Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 Sidang Tengah Malam
Santaka dan Ahsan menengok ke arah sumber suara. Ternyata ada yang memperhatikan interaksi mereka. Mahmud dan Mansur. Mata kedua gus membelalak, terutama Santaka. Kedua kyai itu menghampiri anak-anak bungsu mereka.
"Taka, Ahsan, kita kembali ke ruang dalam. Di sini di tengah jalan, khawatir ada yang dengar. Taka, panggil Mas Yasa. Minta Masmu ikut ke ruang dalam."
Mansur berjalan mendahului semua orang. Dadanya sesak mendengar pembicaraan antara anak dan keponakannya. Apakah ada cinta segitiga terlarang di Ndalem?
Santaka berjalan menuju kamar Abyasa sambil menggigit bibir. Ia mengetuk pintu kamar sang kakak.
Mata Santaka memandang pintu lain yang berjarak tak jauh. Di balik pintu itu, ada istrinya yang sedang menanti. Gara-gara emosional, ia membuat wanita itu menunggu.
"Apa maksud keributan kalian tadi, Ahsan? Benar dugaan Abah tadi, kamu suka istri Taka?" Mahmud bersedekap.
Ahsan menunduk. Rahangnya mengetat. "Jawab Ahsan! Abah perlu tau sebelum Pakde Mansur sidang kalian."
Ahsan mengangkat wajahnya. "Ahsan yang kenal Dini duluan, Abah. Jauh sebelum Taka nikahin dia, sebelum mereka deket."
Mahmud tertegun. Ia mengerutkan dahinya. "Kenal duluan bukan berarti kamu jadi berhak seenaknya. Dia sudah nikah sama Taka, Le! Gimana sih kamu?! Lagipula, kamu ndak pernah bilang Abah kalau kamu suka sama Dini."
"Ahsan sudah suka sama Dini dari empat bulan lalu. Ahsan rajin ke bengkel dia. Dia ngerespon baik. Ngobrol sama Ahsan, becanda." Ahsan memejamkan mata. Mengingat Nandini versi montir. Begitu cantik. Yang sekarang, begitu sangat cantik.
"Ahsan, itu ndak berarti apa-apa. Buktinya dia nikahnya sama sepupu kamu. Kamu ekspektasinya ketinggian!" Mahmud menggelengkan kepala.
"Ahsan ndak pernah liat Mas Taka ada di bengkel, bareng Dini. Atau Mas Taka diomongin sama orang bengkel. Tiba-tiba saja mereka nikah.
Ahsan dulu ndak berani, pendekatan lebih jauh karena takut Abah nolak. Ternyata Mas Taka lebih berani, dan Pakdek Mansur setuju. Tau begitu Ahsan dulu berani lebih serius!"
Ahsan memandang pot bunga di pinggir lorong Ndalem. Matanya menatap jauh.
"Kata siapa, Abah akan setuju seperti Pakdemu?" Mahmud melirik sinis putra bungsunya.
"Ahsan, Abah ndak tau apa pertimbangan Pakdemu nerima Dini jadi menantunya, tapi Abah ndak mau kamu dapat istri seperti dia.
Abah paham, dia cantik. Ayu tenan. Tapi, kita ndak bisa milih istri cuma dari wajah saja. Kamu pikirin masa depan kamu. Kamu itu anak bungsu, kamu ndak mikir gimana ke depannya, pondok mana yang nanti kamu pimpin?
Al Irsyad nanti dipimpin Masmu. Kamu harusnya cari istri yang bisa dukung kepemimpinan kamu. Jangan dibutakan cinta, Ahsan!" Mahmud menatap dingin putranya.
"Ahsan ndak cuma lihat wajahnya saja, Bah. Dini itu lucu, nyambung diajak ngobrol. Ahsan ndak suka ning yang kalem, nunduk-nunduk. Ndak menarik di mata Ahsan."
Rahang Mahmud mengetat. Ternyata anaknya penyuka perempuan yang lebih berani. Ia paham kenapa Nandini bisa jadi sasaran Ahsan.
"Ya sudah, sekarang kita ke ruang dalam. Kamu benar-benar keterlaluan, Le!" Mahmud berjalan mendahului anak kesayangannya itu.
*
*
Abyasa masuk ke ruang dalam. Santaka berjalan di sampingnya. Sang adik sudah menceritakan perihal yang terjadi. Sungguh mengerikan jika itu benar. Sepupu mereka jatuh hati pada istri adiknya.
"Assalammu'alaikum, Abi, Paklik." Abyasa duduk di samping Mansur. Santaka bersisian dengannya.
"Wa'alaikumsalam, Mas Yasa...." Mansur mengelus janggutnya.
"Ada apa, Abi?" Abyasa menatap takzim pada ayahnya.
"Adikmu... dan Ahsan tadi... terlibat perdebatan di lorong Ndalem. Soal Mbak Dini..." Mansur lalu menceritakan apa yang ia dengar dan ia lihat.
Pelipis Abyasa berdenyut. Santaka menunduk. Tangannya mengepal. Ahsan mengeratkan rahangnya, ia kemudian tertunduk. Mahmud menatap tajam putranya.
"Astagfirullahaladziim. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan keji." Abyasa menarik napas.
"Abi, Paklik, izin jadi jembatan tabayyun antara Gus Taka dan Gus Ahsan." Mansur dan Mahmud mengangguk pada Abyasa.
"Gus Taka, sebagai pihak yang memulai, coba ceritakan kenapa sampeyan berani seperti itu? Ndak seperti sampeyan biasanya."
"Nyuwun panganpunten Abi, Paklik, Gus Yasa. Taka mohon maaf karena sudah buat kegaduhan tengah malam seperti ini." Santaka menganggukkan kepalanya. Mansur mengangguk balik. Mahmud bergeming.
"Taka berani mengkonfrontasi Gus Ahsan, karna Taka merasa terganggu dengan apa yang dilakukan Gus Ahsan akhir-akhir ini. Gus Ahsan sering melakukan tindakan tak patut, pada istri Taka, belakangan ini." Santaka menarik napas panjang.
"Pagi-pagi, pas istri Taka manasin mobil Taka, Gus Ahsan sering mampir, dia deketin Mbak Dini. Padahal posisi Mbak Dini sedang sendirian. Kita tau letak garasi itu jauh, ndak terlihat oleh banyak orang Ndalem.
Itu sudah nunjukin kalau Gus Ahsan niat, memang dia sengaja deketin Mbak Dini. Dia ngajak ngobrol. Bahkan dia manggil istri Taka dengan nama saja." Santaka merapatkan bibirnya. Ahsan menatap tajam sepupunya.
"Suudzon saja, Gus Taka! Mau bagaimana pun garasi itu tempat umum. Siapa saja bisa kebetulan mampir." Ahsan membuang mukanya.
"Sabar, Gus Ahsan. Sampeyan ada gilirannya sendiri. Sekarang biar Gus Taka selesaikan penjelasannya." Abyasa mengulurkan satu tangannya ke arah Ahsan.
Santaka melirik geram pada Ahsan. "Masalahnya itu terjadi beberapa kali. Siapa yang jadi ndak suudzon? Puncaknya tadi, Taka lihat Gus Ahsan menatap tak putus pada istri Taka, waktu dia ngobrol sama Bulik Aminah.
Sebagai pria dewasa, Taka tahu itu adalah tatapan tertarik sama lawan jenis. Benar-benar ndak pantas!" Santaka mendengus.
"Jadi itu yang buat Gus Taka negur Gus Ahsan?" Abyasa menatap adik bungsunya.
Santaka mengangguk. "Taka yakin apa yang Taka lakukan akan dilakukan oleh suami di mana pun kalau istrinya diperlakukan seperti itu. Dipandang tak berhenti. Bukan mahrom sampeyan, Gus Ahsan. Istri orang pula!"
Santaka mendelik ke arah Ahsan. Ahsan memalingkan wajah. Mansur menahan napas. Mahmud mengerucutkan bibirnya. Ia menghela napas panjang.
"Lalu... bagaimana respon Mbak Dini pas diajak ngobrol Gus Ahsan?" kejar Abyasa. Ini perlu dicari tahu. Jangan sampai Nandini memberi angin sehingga memancing Ahsan berbuat lebih jauh.
"Alhamdulillah, istri Taka tau kalau dia sudah jadi istri orang. Dia bisa jaga marwahnya. Sepanjang yang Taka tau, dia ndak nanggapi Gus Ahsan. Basa-basi seperlunya saja.
Tadi juga, waktu Gus Ahsan terus menerus lihat Mbak Dini, istri Taka ndak lihat balik. Dia bener-bener cuma lihat Taka, suaminya." Santaka tersenyum sinis sambil menatap Ahsan.
"Jadi Mbak Dini, ndak ada bikin Gus Ahsan kepancing ya?" Abyasa memiringkan kepalanya.
"Ndak ada, Gus Yasa." Santaka menatap yakin kakaknya.
"Baik, silakan Gus Ahsan, giliran sampeyan bicara." Abyasa menatap Ahsan sambil menipiskan bibir.
Ahsan tersenyum dingin. Ia menoleh ke arah Mansur dan Mahmud. "Nyuwun pangapunten Abah, Pakde, izin bicara. Ahsan keberatan sama apa yang diucapkan Gus Taka.
Ahsan dan Mbak Dini itu kenal di bengkelnya Pak Bakti, ayahnya Mbak Dini. Dia yang megang motor Ahsan. Jadi kami sudah punya hubungan baik sejak awal Ahsan pindah ke sini. Hampir delapan bulan yang lalu.
Ahsan kalau kebetulan lewat garasi, ngajak ngobrol saja. Selayaknya teman. Karna dulu juga kami di bengkel suka ngobrol. Ndak ada yang aneh-aneh."
Abyasa mengerutkan dahi. "Jadi, di luar Gus Ahsan suka menggampangkan diri akrab dengan lawan jenis? Perempuan yang bukan mahrom Gus Ahsan?'' cecar Abyasa.
Ahsan gelagapan. "Bukannya begitu, Gus Yasa. Cuma sama Mbak Dini saya begitu."
"Hah? Maksudnya apa?" Abyasa menatap tajam Ahsan. Santaka menggelengkan kepala.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj