Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Aleta mengamati pakaian gadis di depannya, seragam mereka sama dan dia menatap name tag di seragam gadis itu. Clara Adinda.
Tidak ada ingatan apa pun yang bisa membantunya memahami situasi sekarang, hanya saja Aleta merasa aneh karena tubuhnya mendadak gemetaran saat berhadapan dengan Clara.
"Demam tidak selalu membunuh orang," jawab Aleta seraya membenarkan letak ranselnya yang sedikit melorot.
Raut wajah Clara tak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya, gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kau berani menjawab?" Sinis Clara tak percaya.
Aleta mengedikan bahu, dia berniat melewati Clara untuk mencari tempat duduk. Tapi baru saja dia melangkah, pundak kirinya langsung di dorong oleh Clara hingga membuat dia mundur satu langkah.
"Mau ke mana kau? Aku belum selesai bicara denganmu."
"Aku tidak memiliki urusan lagi denganmu."
"Kau bilang apa?" Seru Clara. Sorot matanya berubah marah.
Aleta menarik napas panjang. "Ada baiknya kau pergi ke dokter telinga, Ra. Sepertinya telingamu bermasalah."
Mendengar jawaban Aleta, semua murid yang ada di dalam bus itu langsung membisu. Mereka memandang Aleta dengan sorot ngeri, namun sebelum Clara menjawab bus sudah mulai bergerak.
Aleta menahan tubuhnya dengan memegang salah satu kursi penumpang, di saat itulah dia bisa mengamati situasi jika saat ini dirinya seperti sedang di kerubungi musuh.
Suara sopir bus terdengar dari pengeras suara kecil di bagian depan.
"Perhatian, harap semua siswa duduk dengan tertib. Bus akan menambah kecepatan."
Bus mulai bergerak lebih cepat, membuat beberapa siswa yang masih berdiri sedikit kehilangan keseimbangan.
Aleta memegang sandaran kursi dengan satu tangan agar tidak terjatuh. Matanya menyapu seluruh isi bus dengan cepat, naluri lamanya bekerja tanpa sadar.
Dua puluh orang lebih, sebagian duduk di kursi dan sebagian berdiri di lorong. Jika ini situasi pertempuran, ruangnya terlalu sempit untuk bergerak bebas. Aleta mendecakkan lidah kecil dalam hati.
"Kebiasaan buruk..." gumamnya.
Namun tatapannya kembali tertuju pada Clara yang berdiri tepat di depannya. Wajah gadis itu memerah karena marah.
"Kau benar-benar kehilangan akal setelah demam, ya?" ujar Clara tajam.
Aleta tidak menjawab. Dia justru memandang keluar jendela seolah tidak tertarik dengan pertengkaran itu.
Sikap itu membuat Clara semakin kesal. "Kau pikir dengan diam seperti itu aku akan membiarkanmu?"
Aleta akhirnya menoleh. Tatapannya datar.
"Aku hanya tidak tertarik memperpanjang percakapan yang tidak penting."
Ucapan itu seperti menambahkan minyak ke dalam api, beberapa siswa di sekitar mereka mulai saling berbisik.
"Dia benar-benar berani..."
"Aleta berubah, ya?"
"Biasanya dia tidak pernah melawan Clara."
Bisikan itu terus bergaung selama perjalan menuju sekolah, tapi bagi Aleta semua itu hanyalah angin lalu. Tujuannya sekarang adalah ke sekolah, dan mencari tahu apa yang sebenarnya di alami tubuh barunya selama ini.
Tiga puluh menit kemudian, bus berhenti di halte seberang SMA VELLA. Semua murid berbondong-bondong keluar dari dalam bus termasuk Aleta, saat menginjakan kaki di depan sekolah barunya suasana di halaman cukup ramai.
Banyak murid berlalu lalang, ada juga yang baru saja memarkirkan motor sport dan turun dari mobil. Aleta berjalan memasuki sekolah, baru saja dia tiba di lorong suara seseorang mengejutkan dirinya.
"LETA!"
Aleta menoleh, dia menaikan sebelah alisnya saat melihat seorang gadis seumuran dengannya sedang berlari ke arahnya.
"Kau sudah pulih?" Tanya gadis bernama Serena tersebut. Satu-satunya orang yang ada dalam ingatan Aleta bahwa mereka berteman baik.
"Ya, sudah mendingan."
"Syukurlah. Maaf karena aku tidak bisa menjengukmu, Let." Serena menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Aku kerja part time di mini market, jadi waktu aku pulang hari sudah larut padahal aku sangat ingin bertemu denganmu."
Aleta mengangguk paham, dia sendiri pernah berada di posisi itu sebelum di rekrut oleh organisasi dan menjadi tentara bayaran. Kehidupan pahit dan bertarung dengan waktu sudah menjadi makan sehari-hari untuknya, dia sama sekali tidak terkejut jika sekarang harus memiliki teman seperti Serena.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga insiden tak terduga kembali terjadi, ketika Aleta dan Serena tiba di tikungan kelas mereka seseorang menarik ransel Aleta dari belakang.
"Kau yang namanya Aleta?" Tanya orang tersebut.
Aleta menoleh lalu mengangguk. "Ada perlu apa denganku?"
Seringai terbit di bibir pemuda itu. "Ikut denganku, ada beberapa hal yang harus kita bicarakan."
Serena yang melihat kejadian itu tampak gemetaran, tangan kanannya menggenggam tangan Aleta. Meski dia tak bersuara, namun raut wajahnya tampak sangat pucat.
Aleta menoleh ke arah Serena. "Kenapa, Ser?"
"Ti-tidak ada."
Saat Aleta merasa ada yang aneh, pemuda bernama Renal itu menarik paksa ranselnya hingga membuat tubuh gadis itu ikut terseret menjauh dari Serena.
Serena refleks melepaskan genggaman tangannya ketika tubuh Aleta terseret ke depan.
"A-Aleta!" serunya panik.
Namun Renal sama sekali tidak peduli. Pemuda itu menarik ransel Aleta dengan kasar seolah sedang menyeret benda, bukan manusia.
Lorong sekolah yang tadinya ramai mulai melambat ritmenya. Beberapa siswa berhenti berjalan, memperhatikan kejadian itu dengan rasa penasaran.
Aleta menahan langkahnya.
Tubuhnya sedikit tertarik ke belakang karena ransel yang ditarik Renal, tapi gadis itu tidak panik. Justru matanya menyipit tipis.
Insting lamanya kembali aktif, dia memperhatikan postur Renal. Tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter. Bahu cukup lebar. Gerakan tubuhnya kasar, namun tidak terlatih.
"Aku bilang ikut," ujar Renal dengan nada memerintah.
Aleta masih berdiri diam. Tatapannya turun ke tangan Renal yang menggenggam tali ranselnya.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Aleta tenang.
Renal menyeringai. "Jangan membuatku kehilangan kesabaran."
Aleta menghela napas pelan. "Aku sedang tidak punya waktu."
Ucapan itu membuat beberapa siswa di sekitar mereka menahan napas. Renal adalah salah satu siswa yang cukup disegani di sekolah. Selain karena tubuhnya besar, dia juga dikenal sering membuat masalah. Namun Aleta justru menolaknya tanpa ragu.
Renal menatapnya dengan tajam. "Sepertinya kau belum mengerti situasinya."
Dia menarik ransel Aleta lebih keras, tubuh Aleta kembali tertarik satu langkah.
Serena yang berdiri beberapa meter di belakang tampak semakin pucat. "A-Aleta..." gumamnya takut.
Renal melangkah mendekat. "Kalau aku memanggilmu, kau harus menurut."
Aleta akhirnya bergerak, namun bukan mengikuti. Dia justru mengangkat tangannya dan memegang pergelangan tangan Renal yang menggenggam ranselnya.
Gerakan itu membuat Renal sedikit terkejut. "Hei—"
Aleta memutar pergelangan tangannya dengan cepat. Teknik sederhana yang biasa digunakan dalam pertarungan jarak dekat.
CRAK!
"ARGH!" Renal langsung mengaduh ketika pergelangan tangannya dipelintir dengan sudut yang menyakitkan.
Tali ransel itu langsung terlepas dari tangannya. Lorong sekolah mendadak sunyi. Beberapa siswa bahkan sampai membuka mulut mereka karena kaget.
Aleta melepaskan tangan Renal dengan santai lalu merapikan kembali ranselnya. Tatapannya tetap datar. "Aku tidak suka disentuh tanpa izin."
Renal mundur satu langkah sambil memegang pergelangan tangannya yang sakit. Wajahnya berubah merah karena marah.
"Brengsek..." Dia menatap Aleta dengan penuh amarah. "Kau berani membantahku?"
Aleta memiringkan kepala sedikit. "Yang pertama menyentuh siapa? Aku hanya melindungi diriku."
Bisikan para siswa mulai terdengar lagi.
"Aleta melawan Renal?"
"Dia gila..."
"Renal tidak akan membiarkannya."
Benar saja.
Renal yang merasa dipermalukan di depan banyak orang langsung mengangkat tangannya tinggi. "Dasar gadis sialan!"
Tangannya melayang ke arah wajah Aleta, tamparan keras yang jelas ingin dia berikan.
Serena yang melihatnya reflek langsung menjerit. "ALETA!"
Namun—
Plak!
Suara benturan terdengar, tapi bukan suara tamparan. Aleta menangkap pergelangan tangan Renal sebelum telapak tangan itu menyentuh wajahnya. Gerakannya cepat.
Renal bahkan tidak menyadari kapan Aleta bergerak, namun pegangan Aleta sangat kuat. Matanya yang dingin menatap lurus ke wajah Renal.
"Aku tidak suka orang yang mengangkat tangan padaku."
Renal mencoba menarik tangannya kembali. Namun tidak bergerak sedikit pun.
"Apa-apaan kau—"
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Aleta menarik tangannya ke depan sambil memutar tubuh sedikit. Gerakan yang sederhana. Namun cukup untuk membuat keseimbangan Renal hilang.
BRAK!
Tubuh pemuda itu jatuh keras ke lantai lorong. Beberapa siswa langsung terlonjak kaget, begitu juga dengan Serena yang menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Aleta berdiri tegak di depan Renal yang kini tergeletak dengan wajah terkejut. Tatapannya turun sedikit. "Tadi kau ingin aku ikut denganmu."
Renal menatapnya dengan mata membelalak. Aleta menambahkan dengan suara pelan. "Sayangnya aku tidak punya kebiasaan mengikuti orang yang bahkan tidak bisa berdiri dengan benar."
Beberapa siswa langsung menahan tawa mereka. Renal langsung bangkit dengan wajah merah padam. "Kau—!"
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁