Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Belajar mencintai
Fokusnya buyar, Lova langsung masuk dan menutup pintu kamar setelah sukses mengatakan, "thanks." Dengan wajah datar ala Afif. Mungkin Alika akan tertawa jika melihat kejadian barusan. Aksinya pada Afnan dan bertepuk tangan untuknya.
Meski tak ia pungkiri, ia begitu mati-matian menolak pesona Afnan.
Baru awal pernikahan, tapi cobaannya sudah cukup berat. Apakah betul yang dikatakan Alika? Jika ia terlalu cepat memutuskan dan menjadikan mas Afif pelarian? Jangan Lova, Jangan! Ia tau rasanya betapa menyakitkan dikhianati kemunafikan. Bagaimanapun ia harus belajar mencintai Afif, setidaknya menghargai sosoknya.
Moodnya sudah anjlok untuk belajar. Maka tak ada pilihan lain selain berselancar di dunia maya, mencari hiburan versinya. Berselancar di internet, sosial media berakhir dengan ia yang terbius membuat konten challenge tok-tok seperti biasanya.
Ia mencari angle yang cocok berakhir dengan membelakangi pintu kamar, "agak sedikit backlight sih, tapi ngga apa-apa lah." Gumamnya mulai meliuk-liukan badan, kepala dan tangannya.
"Ah, pake ini..." Lova memasang beberapa aksesoris di kepala atau wajahnya.
Dan Lova masih asik menikmati velocity dengan raut wajah riang dan asiknya, ketika pintu di belakang tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok pria matang dengan wajah setengah lelahnya, in frame tepat ketika gerakan tangannya bertaut membentuk love.
Lova menutup mulutnya refleks merasa lucu, terlebih wajah pria itu tampak clueless dengan apa yang sedang dilakukan Lova, ia berbalik badan segera menaruh sebentar kacamatanya.
"Kamu ngapain?" tanya Afif mengernyit melihat segambreng jepitan rambut menempel di kepala Lova, "mau dagang jepit?"
"Bukan ih, bikin tok-tok." Tangan besar itu, refleks terulur begitupun dengan Lova yang secara otomatis menyalaminya takzim.
"Oh." Jawabnya melangkah ke depan ranjang lalu, dengan gerakan santai membuka kancing kemeja kala Lova hendak mematikan kameranya, cukup dibuat melotot ketika dari pantulan kamera gerakan Afif membuka kemeja itu nyata, "mas mau ngapain?!"
"Buka baju, ke kamar mandi." Lagi, ia menjawab dengan nada santai seperti tak ada yang salah.
"Jangan disini lah!" seru Lova, "maksudnya jangan di depan aku, nanti dulu aku, keluar dulu. Gimana sih?!"
Afif mendengus geli, tak peduli dengan kehebohan Lova, ia justru sudah hampir meme-lorotkan celananya, "ihhh mas! Nanti dulu kenapa sih?!" Lova menahan gerakan tangan Afif dengan ia yang masih membuka satu persatu jepitan di rambutnya.
"Kenapa emangnya? Toh sah-sah saja."
"Ih ngga tau malu." cebik Lova mewanti-wanti, "tunggu dulu sampe aku keluar, kalo engga di kamar mandi aja bukanya." Sewot Lova.
Afif kembali melebarkan senyuman tipisnya, "Halah, kaya yang ngga liat aja tadi subuh."
Wajah Lova langsung merah padam, bahkan mulai merambat ke telinganya, "ihhh, mas! Pengen dicomot mulutnya!"
Kini Afif tak bisa untuk tak tersenyum lebar melihat gadisnya ini, istri kecilnya yang nakal karena sudah mengintip miliknya.
Afif mengurungkan niatnya untuk membuka celana di depan Lova, cukup....ia kasihan melihat wajah istri kecilnya yang sudah memerah layaknya tomat itu, lucu sekali, menggemaskan.
"Sudah ashar?" tuduhnya ke arah jam di atas meja kecil samping kasur, Lova menggeleng, "baru Dzuhur."
"Nah, kan anak jaman sekarang mainan konten begitu, lupa segala-galanya. Ambil wudhu, kita berjamaah."
"Masih lama waktunya mas, ngga apa-apa kalii..."
Dan wajah Afif berubah ke stelan guru galak Lova, "disegerakan, remember?"
Lova merotasi bola matanya, "iya, oke. Aku ambil wudhu di kamar mandi luar."
Afif mengangguk diantara balutan kaos dalamman singlet tipisnya dan celana panjang yang masih membalut.
Sempat diam, Afif kembali membuat gerakan membuka resleting celana, sehingga memancing Lova untuk berlari ke arah pintu, "ihhhh, suami mesummm!" jeritnya keluar dari kamar, blugh!
Afif cengengesan dan menggeleng. Sementara Lova, ia sudah berdiri di balik pintu kamar dengan wajah merah dan tawa renyahnya, tanpa menyadari jika ruang tengah kini sudah ada umi dan Abi.
"Kenapa sih?" Mereka tersenyum usil dan jenaka melihat Lova.
"Masmu usil?" lagi, umi masih menahan lipatan bibirnya.
"Eh, umi...engga mi." Ringis Lova bergegas berjalan ke arah kamar mandi untuk segera mengambil wudhu.
/
Lova
Di depannya kini sosok itu begitu mantap mengimami ibadahnya, punggung tegap dalam balutan koko dan sarung kotak-kotak hitam bersimpuh memimpinnya, membawa dirinya menuju ke arah yang seharusnya.
Ayolah Lova, sebegitu indah cinta yang ditawarkan Afif untuknya.....
Lalu, gerakan salam selesai berakhir dengan Lova yang kembali salim. Namun, yang tidak ia sangka adalah Afif kini menyarangkan kecupan lembutnya di kening Lova yang terbalut mukena.
Terhenyak. Rasanya sama persis dengan pagi itu, pagi dimana mereka ada dalam janji yang suci dan kokoh. Hangat menjalari dari wajah ke tangan dan hatinya, Lova mendongak tepat saat mereka tak berjarak.
Eye contact itu, cukup lama membuatnya disergap rasa gugup memancing suhu badan yang panas dingin, "mau kemana? Kalau habis ibadah itu jangan buru-buru buat buka mukena, kebiasaan jelek. Dzikir dulu, barang 5 menit 10 menit. Ngga kangen sama yang menciptakan? Ngga sayang melewatkan waktu buat merayu Allah? Udah hebat, sampe ngga punya keinginan?" lirihnya begitu membius, nadanya tidak searogan ketika sedang mengajarnya mengaji dulu.
"Engga kok, mas so tau nih. Ini mau dzikir kok..." alibinya beralasan, padahal ia sudah siap untuk menyingkapkan mukena atasnya.
~~
Moment canggung tadi pagi terulang kembali. Lova duduk diantara Abi, umi, Afif dan tentu saja-----
Afnan baru saja turun dengan kaos dan sarung yang masih ia pakai.
Awalnya umi yang melakukan, lalu Lova menirunya, "mau makan sama apa?"
"Orek tempe, tumisan buncis udang." Tunjuk Afif. Bunyi denting alat makan yang beradu menjadi latar mereka malam ini.
"Segini, apa lagi? Pakein sambel engga?" lirik Lova lagi digelengi Afif, "udah cukup. Tolong ambilin kerupuk."
Permintaan itu membuat Lova harus sedikit mencondongkan badannya lebih depan, tepat ke depan umi yang mendorong toples kerupuk, melewati Afnan yang baru saja sampai di meja makan.
"Masih kegiatan ekskul? Udah kelas XII harusnya udah off kan?" tanya Afif.
Afnan mengangguk, "tadi yang terakhir. Sekalian Sertijab." Jawabnya menggeser kursi, melirik gerak gerik Lova yang menarik toples membukanya dan mengambil kerupuk untuk Afif, lalu duduk tanpa melihat ke arah Afnan.
Bahkan Lova sibuk dengan mengambil air minum untuk Afif, benar-benar meniru apa yang umi lakukan untuk abi.
"Lova sendiri ngga ikut kegiatan ekskul, neng?" kini abi yang bertanya, Lova menggeleng, "males Abi. Bimbel di rumah bimbel sama ngaji bareng mas Afif aja udah harus kejar-kejaran sama waktu."
"Ha, bener. Kamu sering banget nyuruh saya nunggu di rumah." Akui Afif memantik lirikan Lova, "iya. Mas tuh jutek banget. Nih abi kebetulan abi disini, aku mau ngadu!"
Umi sudah tertawa, dan Abi tersenyum geli, sementara Afif dengan wajah santainya meski waspada mendengarkan aduan Lova pada Abi, "ngadu apa?"
"Mas Afif nih Abi...waktu ngajarin aku, ya ampun galaknya, juteknnyaaaa."
"Oh ya?"
Afif berdecak menarik alisnya sebelah, "dimana mana kalo salah pasti saya tegur. Biar betul bacaannya."
Emhhh! Lova menggeleng ketika sedang makan, "engga gitu. Mas Afif tuh jutek banget. Aku baik aja, aku bener aja mas Afif super jutek."
Keduanya justru berdebat ramai, menjadi tontonan menarik di meja makan, "kaya gini nih muka juteknya."
Umi sudah tertawa-tawa melihatnya, sementara Afnan hanya mendengus geli melihat wajah masnya yang sewot tapi----terlihat rona bahagia darinya.
"Apa namanya kalau bukan jutek. Kaya anti perempuan."
"Ha? MasyaAllah...sejutek itu?" tanya umi ikut bergabung dalam obrolan.
Afif menggeleng dengan senyuman gemas.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny