NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis / Tamat
Popularitas:36.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI YANG BEETAUT.

Pagi menjelang subuh, seperti biasa alarm alamnya selalu, membangunkan. Ardiah menjadi yang pertama mengedipkan matanya perlahan. Aroma maskulin khas tubuh Haikal langsung menyapa indra penciumannya, menyadarkan dirinya bahwa ia masih berada di posisi yang sama seperti semalam suntuk terperangkap nyaman dalam dekapan erat sang suami.

Ardiah mendongak sedikit, menatap wajah tidur Haikal yang berada tepat di depan wajahnya. Dalam keadaan terlelap seperti ini, garis rahang suaminya tampak begitu tegas namun damai, tanpa ada guratan beban atau ketengilan yang biasa ia pamerkan di siang hari. Perlahan, tangan kanan Ardiah bergerak terangkat, berniat mengusap pelipis Haikal yang tertutup beberapa helai rambut acak-acakan.

Namun, baru saja jemarinya menyentuh helai rambut itu, kelopak mata Haikal bergerak terbuka. Sepasang mata elang itu langsung menatap lurus ke arah netra mata Ardiah, lengkap dengan sebuah senyuman lebar yang langsung terukir di bibirnya.

"Selamat pagi, Istriku yang cantik. Senang sekali rasanya bangun tidur langsung disuguhi pemandangan seindah ini," goda Haikal dengan suara serak khas bangun tidur.

Ardiah tersipu dan menarik tangannya. "E-eh, selamat pagi. Lepaskan dulu pelukanmu, Haikal. Ini sudah subuh. Sudah waktunya sholat subuh. Soalnya aku harus cepat turun ke bawah untuk membantu Mama juga menyiapkan sarapan."

Haikal justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Ardiah. "Sebentar lagi saja, Kak. Lima menit lagi. Tubuhmu ini sangat hangat dan nyaman, membuatku malas untuk beranjak ke mana-mana."

"Haikal, jangan mulai lagi ya!" protes Ardiah, menepuk pelan dada bidang suaminya. "Nanti apa kata Mama dan Nenek kalau melihat kita belum turun juga jam segini? Mereka pasti mengira kita malas-malasan."

Haikal terkekeh lalu melepas pelukannya. Sembari duduk di tepi ranjang, ia memegang jemari istrinya. "Baiklah, baiklah. Aku mengalah demi Mama dan Mbah mertua. Bagaimana tidurmu semalam, Kak? Tidak ada mimpi buruk, kan?"

Ardiah tersenyum tipis dan menggeleng. "Tidak ada. Sejak bersamamu... aku sudah tidak pernah memimpikan hal-hal buruk itu lagi, Haikal."

Haikal mengecup punggung tangan Ardiah dengan bahagia. "Syukurlah kalau begitu. Itu artinya kehadiranku benar-benar bisa menjadi obat pencuci trauma untukmu. Aku akan pastikan mulai hari ini dan seterusnya, hanya ada mimpi indah yang menemanimu tidur."

Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, mereka segera bersiap dan langsung turun ke ruang makan. Di sana, Rizal sedang membaca koran, sementara Astuti dan sang Nenek sibuk menata sarapan.

"Wah, ini dia pengantin baru kita baru kelihatan batang hidungnya," sapa Astuti dengan nada menggoda begitu melihat kedatangan anak dan menantunya.

Nenek Ardiah ikut menoleh, tersenyum penuh arti menatap cucunya yang berjalan sedikit menunduk karena malu. "Bagaimana tidurnya semalam, Diah? Nyenyak, toh?"

Ardiah berdeham gugup dan segera duduk di samping Nenek. "N-nyenyak, Mbah. Maaf ya, Diah bangunnya agak kesiangan jadi tidak sempat membantu Mama di dapur tadi."

"Tidak apa-apa, Nduk. Tadi Mama Astuti ini pintar sekali memasak, Mbah malah cuma menemani mengobrol saja sejak subuh," sahut Nenek dengan saksama.

Haikal duduk di seberang Ardiah sambil menyendok nasi goreng. "Kak Diah semalam tidurnya sangat pulas, Mah, Mbah. Sampai-sampai memeluk Ikal erat sekali seperti tidak mau kehilangan suaminya yang tampan ini."

"Haikal!" seru Ardiah tertahan, melayangkan tatapan tajam yang siap mencabik-cabik wajah suaminya di depan seluruh anggota keluarga.

Rizal menurunkan korannya sambil terkekeh. "Sudah, sudah, jangan digoda terus istrimu itu, Kal. Cepat habiskan sarapan kalian. Setelah ini, ada hal penting yang ingin Papa bicarakan denganmu dan Ardiah."

Selesai sarapan, Rizal membawa mereka ke ruang kerja pribadinya untuk berdiskusi serius.

"Haikal, Ardiah. Papa sengaja memanggil kalian ke sini karena ingin membahas mengenai kelanjutan posisi kalian di perusahaan Artha Design. Papa tahu kalian berdua baru saja menikah dan sedang menikmati masa-masa awal berumah tangga. Tapi sebagai CEO, Papa tidak bisa memberikanmu libur terlalu lama, Kal. Banyak proyek besar di kota yang membutuhkan keputusan dan tanda tangan langsung darimu minggu ini."

Haikal mengangguk paham. "Ikal tahu, Pa. Mulai besok Ikal sudah berencana untuk kembali aktif ke kantor secara penuh."

Rizal lalu menatap Ardiah dengan hangat. "Dan untukmu, Ardiah. Papa sangat bangga dengan kinerjamu di divisi desain selama ini. Kemampuanmu dalam merancang interior tidak perlu diragukan lagi. Oleh karena itu, Papa dan pihak direksi sepakat untuk menaikkan posisimu menjadi Kepala Divisi Desain Utama mulai bulan depan."

Ardiah terkegun tidak percaya. "E-eh? Kepala Divisi Utama, Pa? Tapi... apakah saya sudah pantas menerima tanggung jawab sebesar itu? Masih banyak senior lain yang lebih berpengalaman dari saya di kantor."

Haikal langsung menggenggam tangan Ardiah untuk meyakinkannya.

"Tentu saja Kakak sangat pantas. Aku ini CEO-mu di kantor, Kak. Aku tahu persis bagaimana dedikasi dan keindahan hasil kerjamu selama ini. Jabatan ini bukan diberikan karena Kakak adalah istriku, tapi karena kerja keras dan prestasimu sendiri yang memang layak dihargai. Ambil saja kesempatan ini, ya? Aku akan selalu ada di belakangmu untuk mendukungmu."

Mendengar dukungan sang suami, keraguan Ardiah sirna. Ia menatap Rizal dan mengangguk mantap. "Baik, Papa. Terima kasih banyak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik untuk memajukan perusahaan kita."

Rizal tersenyum puas. "Bagus sekali. Papa pegang janjimu, Ardiah."

Malam harinya, setelah seharian beraktivitas, mereka kembali ke kamar. Haikal langsung berbaring di kasur, sementara Ardiah membersihkan wajah di meja rias.

Haikal memandangi istrinya dari cermin. "Kak..."

"Iya, ada apa?" sahut Ardiah tanpa menoleh.

"Mulai besok kita sudah kembali ke rutinitas kantor yang padat. Status kita di sana akan kembali menjadi CEO dan bawahan di depan karyawan lain. Tapi ingat ya, begitu kita melangkah keluar dari gedung kantor dan masuk ke dalam mobil... status kita tetap suami istri sungguhan. Tidak ada yang berubah."

Ardiah menghentikan aktivitasnya, berbalik, lalu berjalan mendekat dan duduk di samping Haikal. Ia mengusap lembut pipi suaminya. "Aku tahu, Haikal. Aku tidak akan pernah melupakan janjiku semalam di puskesmas. Aku... aku akan mencoba membuka hatiku sepenuhnya untukmu."

Haikal langsung memegang dan mengecup telapak tangan Ardiah dengan penuh kasih. Namun, momen romantis itu terganggu oleh getaran keras ponsel Haikal di atas nakas yang menampilkan nomor tidak dikenal.

Haikal mengernyit kesal, lalu mengangkatnya. "Halo, siapa ini?"

Dari seberang telepon, terdengar suara isak tangis histeris seorang wanita yang sangat familiar. Seketika ekspresi Haikal berubah tegang dan mengeras, sementara Ardiah langsung dilingkupi firasat buruk. Siapakah yang menghubungi Haikal di larut malam seperti ini dengan keadaan kacau?

1
sunaryati jarum
Jika sudah lahir jadi pangera,ya Banyak yang ikut merawat dan melayani
sunaryati jarum
Semoga sehat bayi dan ibunya
sunaryati jarum
Bu anak jika sudah berumah tangga jangan disetir atau ikut campur jika bukan untuk mendamaikan,saat kurang akur.Serta jangan asal nuduh sebelum ada bukti akurat.
Lia siti marlia
apa thorr udah tamat aja kok gak kerasa yah aku bacanya 🤭🤭🤭saking seru haru nya cerita haikal sama ardiah makasih thorr di tunggu judul barunya 🥰🥰🥰
Lia siti marlia
ais haikal bisa aja 🤭🤭🤭
memang yah bu nurul kalau penyesalan pasti datang terlambat 😁😁😁
Lia siti marlia
bener bener yah c haikal.kalau aku jadi ardiah udah aku jambak kamu 😁😁😁
Lia siti marlia
ardiah yang mau lahiran aku yang deg degan 🤭🤭🤭🤗🤗
Lia siti marlia
cie ikal dapat jagoan🤗🤗 nanti jagoan mu kalau udah lahir kamu jamgam cemburu yah karna di duain istrimu 🤭🤭🤭
Danny Muliawati
rasain nenek tua angkuh d sombong kena lo
Jaya Fandi
mantap Haikal,,lgsg dasdes,,
Lia siti marlia
hahaha bagus haikal orang sombong harus di balas dengan cara elegan supaya tahu diri 😁😁😁
sunaryati jarum
Nanti sifat anaknya niru siapa,Ya.
sunaryati jarum
Selamat semoga sehat baby dan ibunya
Eliermswati
haikal nnti q ksh permen y jangan nangis oke😂😂😂 dah mau jd ayah sifatnya g berubah ikal q jd ikut ketawa😂😂smngt thor up nya
Lia siti marlia
udah mau jadi ayah masih aja manja ikal ikal 🤭🤭🤭
Lia siti marlia
selamat yah haikal ardian kalian akan jadi orang tua 🤗🤗🤗 🥺🥺🥺
Jaya Fandi
m7dah mudahan hamil anak jembar kal
Danny Muliawati
hamil spt nya yah
Anonim
Cepet² ya updatenya thor
sunaryati jarum
Sudah tumbuh kecebong kamu Haikal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!