Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang tak lagi sama.
Kirana terbangun bukan karena alarm, melainkan suara bedug subuh dari masjid kecil dekat kosannya. Matanya berat, tapi begitu ingatan tentang taman dan arwah pengantin itu menyentuh kesadarannya, ia langsung duduk tegak. Jantungnya berdebar.
Pertama, ia periksa pergelangan tangan. Tidak ada benang merah. Lega. “Hanya mimpi buruk,” gumamnya. Tapi lalu ia melihat amplop merah di atas meja belajar. Amplop yang semalam ia buang di taman. Isinya bukan uang, melainkan sehelai rambut putih keperakan. Kirana meremasnya dan membuang ke tempat sampah.
Ia paksakan diri beraktifitas seperti biasa. Mandi air hangat. Memakai kemeja putih dan celana bahan hitam. Sarapan onigiri sisa semalam sambil menulis jurnal: Hari ke-36 magang di Taipei. Mimpi buruk tentang hantu. Mungkin karena terlalu banyak mi instan.
Di luar jendela, langit Taipei abu-abu. Musim hujan belum pergi.
Perjalanan ke kantor magang seperti biasa: turun dari kosan lantai tiga, menyusuri gang sempit penuh pot tanaman, lalu belok ke Stasiun MRT Dongmen. Kirana masuk ke gerbong kereta yang penuh pekerja kantoran mengantuk. Seorang ibu-ibu di sampingnya membaca koran. Semua normal.
Tapi Kirana tidak bisa fokus.
Setiap kali kereta melewati terowongan dan lampu berkedip, ia membayangkan wajah pucat arwah itu. Setiap kali ada penumpang berbaju merah, dadanya sesak. Aroma parfum seseorang mengingatkannya pada dupa terbakar di taman. Ia gigit bibir keras-keras, berusaha meyakinkan diri ini hanya kecemasan biasa.
Di kantor, Wei rekan magang yang pernah memperingatkannya soal Bulan Hantu menyapa dengan kopi. “Kamu pucat, Kir. Kurang tidur?”
“Aman. Cuma mimpi buruk.”
“Mimpi apa?”
Kirana ragu, lalu berkata setengah bercanda, “Dilamar hantu.”
Wei tidak tertawa. Ia mendekatkan kursi dan menurunkan suara. “Di Taiwan, mimpi seperti itu di Bulan Hantu jangan dianggap enteng. Kamu minggu lalu cerita pernah memungut amplop merah di taman?”
Kirana terdiam. Ia tak pernah cerita soal amplop itu kepada siapa pun.
“Jangan tanya bagaimana aku tahu,” lanjut Wei. “Tapi malam ini jangan pulang sendirian. Aku akan ajak kamu ke kuil setelah magang.”
Sepanjang hari Kirana mengerjakan desain brosur. Matanya menatap layar, tapi pikirannya melayang ke pohon beringin tua. Saat jam makan siang, ia berjalan keluar gedung mencari angin segar. Di trotoar, seorang perempuan tua membakar dupa di depan altar kecil. Kirana menatap asap yang membubung, dan untuk sesaat ia yakin melihat wajah arwah itu tersenyum dari balik kepulan putih.
Ia berkedip. Wajah itu lenyap.
“Fokus,” bisiknya. “Kamu hanya kelelahan.”
Tapi di pergelangan tangannya, tadi pagi tidak ada benang merah. Sekarang, saat ia melirik, benang itu muncul kembali melingkar tipis, hampir tak terlihat, tapi terasa hangat seperti detak nadi kedua yang asing.langsung dari titik di mana Kirana menyadari benang merah itu kembali muncul di pergelangan tangannya.
Kirana menggulung lengan bajunya dengan cepat, menutupi benang merah itu sebelum siapa pun melihat. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil ponsel dari saku celana. Pukul 12.47. Masih empat jam sebelum magang berakhir. Masih delapan jam sebelum tengah malam.
Ia memaksakan diri menghabiskan onigiri yang dibelinya dari FamilyMart, meskipun setiap suapan terasa seperti kertas. Wei memperhatikannya dari seberang meja makan siang, tapi tidak bertanya lagi. Mungkin dia mengerti bahwa Kirana belum siap bicara.
Sepulang magang, langit Taipei sudah kelabu gelap. Wei menepati janjinya. Mereka naik taksi menuju Kuil Longshan, salah satu kuil tertua di kota itu. Di dalam taksi, Kirana duduk diam sambil memegang pergelangan tangannya. Benang merah itu terasa hangat, bahkan sedikit berdenyut, seolah-olah jantung kedua sedang tumbuh di bawah kulitnya.
“Kamu yakin tidak mau cerita?” tanya Wei pelan.
Kirana menghela napas. “Aku memungut amplop merah di taman Chengde, tiga malam lalu. Aku pikir itu angpau biasa. Ternyata itu mahar untuk pengantin arwah.”
Wei tidak terlihat kaget. “Dinasti Ming? Pakaian merah dengan mahkota ?”
“Kamu tahu?”
“Setiap lima tahun sekali, selama Bulan Hantu puncak, arwah itu muncul. Namanya Li Wei. Katanya dia mati di malam pernikahannya karena pengantin wanitanya bunuh diri sehari sebelum akad.” Wei membuka ponselnya, memperlihatkan artikel berbahasa Mandarin. “Banyak perempuan muda yang hilang di taman itu sejak tahun 1990-an.”
Kuil Longshan ramai meskipun malam. Aroma dupa menyengat, lilin merah menyala di mana-mana. Wei membawa Kirana menemui seorang biksu tua berjubah abu-abu yang sedang memimpin doa. Biksu itu menatap pergelangan tangan Kirana, lalu menggeleng pelan.
“Benang takdir ini sudah mengikat,” katanya dalam bahasa Mandarin yang Wei terjemahkan. “Membatalkannya sama saja membunuh roh Li Wei untuk kedua kalinya. Tapi ada cara lain.”
“Apa?” tanya Kirana.
Biksu itu mengambil sebuah jimat kuning dengan tulisan merah. “Kembalikan mahar itu bukan dengan ketakutan, tapi dengan ketulusan. Katakan pada Li Wei bahwa kau tidak bisa menjadi pengganti, tapi kau bisa membantunya menemukan pengantin aslinya di alam baka.” Ia menyerahkan jimat itu. “Gantungkan ini di pohon beringin itu sebelum tengah malam. Jika dia setuju, benang merah akan putus. Jika tidak...” Biksu itu menghela napas. “Kau akan menjadi pengantinnya, hidup atau mati.”
Kirana menggenggam jimat itu erat-erat. Ia melihat ke luar kuil, ke arah langit malam Taipei yang gelap. Di kejauhan, entah hanya imajinasi atau bukan, ia mendengar suara gemerincing lonceng pernikahan kuno mulai berdentang. Tengah malam masih enam jam lagi. Tapi arwah itu, Kirana yakin, sudah menunggu.