NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

"Aku jual diri demi 1 Miliar Emas, tapi aku TIDAK JUAL HARGADIRI!"

Lin Qingyan menerima pernikahan kontrak dengan pria lumpuh tak berdaya demi menyelamatkan keluarganya. Semua orang menertawakan dia, mengira dia akan hidup menderita selamanya.

Tapi siapa sangka? Di balik tubuh lemah itu tersembunyi sosok Raja Dunia yang paling ditakuti! Dan dia hanya tunduk pada satu wanita: Lin Qingyan!

Siapa berani meremehkan istri kontrak ini? Bersiaplah digilas habis! Karena aku bukan wanita biasa, aku adalah Ratu yang akan menguasai segalanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Putri Kecil & Sang Pelindung!

Proses melahirkan yang begitu menegangkan dan menguras tenaga akhirnya berlalu. Namun, rasa lelah itu seketika lenyap tak berbekas, digantikan oleh kedamaian dan kebahagiaan yang luar biasa meluap-luap, menyelimuti seluruh penjuru kediaman megah keluarga Gu.

Dua malaikat kecil yang ditunggu-tunggu akhirnya hadir ke dunia ini!

Gu Chenfeng, si kembar laki-laki dengan suara tangisan yang lantang, tegas, dan penuh semangat, seolah sudah terlihat bakatnya sebagai penerus yang tangguh sejak dalam buaian.

Dan Gu Qingyu, si kembar perempuan yang wajahnya cantik jelita bak peri, suaranya lembut merdu bak lonceng perak, cukup membuat siapa saja yang mendengarnya langsung luluh dan tak tega menyakiti sedikit pun.

Kini... keluarga mereka resmi lengkap beranggotakan LIMA ORANG!

Ayah, Mama, Kakak sulung Gu Chenyu, ditambah dua malaikat kecil yang baru lahir. Sebuah keluarga yang sempurna, harmonis, dan penuh dengan tawa serta kasih sayang yang tak terhingga!

 

👨👧 Ayah Bucin & Putri Kecilnya

Beberapa hari setelah persalinan...

Suasana di kamar utama terasa sangat hangat dan tenang. Lin Qingyan sudah bisa duduk bersandar dengan nyaman, wajahnya berseri-seri meski masih terlihat sisa-sisa kelelahan.

Di sisi lain ranjang, Gu Beichen sedang duduk di kursi empuk dengan wajah yang sangat serius, fokus, dan penuh konsentrasi...

Tapi fokusnya bukan pada berkas-berkas pekerjaan, bukan pada urusan kerajaan atau bisnis!

Seluruh perhatian dan pandangannya tertuju sepenuhnya pada Gu Qingyu, putri kecilnya yang baru beberapa hari lahir itu!

Bayi mungil itu sedang tidur pulas di dalam gendongan besar dan hangat milik Ayahnya. Wajahnya seputih pualam, matanya terpejam indah dengan bulu mata yang panjang dan lentik, bibirnya yang merah mungil terus saja mengoceh halus dalam tidurnya, seakan sedang bermimpi indah.

Gu Beichen menatap putrinya itu dengan tatapan takjub, lembut, dan cinta yang begitu besar hingga seakan meluap membanjiri ruangan.

"Ya Tuhan... sungguh kecil sekali... kulitnya sehalus sutra... cantiknya tak terkira..." gumamnya pelan sekali, suaranya bergetar menahan haru, takut sedikit saja suaranya keras akan membangunkan sang putri.

Dengan sangat hati-hati, dia berani mengulurkan jari telunjuknya yang besar, kokoh, dan kasar karena sering memegang pedang, lalu menyentuh pipi gembil dan lembut itu dengan kelembutan yang tak pernah dia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.

Seolah merasakan sentuhan itu, tangan mungil Qingyu tiba-tiba bergerak...

GUMBUK!

Si kecil menggenggam erat jari Ayahnya!

BRUGGG!!!

Jantung Gu Beichen serasa berhenti berdetak seketika! Seluruh tubuhnya meleleh total! Rasanya seperti disambar petir cinta! Air mata bahkan hampir saja menetes dari sudut matanya yang selama ini selalu dingin dan tajam.

"Qingyu... anak Ayah... putri kecil Ayah..." bisiknya gemetar, matanya tak lepas menatap wajah malaikat itu. "Kamu tahu nggak Nak... mulai detik ini juga, kamu adalah Ratu Kecil di dunia ini. Kamu adalah permata paling berharga yang harus Ayah jaga mati-matian."

"Siapa pun yang berani membuatmu menangis sedikit saja... Ayah pastikan orang itu akan hancur lebur tak bersisa. Siapa pun yang berani menyakiti bulu halusmu sekalipun... Ayah habisi!"

"Kamu mau bulan? Ayah akan tembak jatuh dan ambilkan buatmu. Kamu mau bintang? Ayah akan panjat langit untuk mengambilnya. Semua yang terbaik, semua yang termahal di dunia ini... akan Ayah kumpulkan semuanya hanya untukmu, Putriku."

Dari atas ranjang, Lin Qingyan yang menyaksikan pemandangan itu tak kuasa menahan tawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir.

"Halah... dasar Ayah bucin tingkat dewa! Tadi pas gendong Chenfeng biasa aja, kelihatan gagah dan tegas. Eh pas gantian gendong Qingyu, tuh tulang-tulangnya langsung lembek semua jadi air!" godanya manja.

Gu Beichen menoleh cepat, wajahnya sedikit memerah karena ketahuan, tapi dia tetap mempertahankan kesombongan khasnya.

"Beda lah Sayang! Itu logika!" jawabnya tegas. "Chenfeng itu laki-laki, dia calon pemimpin, harus dididik keras dan kuat kayak Ayah. Tapi Qingyu... ini putri! Ini permata! Ini bidadari! Tentu saja harus dimanja, harus dilindungi, dan harus bahagia selamanya!"

Ucapannya itu disertai dengan kecupan lembut dan panjang di kening mungil putrinya. "Iya kan cantikku? Ayah sayang kamu sampai mati..."

 

👦👧 Kakak Chenyu yang Super Protektif

Sore harinya...

Gu Chenyu, si kakak sulung yang kini menginjak usia 3 tahun, akhirnya diperbolehkan masuk ke kamar untuk melihat langsung adik-adik barunya.

Wajahnya terlihat sangat antusias, matanya berbinar-binar, tapi dia berusaha tetap terlihat sangat serius, gagah, dan dewasa layaknya seorang kakak yang bertanggung jawab. Dia memakai baju koko kecil yang rapi, berjalan dengan langkah pelan namun pasti mendekati ranjang sang Mama.

"Mama..." panggilnya pelan. "Mana adiknya? Chenyu mau lihat."

Lin Qingyan tersenyum lembut menunjuk ke arah dua buah buaian di sampingnya. "Ini Nak... yang ini Gu Chenfeng, yang ini Gu Qingyu. Mereka adik kandung kamu lho, sama-sama darah daging Mama dan Ayah."

Chenyu kecil mendekat perlahan. Matanya yang bulat dan tajam menatap dua bayi mungil itu dengan penuh rasa ingin tahu dan kekaguman.

Dia mengulurkan tangannya ingin menyentuh, tapi tiba-tiba dia urungkan karena takut tangannya kasar atau terlalu kuat hingga menyakiti mereka. Akhirnya dia hanya mengibas-ngibaskan tangannya pelan di udara di atas wajah mereka sambil menyeringai senyum manis.

"Hai adik-adik... Aku Kakak Chenyu ya..." bisiknya sopan dan lembut sekali. "Nanti kalau kalian besar, Kakak ajak main ya."

Tiba-tiba...

"Waaah... waaah..."

Suara rengekan halus keluar dari mulut Qingyu! Si kecil seolah tidak nyaman.

Seketika itu juga, wajah ceria Chenyu berubah panik luar biasa! Dia langsung menoleh ke arah Gu Beichen dengan mata terbelalak dan wajah cemas!

"AYAH! AYAHHH! CEPATAN! Adik nangis! Adik nangis!" teriaknya setengah histeris. "Cepat tenangin! Jangan biarin adik nangis! Nanti suaranya sakit lho!"

Gu Beichen tertawa terbahak-bahak melihat reaksi anak sulungnya. "Hahaha! Tenang Nak, tenang! Adiknya cuma haus doang kok, bukan kenapa-napa."

Tapi Chenyu tidak mau tahu! Dia merasa tugasnya sebagai Kakak adalah menjaga adik perempuannya!

Dia langsung berdiri tegak di samping buaian, tangan kecilnya mulai menepuk-nepuk perlahan punggung kecil Qingyu sambil bernyanyi pelan dengan suaranya yang cempreng tapi sangat tulus.

"Ssttt... jangan nangis ya adik cantik... Kakak di sini... Kakak jagain kamu..." ucapnya dengan wajah sangat serius dan sungguh-sungguh. "Tenang aja ya... nanti kalau ada orang jahat atau monster datang, Kakak lawan pakai pedang! Kakak lindungi kamu sampai mati!"

Mendengar ucapan polos namun penuh kesetiaan itu, hati Gu Beichen dan Lin Qingyan seketika hangat membara. Mereka saling pandang dan tersenyum bangga.

'Hebat anakku... jiwa ksatria dan pelindung sudah muncul sejak kecil. Benar-benar anak yang hebat,' batin Gu Beichen melonjak bangga.

 

🏡 Kehidupan Baru yang Penuh Warna

Hari-hari berikutnya pun berlalu dengan sangat indah. Meski kadang terasa sangat sibuk, melelahkan, dan berantakan, namun semua itu terbayar lunas dengan tawa dan kebahagiaan yang melimpah.

Rumah megah yang dulu terasa dingin, sunyi, dan penuh tekanan, kini berubah menjadi rumah yang benar-benar hidup dan hangat!

Pagi hari selalu dimulai dengan suara tangisan bayi yang minta susu, disusul suara langkah kaki kecil Chenyu yang berlari kesana-kemari, teriakan riang, dan suara tawa bahagia yang tak pernah putus!

Gu Beichen kini memiliki rutinitas baru yang sangat dia nikmati dan sangat dia syukuri:

Setiap pagi setelah membuka mata, hal pertama yang dia lakukan bukanlah memikirkan pekerjaan, melainkan mengecup bibir istrinya penuh cinta, lalu mengecup dahi Chenyu, dan bergantian menggendong Chenfeng serta Qingyu, mencium mereka penuh sayang.

"Selamat pagi hartaku... selamat pagi dunianya..." sapanya setiap hari dengan wajah berseri.

Dia bahkan rela menunda rapat penting, menolak tamu penting, hanya demi melihat putri kecilnya Qingyu tertawa atau sekadar menggenggam jarinya. Kalau si kecil tersenyum padanya, rasanya beban dunia yang berat pun terasa hilang terbawa angin!

Sementara itu, Chenyu dan Chenfeng sering bermain bersama. Karena sama-sama laki-laki, kadang mereka suka berebut mainan atau berantem kecil, tapi kalau ada apa-apa mereka langsung kompak membela satu sama lain.

Namun berbeda dengan Qingyu... Dia adalah Ratu Kecil yang manja dan dimanja. Kalau dia menangis sedikit saja, seluruh rumah akan bergerak serentak! Ayah siap sedia hibur, Kakak siap sedia temani, Mama siap sedia susu!

 

🌙 Malam yang Penuh Cinta dan Harapan

Malam pun akhirnya tiba. Setelah semua anak-anak tidur pulas lelap di kamar mereka masing-masing yang sudah diatur senyaman mungkin...

Gu Beichen dan Lin Qingyan akhirnya mendapatkan waktu berdua kembali di balkon kamar mereka.

Angin malam berhembus sejuk menerpa wajah mereka. Mereka duduk berdampingan, saling memeluk erat, menikmati keheningan yang damai setelah seharian penuh keramaian dan keceriaan.

"Beichen..." panggil Lin Qingyan pelan sambil memejamkan mata nyaman di dada bidang suaminya.

"Hmm... kenapa sayang?" jawab Gu Beichen lembut sambil mengelus rambut istrinya.

"Rasanya nggak nyangka ya... Dulu kita dipertemukan karena keadaan, menikah karena perjanjian. Tapi lihat sekarang... kita punya keluarga sebesar ini, sehangat ini, dan sebahagia ini."

Lin Qingyan mendongak menatap wajah suaminya. "Ramai, berisik, capek, tapi rasanya... ini surga dunia."

Gu Beichen tersenyum tipis, lalu mengecup puncak kepala istrinya lama dan dalam.

"Iya sayang... Aku bersyukur setiap detiknya pada Tuhan. Dulu aku pikir aku adalah orang paling kesepian dan paling dingin di dunia ini. Aku pikir hidupku cuma soal kekuasaan dan dendam."

"Tapi sekarang... lihatlah aku. Aku merasa jadi orang paling kaya, paling beruntung, dan paling dicintai sedunia."

Dia menggenggam tangan istrinya erat, menatap bintang-bintang di langit.

"Aku punya istri yang cantik, setia, kuat, dan sabar kayak kamu. Aku punya tiga anak yang sehat, pinter, dan lucu-lucu. Apa lagi yang bisa aku minta Tuhan? Rasanya sudah cukup."

"Kita janji ya Sayang... Kita akan jaga kebahagiaan ini selamanya. Kita akan lihat mereka tumbuh besar, sekolah, meraih mimpi, sampai nanti mereka menikah dan punya keluarga sendiri."

"Dan kita... kita akan jadi kakek nenek yang bahagia, duduk santai di sini bareng-bareng sampai rambut kita memutih semua."

Lin Qingyan tersenyum damai, matanya berkaca-kaca.

"Iya Beichen... Selamanya bersama. Sampai akhir waktu."

Mereka duduk di sana berjam-jam, menikmati setiap detik kebersamaan, bersyukur atas cinta yang terjalin, dan bersiap menyambut hari-hari indah yang menanti mereka di masa depan.

Namun... di balik kebahagiaan yang sempurna ini, akankah benar-benar selalu damai? Atau ada badai besar yang sedang menunggu di depan mata untuk menguji ketangguhan keluarga ini?

 

SELESAI BAB 21 ✅👨‍👩‍👧‍👦❤️👶👧

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!