Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Sunyi di Antara Riuh dan Sepucuk Kertas Tanda Sesal
Gerimis telah reda tatkala lonceng masuk berdentang, namun sisa-sisa hawa dinginnya seolah membeku di dalam dada Jenawa Adraw. Sepanjang jam pelajaran pertama yang diisi oleh celoteh panjang Guru Matematika, pandangan pemuda itu tak sedetik pun lepas dari kaca jendela yang berembun. Pikirannya melanglang buana, terperangkap pada pendar kecewa di sepasang mata kecokelatan Sinaca Tina pagi tadi.
Kemenangan mutlak atas Agam yang diagung-agungkan oleh kawan-kawannya kini terasa hambar, bahkan menyerupai racun yang perlahan menggerogoti kewarasannya. Jenawa mengepalkan tangan kanannya di bawah laci meja. Setiap kali ia teringat akan air mata yang luruh membasahi pipi gadis itu, rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang paling berharga yang berhasil ia bangun dalam beberapa hari terakhir: kepercayaan.
Lonceng istirahat berbunyi, membebaskan para siswa untuk berhamburan keluar. Seno bangkit dari bangkunya, wajahnya cerah tak seperti biasanya. Kemenangan semalam masih menyisakan euforia di barisan mereka.
"Ayo, Wa. Kantin menanti. Anak-anak kelas dua belas sepakat untuk merayakan hari ini dengan mentraktir seluruh barisan kita," ajak Seno seraya menepuk bahu Jenawa.
Jenawa menepis tangan itu dengan halus, namun sorot matanya teramat dingin. "Pergilah. Rayakan sepuas kalian. Aku tidak berselera."
Seno mengernyitkan dahi. Ia menarik kursi di hadapan Jenawa dan duduk, menatap sang panglima dengan saksama. "Kau aneh sekali hari ini, Jenawa. Ini adalah hari di mana tak ada satu pun anak Pelita yang berani mengangkat wajah. Kehormatan kita utuh. Apa yang membuat rautmu setegang ini? Apakah lukamu kembali berdarah?"
"Lukaku di lengan bukanlah urusan yang patut kau cemaskan, Seno," jawab Jenawa pelan, suaranya sarat akan kelelahan. "Hanya saja... aku menyadari bahwa ada kemenangan yang harus dibayar dengan harga yang terlalu mahal. Dan aku baru saja kehilangannya."
Seno terdiam. Meski otaknya tak selalu sejalan dengan kerumitan jalan pikiran Jenawa, instingnya cukup tajam untuk mengendus ke arah mana pembicaraan ini bermuara. "Ini tentang siswi baru itu, bukan? Sinaca."
Mendengar nama itu disebut, Jenawa hanya memalingkan wajah, kembali menatap jendela. Sikap bungkamnya adalah sebuah afirmasi yang tak terbantahkan.
"Wa, kau adalah pemimpin kami," ucap Seno, kali ini suaranya merendah, menanggalkan nada bercanda. "Jika seorang perempuan membuatmu kehilangan fokus dan semangat juangmu, maka perempuan itu bukanlah tempat yang tepat untuk berlabuh."
"Kau tak mengerti, Seno," potong Jenawa tegas. Matanya kembali menatap kawan karibnya itu. "Dia tidak membuatku kehilangan semangat juang. Dia justru menunjukkan kepadaku bahwa selama ini, apa yang kita perjuangkan di atas aspal dengan kepalan tangan, hanyalah sebuah kesia-siaan."
Tanpa membiarkan Seno membalas, Jenawa bangkit dari bangkunya, meraih buku roman sejarah yang semalam telah ia rampungkan, dan melangkah keluar kelas.
Lorong-lorong sekolah disesaki oleh keriuhan, namun bagi Jenawa, sekitarnya terasa senyap. Langkahnya menuntunnya menuju perpustakaan, lalu ke taman bougenvil, hingga ke pelataran bawah pohon mahoni. Namun, presensi yang ia cari tak kunjung ia temukan. Sinaca Tina seolah menguap ditelan hiruk-pikuk sekolah. Gadis itu menghindarinya.
Rasa frustrasi mulai menggerogoti Jenawa. Ia berdiri di depan ruang kelas sepuluh, menatap ke dalam dari balik jendela kaca. Di sana, di bangku barisan kedua dari depan, Sinaca duduk sendirian. Ia tengah membaca sebuah buku, namun Jenawa bisa melihat bahwa pandangan gadis itu kosong, dan tak ada satu pun halaman yang dibaliknya sejak beberapa menit yang lalu.
Jenawa ingin melangkah masuk. Ia ingin menarik kursi di sebelah Sinaca, menatap matanya, dan menjabarkan ribuan kata maaf. Namun ia sadar, kehadirannya saat ini hanya akan menambah luka. Ia harus memberikan gadis itu ruang untuk bernapas, meski hal itu menyiksa batinnya sendiri.
Dengan langkah gontai, Jenawa menghampiri meja piket kelas sepuluh yang tengah kosong. Ia merobek selembar kertas dari buku catatannya, merogoh pena dari saku kemejanya, dan mulai menulis dengan tangan kanannya. Goresan tintanya tegas, menyiratkan kesungguhan yang tak main-main.
Setelah melipat kertas itu dengan rapi, Jenawa menitipkannya kepada seorang siswi kelas sepuluh yang baru saja keluar dari toilet, memintanya untuk meletakkan kertas itu beserta buku roman sejarah di atas meja Sinaca. Jenawa kemudian melangkah mundur, menyembunyikan dirinya di balik pilar koridor.
Di dalam kelas, Sinaca terkesiap halus kala teman sekelasnya meletakkan sebuah buku tebal dan secarik kertas lipat di atas mejanya.
"Titipan dari Kak Jenawa di luar," bisik siswi itu pelan, seolah takut mengusik ketenangan Sinaca.
Sinaca menatap buku roman sejarah itu. Buku yang sama yang ia pinjamkan di perpustakaan sebagai bahan ejekan, namun nyatanya dibaca habis oleh pemuda itu. Jemari Sinaca yang sedikit gemetar meraih lipatan kertas putih tersebut. Ia membukanya perlahan. Aroma samar pewangi pakaian dan maskulinitas khas Jenawa menguar dari kertas itu.
Di sana, dengan tulisan tegak bersambung yang tegas, tertulis deretan kalimat baku yang mengiris relung hati.
Sinaca, Aku tak akan menyusun alibi atau membenarkan tindakanku petang kemarin, sebab aku tahu, di hadapan nuranimu, tak ada satu pun asalan yang mampu menebus sebuah janji yang teringkari.
Kau benar. Kemenanganku di aspal tak berarti apa pun jika harus dibayar dengan runtuhnya kepercayaanmu. Luka di lenganku akan mengering dalam hitungan hari, namun raut kecewamu pagi tadi akan membekas selamanya di ingatanku.
Aku tak meminta maafmu hari ini, sebab aku tahu luka yang kutorehkan terlampau dalam. Aku hanya meminta izin untuk memberiku waktu membuktikan bahwa aku bisa menjadi seseorang yang pantas berjalan di sisimu, tanpa harus membawa serta bayang-bayang kekerasan.
Ruang baca perpustakaan terasa teramat hampa tanpa kehadiranmu. Beristirahatlah. Aku tak akan mengusik ketenanganmu hingga kau sendiri yang berkenan memanggil namaku.
Yang selalu mengingat janjinya, Jenawa.
Sinaca membaca bait demi bait surat itu dalam keheningan yang panjang. Pertahanannya kembali goyah. Ia memejamkan mata, membiarkan setitik air mata kembali lolos dari pelupuknya dan jatuh membasahi sudut meja.
Di balik pilar koridor yang dingin, Jenawa Adraw menatap dari kejauhan. Melihat bahu gadis itu yang sedikit bergetar, sang panglima jalanan menyadari satu kenyataan mutlak: menaklukkan barisan musuh hanya butuh satu petang, namun untuk memenangkan kembali hati seorang Sinaca Tina, ia harus bersiap meruntuhkan seluruh dunia yang selama ini membesarkannya.
semangat Thor nulisnya...💪💪💪