"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Sore itu, cahaya matahari yang mulai meredup menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama, menciptakan siluet emas yang panjang di lantai marmer yang dingin. Deru mesin mobil sport Denis yang memasuki area parkir terdengar seperti pengumuman bahwa waktu istirahat Calista telah usai. Pria itu melangkah masuk dengan aura otoritas yang begitu kuat, melepaskan jasnya dengan gerakan maskulin yang efisien sebelum menatap Calista yang sedang duduk tenang di kursi rias. Tatapannya intens dan tajam, seolah sedang menilai sebuah aset berharga yang baru saja ia akuisisi.
"Malam ini, aku ingin kau berdandan secantik mungkin. Seanggun yang kau bisa," ucap Denis sambil berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang kokoh di bahu Calista. "Ada jamuan makan malam penting dengan rekan-rekan bisnisku di hotel berbintang. Aku ingin memperkenalkan istri cantikku ini kepada mereka semua secara resmi."
Calista menatap pantulan Denis di cermin, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik sorot mata pria itu. Ia bisa merasakan tekanan di balik permintaan yang terdengar seperti perintah tersebut. Ini bukan sekadar makan malam biasa; ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan dipamerkan sebagai simbol keberhasilan dan prestise Denis Satrya. Denis ingin dunia melihat bahwa ia tidak hanya memiliki kekuasaan mutlak di dunia bisnis, tetapi juga keindahan yang sempurna dalam genggamannya.
Tanpa banyak membantah, Calista mulai menyiapkan dirinya dengan ketelitian yang luar biasa. Ia memilih sebuah gaun malam berbahan velvet berwarna biru dongker yang memberikan kesan misterius sekaligus sangat berkelas. Potongan gaun itu sangat sederhana namun memeluk lekuk tubuhnya dengan presisi yang pas, memamerkan keanggunan alaminya tanpa terlihat berlebihan. Ia membiarkan rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai yang sengaja dijatuhkan untuk membingkai wajahnya yang kini terlihat lebih tirus dan dewasa.
Tangannya dengan lihai memulaskan riasan tipis namun tajam yang menonjolkan tulang pipi dan binar matanya. Saat ia mengenakan kalung berlian yang berkilau mewah pemberian Denis, Calista menarik napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadanya. Ia harus membuang jauh-jauh rasa lelah dan amarah akibat ulah kekanak-kanakan Puput siang tadi. Di depan rekan bisnis Denis, ia tidak boleh terlihat seperti gadis malang yang tertindas. Ia harus bertransformasi sepenuhnya menjadi Nyonya Calista Satrya.
Ketika ia selesai dan berdiri dengan anggun di hadapan Denis, pria itu terpaku sejenak. Mata gelap Denis menyapu penampilan istrinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki dengan saksama. Ada kilatan kepuasan dan kebanggaan yang tidak bisa ia menyembunyikan di balik wajah datarnya. Calista tampak begitu berbeda dingin, berwibawa, dan seolah tak tersentuh oleh noda dunia.
"Sempurna," gumam Denis, suaranya merendah dengan nada gairah yang tersirat. "Kau terlihat seolah memang terlahir dari kasta tertinggi untuk memakai perhiasan itu. Jangan biarkan siapa pun mengalihkan pandangan darimu malam ini. Ingat, kau adalah representasi dari namaku."
Sesampainya di restoran mewah tempat jamuan diadakan, Calista melangkah keluar dari mobil dengan keanggunan yang tampak sangat alami. Setiap gerakannya terjaga dengan disiplin tinggi, mulai dari cara ia memegang tas tangan kecilnya hingga cara ia berjalan dengan punggung tegak di samping Denis. Tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa minder dalam langkahnya. Ia menyapa rekan-rekan bisnis Denis dengan senyum tipis yang sopan namun tetap menjaga jarak, menggunakan nada bicara yang tenang, tertata, dan penuh percaya diri.
Di meja makan yang dipenuhi tokoh-tokoh berpengaruh, Calista segera menjadi pusat perhatian yang memikat. Rekan-rekan Denis tampak benar-benar terpesona dengan cara Calista membawa diri yang begitu elegan. Ia mampu menanggapi pembicaraan mengenai ekonomi, investasi, hingga isu sosial dengan kecerdasan yang mengejutkan, tanpa terlihat berusaha terlalu keras untuk pamer. Ia memegang alat makan dengan etika yang sempurna, seolah-olah jamuan kelas atas seperti ini sudah menjadi rutinitasnya sejak lahir.
"Istri Anda benar-benar luar biasa, Denis. Cantik, anggun, dan memiliki wawasan yang sangat luas," puji salah satu kolega senior Denis dengan nada kagum yang tulus.
Denis hanya tersenyum tipis, merangkul pinggang Calista secara posesif di bawah meja, seolah sedang menegaskan pada dunia bahwa wanita ini adalah miliknya. "Dia adalah berlianku yang paling berharga, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya."
Calista hanya tersenyum tenang menanggapi pujian itu, meski di dalam hati ia merasa sedang memainkan peran yang sangat melelahkan. Namun, ia menyadari satu hal penting: kekaguman di mata orang-orang berkuasa ini adalah perisai barunya. Semakin ia terlihat berkelas di mata dunia, semakin kuat posisinya di rumah Satrya untuk menghadapi Susi dan Puput. Calista menyadari bahwa kecantikan dan kecerdasan adalah mata uang yang berlaku di lingkaran ini, dan ia akan menggunakannya untuk membeli keamanan bagi dirinya dan ibunya.
Ia bahkan mampu mengimbangi perdebatan kecil mengenai fluktuasi pasar global dengan analogi yang cerdas, membuat para pria di ruangan itu terdiam sejenak sebelum memberikan tepuk tangan halus. Denis yang duduk di sampingnya tak pernah sekalipun melepaskan tatapannya, seolah ia baru saja menemukan sisi lain dari istrinya yang bahkan lebih mematikan daripada kecantikannya.
Setiap denting gelas kristal dan tawa sopan di ruangan itu seolah menjadi latar musik bagi kemenangan kecil Calista. Ia tidak lagi merasa seperti gadis yang terhimpit hutang, melainkan seperti penguasa yang sedang menata bidak caturnya. Ia tahu, mulai malam ini, berita tentang "Istri Sempurna Denis Satrya" akan menyebar, dan itu akan memberikan tekanan psikologis yang besar bagi Susi yang selalu merasa paling berkuasa.
Di akhir acara, saat para pelayan mulai membereskan meja, Calista masih tetap pada postur tubuhnya yang sempurna, tidak membiarkan rasa letih mengkhianati penampilannya. Ia telah memenangkan hati para pemegang modal malam ini, dan secara tidak langsung, mengukuhkan otoritasnya sebagai pendamping Denis yang tak terbantahkan. Denis menyadari bahwa Calista bukan sekadar wajah cantik untuk dipajang; ia adalah aset strategis yang mampu meningkatkan martabatnya di mata kolega. Kehadiran Calista malam ini adalah pembuktian mutlak bahwa kelas dan keanggunan bukan hanya soal garis keturunan, melainkan soal kecerdasan dalam beradaptasi.
Malam itu, Calista membuktikan bahwa ia adalah wanita yang mampu menaklukkan ruangan penuh pria berkuasa hanya dengan satu tatapan tenang dan anggun. Ia bukan lagi gadis kecil yang rapuh; ia telah berevolusi menjadi sosok yang sangat diperhitungkan. Di balik gaun sutra dan berlian itu, Calista sedang membangun benteng pertahanannya sendiri yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, mengubah tatapan meremehkan menjadi rasa hormat yang mendalam. Setiap kata yang ia ucapkan dan setiap senyum yang ia berikan adalah langkah strategis untuk memastikan tidak ada lagi yang berani mengusik keberadaannya di istana Satrya. Ia telah resmi menjadi nyonya besar yang sesungguhnya.