“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Emas dan Bayang-Bayang Obsesi
Kaelthas tidak langsung menjawab. Ia tidak melihat ke arah Tuan Valenor yang memohon, atau ke arah Clarisse yang sedang memasang wajah penuh harapan. Tatapannya… justru beralih perlahan ke arah Ceisya yang sedang asyik mengunyah sayurannya.
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang menyiksa.
Lalu—sudut bibir Kaelthas terangkat tipis. Bukan sebuah senyum ramah, melainkan sebuah seringai yang mematikan.
“Tidak masalah,” ucap Kaelthas tenang.
Clarisse menahan napas, dadanya membuncah oleh rasa kemenangan. Ayah dan ibunya langsung menghela napas lega. Mereka pikir mereka berhasil menyingkirkan Ceisya dari permainan ini.
"Ceisyara, lihatlah tuan muda Kaelthas masih memilih ku, kamu jangan berharap bisa memiliki tuan muda Kaelthas, dia hanya milikku. Milik Clarisse." batinnya berbisik lega dan penuh kemenangan.
Namun, kelegaan mereka tidak berlangsung lama. Karena meskipun kata-kata itu ditujukan untuk tawaran pertunangan, tatapan Kaelthas tidak pernah lepas dari Ceisya. Matanya yang tajam seolah sedang memakan habis keberadaan gadis santriwati itu.
Seolah-olah… jawaban Tidak masalah itu bukan untuk Clarisse. Melainkan sebuah tantangan yang ia lempar langsung ke hadapan Ceisya. Clarisse mengepalkan tangannya.
"Aku harus secepatnya melakukan sesuatu, aku harus mengeluarkan ceisyara dari mansion ini, dan menjauhkannya dari tuan Kaelthas. Aku akan membuat tuan Kaelthas membencinya dan jijik terhadapnya." batin Clarisse berbisik penuh rencana.
Ceisya menyipitkan matanya. Ia menangkap sesuatu yang sangat berbahaya dari cara pria itu menatapnya. Itu bukan tatapan seorang tunangan pada umumnya; itu adalah tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang paling menarik dalam hidupnya.
Senyum tipis muncul di bibir Ceisya. Ia meletakkan serbetnya di atas meja. “Kayaknya hidup di sini bakal makin seru,” gumamnya sangat pelan, namun ia tahu Kaelthas bisa mendengarnya.
Dan tanpa diketahui siapa pun di ruangan itu—di balik wajah dinginnya—Kaelthas sudah mulai menyusun sesuatu. Sebuah rencana yang akan merusak semua skenario yang dibuat keluarga Valenor.
Bagi Kaelthas, logistik bukan hanya soal memindahkan barang, tapi soal mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara yang paling efisien. Dan saat ini, yang ia inginkan adalah gadis yang berdiri menantangnya dengan identitas Ceisyra Valenor ini.
Pukul 16:40 sore.
Cahaya sore merayap masuk melalui jendela-jendela besar mansion Valenor, menyapu lantai marmer dengan warna emas yang tampak seperti darah yang mencair. Di dalam kamarnya, Ceisya berdiri mematung di depan cermin raksasa setinggi langit-langit. Ia memperhatikan pantulan dirinya—seorang gadis dengan wajah bangsawan yang memikat, namun kini dibalut dengan kain jilbab sederhana yang membingkai wajahnya dengan begitu anggun. "Masih aneh melihat wajah ini," gumamnya pelan, jemarinya menyentuh permukaan cermin, seolah ingin memastikan bahwa jiwa santriwatinya benar-benar sudah menyatu dengan raga yang hancur karena siksaan ini. "Tapi... setidaknya sekarang raga ini terlihat lebih punya harga diri daripada sebelumnya."
Tok... tok...
Ketukan pintu yang terdengar ragu memecah lamunannya. "Masuk," ucap Ceisya santai, ia memutar tubuhnya perlahan, membiarkan jubah sutranya berkibar pelan.
Seorang pelayan masuk dengan kepala nyaris menyentuh dada, suaranya gemetar saat menyampaikan pesan. "Nona... Tuan Muda Kaelthas meminta Anda untuk datang ke taman belakang sekarang juga." Ucap pelayan dengan nada bergetar.
Ceisya mengangkat satu alisnya, ia tersenyum miring yang tampak begitu tengil. "Meminta? Atau menyuruh dengan paksa?" Tanyanya dengan nada tenang dan santainya.
Pelayan itu terdiam sesaat, keringat dingin tampak di pelipisnya. "Meminta... dengan nada yang sangat tegas, Nona." Jawab pelayan dengan nada gemetar.
Ceisya terkekeh pelan, ia melangkah maju melewati pelayan itu begitu saja. "Ya sudah, bilang pada Tuan Mudamu itu, aku datang bukan karena takut, tapi karena aku memang sedang bosan." Jawabnya dengan nada masih terdengar santai, lalu dia melangkah keluar.
Langkah kaki Ceisya menyusuri koridor mansion yang terasa dingin meskipun matahari sedang terik. Setiap pelayan yang berpapasan dengannya langsung menepi, seolah takut terkena aura baru yang terpancar dari sang putri sulung.
Begitu sampai di taman belakang yang luas, indra penciumannya langsung disambut aroma bunga mawar yang bercampur dengan wangi maskulin yang sangat tajam—wangi Kaelthas. Pria itu berdiri membelakanginya di tengah labirin tanaman, tubuhnya tegap, seolah punggungnya adalah benteng yang mustahil untuk ditembus.
Ceisya berhenti beberapa langkah di belakang pria itu, ia menyilangkan tangan di depan dada dengan gaya santai yang provokatif. "Kalau cuma mau pamer punggung lebar, aku balik ke kamar ya. Masih banyak doa yang belum aku hafal daripada berdiri di sini," ucapnya santai, suaranya yang jernih memotong kesunyian taman.
Kaelthas tidak langsung menoleh. Ia membiarkan hening menggantung selama beberapa detik, menciptakan ketegangan yang menekan. "Kamu selalu bersikap tidak sopan seperti ini, Ceisyra?" tanya Kaelthas tiba-tiba, suaranya rendah dan memiliki getaran dominasi yang pekat.
Ceisya hanya mengangkat bahu, ia melangkah maju satu langkah lagi dengan berani. "Sopan santun itu mahal harganya, Tuan. Dan keluarga ini sudah menghabiskan seluruh stok sopan santunku sejak mereka memutuskan untuk memakai cambuk sebagai alat komunikasi."
Kaelthas akhirnya berbalik. Tatapan matanya yang sedingin es langsung mengunci mata Ceisya. "Kamu benar-benar tidak tahu tempat," ucapnya datar, matanya menyapu penampilan Ceisya dari ujung jilbab hingga ujung kaki.
Ceisya justru tersenyum lebih lebar, senyum yang sengaja ia buat setengil mungkin untuk memancing emosi pria di depannya. "Kalau aku tahu tempat, aku nggak bakal berdiri di sini menantang pria paling berbahaya di dunia bisnis, kan? Aku ini tipe orang yang kalau dilarang malah makin penasaran." Jawabnya terlihat menantang dan tenang.
Kaelthas melangkah mendekat perlahan. Setiap langkahnya membuat Ceisya merasakan tekanan aura yang semakin berat, seolah udara di sekelilingnya sedang dikompresi. Namun, Ceisya tidak mundur satu inci pun. Ia justru mendongak, menantang balik tatapan maut itu.
"Kamu berubah," lanjut Kaelthas saat jarak mereka kini hanya tersisa satu meter. "Atau mungkin, kamu sedang memakai topeng baru?" Tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
Ceisya mengangguk kecil, ia tertawa rendah. "Semua orang bilang begitu. Kamu mau bilang aku aneh? Atau mau bilang kalau aku sedang berusaha menarik perhatianmu dengan cara yang berbeda? Maaf ya, seleraku sekarang bukan lagi pria yang sukanya mengancam." Jawabnya terlihat sangat santai namun terdengar sindiran yang nyata.
Kaelthas tidak menjawab. Tangannya terangkat perlahan menuju wajah Ceisya.
Deg...
Jantung Ceisya berdegup lebih kencang, insting pesilatnya hampir saja membuatnya meluncurkan serangan tangkisan, namun ia menahannya saat melihat Kaelthas berhenti tepat beberapa sentimeter dari kain jilbabnya.
"Kenapa memakai penutup kepala ini? Ceisyra yang aku kenal lebih suka memamerkan perhiasan mahal di rambutnya," tanya Kaelthas pelan, matanya menyipit penuh selidik.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca