," Rana tersenyum, elegan.

"Maksud Bu Rana...saya jadi mata-mata?" Hamdan kali ini mengerti maksudnya.

Rana mengangguk, mempermainkan kuku jemarinya. "Ya, bisa di bilang seperti itu." Jawab Rana enteng.

"Tapi..."

"Kalau kamu tidak bisa, terpaksa saya membatalkan pengobatan ibumu." Rana membenarkan posisi duduknya, menatap Hamdan dengan tegas. Lalu bangkit dari duduknya, meraih tas mahalnya dan pergi meninggalkan Hamdan yang menatap kamera SLR dalam paper bag hitam itu.

Rana terus melangkah keluar dari cafe Saturday. Tatapannya tajam, penuh percaya diri. Tatapan itu benar-benar berbeda saat ia berada di rumah, di dekat Dipta.

Ponselnya bergetar, satu pesan teks masuk kedalam ponsel rahasianya.

{ Baik, Bu. Saya akan mengikuti semua perintah Bu Rana }

Rana berhenti sejenak sebelum ia meraih pintu mobil, sudut bibirnya tertarik. Perempuan itu tersenyum penuh kemenangan.

Belum sempat ia masuk kedalam mobil, seseorang menyapanya dengan nada suara lembut. Tidak asing di kedua telinganya.

"Rana..."

Rana menoleh, kedua bola mata bulat almondnya mendapatkan sosok Laras dengan pakaian rapi.

"Hai, Mbak Laras. Apa kabar?" tanya Rana seramah mungkin.

"Lagi..." Laras tersenyum, "cari kerja." Sambungnya.

Rana melihat dengan seksama, wanita itu tengah membawa map lamaran kerja. Wanita tiga puluh dua tahun itu berpikir cepat, lalu dengan senyum hangat ia berucap.

"Kenapa Mbak Laras tidak bekerja saja di perusahaan suami saya?"

...****************...

Hallo....

Apa yang sebenarnya Rana rencanakan??? Komen di bawah ya...

Jangan lupa vote, komen, subscribe, like dan bintang limanya 🫶🫶🫶

jangan lupa follow ☺️

Bersambung...

1
Bundanya Pandu Pharamadina
kak Author, terimakasih cerita bagus...
❤❤❤❤
Cheng Nyo
👍👍
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta Rana mungkin kurangnya komunikasi , semoga ga ada drama perempuan lain dalam rumah tangga kalian❤❤
Rosita Tumbelaka
Aq suka coment yg serius ajaa krn bikin Adrenalin ku naik..deg... deg... deg..
Rosita Tumbelaka
Ayoo Thor.... lanjut ...aneh istri nya bicara dgn pria lain di muka Umum marah. tapi suami berdua an dgn perempuan lain di tempat private mkn di resto ... apa itu pantas...
Bundanya Pandu Pharamadina
aduh Dipta gimana sih.... nggapeka dgn istri yg cemburu
Bundanya Pandu Pharamadina
Dipta jangan main api.. ingat istri juga anak² yg menunggu kepulanganmu
Bundanya Pandu Pharamadina
Laras ga tepat waktu klo telfon.. ga lihat waktu,
Bundanya Pandu Pharamadina
semoga ga ada drama kegoda masa lalu, tetap jadi keluarga harmonis Dipta Rana❤
Bundanya Pandu Pharamadina
masa lalunya Dipta kah laras....
Bundanya Pandu Pharamadina
ijin marathon kak Author🙏
Ririn Nursisminingsih
kereen rena👍👍
Ririn Nursisminingsih
syukurin Dipta terus aja bahagiain mntan kmu itu
Ririn Nursisminingsih
dipta kmu mulai main hati rena jg mudah percaya ini juga sang mntan ganggu aja
Sayekti 0519
baguss dan nyata sakitnya
Memyr 67
𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗋𝖺𝗉 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗆𝖾𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋𝗄𝖺𝗇 𝖼𝖺𝗅𝗈𝗇 𝗃𝖺𝗇𝖽𝖺. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗇𝗂 𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂
Memyr 67
𝗌𝗎𝖺𝗆𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖽𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖾𝗇𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝖺𝗌𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗋𝖺𝗃𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗌𝗎𝖺𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗋𝗎𝗆𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗋𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗇𝗒𝖺𝗆𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺? 𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋 𝗈𝗍𝖺𝗄 𝖽𝗂 𝖻𝗈𝗄𝗈𝗇𝗀
Nha_A
IRT apa thoor? Ibu Rumah Tangga? kirain kalo pembantu itu ART, Asisten Rumah Tangga
🍀 YEHPPEE 🍀: typo kayak nya hehe makasih koreksinya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
/Heart/
🍀 YEHPPEE 🍀: makasih
total 1 replies
Gemuruh riuh
akhirnya happy ending 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!