NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Sosok di Ambang Kehancuran

...Chapter 17...

Ling Xu menahan napas, membayangkan seorang wanita dengan rambut merah menyala berdiri di tengah kehancuran, seruling di bibirnya mengeluarkan nada-nada yang tidak terdengar oleh telinga biasa tapi terasa di tulang, seperti getaran gempa yang datang dari pusat bumi. 

"Penyanyi itu," Huan Zheng melanjutkan, suaranya semakin pelan, semakin hati-hati, seperti seseorang yang sedang membalut luka lama yang masih basah, "dalam ingatanku... ia selalu berdiri di antara retakan cahaya dan kehancuran yang membisu. Rambut merahnya mengalir seperti bara yang menolak padam di tengah dunia yang hampir runtuh, dan seruling hijau di bibirnya bukan sekadar alat—melainkan napas terakhir dari harmoni yang tersisa. Setiap nada yang tak terdengar seolah menahan realitas agar tidak sepenuhnya hancur." 

Ia berhenti, mengambil sebilah arang dari sisa api unggun, memainkannya di antara jari-jari tanpa tujuan, lalu melanjutkan dengan nada yang nyaris seperti bisikan. 

"Satu matanya terpejam, seolah menolak menyaksikan kebenaran yang terlalu kejam, sementara mata lainnya menyala redup, memantulkan rahasia yang tak pernah diucapkan. Di sekelilingnya, ruang dan waktu terbelah seperti kaca yang dipaksa mengingat luka lama, namun ia tetap diam—tenang, nyaris rapuh—seolah dirinya adalah pusat dari badai itu sendiri, dan sekaligus alasan mengapa badai itu belum sepenuhnya menelan segalanya." 

Ling Xu merasakan dadanya sesak.

Bukan karena wabah Kanker, melainkan karena gambaran yang terlalu hidup, terlalu nyata, seperti ia sedang tidak mendengar cerita, melainkan sedang menyaksikan langsung seorang dewi yang menari di atas panggung yang terbuat dari puing-puing semesta. 

"Kau sepertinya mengenalnya baik sekali," ucap Ling Xu hati-hati, matanya menatap Huan Zheng dengan tatapan yang berusaha membaca sesuatu di balik topeng malas pria itu. 

“Pernah bertemu?" 

Huan Zheng tersenyum—senyum yang anehnya pahit, seperti orang yang menelan ramuan obat yang terlalu pahit tapi tetap meminumnya karena tidak ada pilihan lain. 

"Kita semua pernah bertemu dengannya, Nona Racun. Tapi kebanyakan dari kita tidak sadar, karena ketika ia bernyanyi, kau tidak akan ingat apa pun setelahnya. Hanya perasaan kosong di dada, dan rasa ingin menangis tanpa tahu mengapa."

Api unggun yang hampir padam tiba-tiba menyala kembali.

Bukan karena angin, bukan karena Ling Xu menambahkan kayu, melainkan karena sesuatu yang keluar dari tubuh Huan Zheng, sesuatu yang hangat tapi anehnya tidak terasa seperti api biasa, lebih seperti kehadiran yang terlalu berat untuk dijelaskan dengan kata-kata. 

Huan Zheng menghela napas, lalu melanjutkan dengan suara yang terdengar seperti orang yang sedang menceritakan mimpinya sendiri—mimpi yang terlalu aneh untuk dipercaya, tapi terlalu jelas untuk diabaikan. 

"Lalu ada si nomor dua," ucapnya, dan untuk sesaat, suaranya bergetar—sangat singkat, sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi Ling Xu yang sudah terlalu lama bersama pria ini bisa menangkap getaran itu seperti menangkap kupu-kupu di antara jari-jari, "dijuluki Si Pemalas. Sesuai dengan namanya. Pria berambut pirang keemasan—golden blonde, seperti matahari yang jatuh dari langit dan memilih untuk bersembunyi di antara manusia biasa, karena ia terlalu malas untuk kembali ke tempatnya semula." 

Ling Xu mengerutkan kening, mencoba membayangkan seorang pria dengan rambut emas, berdiri di tengah kehancuran, tapi bukannya bertarung atau melarikan diri, ia malah... menguap.

"Pemalas itu," Huan Zheng melanjutkan, dan kali ini suaranya anehnya lembut, seperti seseorang yang sedang membelai kenangan yang terlalu berharga untuk dibagikan tapi terlalu berat untuk disimpan sendiri, "dalam ingatanku... ia selalu tersenyum di ambang kehancuran. Rambut keemasannya memantulkan cahaya redup seperti matahari yang telah lama jatuh dari langit. Garis darah di wajahnya bukan luka, melainkan semacam tanda tangan takdir—seolah setiap pertarungan yang ia lalui hanya memperjelas siapa dirinya sebenarnya." 

Ia berhenti, menatap tangannya sendiri—tangan yang kotor, yang jari-jarinya tidak pernah rapi, yang kukunya selalu dipotong terlalu pendek karena ia terlalu malas untuk merawatnya dengan benar.

"Tatapannya tajam namun santai, penuh ironi yang tenang, seperti seseorang yang sudah melihat akhir dari segala kemungkinan dan memilih untuk tetap tertawa. Di tengah retakan realitas yang berdenyut di belakangnya, ia berdiri tanpa gentar, membawa aura kacau yang justru terasa terkendali—seakan kehancuran bukanlah sesuatu yang ia takuti, melainkan sesuatu yang ia pahami, bahkan mungkin... sesuatu yang ia sambut."

Ling Xu terdiam. 

Ia menatap Huan Zheng—benar-benar menatap, dari ujung rambutnya yang acak-acakan, matanya yang setengah terpejam, sudut bibirnya yang selalu terlihat seperti sedang menahan senyum meskipun sebenarnya tidak, dan untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Bayangan seorang pria dengan rambut emas berdiri di atas tumpukan mayat, menguap, lalu tertawa—tertawa yang anehnya tidak mengejek, tidak sombong, melainkan tertawa yang lelah, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kematian hingga ia lupa bagaimana rasanya takut. 

"Kau... kau menggambarkannya seolah-olah kau melihatnya di cermin," ucap Ling Xu pelan, suaranya bergetar meskipun ia berusaha keras untuk tetap tenang.

"Huan Zheng, siapa sebenarnya—" 

Tapi Huan Zheng sudah lebih dulu mengangkat tangan, memberi isyarat untuk diam, sambil tersenyum dengan senyum yang sama—senyum kosong yang membuat Ling Xu ingin menangis tanpa tahu mengapa. 

"Belum selesai, Nona Racun. Masih ada satu lagi."

Huan Zheng berdiri—untuk pertama kalinya malam itu, ia berdiri, meninggalkan tikar bambu yang sudah kusut karena tubuh malasnya berguling-guling di atasnya, dan berjalan mendekati tepi tebing, di mana ombak menghantam batu karang dengan suara yang terdengar seperti amarah yang terpendam terlalu lama. 

Angin malam menerbangkan rambutnya yang acak-acakan, dan dalam cahaya bara api yang mulai redup, Ling Xu melihat sesuatu yang aneh pada bayangan Huan Zheng.

Bayangan itu tidak bergerak mengikuti tubuhnya. 

Bayangan itu diam, membeku, seperti patung yang terbuat dari kegelapan, dan di sekeliling bayangan itu, udara bergetar dengan frekuensi yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia. 

"Yang terakhir," ucap Huan Zheng, suaranya terdengar dari kejauhan meskipun ia hanya berjarak tiga langkah dari Ling Xu, "adalah si nomor satu. Yang paling ditakuti. Yang paling jarang terlihat. Dijuluki Si Pendiam—atau lebih sering disebut Si Momok Menakutkan yang Bersikap Pendiam." 

Ling Xu menelan ludah, tenggorokannya terasa kering meskipun ia baru minum teh beberapa jam lalu. 

Ia merasakan dadanya berdebar lebih cepat, seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang mengenali nama itu, meskipun ia yakin tidak pernah mendengarnya sebelumnya. 

"Pendiam itu," Huan Zheng melanjutkan, dan kali ini suaranya benar-benar berubah—tidak lagi malas, tidak lagi datar, melainkan berat, seperti besi yang dijatuhkan ke dasar sumur, "dalam ingatanku... ia berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, rambut merah gelapnya menyerap cahaya seperti bara yang memilih untuk membara dalam diam. Garis wajahnya keras, dipahat oleh pengalaman yang tak pernah memberi ruang untuk kelembutan, sementara matanya—yang menyala dalam warna yang tak sepenuhnya manusia—menatap dunia dengan kelelahan yang dingin dan keputusan yang tak bisa ditarik kembali." 

Ia berbalik, menatap Ling Xu dengan mata yang—untuk sesaat—berubah warna menjadi biru pucat, biru yang sama seperti malam di Perkemahan Xuelan ketika ia membunuh puluhan orang hanya dengan satu tendangan, biru yang sama seperti saat ia menari dan tubuh So Weihao tercabik-cabik mengikuti gerakannya. 

"Retakan realitas di sekitarnya memantulkan sosoknya berkali-kali, seolah memperlihatkan berapa banyak versi dirinya yang telah hancur demi mencapai titik ini," Huan Zheng melanjutkan, suaranya semakin dalam, semakin berat, seperti orang yang sedang membacakan epitaf untuk kuburan yang tidak bertuan, "namun ia tetap tegak, napasnya berat tapi stabil, seperti seseorang yang tidak lagi berjuang untuk menang—melainkan hanya memastikan bahwa ketika semuanya berakhir, dunia akan mengingat bahwa ia pernah ada, dan bahwa keberadaannya tidak pernah bisa diabaikan." 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!