NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Sayang, ini siapa sih? Malam-malam bertamu pakai baju kurang bahan, lalu teriak-teriak mirip klakson truk pantura."

Suaraku meluncur begitu mulus, lengkap dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat hingga hampir membuat diriku sendiri ingin muntah. Namun, taruhan malam ini terlalu besar untuk kalah.

Alih-alih menarik diri dari kungkungan tubuh Arkan, aku justru sengaja menggeser tubuhku, merapatkan dada ke kemeja tidurnya yang terbuka. Kehangatan kulit bidangnya langsung menembus kain satin tipis piyamaku, memicu sengatan halus yang membuat bulu kudukku berdiri. Tangan kananku bergerak berani, mendarat di dada kirinya, berpura-pura merapikan kerah kemejanya yang berantakan dengan gerakan lambat yang sangat provokatif.

Aku bisa merasakan otot dada Arkan mengeras seketika di bawah telapak tanganku. Detak jantungnya yang semula konstan mendadak melompat, berdegup kencang dan tidak beraturan. Rahang tegasnya mengetat, menciptakan ceruk tajam di pipinya. Mata elangnya turun menatapku, sarat akan ancaman mati yang sangat jelas, namun aku membalasnya dengan kedipan mata paling polos yang bisa kukeluarkan dari gudang aktingku.

"Kamu..." Wanita di ambang pintu menunjukku dengan telunjuknya yang gemetar. Kuku-kuku panjangnya yang dipoles warna merah darah tampak kontras dengan wajahnya yang mendadak memucat karena syok. "Arkan! Apa-apaan ini?! Kenapa ada perempuan kelas rendah di apartemenmu? Dan apa tadi dia bilang? Sayang?!"

Napas wanita itu memburu cepat, memicu untaian mutiara Chanel di lehernya naik-turun dengan ekstrem. Dia melangkah maju, hak sepatu Louboutin-nya menghantam lantai marmer dengan bunyi *klek-klek-klek* yang cepat dan sarat akan emosi.

"Valerie," Suara Arkan akhirnya keluar. Dingin, datar, tanpa riak emosi sedikit pun, seolah kehadiran wanita cantik bergaun malam merah itu tidak lebih penting dari selembar kertas koran bekas yang ditiup angin. "Sopan santunmu tertinggal di Paris? Masuk ke properti orang lain tanpa izin di jam satu dini hari bukan tindakan yang mencerminkan kelasmu."

"Tanpa izin?" Valerie tertawa sumbang, suaranya melengking tinggi, memecah keheningan apartemen. Dia mengangkat tangan kanannya, memamerkan ibu jarinya ke depan wajah Arkan. "Sidik jariku masih terdaftar di sistem pintumu, Arkan! Kita hanya putus komunikasi selama enam bulan, bukan berarti kamu bisa membawa pemuas nafsu dari antah berantah ke dalam tempat yang seharusnya menjadi calon rumah kita!"

Kata *pemuas nafsu* dan *kelas rendah* sukses memantik sumbu pendek di dalam kepalaku.

Aku melepaskan tanganku dari dada Arkan, melangkah maju satu tapak hingga posisiku kini sejajar dengan si Bos Iblis. Kulipat kedua lengan di depan dada, membiarkan piyama satin pendekku bergoyang tipis mengikuti gerakan kaki.

"Mbak Valerie yang terhormat," ujarku, menyunggingkan senyum miring yang paling menyebalkan. "Pertama, komunikasi kalian bukan putus, tapi kamu yang kabur ke luar negeri dengan pria lain setelah membatalkan pertunangan secara sepihak. Kedua, piyama satin ini memang tidak semahal mantel bulu beruang kutub yang kamu pakai itu. Tapi setidaknya, saya memakainya di dalam apartemen milik calon suami saya sendiri. Bukan hasil menyusup tengah malam menggunakan sisa memori sidik jari yang lupa dihapus."

"Calon suami?!" Valerie menjerit kecil, matanya melotot sempurna hingga urat-urat halus di pelipisnya terlihat jelas di bawah lampu kristal ruang tengah. Dia menatap Arkan dengan pandangan menuntut penjelasan. "Arkan! Katakan kalau perempuan mulut lancang ini cuma membual! Kamu tidak mungkin menikah dengan modelan seperti ini, kan? Selera kamu tidak mungkin merosot sampai ke dasar bumi!"

Arkan tidak langsung menjawab. Dia melangkah ke samping meja bar, mengambil gelas kristalnya yang masih tersisa separuh air bening, lalu menyesapnya dengan gerakan yang teramat sangat tenang. Ketandusan ekspresinya selalu sukses membuat orang di sekitarnya merasa gila karena tebakan yang tidak pernah menemukan jawaban.

Setelah meletakkan gelas dengan bunyi *tuk* yang presisi di atas meja, Arkan menatap Valerie lurus-lurus.

"Dia tidak membual, Valerie," suara bariton Arkan mengalun mantap, mengubur sisa-sisa harapan yang sempat melintas di mata mantan tunangannya itu. "Naura Azzahra adalah calon istri saya. Kami akan menikah minggu depan. Jadi, keberadaannya di sini jauh lebih sah secara hukum dan moral daripada kehadiranmu malam ini."

Aku hampir saja bersorak dan memberikan tepuk tangan meriah untuk akting luar biasa si Bos Iblis. Pria ini memang monster tanpa perasaan, tetapi harus kuakui, kemampuannya mengesekusi kalimat penolakan tanpa ampun adalah sebuah bakat alami yang patut diacungi jempol.

Wajah Valerie berubah dari pucat menjadi merah padam dalam sekejap. Air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya, merusak riasan maskara mahalnya. "Minggu depan? Kamu mau menikah dengan dia hanya untuk membalas perbuatanku, kan? Kamu mau membuatku cemburu?!"

"Jangan terlalu tinggi menilai kapasitas dirimu sendiri di dalam hidup saya, Valerie," potong Arkan cepat, dingin, dan tajam. "Sekarang, silakan keluar. Saya punya jadwal rapat penting jam delapan pagi dan saya tidak mau membuang waktu tidur saya yang berharga hanya untuk meladeni drama masa lalu yang sudah basi."

Arkan berjalan menuju pintu utama, membukanya lebar-lebar, lalu berdiri di samping bingkai pintu dengan posisi tegap. Tangan kanannya terulur ke arah koridor luar, sebuah isyarat pengusiran paling mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Valerie menyambar tas Hermes-nya yang tergeletak di lantai dengan sentakan kasar. Dia melangkah menuju pintu dengan bahu yang gemetar menahan malu dan amarah yang membuncah. Tepat saat posisinya berada di depan Arkan, dia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan yang sarat akan dendam.

"Ini belum selesai, Arkan. Aku tahu persis siapa kamu. Kamu tidak akan pernah bisa mencintai perempuan sekampung dia!"

*Bamm!*

Valerie menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai koridor sebelum berbalik dan menghilang di balik lift. Pintu apartemen menutup otomatis dengan bunyi klik yang solid, mengembalikan kesunyian yang mencekam ke dalam ruangan.

Suasana mendadak berubah canggung secara instan. Lampu ruang tengah yang terang benderang kini memperlihatkan dengan jelas bagaimana penampilan kami masing-masing. Arkan berbalik, bersandar pada pintu besi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Mata elangnya kembali menatapku dengan intensitas yang sanggup membuat kulitku meremajang seketika.

"Sayang?" Arkan mengulang kata yang kuucapkan tadi dengan nada menyindir yang sangat kental. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai dingin. "Sejak kapan panggilan itu masuk ke dalam draf kesepakatan kita, Naura?"

Aku berdeham kecil, mendadak merasa piyama satin pendek ini benar-benar tidak aman untuk situasi sekarang. Kualihkan pandangan ke arah rak buku di sudut ruangan, berpura-pura tertarik pada jajaran ensiklopedia tebal di sana.

"Itu namanya improvisasi taktis, Pak Bos," pembelaanku, mencoba tetap terdengar percaya diri. "Kalau aku tidak berakting total seperti itu, mantan tunanganmu yang histeris itu tidak akan percaya. Harusnya kamu berterima kasih karena aku sudah menyelamatkan harga dirimu dari serangan fajar mantan kekasih."

Arkan melangkah mendekat. Setiap ketukan langkah kakinya yang telanjang di atas marmer terasa seperti detak jarum jam yang mendekati angka dua belas. Dia berhenti tepat satu meter di depanku. Hawa tubuhnya yang maskulin dan aroma kayu cendana kembali mengintervensi ruang udaraku.

"Terima kasih?" Arkan mendengus pelan, seulas senyum sinis melintas di wajah tampannya. "Kamu memanfaatkan situasi untuk menyentuh saya, Naura. Tanganmu di dada saya tadi... itu tidak ada di dalam skenario."

"Hei! Itu bagian dari detail sensorik dalam akting!" Aku membela diri, menatapnya dengan berani walau dadaku kembali bergemuruh hebat akibat jarak kami yang terlalu intim. "Lagipula, dada bidangmu itu tidak selembut kasur lipat, tahu! Keras seperti papan gilasan baju. Tidak ada untungnya sama sekali bagiku untuk menyentuhnya!"

Mata Arkan menyipit berbahaya mendengarkan kalimat pedasku. Dia memajukan tubuhnya sedikit, membuatku refleks mundur satu langkah hingga punggungku membentur tiang beton pembatas ruang tengah. Aku terkurung lagi.

"Keras seperti papan gilasan, hm?" Arkan berbisik rendah, suaranya bergetar di dekat telingaku. "Tapi telapak tanganmu tadi betah sekali menempel di sana selama dua menit penuh tanpa bergeser sedikit pun."

Sialan. Pria ini ternyata memperhatikan detail sekecil itu. Kulit wajahku mendadak terasa panas, memancarkan rona merah yang untungnya tersamarkan oleh pencahayaan apartemen yang mulai diredupkan kembali secara otomatis oleh sistem pintar rumah.

"Itu... itu karena aku sedang memikirkan kalimat balasan untuk Valerie!" ujarku gugup, tanganku spontan mendorong pundaknya agar menjauh. "Sudahlah! Aku mau tidur. Aturan nomor dua belas desibel itu sudah lewat dari jam dua malam. Kita berdua sudah melanggar SOP-mu yang agung itu."

Aku mencoba menyelinap di bawah lengannya untuk melarikan diri ke kamar tamu. Namun, Arkan bergerak lebih cepat. Tangan kanannya yang kokoh mencengkeram pergelangan tanganku dengan lembut namun bertenaga, menahan gerakanku seketika. Sentuhan kulitnya yang hangat mengirimkan sengatan listrik mini yang membuatku mematung di tempat.

"Lepaskan, Arkan," bisikku, tidak lagi menggunakan embel-embel 'Pak Bos' atau 'Mas'.

Arkan menatap pergelangan tanganku yang berada di dalam genggamannya, lalu perlahan menaikkan pandangannya untuk mengunci mataku. Ketegangan di antara kami berdua malam ini terasa jauh lebih berbahaya daripada saat menghadapi Valerie tadi. Ini adalah ketegangan murni antara seorang pria dan seorang wanita yang dipaksa berbagi ruang privat yang sama di bawah tekanan ego masing-masing.

"Besok pagi, jam sembilan," ujar Arkan, suaranya kembali ke mode formal dan kaku, walau genggaman tangannya baru terlepas perlahan dari pergelangan tanganku. "Sekretaris saya akan mengantar berkas pranikah ke sini. Pastikan kamu sudah berpakaian rapi dan tidak menggunakan pakaian... kurang bahan seperti ini lagi di depan orang lain."

Aku menggosok pergelangan tanganku yang terasa hangat bekas genggamannya. "Iya, bawel. Tidak usah pakai spreadsheet untuk mengingatkanku hal itu."

Aku berbalik dengan cepat, melangkah lebar menuju kamar tidur tamu tanpa menoleh lagi ke belakang. Kupastikan pintu kamar tertutup rapat dan kukunci dari dalam. Aku menyandarkan punggungku di balik pintu kayu tebal itu, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya seolah baru saja lolos dari kepungan gas beracun. Jantungku masih berdegup dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Pukul dua lebih lima belas menit pagi.

Aku baru saja berhasil memejamkan mata di atas kasur berbalut sprei katun polos, memeluk Si Pipi erat-erat untuk mencari kenyamanan domestik yang hilang. Kesunyian malam kembali mengambil alih apartemen mewah di kawasan Senopati ini.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan selama beberapa menit.

*DUN-TAK-DUN-TAK! ASOLOLEEE!*

*JEDAG-JEDUG-JEDAG-JEDUG!*

Sebuah dentuman musik dangdut koplo dengan volume maksimal, lengkap dengan tabuhan kendang yang sangat bising dan suara terompet melengking tinggi, mendadak menggelegar dari arah meja bar dapur bersih. Suaranya begitu keras hingga getaran basnya terasa merambat sampai ke permukaan lantai kamar tidurku.

Aku langsung terduduk tegak di atas kasur. Mataku membelalak sempurna, lalu sedetik kemudian, sebuah senyum kemenangan yang luar biasa lebar terukir di wajahku.

Jebakan batuku berhasil! Prank nada dering khusus yang kuseting di ponsel kerja Arkan beberapa jam lalu akhirnya meledak di waktu yang paling tidak tepat di seluruh alam semesta. Di jam dua pagi, di tengah apartemen minimalis premium yang menjunjung tinggi keheningan lima belas desibel.

Dari luar kamar, terdengar bunyi pintu kamar utama yang dibuka dengan sentakan kasar. Langkah kaki Arkan yang terburu-buru terdengar seperti derap langkah prajurit yang hendak pergi berperang.

"Sialan! Di mana ponsel itu?!" Suara geraman frustrasi Arkan terdengar samar di antara dentuman lagu dangdut yang masih terus bergema tanpa ampun memenuhi seluruh ruangan.

Aku membuka pintu kamar tamu sedikit, mengintip dari celah sempit dengan tubuh yang bergetar hebat menahan tawa yang siap meledak dari mulutku.

Di sana, di bawah terang lampu darurat, Arkan Mahendra sedang menggeledah tumpukan berkas di atas meja bar dengan wajah yang luar biasa kusut. Rambutnya yang biasanya klimis tanpa cela kini mencuat ke segala arah akibat frustrasi. Dia menyambar ponsel hitamnya yang masih terus bergoyang di atas meja akibat getaran bas musik koplo tersebut.

Dengan jari yang gemetar menahan amarah, Arkan menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut, berniat memaki siapa pun orang gila yang meneleponnya jam dua pagi dengan nada dering se-katastrofik ini.

"Halo?!" bentak Arkan dengan suara baritonnya yang meninggi, berusaha mengalahkan suara intro kendang yang baru mati saat panggilan terhubung.

Namun, sedetik kemudian, seluruh tubuh tegap Arkan membeku kaku di tempat. Ekspresi wajahnya berubah dari garang menjadi pucat pasi dalam hitungan milidetik. Dia menjauhkan ponsel itu sedikit dari telinganya, menatap layar untuk memastikan nama si penelepon, lalu kembali menempelkannya ke telinga dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh rasa hormat.

"P-Papa...?" Suara Arkan mendadak mencicit, kehilangan seluruh wibawa CEO-nya yang agung di depan sang ayah yang ternyata menelepon dari rumah sakit.

Dari celah pintu, aku membekap mulutku sendiri dengan kedua tangan. Air mata geli mulai keluar dari sudut mataku karena menahan tawa yang teramat sangat menyiksa dada. Proyek balas dendam pertamaku sukses besar, dan si Bos Iblis kini harus menjelaskan pada ayahnya kenapa dia mengoleksi lagu dangdut koplo ekstrem di ponsel bisnis utamanya.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!