Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KE DOKTER KANDUNGAN
Ghina bingung setelah meeting biasanya Lingga minta langsung pulang, tapi kini Lingga mengajak Ghina duduk dulu dan tak segera pulang. Apa jangan-jangan Pak Lingga mulai naksir aku yah? Duh kok aku deg-deg an.
"Kamu kenal dengan Tania dari mana?" tanya Lingga, sontak saja Ghina kaget, kok jadi bahas Tania.
"Hah? Bapak kenal?" tanya Ghina kaget.
"Sempat satu tim sama saya dulu waktu di kantor Abang," Ghina mengangguk paham. "Lalu kamu kenal di mana?" tanya Lingga lagi.
Ghina pun menceritakan kalau dia kenal lewat media sosial bisnis skincare, dan pemilik akun itu adalah Tania yang sedang mencari reseller. Yang membuat Ghina bingung, Lingga tampak kepo dengan media sosial milik Tania tersebut. Sebagai perempuan beranjak dewasa, tentu Ghina kepo juga dengan hubungan masa lalu mereka, terlebih setahunya Lingga sudah punya istri cantik, meski istrinya lebih banyak di luar negeri sih.
"Kalau kamu mau janjian sama dia, bilang saya ya Ghina, saya antar!" Ghina melongo mendengar permintaan bosnya itu. Fix sih, pasti mereka ada hubungan sebelum Lingga menikah. Bahkan yang membuat Ghina shock, Lingga ikut beli skincare yang dijual Tania. Padahal dia masih promosi via WA dengan sample produk yang terbatas, tapi Lingga order melalui Ghina dengan produk paketan perawatan yang paling mahal, sepertinya lihat di media sosial, dan paling gongnya saat ambil orderan nanti bilang, aku antar.
Masih belum ngeh, Ghina dan Lingga menunggu Tania di sebuah cafe, keduanya tak ada obrolan, tapi begitu melihat Tania, Lingga langsung menyimpan ponsel dan yang membuat Ghina terpaku adalah tiba-tiba saja Lingga menggenggam tangan Ghina mana erat lagi.
Tania seperti tak melihat Lingga, ia ramah pada Ghina, justru gadis itu yang canggung. Mata Ghina semakin melotot saat genggaman tangan Lingga sengaja diletakkan di atas meja. Tania sempat melihat, namun tak lama Tania pun pamit.
Begitu Tania pamit, tangan Lingga langsung terlepas. Lingga mengambil orderannya dan langsung pergi tanpa pamit pada Ghina. "Sumpah, bos sinting emang!" gerutu Ghina tak habis pikir dengan kelakuan Lingga.
Sedangkan Lingga menyenderkan kepalanya di jok mobil. "Udah gila aku kayaknya, aku masih kangen banget sama kamu. Gak tega melihat badan kamu semakin kurus. Kamu niat hamil gak sih, Tania, ck ah. Biasanya ibu hamil kan gendut, tapi kenapa kamu semakin kurus begini. Kamu kekurangan uang kah?" ucap Lingga sembari menepuk kepalanya dengan tangan, agar bayangan Tania hilang.
"Sial!" hati Lingga tak tega dengan Tania yang bekerja keras seperti ini. Berapa kali dia harus melayani COD pada customernya, apa mungkin karena hamil tanpa suami sehingga dia harus bekerja keras. "Tapi dia murahan sih, sudah tahu resiko berhubungan tanpa pengaman pasti hamil, masih diterobos," mulut Lingga sedang belajar menghujat Tania meski hatinya masih sangat sayang.
Sekarang, tugas Ghina bukan sebagai asisten Lingga melainkan, sebagai orang suruhan Lingga terkait kelancaran bisnis Tania. "Maaf ya, Pak. Saya gak enak sama Mbak Tania kalau terus-terusan tanya barang tapi gak beli, ya meski dia ramah banget. Tapi saya yang sungkan, kalau boleh tahu keperluan Bapak dengan Mbak Tania apa ya?" tanya Ghina memberanikan diri, dan Lingga tak mau menjawab.
"Bukan urusan kamu, kalau kamu gak bisa ya sudah gak usah," ucap Lingga jutek. Tentu saja, Ghina bingung dengan perubahan sikap Lingga, apa karena dia menolak, sehingga Lingga sejutek itu. Mendadak Ghina takut soal nilai magangnya.
"Oh ya, kamu bisa bantu saya?" Ghina spontan mengangguk. Tanpa pikir panjang apa permintaan Lingga.
"Iya, Pak. Apa?" tanya Ghina.
"Tolong cari cowoknya Tania, bagaimana pun caranya!" Ghina melongo, makin senewen saja Ghina menanggapi tingkah bos rese' ini. Terpaksa Ghina pun cari tahu, dengan to the point, tak mau bertele-tele, karena ia tak mau berlama-lama menanggapi labilnya sikap Lingga.
Ghina langsung menulis pesan panjang pada Tania, gak enak sebenarnya, tapi demi ketentraman hidup Ghina di kantor ini, lebih cepat lebih baik.
Mbak Tania mohon maaf sebelumnya, saya sebenarnya gak mau mencampuri urusan Mbak dengan Pak Lingga. Saya juga tidak tahu kalau Pak Lingga kenal dengan Mbak Tania. Hanya saja sepertinya Pak Lingga menaruh hati pada Mbak Tania.
Dan soal pegangan tangan, murni keusilan Pak Lingga mungkin untuk membuat Mbak Tania cemburu. Maaf ya, Mbak. Tapi Pak Lingga lama-lama menyebalkan karena tanya tentang Mbak Tania terus. Apalagi soal pacar Mbak Tania. Padahal saya juga sudah menjelaskan bahwa saya dan Mbak Tania hanya sebatas bos dan reseller saja. Sekali lagi maaf ya, Mbak.
Tania membaca pesan itu tertawa tipis, saat ini ia sedang antri ke dokter kandungan, masih ada waktu untuk membalas Ghina agar dia tidak diteror Lingga juga. Gak papa Mbak Ghina, saya memang pernah kenal dengan Pak Lingga karena kita pernah satu kantor. Cukup Mbak Ghina bilang, saya sudah punya pacar saja, agar Pak Lingga tak menyuruh Mbak Ghina tanya ke saya soal pribadi.
"Pasti dia marah banget, dan bisa jadi Ghina yang jadi sasaran," ucap Tania tak habis pikir dengan kelakuan Lingga.
Sedang asyik scroll ponsel, Tania mendengar ruangan dokter kandungan terbuka. Spontan ia melihat dan matanya membulat tatkala Calista keluar dari ruangan tersebut. Pikiran Tania langsung tertuju, apa mungkin Calista hamil anak Lingga?
Rasanya hati Tania seperti dihantam batu besar, di saat dia berdiri dan berjuang sendiri dan Lingga terkesan masih memperhatikannya, ternyata Tania diberikan fakta bahwa Calista juga hamil. Drama hidup apalagi ini. Hati kecil Tania ingin mengumpat.
Ia melihat Calista bersama asistennya, dan bisik terdengar dari asisten dokter kandungan susah ya jadi model itu, kalau sudah terikat brand harus mematuhi kontrak buat tidak hamil. Suaminya pasti sabar banget, harus menunda punya anak.
Tania tersenyum tipis, "Aku yang memilih mundur kenapa frustasi kalau pada akhirnya Lingga dan Calista menjalani rumah tangga sebenarnya. Justru aku salah banget kalau mengharap mereka bubar, meski aku hamil anaknya," gumam Tania mengelus perutnya.
Tania pun menunggu antrian hingga dipanggil untuk masuk ruangan dokter, Tania bersyukur saat dokter bilang plasenta dan ketuban dalam kondisi baik, detak jantung normal.
Pada moment ini, Tania merasa bahagia, terharu ada kehidupan yang terus tumbuh dalam dirinya. Hatinya menghangat karena ada secercah semangat untuk terus berkembang agar anaknya nanti terlahir tidak dalam kesengsaraan.
Tania pulang setelah mendapatkan vitamin dan kalsium. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil, "Dokter Salman," jawab Tania sembari mengangguk hormat.
"Mau pulang?" tanya dokter Salman. Tania mengangguk. "Hati-hati ya, maaf belum bisa kasih tumpangan, kebetulan saya baru saja sampai dan jaga malam," ujar Salman tak enak hati.
"Enggak pa-pa dokter, selamat berjaga, saya permisi," ucap Tania pamit. Salman mengangguk dan mengamati Tania hingga tubuh ibu hamil tersebut menghilang.
GO go Tania semangat