NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: tamat
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:66.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setelah mengantar Naya pulang. Mobil Adinda berhenti di halaman rumahnya. Ia perlahan turun, langkahnya menapaki lantai. Setiap jangkauan langkah terasa serat perubahannya bukan di rumahnya tapi di dalam hatinya

Dan Adinda tahu—dirinya yang berubah.

Ia masuk ke dalam. Tatapannya menyapu ruangan tanpa terlihat mencurigakan. Semuanya tampak biasa… seolah tidak terjadi apa-apa. Selama ini—ia hidup di dalam sesuatu yang dibuat terlihat normal.

“Din, sudah pulang?”

Suara Arya terdengar santai dari ruang tengah.

Adinda menoleh sekilas. Arya duduk di sofa, sementara Luna di sampingnya. Wanita itu tersenyum, tangannya dengan terbiasa merapikan baju anak kecil di pangkuannya.

Adegan itu terlalu hangat layaknya seperti keluarga utuh. Seolah Adinda tidak pernah ada di dalamnya.

“Aku capek,” jawab Adinda singkat.

Tidak dingin. Tidak juga ramah. Ia juga tidak berhenti ataupun ikut duduk. Tapi langkahnya melambat saat suara Luna terdengar lagi.

“Mas, tadi Exel makan banyak banget loh,” ucapnya ringan.

Arya tersenyum. “Ya bagus. Biar cepat besar.”

“Anak kamu memang kuat,” lanjut Luna, nada suaranya bangga.

Deg!

  Hati Adinda mencoles. Kalimat itu seperti disengaja, seolah menyentil dirinya yang dianggap tidak bisa memiliki anak. Adinda berhenti sepersekian detik.

Tapi tidak beraksi apa-apa. Ia tidak marah ataupun mengeluarkan air mata. Ia hanya melanjutkan langkahnya naik ke kamar.

Namun dalam diam— pikirannya berbicara.

Suatu saat… kamu akan menyesal, Mas. Dan untuk pertama kalinya, itu bukan harapan kosong. Tapi janji.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sementara di ruang lain, Sintia berdiri sendiri. Tangannya memegang ponsel. Layar menyala dan panggilan masuk.

Nama itu tidak disimpan, tapi ia tahu siapa. Tangannya sedikit gemetar saat menjawab.

“Iya…”

Suara di seberang terdengar dingin.

“Kamu mulai lengah.”

Deg.

Sintia langsung menegang tangannya memegang handphone itu cukup kuat. “Aku—”

“Dia sudah bergerak,” potong suara itu. “Dan kamu masih diam?”

“Nggak… aku masih....”

“Hati-hati, Tante,” lanjutnya pelan, tapi menusuk. “Kalau dia ingat duluan… kita semua selesai.”

Napas Sintia mulai tidak teratur, ucapan di seberang sana jelas menampar hatinya yang sampai saat ini masih terlihat santai tidak melakukan sesuatu.

“Kamu yang paling dekat sama dia. Kalau sampai kamu gagal…”

Kalimat itu menggantung. Tidak dilanjutkan.Tapi cukup untuk membuat jantung Sintia berdegup kencang.

“Aku gak akan gagal,” ucapnya cepat.

“Pastikan.”

Klik.

Telepon terputus.

Ruangan ini mendadak sunyi, pikirannya mulai dipenuhi oleh tekanan yang ada. Mana mungkin ia bisa selambat ini tidak menyadari apapun perubahannya.

  "Tidak ... tidak mungkin, dia terlihat biasa saja," ucapnya seolah tidak percaya.

Dan untuk kali ini wanita paruh baya itu. Tidak hanya sekedar takut, melainkan panik. Bahkan untuk menyusun strategi berikutnya saja, masih belum ada tenaga untuk berpikir.

☘️☘️☘️☘️☘️

Keesokan harinya…

Langit mulai gelap saat mobil yang ditumpangi Adinda dan Naya berhenti di depan sebuah bangunan tua. Lampunya tidak terlalu terang. Tapi masih hidup.

“Ini tempatnya?” tanya Naya.

Adinda mengangguk pelan. “Iya… aku yakin.”

Mereka berdua turun. Langkahnya pelan, tapi pasti, saat sampai di depan pintu Naya melirik ke Adinda wanita di sampingnya itu mengangguk yakin sambil mengetuk pintu.

Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu—pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Wajahnya langsung berubah saat melihat Adinda.

Kaget. Yang tidak disembunyikan.

“Kamu…”

Adinda menatapnya lurus, penuh keyakinan.

“Pak Arbani…”

Pria itu menarik napas dalam. Lalu membuka pintu lebih lebar. “Masuk.”

Ruangan itu sederhana, tidak mewah, namun beberapa perabot berjajar rapi. Seperti seseorang yang menjaga sesuatu dengan sangat hati-hati.

Pak Arbani masih berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan—

“Saya pikir… kamu tidak akan pernah datang.”

Kalimat itu menggantung. Dan terasa berat. Pria itu menghembuskan napas perlahan. Rasanya tidak mungkin dan hampir tidak percaya jika wanita muda itu adalah Adinda.

Adinda tidak langsung duduk.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Arbani menatapnya lama. Seolah memastikan sesuatu.

“Kamu sudah ingat?” tanyanya.

Adinda terdiam, beberapa detik lalu perlahan ia mulai membuka suaranya.

“Belum semuanya,” jawabnya jujur. “Tapi cukup… untuk tahu ada yang salah.”

Naya memperhatikan tanpa menyela. Sementara Pak Arbani mengangguk pelan.

“Bagus.”

Ia berjalan ke ruangan lain sementara Adinda dan Naya masih menunggu dengan tenang di ruang tamu.

"Nay, aku deg-degan banget nih," ucap Adinda.

"Semua orang akan merasa seperti itu, jika berada di posisimu," jelas Naya seolah menguatkan.

Adinda tidak bersuara, tatapannya mendongak keatas seolah berharap jika Tuhan akan melancarkan jalannya malam ini.

Sementara di ruangan rahasia itu Pak Arbani menuju ke meja kecil tangannya membuka laci mengeluarkan satu map tebal, dengan cepat ia melangkah dan membawanya kr Adinda.

“Ini milik kamu.”

Adinda menatapnya bingung tangannya masih tertahan di udara.

“Apa itu?”

“Harta yang ayah kamu titipkan,” jawabnya.

Napas Adinda tertahan, ia masih mematung seolah tidak percaya jika sang ayah akan menyimpan warisan itu serapih mungkin.

“Tapi…” lanjut Pak Arbani.

Dan kata itu— langsung mengubah suasana. Adinda dan Naya saling melihat akan tetapi Naya berusaha untuk menguatkan tanya itu.

“…kamu belum bisa mengakses semuanya.”

Naya langsung menegang. “Kenapa?”

Pak Arbani menatap Adinda. “Karena ayah kamu tidak bodoh.”

Suasana hening beberapa detik hingga Pak Arbani mulai melanjutkan kembali.

“Beliau tahu… kamu tidak sendirian,” lanjutnya. “Dan beliau tidak ingin harta ini jatuh ke tangan yang salah.”

Adinda mengepalkan tangannya, bahkan ayahnya yang waktu itu hanya bisa terbaring lemah diatas ranjang. Mengetahui semuanya dan hal itu benar-benar membuat hatinya teriris berkeping-keping.

“Jadi?”

Pak Arbani menarik napas. “Akses penuh hanya akan diberikan… saat kamu punya ahli waris sah.”

Deg!

Jantung Adinda berdetak lebih cepat, tanpa sadar air mata menetes tanpa diminta. Ia ingat bagaimana perjuangan ayahnya melawan penyakitnya dan dibalik tubuh lemahnya itu ternyata sang ayah tahu bagaimana harus bertindak.

"Pa... maafkan Dinda..."

Naya menepuk punggung sahabatnya itu. "Ayahmu pasti memaafkan, dan yang harus kamu tahu, ayahmu hebat."

Adinda masih menangis pelan sementara Naya menatap wajah pria paruh baya itu dan bertanya.

“Maksudnya anak kandung?”

Pak Arbani mengangguk. “Dengan begitu… harta itu hanya akan turun ke Dinda dan garis keturunannya. Bukan ke orang lain.”

Adinda terdiam. Bukan karena tidak mengerti.

Tapi karena— ia mulai benar-benar paham. Ayahnya sudah merancang semuanya. Jauh sebelum semua ini terjadi.

“Dan selama ini…” ucap Adinda pelan. “…orang di rumah itu gak tahu?”

Pak Arbani menatapnya tajam. “Mereka tahu… sebagian.”

“Dan mereka menunggu,” lanjutnya. “Menunggu kamu tetap dalam kondisi seperti sekarang.”

Naya menelan ludah. “Berarti…”

“…mereka belum dapat apa-apa,” potong Pak Arbani.

Hening sepersekian detik. Lal mata Adinda berubah lebih tajam dari sebelumnya.

“Kalau begitu…” ucapnya pelan.

“…aku gak akan kasih mereka apa-apa.”

Tatapannya sengit seolah menyimpan semua dendam yang selama ini tersembunyi, ini bukan lagi tentang masa lalu. Tapi perang yang baru dimulai.

Bersambung. .. .

Pagi semoga suka ya ....

1
Rina Arie
good book
Teh Euis Tea
loh adinda Valen ga nikah thor?
cinta semu
ngarep bonchap Thor ,biar makin jelas hubungan adinda sm Valen ...Arya legowo dgn kenyataan ,,biar bisa hidup damai
Sugiharti Rusli
Adinda bersama Valen dan putri kandungnya Alesia, serta Arya bersama si Luna dan Axel, dan suatu saat mereka pasti bisa berjumpa dalam versi terbaik masing" tanpa saling iri dan menjatuhkan, toh Alesia akan jadi darah daging si Arya sampai kapanpun, meski dia melepaskan panggilan ayah dari sang putri,,,
Sugiharti Rusli
memang satu yang harus disadari adalah keikhlasan menerima takdir hidup yah, agar langkah kita makin ringan melangkah ke depan,,,
Sugiharti Rusli
dan si Arya juga sudah mulai nyaman bersama keluarga barunya dan melangkah ke depan bersama Luna dan Axel
Sugiharti Rusli
ternyata memang sudah dibuat tamat yah kisah Adinda, memang pada akhirnya sudah bisa move on yah,,,
Sugiharti Rusli
wah pantas sudah ada notif karya barumu thor,,,
Dini Hidayani
harus ada bonchap dong ingin tau adinda bahagaia
Sugiharti Rusli
semoga setelah tahu isi hati masing", hubungan mereka bisa lebih maju yah, karena Alesia juga butuh kasih sayang Adinda yang selalu ada dalam tumbuh-kembangnya kelak,,,
Sugiharti Rusli
tapi beriring berjalan waktu, hati mereka mulai terikat tanpa mereka sadari, apalagi Alesia juga memanggil Adinda sedari awal mama tanpa tahu kalo dia memang ibu yang melahirkannya,,,
Sugiharti Rusli
mungkin awalnya Valen juga ga ada perasaan apa" kepada Adinda yang dulu juga masih sah sebagai istri si Arya,,,
Sugiharti Rusli
pada awalnya baik Adinda maupun Valen bertemu karena urusan Alesia, karena dia ibu yang melahirkan anak yang dirawat Valen sejak lahir,,,
Sugiharti Rusli
memang pepatah Jawa 'witing tresno jaranan soko kulino' itu memang benar yah
Sugiharti Rusli
hadeh akhirnya mereka bisa jujur sama perasaannya masing" yah sekarang
Dew666
💜💜💜💜
Mundri Astuti
dah halalin adinda Valen, ye ilah....pada malu" meong pada😂
Sugiharti Rusli
apalagi Arya juga sudah punya tanggung jawab lain kepada istri dan putranya sekarang, dan dia sadar kalo kebutuhan Alesia juga tidak akan mungkin dia bisa penuhi seperti yang Valen beri selama ini
Sugiharti Rusli
kalo sudah saling mengerti, paling tidak si Valen tidak harur ovt terhadap interaksi Arya dan Alesia yah,,,
Sugiharti Rusli
dan Arya juga sudah menyadari sepenuh nya, kalo sejak Alesia bayi yang jadi tempat pulang adalah Valen, ayah yang merawat dan mengasuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!