Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 – Naya
Bab 1 – Naya
“MC ready?” kataku sambil mendekatkan mulut ke mic kecil yang menempel di balik kerah bajuku..
“Ready,” terdengar balasan di earphone yang aku pakai dari balik kerudungku.
“Fotografer ready?” tanyaku lagi ke mic, sambil menatap kameraman dan fotografer yang sudah mengambil posisi di depan pintu masuk gedung serba guna departemen kehutanan, yang dipakai untuk acara pernikahan.
Gedung pernikahan yang ada di selatan Jakarta itu, berdiri dengan gagah, seolah menjadi saksi bisu bagi ribuan janji suci sekaligus jutaan tusuk sate ayam yang ludes dalam hitungan detik. Di bawah plafon tingginya yang dihiasi ukiran kayu jati dan lampu gantungnya berpijar hangat, memantulkan kilau di mata para keluarga kedua mempelai yang sudah siap melakukan prosesi pernikahan.
Mataku tertuju pada arloji kulit tua, warisan kakekku. Jarum jam berdetak tepat ke arah 12, pukul 9 teng, aku berkata pada mic, “Oke, MC start.”
Dari dalam gedung, terdengar suara menggema, MC memandu acara pernikahan. Keluarga mempelai pria yang menyerahkan anaknya kepada orang tua mempelai wanita. Setelah itu semua masuk ke gedung dan duduk di tempat masing-masing.
Aku berdiri di belakang kamera diam yang sudah di set fotografer untuk mengambil prosesi ijab kabul. Pembacaan sari tilawah, membuat suasana semakin syahdu dan khusyuk. Di antara pilar-pilar kokoh yang sudah bersolek dengan daun dan bunga-bunga menjuntai, seolah berbisik tentang ketahanan cinta, setiap lirikan mata dari para hadirin yang tak sengaja bertemu terasa seperti bab pembuka dari sebuah bencana romantis yang sangat ingin kau jalani. Ijab kabul selesai diucapkan. Para saksi berkata, “Sah!” dengan kompak dan tegas. Para tamu menangis terharu.
Di seberang ruangan, dekat meja prasmanan VIP berdiri pemilik WO yang juga kakak kelasku waktu masih kuliah, Risa. Sambil menatap Risa, aku tersenyum bangga dan lega, karena acara bisa berjalan lancar. Terdengar suara getar notifikasi di ponselku. Aku mengeluarkan ponsel, membaca pesan dari Risa.
Risa : Alhamdulillah. Belum ada setahun, WO kita berhasil dapat lima pernikahan. (emoji jempol)
Aku hendak membalas pesan itu, tapi kemudian tertegun melihat pesan dari tunanganku, Alfian.
Alfian : Naya, aku nggak bisa melanjutkan pertunangan kita. Lebih baik sekarang daripada semuanya terlambat.
Naya : Maksud kamu apa?
Tidak ada balasan dari Alfian. Aku menatap Risa dengan air mata yang mengalir tanpa bisa aku kendalikan. Ada raut wajah bingung dari Risa. Aku balik badan dan lari ke kamar mandi. Di bilik toilet aku menangis sejadi-jadinya.
“Naya!” terdengar suara Risa di balik bilik toilet.
Aku mencoba mengecilkan suara tangisanku.
“Naya, kenapa?” tanya Risa sambil mengetuk pintu bilik toilet.
“Nggak apa-apa,” kataku dengan nada yang menahan tangisan.
“Naya!” katanya tegas. Dia tahu aku tidak apa-apa.
Aku terpaksa membuka bilik toilet, lalu menatapnya, “Aku diputusin tunangan aku, Kak.” Air mataku kembali mengalir deras.
“Heh! Kok bisa?” Risa mengeluarkan tisu, berusaha agar air mataku tidak melunturkan eyeliner. “Gimana ceritanya tiba-tiba diputusin? Kan baru seminggu yang lalu kamu lamaran!”
Aku menunjukkan pesan dari Alfian pada Risa.
“Astagfirullah alazim! Kurang ajar banget! Bisa-bisanya mutusin pake WA!”
Terdengar suara fotografer di earphoneku, yang pasti Risa juga bisa mendengarnya, karena dia terlihat memakai earphone yang sama di balik rambutnya, “Kak, ini mau foto keluarga dulu sebelum mempelai ganti baju kan?”
Aku dan Risa berpandangan.
“Ya udah, kamu tenangin diri kamu aja dulu, biar ini aku yang urus!” Risa bergegas keluar dari toilet.
Aku menatap cermin, memastikan kerudungku dan make up ku masih aman, lalu aku bergegas keluar dari toilet, mengejar Risa. “Aku aja yang urus, Kak. Aku kan bagian akad. Kakak bagian resepsi.”
Sambil jalan ke aula utama, Risa menoleh ke arahku, “Bener?”
Aku mengangguk.
“Ya udah. Ayo!” Risa menggenggam tanganku dan menepuk punggung telapak tanganku, memberikan semangat.
“Agak miris ya, orang yang kerjanya nikahin orang, malah diputusin tunangan,” kataku sambil setengah tersenyum.
Risa hanya bisa memberikan senyum terbaiknya sambil menghela napas.
“Iya. Hanya keluarga inti yang foto abis akad, sebelum ganti baju. Keluarga lain dan teman-teman, nanti!” kataku bicara ke mic.
Selesai akad, acara kemudian diambil alih oleh Risa. Setelah mengatur keluarga di depan gedung untuk masuk bersama kedua mempelai, ia memberikan aba-aba agar MC memulai acara. Sambil memperhatikan proses resepsi, Risa berbisik padaku yang berdiri di sebelahnya, “Menurut aku, kamu emang nggak pantes sih sama dia.”
Aku hanya bisa menoleh sebentar menatap kedua mata Risa. Suara musik mengiringi tarian jawa terlalu keras untuk aku bisa membalas pernyataan Risa.
“Beraninya lewat WA. Bales aja, kalau berani, ngomong sama orang tuaku!” kata Risa berbisik di telingaku, tapi tanpa sadar semua orang yang memakai earphone mendengarnya. “Dia berani bilang ke orang tua kamu buat melamar, masa nggak berani dateng bilang mau mutusin lamaran?”
MC, fotografer, dan penjaga katering semuanya melihat ke arahku. Aku berbisik ke Risa, “Kak, kakak masih nyalain mic?”
“Astagfirullah alazim! Sori!” Risa mematikan mic di balik kerah bajunya. “Sori ya!”
Aku menghela napas dan mengeluarkan ponselku, “Ya mau gimana lagi. Emang gini kenyataannya. Dia cuma wa doang. Eh! Dia bales!”
“Bales apa?”
Aku menunjukkan ponselku ke Risa, ada balasan dari Alfian.
Alfian : Kapan kita bisa ketemu, aku minta cincin kawinnya dikembalikan.
“Kutu kupret!” Risa yang tampak kesal sekali, menatapku seperti ada api di matanya dan ingin mengajakku memburu si kutu kupret dan menghabisinya sekalian.
Aku cuma bisa balik badan dan lari ke toilet, agar air mataku tidak terlihat oleh semua orang.
Brak!!!
Aku menabrak seorang pria bertubuh tinggi, tegap dan kokoh, baru saja keluar dari toilet cowok. “Maaf” kataku sambil mendongak melihat siapa pria yang memakai baju kemeja putih dan celana hitam itu.
Pria itu menunduk ke arahku membuka kacamata hitamnya sedikit, sehingga kedua matanya yang coklat bening berkilau menusuk langsung tepat ke jantung hatiku.
Mulutku menganga, kaget, kagum, takut, senang, semuanya jadi satu, karena yang aku tabrak itu adalah Bima! Iya, Bima! Aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia. Semua film yang dimainkannya selalu mendapatkan penonton terbanyak. Kalau main sinetron, pasti sinteronnya dapat rating satu.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya sambil memakai kacamata hitamnya kembali. “Maaf ya, aku keluar toilet tiba-tiba. Kamu jadi nabrak. Ada yang sakit?”
Aku yang masih menganga, cuma bisa menggelengkan kepala.
“Kok sampe ada air matanya begitu? Apanya yang sakit?” tanya Bima sambil memegang kedua bahuku dan memperhatikan wajahku. Ia mencari apakah ada benjol atau luka di wajahku.
Tidak ada yang luka, tapi sepertinya wajahku semakin memerah. Aku langsung mundur, menjauh darinya, dan bergegas masuk ke toilet cewek.
Brak!
Aku menabrak pintu kamar mandi.
Bima menahan tawa.
Aku bergegas mendorong pintu kamar mandi, lalu masuk. Di depan cermin wastafel, aku memegang kedua pipiku yang benar-benar merah seperti kepiting rebus. “Bima ada di sini?” tanyaku pada cermin dengan tidak percaya.