Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.
Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Akan Segera Menikah
"Siapa, Bi?" tanya Sella.
"Nggak tau, Nya. Ada banyak orang dan seram-seram," jawab Tuti dengan ekspresi nya yang agak takut.
Orang-orang di meja makan langsung berdiri semua karena ingin melihat orang yang seram itu.
"Bibi beneran nggak tau mereka siapa?" tanya Rayya pada Tuti sebelum menyusul orang tua dan Neneknya yang sudah duluan mengecek.
"Benar, Non. Bibi nggak pernah liat. Mereka garang, Non. Semuanya pakai jas hitam. Kecuali 1 orang tadi bajunya warna Dongker," jelas Tuti.
Mendengar itu entah mengapa Rayya langsung teringat akan Marsel. Setelah terbengong sejenak, akhirnya Rayya segera pergi dengan cepat untuk memastikan.
__________________
Ternyata benar, Marsel dan Alex sudah masuk di dalam ruang tamu, di luar juga banyak berdiri anak buah nya. Wajah Rio tidak bersahabat, begitu juga dengan Indah dan Sella.
Tamu tak di undang itu bahkan tidak di persilahkan untuk duduk, namun Marsel seakan tidak peduli. Wajah nya hanya datar dan langsung tersenyum tipis saat melihat kemunculan Rayya.
"Kalian bisa keluar, kami tidak menerima tamu," tegas Rio pada tamu yang entah pantas di sebut tamu atau tidak.
"Jangan lancang pada Bos Marsel. Jika mau kalian bisa mati sekarang juga."
Alex segera mengeluarkan dan menodongkan pistolnya pada Rio yang tidak menghormati Marsel.
Sella dan Indah terlihat terkejut dan ketakutan dengan suasana yang tiba-tiba mencengkram. Namun Rio justru menatap mereka tanpa rasa takut.
"Jangan kira kami takut dengan ancaman kalian."
Alex murka dan ingin melesatkan peluru tapi Marsel segera menahannya bahkan menyuruh nya untuk menurunkan senjata.
"Alex, jangan menakuti mereka. Aku ke sini hanya ingin mengembalikan tas Rayyaku," ujar Marsel tidak mau membuat Rayya semakin menolak bila keluarga nya tidak nyaman seperti tadi.
Bos Mafia itu juga mengulurkan tangannya ke belakang setelah meminta tas Rayya pada anak buah nya yang ada di luar, salah seorang di antara mereka segera masuk membawa serta tas Rayya.
"Apa itu, Rayya. Kenapa tas mu ada pada mereka?"
Indah yang memang tahu itu tas milik cucunya segera melayangkan pertanyaan pada anak pembawa masalah tersebut.
Kalau saja tadi Rio tidak mengatakan siapa orang-orang yang datang ini, mungkin Indah tidak akan marah. Jangan sampai Rayya mempunyai hubungan dengan para bedebah yang sudah membunuh cucu kesayangan nya.
"Nek, nanti Rayya jelaskan. Sebenarnya...."
Rayya bingung hendak beralasan apa, Indah dan orang tua nya pasti ingin penjelasan sekarang, sementara kalau dia berbohong di sana masih ada Marsel.
"Kami adalah sepasang kekasih, Rayyaku tidak sengaja meninggalkan tas nya di mobilku kemarin."
Semua mata dalam rumah itu melotot, tentunya selain Marsel dan Alex.
"Apa maksudnya ini, Rayya?" tanya Rio. Bisa-bisanya Rayya menjalin hubungan dengan orang yang telah menghilangkan adiknya sendiri.
"Tidak, Pa. Rayya tidak ada apa-apa dengan binatang itu. Kau! Jangan sembarang mengarang cerita. Sejak kapan aku menjadi kekasih mu?!"
Rayya tidak terima jika keluarga nya memarahi dirinya karena orang gila yang tidak tahu malu seperti Marsel.
"Pa, Ma, Nenek. Tolong kalian percayalah, Rayya tidak ada hubungan apapun dengan orang itu. Dia itu hanya orang gila yang tidak tahu malu."
Marsel mengepalkan tangannya erat saat mendengar sebutan-sebutan Rayya untuk nya. Binatang, gila, tidak ada yang berani mengatainya selama ini.
"Apa kamu berkata jujur, Rayya?"
Sella yakin Rayya mengatakan yang sebenarnya.
"Sumpah, Ma. Rayya tidak bohong."
Rayya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya sebagai bentuk kesungguhan dalam perkataan yang tadi Ia lontarkan.
"Lalu bagaimana tas mu bisa ada padanya?! Jangan membodohi orang tuamu, Rayya...!"
Kali ini Rio.
Ia ingin penjelasan tentang hal itu. Rio sangat menyayangi Rayya, tapi jika Rayya sampai memiliki kedekatan dengan orang yang sudah membuat keluarga mereka berduka, Rio pasti tidak akan pernah menerima hal tersebut.
"Pa, papa juga tidak mempercayaiku? Oke, Rayya jujur, Rayya memang meninggalkan tas itu di mobilnya karena Rayya berusaha menyelamatkan nyawa Rayya, Pah. Rayya hampir mati dan mungkin tidak akan bertemu dengan kalian lagi dari kemarin," jelas Rayya mengatakan yang sesungguhnya.
Sella yang mendengar penjelasan itu lekas mendekati putri nya.
"Nak, apa yang kamu katakan tadi benar? Apa kamu terluka."
Raut cemas terlihat jelas pada wajah Sella.
"Rayya tidak kenapa-napa, Ma. Dia itu orang gila, Ma. Kemarin hampir melecehkan ku dan bahkan hampir membunuhku!"
Tunjuk Rayya pada Marsel.
Indah terkejut mendengar hal itu. Walau ia tidak suka pada cucu perempuan nya itu, tapi Indah tetap tidak mau jika Rayya di perlakukan seperti apa yang tadi Rayya katakan.
"Kau. Aku memang tidak suka pada cucuku, tapi aku juga tidak rela orang seperti mu mempermainkan nya."
Indah maju menghadapi Marsel.
Pria berdarah dingin itu hanya tersenyum melihat drama dalam keluarga Rayya. Ternyata mereka semua lucu-lucu dalam kaca mata nya.
"Kamu pasti Indah Nenek Rayya ku, kan? Aku tidak akan mempermainkan cucumu, lagipula kamu tidak menyukai nya, Nenek. Berikan saja untuk ku."
Semudah itu Marsel berujar.
"Jangan sembarangan. Walau kau membunuh ku pun, aku tidak rela Rayya bersamamu!" kata Rio kembali menimpali dengan gertakan yang tidak berarti apa-apa bagi Marsel.
"Di koran juga sudah tersebar kalau kemarin kau mengepung Rumah Sakit Mentari. Kau itu mengancam cucuku, kami tidak Sudi berhubungan dengan orang seperti mu," sahut Indah.
Rayya sangat terharu atas apa yang Indah katakan. Selama ini Indah selalu mengucilkan nya dan tidak pernah menganggap nya sebagai cucu, tapi ternyata di saat genting seperti ini Indah tetap berada di pihak nya.
"Benar, Rayya akan segera menikah dengan pacarnya, Riko. Kau tidak bisa mengganggu hubungan mereka," kata Sella ikut menimpali.
"Menikah? Heh..., jangan harap! Apa yang sudah si Riko itu berikan? Dia tidak akan pernah mampu dan berani bersaing dengan ku. Alex."
Marsel bertanya dengan wajah menyeringai. Ia juga memerintahkan kepada Alex mengambil uang yang sudah mereka sediakan sebelum nya. Marsel bahkan merendahkan Riko kekasih Rayya.
Marsel sudah mencari tahu semua tentang pria itu, tidak lebih baik dari nya bahkan perbandingan mereka bagaikan langit dan bumi.
Si bawahan yang selalu patuh itu segera mengambil koper yang kini anak buah nya bawakan dan menyerahkan itu pada keluarga Rayya.
Mata Indah melotot melihat ribuan kertas yang ada dalam koper itu. Ia hampir tergiur sebelum mendengar perkataan Rio.
"Apa kau pikir putriku sebuah barang? Jangan memperlihatkan uang haram mu itu di sini."
Rio dengan sigap menghempaskan koper uang tersebut sampai isinya berserakan di mana-mana.
"Cepat keluar dan bawa uang haram mu itu pergi. Aku tidak sudi rumah ku kalian kotori," usir Rio tegas.
Marsel menahan amarahnya melihat tampang Rio. Kalau bukan Ayah dari Rayya, Sudah dari tadi Ia mengedor kepala tua bangka itu sampai tak berbentuk.
Marsel berjalan mendekati Rayya dan Sella, tangan nya yang memegang tas Rayya Ia sodorkan pada gadis itu agar mengambil benda miliknya.
"Persiapkan dirimu Rayyaku. Kita akan segera menikah," katanya sambil Rayya mengambil tas nya.
"Jangan mimpi. Aku memang akan menikah, tapi bukan dengan orang gila seperti mu," balas Rayya ketus.
Marsel hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Rayya. Ia segera memerintahkan Alex untuk memungut uang mereka dan segera pergi dari sana.
Sebelum benar-benar pergi dari kediaman itu, Marsel berhenti sejenak di ambang pintu tanpa berbalik kebelakang sembari berujar.
"Aku tidak mentolerir penolakan. Jika aku katakan Rayyaku akan ku nikahi maka itulah yang akan terjadi."
Rio mengepalkan tangan nya geram dengan tingkah Marsel, jika tidak memikirkan nasib keluarga nya, mungkin tadi ia sudah pergi berlari mengambil senapan nya. Ya, Rio adalah mantan tentara yang telah pensiun, itu sebabnya Ia sangat benci dengan kesemena-menaan para Mafia seperti Marsel.
Banyak para tentara yang gugur di tangan mereka, termasuk putranya sendiri yang harus ikut tewas saat berusaha menggagalkan tindakan ilegal yang Marsel dan anak buahnya lakukan.
Rayya mengepalkan tangannya melihat punggung Marsel berangsur menghilang. Matanya tajam namun berembun sedih.
'Bagaimana kalau dia menyentuh keluarga ku jika aku menolak...?' batin Rayya dilema mengingat lagi perkataan Marsel tadi yang terdengar sangat mengancam. Rayya tidak berani membayangkan apa saja yang bisa Marsel lakukan pada nya, terutama keluarga nya.