Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: PERJAMUAN MAWAR BERDURI
Malam itu, Istana Kepresidenan Diningrat diselimuti kabut tipis yang turun dari perbukitan, memberikan kesan mistis sekaligus mencekik. Bagi Rhea, gerbang emas istana yang terbuka lebar terasa seperti mulut monster yang siap menelannya bulat-bulat.
Di dalam mobil limusin yang membawa mereka menuju kediaman utama, keheningan terasa begitu pekat. Ian duduk di samping Rhea, mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja maroon gelap yang memberikan kesan misterius namun berwibawa. Tangannya yang besar menggenggam jemari Rhea yang dingin dan gemetar.
"Bernapaslah, Rhea," bisik Ian tanpa menoleh. Suaranya rendah, memberikan getaran yang sedikit menenangkan di tengah badai kecemasan. "Jangan biarkan mereka melihat ketakutanmu. Di tempat ini, rasa takut adalah makanan bagi pemangsa."
"Aku tidak yakin bisa melakukan ini, Ian," sahut Rhea pelan. Gaun lace berwarna krem yang ia kenakan—pilihan langsung dari penjahit pribadi Ian—membuatnya terlihat seperti boneka porselen yang rapuh di tengah kemegahan yang dingin. "Tatapan Ibu Negaramu... itu lebih mengerikan daripada ujian anatomi paling sulit sekalipun."
Ian akhirnya menoleh. Ia merapikan sehelai rambut Rhea yang menutupi wajahnya dengan gerakan yang sangat lembut, hampir terasa seperti kasih sayang yang nyata. "Ingat kontrak kita. Kamu adalah tunanganku. Perankan tugasmu, dan aku akan memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa menyentuhmu malam ini."
Pintu mobil dibuka oleh Yusuf. Begitu kaki Rhea menyentuh lantai marmer lobi, puluhan pasang mata pelayan dan ajudan membungkuk hormat. Namun, Rhea tahu, di balik tundukan itu, ada bisik-bisik yang meragukan kehormatannya.
Ruang makan formal di kediaman utama telah disiapkan. Sebuah meja panjang kayu mahogani dihiasi dengan mawar merah darah yang kelopaknya tampak sangat segar, seolah baru saja dipetik dari taman rahasia. Di ujung meja, Presiden Diningrat duduk dengan senyum kebapakan yang dipaksakan. Namun, pemandangan paling mengintimidasi ada tepat di seberang kursi yang disediakan untuk Rhea:
Cansu Alessandra Kusuma.
Cansu mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Perhiasan zamrud di lehernya berkilau tajam, menyaingi ketajaman matanya. Di sampingnya, duduk seorang pria paruh baya dengan wajah yang memancarkan aura kelicikan yang sama—Perdana Menteri Pradikta Kusuma, ayah Cansu.
"Ah, ini dia pasangan yang sedang menjadi pusat perhatian seluruh negeri," suara Pradikta memecah keheningan. Suaranya berat, penuh dengan nada sarkasme yang tersembunyi.
"Selamat malam, Ayah," ucap Ian tenang sambil menarik kursi untuk Rhea.
"Selamat malam," cicit Rhea sambil membungkuk sopan. Ia merasa seperti sedang diadili oleh dewa-dewa politik.
Makan malam dimulai dengan keheningan yang janggal. Hanya suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen mahal. Presiden Diningrat mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan kuliah Rhea, namun setiap kali Rhea menjawab, ia bisa merasakan tatapan Cansu yang seolah sedang membedah setiap kata-katanya.
"Mahasiswi kedokteran, ya?" Cansu akhirnya bicara. Suaranya halus seperti beludru, namun dingin. "Profesi yang mulia. Tapi aku penasaran, Rhea... bagaimana seorang mahasiswi yang sibuk dengan jadwal praktikum bisa memiliki waktu untuk menjalin hubungan selama dua tahun dengan putra sulungku tanpa satu pun orang tahu? Bahkan tanpa suamiku sendiri tahu?"
Rhea tersedak sedikit. Ia melirik Ian, mencari bantuan.
"Itu karena aku yang memintanya, Cansu," jawab Ian dengan nada datar namun tegas. "Aku ingin melindunginya dari kebisingan istana ini. Kamu sendiri tahu betapa melelahkannya menjadi pusat perhatian, bukan? Apalagi jika perhatian itu datang dari orang-orang yang hanya ingin mencari celah."
Cansu menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Tentu saja. Tapi kejutan seperti ini... terkadang terasa seperti sebuah rencana yang disusun dengan terburu-buru. Seperti sebuah... benteng darurat?"
"Rencana atau bukan, mereka sudah bertunangan, Cansu," potong Presiden Diningrat, mencoba menengahi. "Kita harus mendukung kebahagiaan Adrian."
Pradikta Kusuma tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering. "Tentu, Presiden. Tapi kita juga harus memikirkan martabat keluarga. Menikah dengan warga biasa... ah, itu sangat puitis. Tapi politik tidak butuh puisi, bukan? Politik butuh aliansi yang kuat."
Ian meletakkan garpunya. Suasana seketika mendingin beberapa derajat. "Aliansi terkuat dibangun di atas kepercayaan, Perdana Menteri. Bukan di atas transaksi tempat tidur."
Pernyataan itu membuat wajah Pradikta mengeras. Cansu meremas serbet di bawah meja, namun wajahnya tetap nampak elegan seperti topeng porselen. Rhea merasa atmosfer di ruangan itu semakin berat, seolah oksigen perlahan-lahan ditarik keluar.
Setelah makan malam yang melelahkan, Ian mengajak Rhea ke taman belakang untuk "mencari udara segar"—sebuah alasan agar mereka bisa bicara berdua. Rhea mengembuskan napas panjang begitu mereka sampai di dekat kolam ikan.
"Aku merasa seperti baru saja melewati medan perang," gumam Rhea sambil memegangi dadanya.
"Ini baru permulaan, Rhea," sahut Ian. Ia berdiri membelakangi Rhea, menatap kegelapan hutan di sekitar mansion gunungnya. "Cansu dan Pradikta tidak akan diam. Dia ingin aku menikahi wanita dari kelompoknya agar dia bisa mengendalikan Diningrat Grub sepenuhnya."
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Bukan langkah kaki pelayan, melainkan langkah yang pasti dan elegan. Cansu berdiri di sana, sendirian, tanpa pengawalan. Lampu taman yang temaram memberikan bayangan tajam di wajahnya.
"Adrian, bisa kita bicara berdua?" tanya Cansu. Matanya beralih ke Rhea. "Hanya sebentar, Nona Candrakirana. Saya yakin Anda tidak keberatan."
Rhea menatap Ian ragu, lalu Ian mengangguk kecil. Rhea berjalan menjauh, namun ia tetap berada di jarak yang cukup dekat untuk melihat gestur mereka, meski tidak bisa mendengar kata-katanya dengan jelas.
Cansu melangkah mendekat hingga ia hanya berjarak beberapa inci dari Ian. "Apa yang kamu lakukan, Ian? Menggunakan gadis bodoh itu untuk membalasku? Itu sangat kekanak-kanakan."
"Membalasmu?" Ian tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh dengan luka lama. "Kamu terlalu percaya diri, Cansu. Rhea adalah kenyataan yang tidak bisa kamu manipulasi dengan ambisi mu juga ayahmu yang sama liciknya dengan mu."
Cansu tiba-tiba mencengkeram lengan Ian, kukunya yang panjang menusuk kain jas Ian. "Kamu tahu kenapa aku melakukan semua ini! Kamu tahu apa yang dipertaruhkan!"
"Aku tahu kamu memilih mahkota daripada aku," bisik Ian tepat di telinga Cansu, suaranya penuh kebencian sekaligus kerinduan yang tertahan. "Dan sekarang, jangan mengganggu hidupku atau gadis itu. Jika kamu menyentuhnya, aku akan memastikan seluruh rencana mu dan Pradikta hancur berkeping-keping."
Cansu melepaskan cengkeramannya, wajahnya tampak pucat di bawah sinar bulan. Ia menatap Ian dengan tatapan yang hancur, namun segera ia tutupi dengan tatapan dinginnya yang biasa. Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa sepatah kata pun.
Malam itu berakhir dengan Rhea yang tertidur di mobil dalam perjalanan pulang. Ian menatap wajah gadis itu—gadis yang ia seret ke dalam kegilaan keluarganya. Ia merasa sedikit bersalah, namun dendamnya pada Pradikta dan rasa sakitnya terhadap Cansu jauh lebih besar.
Namun, di dalam kamar pribadinya, Cansu tidak tidur. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap bayangan dirinya sendiri. Pintu kamarnya terbuka, dan ayahnya, Pradikta, masuk tanpa mengetuk.
"Jangan biarkan emosimu menghancurkan semuanya, Cansu," ucap Pradikta dingin.
"Dia bertunangan dengannya, Ayah! Dia benar-benar melakukannya!" Cansu berteriak pelan, suaranya bergetar karena frustasi.
Pradikta mendekat, mencengkeram dagu putrinya dengan kasar. "Ingat posisimu. Kamu adalah Ibu Negara. Dan ibumu... dia masih menunggumu di 'rumah' yang aku siapkan untuknya. Jika kamu ingin dia tetap aman, pastikan Ian tidak pernah memiliki keturunan dari gadis itu. Singkirkan dia, atau aku yang akan melakukannya dengan cara yang jauh lebih kasar."
Cansu terdiam. Air mata menetes di pipinya, namun ia segera mengusapnya dengan kasar. Tatapannya berubah menjadi licik dan penuh tekad. "Aku mengerti, Ayah. Gadis itu... dia tidak akan bertahan lama di istana ini."
Di sisi lain kota, Rhea terbangun di kamarnya, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia tidak tahu bahwa mulai malam ini, setiap langkah yang ia ambil akan diawasi. Setiap napas yang ia hirup adalah ancaman bagi seseorang. Dan Ian, pria yang berjanji melindunginya, sebenarnya adalah alasan utama mengapa ia berada dalam bahaya maut.
Perang di balik tirai sutra baru saja dimulai, dan mawar di meja makan tadi hanyalah simbol dari darah yang mungkin akan segera tertumpah.