Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 —Sebuah Aroma
Pagi itu datang seperti biasanya, tanpa pertanda apa pun.
Sinar matahari masuk dari celah tirai, jatuh tipis di lantai kamar, menyentuh sisi tempat tidur yang kosong. Bella terbangun lebih dulu, seperti hari-hari sebelumnya. Ia tidak langsung bangkit, hanya berbaring diam beberapa saat sambil menatap langit-langit, membiarkan pikirannya perlahan sadar sepenuhnya.
Dominic sudah tidak ada di tempat.
Lagi.
Bukan hal baru, dan seharusnya ia sudah terbiasa. Namun tetap saja, ada ruang kecil di dalam hatinya yang selalu terasa hampa setiap kali ia bangun dan menemukan sisi itu kosong. Tanpa suara. Tanpa jejak selain lipatan samar di seprai.
Bella menghela napas pelan, lalu bangkit. Rutinitas pagi kembali berjalan—menyiapkan sarapan, menyeduh kopi, merapikan meja makan. Semua dilakukan dengan gerakan yang tenang, hampir otomatis, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan hal yang sama sampai tidak perlu lagi berpikir.
Ia sempat melihat ponselnya.
Tidak ada pesan.
Bella tersenyum tipis, lalu meletakkannya kembali di meja. Tidak ada rasa kecewa yang berlebihan, hanya… sebuah kebiasaan kecil yang mulai terasa hambar.
Setelah sarapan yang lagi-lagi ia makan sendiri, Bella memutuskan untuk membereskan kamar. Ia menarik seprai, merapikan bantal, lalu berhenti sejenak saat tangannya menyentuh sesuatu di sisi tempat tidur Dominic.
Sebuah aroma.
Samar, tapi cukup jelas.
Bella mengerutkan kening sedikit.
Itu bukan bau parfum Dominic.
Ia mengenal aroma suaminya dengan baik—bersih, tajam, dan maskulin. Namun yang ini berbeda. Lebih lembut. Lebih manis. Lebih… feminin.
Tangannya terdiam di atas seprai.
Perasaan itu datang lagi.
Hal kecil.
Tapi kali ini, tidak bisa begitu saja diabaikan.
Bella menunduk, mendekatkan wajahnya sedikit, memastikan bahwa ia tidak salah. Namun semakin ia mencoba meyakinkan dirinya, semakin jelas aroma itu terasa.
Dan entah kenapa… nama itu langsung muncul di kepalanya.
Diana.
Bella segera berdiri tegak, menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pikiran itu. Tidak masuk akal. Mungkin saja itu hanya sisa parfum dari tamu lain. Atau mungkin… ia hanya terlalu sensitif.
Ia menggeleng pelan, lalu melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.
Namun aroma itu tidak benar-benar hilang.
—
Siang harinya, Bella memutuskan keluar sebentar. Udara di luar terasa lebih segar dibandingkan suasana rumah yang entah kenapa terasa sempit hari itu. Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, hanya ingin menenangkan pikirannya sendiri.
Ia mencoba mengalihkan perhatian, melihat-lihat toko, membeli beberapa barang kecil yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan. Namun tetap saja, pikirannya kembali ke hal yang sama.
Hal-hal kecil yang mulai terasa tidak biasa.
Dominic yang semakin jarang bicara.
Pesan yang semakin jarang datang.
Dan sekarang… aroma itu.
Bella berhenti di depan sebuah etalase kaca, menatap pantulannya sendiri. Wajahnya masih sama. Tidak ada yang berubah. Namun matanya… terlihat lebih lelah dari biasanya.
“Aku cuma terlalu mikir,” gumamnya pelan.
Ia tersenyum pada dirinya sendiri, meski terasa dipaksakan.
Namun saat ia hendak melangkah pergi, sesuatu menarik perhatiannya.
Di seberang jalan.
Sebuah mobil yang tidak asing.
Bella menyipitkan mata sedikit, mencoba memastikan.
Itu mobil Dominic.
Ia tahu betul.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tanpa sadar, langkahnya terhenti. Pandangannya terpaku ke arah mobil itu, seolah menunggu sesuatu.
Dan kemudian…
Pintu mobil itu terbuka.
Dominic keluar.
Rapi seperti biasa. Tegap. Tidak terlihat tergesa.
Bella hampir saja memanggilnya.
Namun suara itu tertahan di tenggorokannya saat melihat siapa yang keluar setelahnya.
Diana.
Wanita itu turun dari sisi penumpang dengan santai, merapikan rambutnya sebelum menatap Dominic dengan senyum ringan. Mereka berdiri cukup dekat. Terlalu dekat untuk sekadar rekan kerja yang kebetulan bertemu.
Bella tidak bergerak.
Kakinya seperti menempel di tempat.
Jarak di antara mereka tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat Bella tidak terdengar. Ia hanya bisa melihat. Mengamati. Menyerap setiap detail kecil yang seharusnya tidak ia lihat.
Dominic mengatakan sesuatu.
Diana tertawa kecil.
Tangan wanita itu sempat menyentuh lengan Dominic—ringan, tapi cukup untuk membuat dada Bella terasa sesak.
Dan yang paling menyakitkan…
Dominic tidak menyingkir.
Ia tidak menolak.
Ia tidak melakukan apa pun.
Seolah itu hal yang biasa.
Seolah itu… wajar.
Bella menunduk perlahan.
Dunia di sekitarnya tetap berjalan seperti biasa—orang-orang berlalu lalang, suara kendaraan terdengar samar—namun semuanya terasa jauh. Kabur. Seolah ia berada di tempat yang berbeda.
Beberapa detik kemudian, saat ia kembali mengangkat wajahnya, mobil itu sudah pergi.
Meninggalkan Bella sendirian di tepi jalan.
—
Sore menjelang saat Bella kembali ke rumah.
Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Ia membuka pintu, masuk, lalu menutupnya kembali dengan hati-hati. Rumah itu masih sama seperti saat ia tinggalkan. Rapi. Tenang. Sepi.
Namun kali ini, kesunyian itu terasa lebih berat.
Bella meletakkan tasnya di meja, lalu duduk perlahan di sofa. Tangannya terlipat di pangkuan, sementara pikirannya berputar tanpa arah.
Ia tidak menangis.
Tidak juga marah.
Hanya diam.
Mencoba menyusun potongan-potongan kecil yang kini mulai terlihat… membentuk sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa lagi menyangkalnya.
Ada sesuatu yang salah.
—
Malam datang lebih cepat dari yang ia sadari.
Dominic pulang seperti biasa—tanpa suara berlebihan, tanpa ekspresi yang bisa dibaca. Ia terlihat lelah, atau mungkin hanya terlihat seperti itu.
Bella berdiri di ruang tengah saat pria itu masuk.
“Dom.”
Dominic menoleh sedikit. “Hm?”
“Aku tadi ke luar.”
“Terus?”
Nada itu datar. Biasa.
Bella menatapnya beberapa detik sebelum melanjutkan, “Aku lihat kamu.”
Dominic berhenti.
Hanya sebentar.
Namun cukup untuk membuat Bella menyadarinya.
“Di mana?” tanyanya.
“Di jalan tadi,” jawab Bella pelan. “Kamu sama Diana.”
Sunyi.
Dominic tidak langsung menjawab.
Ia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja, lalu menghela napas pendek.
“Urusan kerja.”
Jawaban itu datang lagi.
Singkat. Rapi. Tanpa celah.
Bella tersenyum tipis.
“Iya,” katanya pelan. “Kerja.”
Ia tidak membantah.
Tidak juga memperpanjang.
Namun cara ia mengucapkan satu kata itu… berbeda.
Dominic menatapnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya memilih diam.
Dan di antara mereka…
Ada jarak yang semakin jelas terasa.
—
Malam itu, Bella kembali berbaring lebih dulu.
Namun kali ini, ia tidak mencoba tidur.
Ia hanya memejamkan mata, membiarkan pikirannya berjalan sendiri.
Potongan-potongan kecil itu kembali muncul.
Aroma di tempat tidur.
Pesan yang tidak pernah datang.
Tawa Dominic yang bukan untuknya.
Dan sentuhan ringan di lengan itu.
Hal-hal kecil.
Sepele.
Namun jika disatukan…
Cukup untuk menghancurkan sesuatu yang besar.
Perlahan, Bella membuka matanya.
Menatap gelap di hadapannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia menikah…
Ia merasa takut.
Bukan karena kehilangan.
Tapi karena kemungkinan bahwa semua yang ia percayai selama ini…
Tidak pernah benar-benar nyata.
END BAB 4
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹