Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Rahasia Melati dan Pesona Sang Putra Naga
Halaman Perguruan Melati Putih yang asri dengan hamparan bunga melati yang harum seketika riuh. Kedatangan Dewi Melati yang membawa seorang pemuda berpakaian compang-camping dan bercaping bambu kusam memancing perhatian puluhan murid wanita. Mereka yang tengah berlatih pedang serentak berhenti, menatap Rangga Nata dengan pandangan meremehkan.
"Guru, siapa pengemis yang kau bawa ini? Apa perguruan kita sekarang membuka dapur umum?" celetuk seorang murid jangkung dengan nada mencibir.
"Lihatlah bajunya, banyak tambalan daripada kain aslinya. Baunya pun... aduh, seperti kerbau habis berendam di rawa!" timpal yang lain sambil menutup hidung dengan sapu tangan sutra.
Selasih, yang berjalan di samping Rangga, hanya bisa mendengus. "Jangan sembarang bicara. Dia ini murid kawan lama Guru. Walaupun... yah, aku akui penampilannya memang merusak pemandangan taman kita."
Rangga Nata tidak tersinggung. Ia justru sengaja menggaruk-garuk ketiaknya dengan gaya berlebihan, lalu menghirup aroma bunga melati dalam-dalam.
"Wah, wah... harum sekali tempat ini! Tapi sayang, nisanak-nisanak ini mulutnya lebih tajam dari ujung pedangnya. Apa di sini tidak ada sabun? Hamba rasa daki hamba sudah minta dipensiunkan," ujar Rangga sambil terkekeh konyol, membuat murid-murid wanita itu semakin sebal.
Dewi Melati hanya tersenyum tipis. "Selasih, antarkan tamu kita ke sungai kecil di belakang perguruan. Biarkan dia membersihkan diri. Setelah itu, bawa dia ke ruang tengah."
"Baik, Guru. Ayo, Pengemis! Ikut aku sebelum kau membuat bunga-bunga ini layu karena baumu," ajak Selasih ketus.
Di tepian sungai kecil yang airnya sebening kristal, Rangga Nata melepas caping dan baju lusuhnya. Begitu tubuhnya menyentuh air, kesan konyol itu memudar. Otot-ototnya yang liat dan bekas luka latihan di punggungnya menunjukkan betapa keras tempaan yang ia lalui.
Setelah membersihkan diri, Rangga membuka bungkusan kain kumal pemberian gurunya. Ia mengeluarkan sebuah rompi yang terbuat dari kulit Harimau Putih yang sangat langka. Kulit itu berkilat perak di bawah sinar matahari, memancarkan aura wibawa yang luar biasa. Rangga mengenakannya di atas baju dalam sutra putih yang bersih, lalu menyisir rambut panjangnya yang basah ke belakang.
Tak lupa, ia mengikatkan Pedang Naga Emas Seribu Langit di punggungnya—kali ini tanpa bungkusan kain lusuh. Pedang itu tampak gagah dengan gagang kepala naga yang berkilau.
Sementara itu, di halaman perguruan, murid-murid masih asyik bergunjing.
"Aku berani bertaruh, setelah mandi pun dia tetap akan terlihat seperti monyet ruyung," tawa salah satu murid.
"Sstt! Itu dia datang!" seru Selasih yang baru saja kembali dari arah sungai.
Seketika, sunyi senyap menyergap halaman Perguruan Melati Putih. Sosok yang berjalan dari arah pepohonan itu seolah-olah bukan orang yang sama dengan pengemis tadi.
Rangga Nata melangkah dengan tenang. Rompi Harimau Putihnya berkilauan, wajahnya yang tampan dengan rahang tegas kini terlihat jelas tanpa tertutup caping. Matanya yang tajam namun teduh membuat jantung para murid wanita di sana berdegup kencang secara serentak.
"Si... siapa itu? Apa ada tamu agung dari kerajaan?" bisik seorang murid yang tadi mencibir, kini wajahnya memerah padam.
"Itu... itu si pengemis tadi?" Selasih ternganga, matanya tak berkedip menatap perubahan drastis Rangga. Pedang di tangan Selasih hampir saja merosot jatuh.
Rangga berhenti di tengah halaman, lalu menjura dengan anggun. "Maaf membuat kalian menunggu lama. Air sungainya sangat segar, hampir saja hamba lupa jalan pulang."
Suaranya kini tidak lagi melengking konyol, melainkan berat dan berwibawa. Murid-murid wanita yang tadi menghina kini justru saling berbisik malu, beberapa di antaranya sibuk merapikan rambut mereka yang berantakan.
"Luar biasa... ketampanannya bahkan melebihi pangeran-pangeran dari Palembang," gumam seorang murid dengan mata berbinar-binar.
"Rangga Nata, masuklah. Jangan membuat murid-muridku kehilangan konsentrasi berlatih," panggil Dewi Melati dari teras aula utama, sembari menahan tawa melihat tingkah murid-muridnya yang mendadak salah tingkah.
Di dalam aula yang hanya dihadiri Dewi Melati, Selasih, dan Rangga, suasana berubah serius. Aroma kemenyan dan melati berpadu menciptakan suasana sakral.
"Kau terlihat jauh lebih baik, Rangga. Rompi itu... itu adalah Zirah Kulit Sanca Putih yang dilapisi bulu Harimau Putih. Hanya pahlawan besar Andalas yang dulu pernah memakainya," ujar Dewi Melati kagum.
"Terima kasih, Ibu Guru. Ini pemberian Guru hamba sebelum turun gunung," sahut Rangga rendah.
Dewi Melati mengangguk, lalu membentangkan sebuah peta kulit di atas meja kayu jati.
"Waktunya singkat, Rangga. Macan Hitam telah menyebarkan telik sandi di seluruh penjuru Jambi. Ia tahu kau telah turun gunung, meski mungkin ia belum tahu wajahmu yang sekarang. Namun, ada hal yang lebih besar dari sekadar dendam pribadimu."
"Apa itu, Ibu Guru?"
"Tiga hari lagi, saat bulan mati, akan ada pertemuan rahasia di Sungai Ular. Itu adalah daerah tak bertuan di perbatasan Gunung Tiga Puluh. Menurut informasiku, Macan Hitam mengundang para gembong aliran hitam dari tanah seberang dan pesisir utara Andalas."
Selasih menyela, wajahnya masih sedikit merah karena terus melirik ke arah Rangga. "Mereka berencana membentuk persekutuan Macan Sembilan Langit. Jika persekutuan ini terbentuk, mereka akan menyerang seluruh perguruan aliran putih, termasuk Melati Putih dan sisa-sisa golongan putih."
Rangga mengepalkan tangannya. "Sungai Ular... tempat yang cocok untuk mengubur bangkai-bangkai beracun."
"Jangan gegabah, Rangga," potong Dewi Melati. "Pertemuan itu dijaga ketat. Macan Hitam sendiri akan hadir. Selain itu, ada kabar bahwa ia membawa seorang penasihat misterius yang konon memiliki ilmu sihir dari tanah seberang. Kau tidak bisa datang sebagai Rangga Nata sang Pendekar Naga."
"Maksud Ibu Guru, hamba harus kembali menjadi pengemis gila?" tanya Rangga sambil tersenyum simpul.
"Tepat sekali. Jadilah mata dan telinga kami di sana. Selasih dan beberapa murid terbaikku akan mengawasi dari jarak jauh. Jika keadaan mendesak, kami akan memberi isyarat."
"Guru, mengapa hamba harus pergi dengan dia?" tanya Selasih, meski dalam hati ia merasa senang.
"Karena kau yang paling mengenal medan Sungai Ular, Selasih. Dan Rangga membutuhkan seseorang yang bisa bersikap tenang saat ia sedang berpura-pura menjadi orang gila," jawab Dewi Melati tegas.
Rangga berdiri, Pedang Naga Emas di punggungnya seakan bergetar merespons semangat tuannya.
"Sungai Ular akan menjadi saksi. Darah penduduk Bungo Tanjung tidak akan mengering sia-sia di sana."
"Ingat, Rangga," Dewi Melati berpesan terakhir kali. "Di Sungai Ular, musuhmu bukan hanya parang dan pedang, tapi juga kelicikan. Jangan biarkan hatimu terbakar dendam hingga kau kehilangan kewaspadaan."
Rangga menjura dalam-dalam. "Hamba mengerti, Ibu Guru. Selasih, bersiaplah. Perjalanan ke Sungai Ular akan sangat panjang, dan mungkin... sedikit 'berisik'."
Selasih hanya mendengus, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di wajahnya saat menatap Pendekar Naga yang gagah itu sekali lagi sebelum mereka berangkat.
Bersambung...