NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA MAJIKAN

TERJERAT CINTA MAJIKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

...[Anak, Cinta, dan Pengkhianatan.]...

...****...

Ruangan itu terasa semakin mencekam, hawa dingin malam menusuk hingga ke sumsum. Darren duduk di kursi dengan tubuh kaku, tatapannya kosong menembus lantai. Winston berdiri tak jauh darinya, menatap sahabatnya dengan cemas. Udara terasa berat, seolah memadat, memerangkap mereka dalam kekhawatiran tentang Neysa.

Suasana sunyi itu mendadak pecah.

Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar, beradu dengan kerikil di halaman. Sebuah ketukan keras, diikuti hentakan, membuat pintu depan terbuka paksa. Darren berdiri seketika, tubuhnya menegang.

"Amy," ucapnya rendah, matanya melirik ke arah kamar Neysa. "Tetap di sini. Jaga Neysa dan jangan biarkan siapa pun masuk."

Amy mengangguk ragu, tapi langkahnya mantap saat menutup pintu kamar Neysa dan berdiri di depannya.

Darren dan Winston berjalan keluar menuju ruang tamu. Mereka berhenti di ambang pintu, mendapati sekelompok pria berbadan besar dengan seragam hitam berdiri tegap, senapan teracung ke arah mereka. Tekanan yang mereka bawa memenuhi ruangan, membuat Darren dan Winston saling bertukar pandang penuh waspada.

"Apa ini?" Winston memberanikan diri bertanya.

Langkah ringan namun penuh kuasa memecah ketegangan. Derrick muncul, melangkah santai memasuki ruangan. Wajahnya dihiasi senyum angkuh, matanya dingin seperti es. Dengan gerakan santai, ia membersihkan kursi dengan tangannya sebelum duduk, menyilangkan kaki, dan mengisap rokok yang menyala di tangannya.

"Mana Neysa?" tanya Derrick datar, namun nadanya tak memberi ruang untuk kompromi.

Darren mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "Di mana pun Neysa berada, dia adalah istriku. Kau tidak punya hak untuk mencampuri hidupnya."

Derrick tertawa kecil, memperlihatkan senyum meremehkan. "Istri, ya? Istri yang kau perlakukan seperti beban? Jangan lupa, Darren. Neysa adalah bagian dari keluarga Lawrence. Tempatnya di istana, bukan di kubangan lumpur ini."

Winston buru-buru menyentuh lengan Darren, mencoba menghentikannya sebelum pria itu meledak dalam kemarahan. "Kami akan menjaga Neysa," Winston berkata dengan hati-hati. "Dia aman di sini."

Derrick mengangkat alisnya, tertawa lebih keras. "Aman?" Dengan isyarat kecil, ia memanggil seseorang. Jessica melangkah masuk, gaunnya yang elegan kontras dengan suasana menekan di ruangan itu. Senyum tipis di wajahnya mengisyaratkan kepercayaan diri, meski matanya menyimpan sesuatu yang tak terbaca.

Jessica melirik Derrick, lalu memutar pandangannya ke arah Darren dan Winston. "Aku melihat Neysa pingsan," katanya pelan, seolah menikam dengan setiap kata. "Kalian benar-benar berpikir dia aman? Aku yakin ada sesuatu yang tak beres dengannya."

Darren mendengus sinis, menatap Derrick dengan penuh ejekan. "Takut sesuatu terjadi pada Neysa? Takut kalau ahli warismu hilang begitu saja?"

Derrick mengembuskan asap rokok, ekspresinya tetap datar. "Aku hanya memastikan Neysa kembali ke tempat yang seharusnya. Kau tidak penting dalam rencana ini."

"Kau tak perlu memastikan apa pun," balas Darren dingin. "Dia mengandung anakku. Bawa Neysa sesukamu, tapi anak itu tetap milikku."

Asap rokok Derrick terhenti di udara. Senyum tipis di wajahnya perlahan pudar, berganti ekspresi dingin yang berbahaya. Dengan gerakan kecil, ia memberi isyarat pada salah satu bawahannya.

"Ambilkan obat itu," perintahnya singkat.

Winston menegang, matanya membelalak. Darren melangkah maju, tubuhnya bergetar oleh kemarahan. "Apa yang kau lakukan?!"

Derrick mengangkat bahu ringan. "Aku tak peduli pada anak itu. Kalau kau menginginkannya, ambillah. Aku hanya butuh Neysa."

"Ini gila!" Darren tertawa getir, menatap Derrick seolah pria itu monster. "Kau tidak punya rasa simpati sama sekali. Tapi aku bersumpah, aku tak akan membiarkanmu menyentuh anak itu."

Derrick memandang Darren tanpa emosi. "Sumpahmu tidak berarti apa-apa bagiku," katanya tajam. "Lakukan apa yang menurutmu benar, kalau kau masih hidup setelah malam ini."

Sebelum pengawalnya bergerak, Winston maju, tangannya terangkat. "Tunggu! Derrick, dengarkan aku!" serunya, suaranya penuh tekanan.

Derrick menghentikan pengawalnya dengan satu isyarat kecil. "Kau punya lima detik."

"Biarkan Neysa melahirkan anak itu," Winston berkata cepat. "Darren hanya menginginkan anaknya, dan kau bisa membawa Neysa setelah semuanya selesai. Bukankah itu solusi terbaik untuk semua pihak?"

Derrick memiringkan kepalanya, ekspresinya seperti sedang menilai tawaran Winston. Lalu, setelah keheningan yang panjang, ia mengangguk kecil.

"Kesepakatan yang menarik," gumamnya. "Tapi ingat, Winston. Kalau ada satu kata saja bocor tentang ini, kalian semua akan mati di ruang bawah tanah keluarga Lawrence."

Matanya beralih ke Jessica, yang menunduk ketakutan. Derrick mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Jessica menggigil. Setelah itu, ia melangkah pergi, diikuti para pengawalnya.

Ketegangan di ruangan itu perlahan memudar, meski meninggalkan residu rasa takut. Winston menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan pikirannya. Ia menoleh pada Darren yang masih berdiri kaku.

"Kau peduli padanya, Darren," kata Winston lembut.

Darren tertawa kecil, tapi suaranya dipenuhi ironi. "Kalau bukan karena anak ini, aku sudah mengusirnya sejak lama."

---

Di kamar, Neysa membuka matanya perlahan. Pandangannya tertuju pada Amy, yang berdiri di depan pintu dengan ekspresi penuh kecemasan. Neysa mengalihkan pandangannya ke atas, membiarkan air mata mengalir tanpa suara.

Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata, seolah mencari kekuatan. Dalam hatinya, ia berbisik dengan penuh tekad:

"Ini hidupku. Tidak ada seorang pun yang berhak memutuskan untukku. Aku akan menentukan jalanku sendiri."

B e r s a m b u n g....

Tinggalkan jejak, biar Mimin tetep semangat, yah! Makasih(⁠^⁠^⁠)

Ngomong-ngomong Derrick ganteng, yah>⁠.⁠<

1
asy
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!