Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singgasana Tua dan Ujian Mental
Jika apartemen Adrian adalah representasi dari kemodernan yang steril, maka kediaman utama Wijaya Alfarezel adalah monumen dari masa lalu yang mengintimidasi. Rumah itu berdiri kokoh di kawasan Menteng, dikelilingi pagar besi tinggi dengan ukiran rumit. Arsitekturnya bergaya kolonial dengan pilar-pilar putih raksasa yang seolah-olah siap meremukkan siapa saja yang datang tanpa undangan.
Zeva duduk di dalam mobil, meremas-remas ujung gaun batik silk yang dipilihkan Siska pagi tadi. Gaun itu indah, sopan, namun tetap terasa seperti jerat bagi Zeva.
"Tanganmu gemetar," ujar Adrian tanpa menoleh, namun ia bisa merasakan kegelisahan gadis di sampingnya.
"Gue nggak gemetar! Ini cuma... efek kurang kopi," kilah Zeva, meski ia tahu Adrian tidak bodoh. "Adrian, lu yakin kita nggak bakal diusir pakai senapan angin? Kakek lu itu tipe orang yang kayaknya punya koleksi pedang samurai di ruang tamunya."
Adrian menghentikan mobil tepat di depan lobi utama. Ia menoleh ke arah Zeva, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Zeva tertahan. "Ingat, Zevanya. Dia mengundangmu karena kau jujur. Jangan mencoba menjadi orang lain. Jika kau merasa terpojok, lihat aku. Aku yang akan menarikmu keluar."
Zeva menelan ludah, mengangguk pelan. "Oke. Tapi kalau dia nanya soal saham, gue bakal jawab pakai harga cabai di pasar induk ya."
"Lakukan saja," jawab Adrian dengan seringai tipis yang jarang terlihat.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah yang suasananya terasa sangat berat. Aroma kayu jati tua dan lilin aromaterapi mahal memenuhi ruangan. Di dinding, berderet foto-foto hitam putih leluhur keluarga Alfarezel—pria-pria dengan wajah kaku dan wanita-wanita dengan sanggul yang sangat rapi. Zeva merasa seperti sedang berjalan masuk ke dalam buku sejarah yang sangat membosankan sekaligus mengerikan.
Kakek Wijaya duduk di sebuah kursi goyang kayu di beranda belakang yang menghadap ke taman labirin. Di tangannya ada sebuah buku tua, dan di sampingnya tersedia meja kecil dengan teko teh perak.
"Duduk," ujar Wijaya tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. Suaranya berat, berwibawa, dan tidak menyisakan ruang untuk perdebatan.
Adrian menarik kursi untuk Zeva, lalu duduk di sampingnya. Suasana hening selama beberapa menit, hanya suara gesekan buku dan kicauan burung di taman. Zeva mulai merasa gerah. Ia benci keheningan yang dipaksakan seperti ini.
"Jadi, Nona Zevanya," Wijaya akhirnya menutup bukunya dan menatap Zeva tajam. "Setelah kekacauan di restoran kemarin, apa yang membuatmu berani menginjakkan kaki di rumahku hari ini?"
Zeva menarik napas panjang. Ia teringat pesan Adrian: Jadilah dirimu sendiri.
"Karena Bapak yang mengundang saya," jawab Zeva tegas, matanya menatap langsung ke mata Wijaya. "Dan di tempat saya, kalau orang tua mengundang, itu namanya kehormatan. Menolak undangan orang tua itu nggak sopan, meskipun orang tua itu agak... menyeramkan."
Adrian hampir tersedak udara. Ia melirik kakeknya, menunggu ledakan amarah. Namun, Wijaya justru tertegun sejenak, lalu tawa kecil keluar dari mulutnya yang biasanya hanya terkatup rapat.
"Menyeramkan? Kau satu-satunya orang dalam tiga puluh tahun terakhir yang berani menyebutku menyeramkan di depan wajahku," ujar Wijaya. Ia menuangkan teh ke dalam cangkir porselen yang sangat tipis. "Cucu saya, Adrian, biasanya hanya membawa wanita yang bicaranya diatur seperti robot. Mereka takut padaku. Tapi kau... kau sepertinya lebih takut pada sepatu hak tinggimu daripada padaku."
Zeva tersenyum tipis, merasa sedikit lebih rileks. "Sepatu ini emang musuh nyata saya, Pak. Kalau boleh jujur, saya lebih milih lari maraton pakai sandal jepit daripada duduk manis di sini pakai ginian."
"Sifat yang menarik," gumam Wijaya. "Tapi kejujuran tidak cukup untuk masuk ke keluarga Alfarezel. Keluarga ini dibangun di atas reputasi, kecerdasan, dan... kekuatan. Apa yang bisa kau berikan pada cucuku selain drama di meja makan?"
Pertanyaan itu terasa seperti serangan tajam. Adrian hendak mengintervensi, namun Wijaya mengangkat tangannya, memberi isyarat agar cucunya diam.
Zeva terdiam sejenak. Ia melihat ke arah Adrian, lalu kembali ke Wijaya. "Saya nggak punya saham, saya nggak punya gelar dari luar negeri. Tapi saya bisa mastiin kalau Adrian nggak lupa caranya jadi manusia. Saya bisa mastiin dia nggak cuma makan angka dan dokumen setiap hari. Di dunia Bapak yang serba kaku ini, saya adalah pengingat kalau di luar sana ada orang-orang yang tertawa meskipun kantongnya kosong. Saya... saya adalah kekacauan yang dia butuhkan supaya dia nggak mati kebosanan."
Adrian menatap Zeva dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak menyangka Zeva akan memberikan jawaban seproforsional—sekaligus sepersonal—itu.
Wijaya terdiam lama, menyesap tehnya dengan perlahan. "Kekacauan yang dia butuhkan, ya? Jawaban yang sombong, tapi logis."
Makan siang dimulai. Kali ini tidak ada siput. Menu yang disajikan adalah makanan tradisional Indonesia yang sangat mewah: nasi kuning dengan berbagai macam lauk pauk yang ditata sangat artistik. Namun, suasana kembali menegang saat Clarissa tiba-tiba muncul tanpa diundang, bergabung dengan mereka di meja makan atas seizin Wijaya.
"Maaf saya terlambat, Opa," ujar Clarissa dengan nada manis yang dibuat-buat. Ia duduk tepat di depan Zeva, menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. "Saya dengar ada 'tamu spesial' hari ini, jadi saya membawakan makanan penutup dari toko roti Prancis langganan saya."
Zeva memutar bola matanya. Cewek ini lagi, batinnya.
"Zevanya sedang bercerita tentang kehidupannya sebagai... pengusaha kuliner," ujar Wijaya dengan nada netral.
"Oh, benarkah?" Clarissa tersenyum sinis. "Saya dengar itu lebih ke warung pinggir jalan, ya? Pasti sangat melelahkan, harus berurusan dengan asap dan... orang-orang kelas bawah setiap hari. Apa itu tidak membuatmu merasa... kotor?"
Suasana di meja makan mendadak mendingin. Adrian meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang keras. "Clarissa, jaga bicaramu."
"Kenapa, Adrian? Aku hanya bertanya. Bukankah kita harus jujur di depan Opa?" balas Clarissa tanpa rasa takut.
Zeva merasakan tangannya mengepal di bawah meja. Ia ingin sekali menyiramkan sambal bajak di depannya ke wajah Clarissa, tapi ia teringat janjinya pada Adrian. Namun, sebelum Zeva bicara, Wijaya tiba-tiba bersuara.
"Clarissa, apakah kau tahu bagaimana keluarga Alfarezel memulai bisnis ini?" tanya Wijaya dengan nada dingin.
Clarissa tergagap. "E-eh, tentu saja dari investasi properti di tahun delapan puluhan, kan?"
"Salah," potong Wijaya. "Ayahku memulai dengan menjadi kuli panggul di pelabuhan. Kami adalah orang-orang 'kelas bawah' yang kau bicarakan itu. Kami bekerja dengan keringat dan kotoran. Jika kau merasa jijik dengan orang-orang yang bekerja dengan tangan mereka sendiri, maka kau sebenarnya sedang menghina fondasi rumah ini."
Clarissa langsung memucat. Ia tidak menyangka kakek Adrian akan membelanya dengan cara seperti itu.
"Nona Zevanya mungkin tidak punya etiket Prancis," lanjut Wijaya, menatap Zeva dengan sedikit rasa hormat. "Tapi dia punya mentalitas yang sama dengan pendiri keluarga ini. Dia tidak malu dengan siapa dirinya."
Zeva merasa hatinya menghangat. Ia menatap Wijaya dengan pandangan baru. Ternyata, di balik wajah menyeramkan itu, ada seorang pria yang menghargai kerja keras.
"Terima kasih, Pak," ujar Zeva tulus. "Dan buat Nona Clarissa, kotor itu bisa dicuci pakai sabun. Tapi kalau hati yang kotor... kayaknya butuh diamplas pakai amplas besi deh."
Adrian hampir tertawa mendengar balasan Zeva. Ia merasa bebannya sedikit terangkat.
Setelah makan siang, Wijaya meminta waktu pribadi dengan Adrian, membiarkan Zeva berjalan-jalan di taman labirin. Zeva melepas sepatu hak tingginya—kali ini dengan izin dari Wijaya—dan berjalan di atas rumput yang lembut dengan kaki telanjang.
"Bagaimana pendapatmu tentang dia?" tanya Wijaya saat mereka berada di ruang kerja.
Adrian berdiri di dekat jendela. "Dia berbeda, Kakek. Sangat berbeda."
"Aku tahu kau sedang bersandiwara, Adrian," ujar Wijaya tiba-tiba.
Adrian membeku. Jantungnya berdegup kencang. "Kakek, saya—"
"Jangan memotong. Aku tahu gadis itu bukan tipemu. Aku tahu kalian mungkin punya semacam kesepakatan," Wijaya berdiri dan menghampiri cucunya. "Tapi dengar ini. Dalam bisnis dan hidup, seringkali hal yang dimulai sebagai kepura-puraan berakhir menjadi investasi terbaik. Gadis itu punya api yang tidak kau miliki. Dia bisa menghancurkan dinding es yang kau bangun di sekelilingmu. Jika kau membiarkannya pergi hanya karena ini sebuah 'kontrak', maka kau adalah CEO paling bodoh yang pernah kulatih."
Adrian terdiam. Kata-kata kakeknya meresap ke dalam pikirannya. Apakah kakeknya justru mendukung hubungan ini karena tahu ini palsu, atau karena dia melihat potensi yang sesungguhnya?
"Pertahankan dia. Bukan sebagai perisai terhadap perjodohan, tapi sebagai penyeimbang hidupmu," pesan Wijaya sebelum menyuruh Adrian keluar.
Saat Adrian menemukan Zeva di taman, gadis itu sedang asyik mencoba memanjat sebuah pohon kamboja kecil untuk mengambil bunga yang jatuh. Gaun batiknya sedikit tersingkap, dan wajahnya kembali belepotan keringat.
"Zevanya! Apa yang kau lakukan? Kau bisa jatuh!" teriak Adrian, berlari mendekat.
"Tenang, Bos! Ini cuma pohon kecil. Nih, buat lu," Zeva melompat turun dengan lincah dan menyodorkan sebuah bunga kamboja putih yang harum ke arah Adrian.
Adrian menerima bunga itu, menatap Zeva yang tampak sangat ceria di bawah sinar matahari sore. Keberaniannya, kekacauannya, dan ketulusannya... semuanya mulai terasa sangat nyata bagi Adrian.
"Kakek bilang apa?" tanya Zeva penuh harap. "Kita dipecat jadi pacar?"
Adrian menatap bunga di tangannya, lalu menatap mata cokelat Zeva. "Tidak. Malah sebaliknya. Dia ingin kita segera menentukan tanggal pertunangan resmi."
"APA?!" Zeva berteriak hingga burung-burung di pohon beterbangan. "Adrian! Ini udah kejauhan! Gue cuma mau ganti rugi mobil, bukan ganti rugi seluruh sisa hidup gue!"
"Ikuti saja dulu, Zeva," ujar Adrian, meski suaranya terdengar tidak seyakin biasanya. "Kita punya waktu tiga bulan. Banyak hal bisa terjadi dalam tiga bulan."
Zeva menghela napas panjang, menatap rumah raksasa di depannya. Ia merasa seperti baru saja masuk ke dalam jaring laba-laba yang sangat besar dan sangat mahal. "Oke. Tapi kalau nanti gue harus pakai mahkota seberat satu ton, gue bakal minta kenaikan gaji sepuluh kali lipat!"
Adrian tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lepas. Ia menarik tangan Zeva—kali ini tanpa hand sanitizer—dan menuntunnya menuju mobil.
Benih permusuhan itu kini telah bermutasi. Mereka bukan lagi sekadar CEO dan Gadis Barbar yang tidak sengaja bertemu di jalanan yang panas. Mereka kini adalah rekan dalam sebuah permainan berbahaya yang melibatkan hati, warisan, dan satu keluarga besar yang penuh rahasia.
Dan saat mobil mereka meninggalkan gerbang Menteng, Adrian menyadari satu hal: ia tidak lagi memikirkan goresan pink di kap mobilnya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar Zeva tetap berada di sampingnya, meski kontrak itu berakhir suatu hari nanti.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan