cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
"Bagaimana, Pak? Sudah ketemu catatannya?"
"Sudah. Ini," Riyan memberikan catatan barang itu pada karyawan khusus pengantar barang. Setelah si karyawan pergi dengan mobilnya Riyan merasa lega.
"Pak Riyan maaf, ini ada pelanggan yang komplain Pak,"
Suara itu membuat Riyan yang baru saja akan melangkah terhenti dan membuat perasaan yang baru saja berhembus lega kembali tegang. "Ya, kenapa?"
"Lihat ini Pak," si karyawan menunjukan isi pesan dari salah satu pelanggan ditabletnya pada Riyan. Disana jelas tertulis bahwa si pelanggan yang berasal dari kota lain komplain karena buah yang mereka kirim banyak yang busuk dan juga barangnya tidak sesuai dengan permintaan.
Riyan menekuk kedua tangan dipinggang. "Kok bisa seperti itu, No? Apa kau tidak mengawasi saat pemasukan barang kedalam peti hah?" Rasanya ingin marah, ingin memaki maki tapi itu bukan salah Nino. Karena Nino hanya bekerja dibagian konfirmasi pengiriman customer. Jadi sebisa mungkin Riyan menahan kekesalannya.
"Maaf, untuk dibagian itu ada mas Deni. Coba ditanyakan saja pada beliau, Pak." Nino menunduk dia sudah tahu jika atasannya sedang dalam keadaan menahan marah. Jadi Nino tidak mau menambah keruh suasana. Lagi pula wajar karena ini kali pertama selama Nino kerja disini mendapat komplain negatif, sangat wajar pula jika pak Riyan marah.
Riyan memijat pangkal hidungnya, tiba tiba merasakan pening. "Suruh Deni ke ruangan saya,"
"Baik, Pak. Permisi,"
Setelah Nino pergi, Riyan menuju ruangannya. Dia ingin membuka proposal tentang perjanjiannya dengan customer yang baru saja komplain tadi. Disana tertulis jika pengiriman tidak sesuai dalam perjanjian maka pihak Riyan akan memberikan uang ganti rugi sesuai dengan banyaknya barang yang tidak sesuai.
Huh
Riyan menutup proposal itu. Denyut dikepala semakin terasa ketika menjumlah hasil uang yang harus dia kirim ke customer yang dirugikan. Memang tidak terlalu banyak tapi ini pertama kalinya dia mendapat komplain negatif dari pelanggan selama dua belas tahun memimpin di mall ini. Rasanya tuh kurang nyaman dihati.
Riyan menghubungi Nino dan meminta bukti pesan complain itu untuk dikirim ke ponselnya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk," Riyan menegakan tubuh, menatap pintu dan dia tebak adalah Deni yang datang ke ruangannya. Bertepatan dengan pesan yang masuk ke ponselnya dari Nino.
"Permisi, Pak. Bapak panggil saya?" Deni masuk dan menutup pintu ruangan. Lalu berjalan mendekati meja Riyan berada.
"Duduk Den,"
"Makasih Pak."
"Begini, tadi ada customer yang komplain, nah ini buktinya." Riyan membuka ponsel dan menunjukan bukti itu pada Deni.
Deni meneguk ludah setelah membaca bukti itu yang dikirim oleh Nino. "Tapi Pak saya sudah mengeceknya dengan baik. Semua barang yang masuk ke peti aman semua. Bapak boleh tanya pada rekan saya di sana. Saya bersumpah Pak, saya memperhatikannya dengan teliti."
Deni menjelaskan dengan apa adanya tidak ada yang di rahasiakan karena selama ini dia memang selalu berusaha bekerja dengan baik benar dan jujur.
Riyan melempar proposal yang tadi dia baca ke pangkuan Deni dengan kasar. Membuat Deni berjengiiit ketakutan. "Kau jangan coba coba membohongi saya Deni! Jangan suka memperkeruh suasana! Kalau bukan keteledoran diri mu lalu siapa hah?!" bentaknya sudah tidak bisa menahan gejolak emosi.
Deni berdiri dan menunduk takut melihat bosnya marah padanya. Ini pengalaman pertamakali kena marah dalam bekerja di mall ini. "Maaf Pak tapi saya tidak berbohong. Saya---"
"Panggil rekan kerja mu itu, cepat!"
Deni mengangguk takut. "Baik Pak. Saya segera kembali."
Deni keluar dari ruangan Riyan dengan tergesa-gesa, meninggalkan suasana yang tegang. Dia langsung menuju ke tempat rekan-rekannya bekerja, mencari orang yang bisa membantunya membenarkan ceritanya.
"Hey, ada apa? Kenapa kau terlihat panik?" tanya salah satu rekan kerjanya, melihat ekspresi Deni yang tidak biasa.
"Pak Riyan marah, ada komplain dari customer tentang barang yang busuk dan tidak sesuai," jawab Deni benar benar tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Jujur saja Deni takut di pecat saat ini.
Rekan-rekannya langsung mengerti dan membantu Deni mencari bukti bahwa Deni telah melakukan pekerjaannya dengan baik.
Setelah beberapa menit, Deni kembali ke ruangan Riyan dengan rekan-rekannya. Riyan masih duduk di belakang mejanya, wajahnya masih terlihat marah.
"Baik, apa yang akan kalian jelaskan pada saya?" tanya Riyan, suaranya masih kasar. Dia masih marah.
Deni menjelaskan kembali ceritanya, kali ini didukung oleh rekan-rekannya yang membenarkan bahwa Deni telah melakukan pekerjaannya dengan teliti.
Riyan mendengarkan dengan seksama, ekspresinya mulai berubah dari marah menjadi penasaran. "Jadi, kau yakin bahwa kau tidak bersalah?"
Deni mengangguk. "Saya yakin, Pak. Saya telah melakukan pekerjaannya dengan baik."
Riyan memijat pangkal hidungnya, mencoba memahami situasi. "Baik, aku percaya pada mu. Tapi kita harus mencari tahu siapa yang salah."
Deni dan rekan-rekannya mengangguk, siap membantu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
...----------------...
"Nino, tadi aku tidak sengaja mendengar, katanya Deni melakukan kesalahan ya?" Tika dia karyawan di bagian packing, tadi dia tidak sengaja melihat dan mendengar pembicaraan Deni dan rekan rekannya mengenai kemarahan Pak Riyan.
Nino menggaruk kening mendapat tanya seperti itu dari Tika. Gimana ya? Bagaimanapun juga setiap kesalahan karyawan di sini harus di rahasiakan dan itu salah satu aturan di mall ini yang harus di patuhi.
"Eee... Itu... Anu... Deni--"
"Aku tidak salah,"
Suara dari arah lain membuat Nino dan Tika menoleh. Mereka terkejut mendapati Deni berada tak jauh dari mereka berdua.
"Aku tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Jadi jangan membuat gosip sembarangan," bantah Deni, karena dia memang tidak merasa bersalah. Selama ini Deni melakukan tugasnya dengan baik dan teliti.
"Maaf Mas Deni, kami tidak bermaksud. Tapi--"
"Sudah sudah jangan di bahas," Deni menyela ucapan Nino dan segera pergi dari sana karena sif kerjanya sudah usai.
Saat Deni sedang berjalan, dia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Deni menoleh dan melihat Tika yang berlari mengejarnya.
"Aku ingin minta maaf, Mas Deni," kata Tika, napasnya sedikit terengah-engah. "Aku tidak bermaksud membuatmu marah."
Deni tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak bermaksud itu."
Tika mengangguk, masih terlihat sedikit takut. "Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Pak Riyan marah seperti itu?"
Deni mengambil napas dalam-dalam. "Kau tidak perlu tahu karena semuanya sudah selesai dan aku lega sekali karena tidak dipecat dari mall."
Tika cemberut. "Bilang saja kalau kau tidak mau berbagi cerita denganku. Ish.. Kau ini, dasar menyebalkan!"
Deni tertawa dan tanpa mereka sadari ada yang mengikutinya dari kejauhan.
pesan dari siapa?