NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Melihat dari Balik Pintu”

Mobil melaju pelan membelah jalan sore yang mulai lengang. Cahaya matahari yang meredup masuk dari sela jendela, memantul lembut di wajah Nayla dan Arkan yang terlelap di kursi penumpang.

Arkan tertidur lebih dulu, kepalanya miring bersandar ringan ke arah Nayla, napasnya teratur dan tenang. Tanpa sadar, Nayla pun ikut terlelap, tubuhnya sedikit condong, seolah memberi ruang sekaligus perlindungan. Tangan kecil Arkan menggenggam ujung baju Nayla, seakan takut kehilangan, meski ia sedang bermimpi.

Di dalam mobil hanya terdengar suara mesin yang stabil. Suasananya sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong—lebih seperti tenang yang penuh.

Di kursi yang sama, papah Arkan sesekali melirik ke samping. Pandangannya berhenti lebih lama dari yang seharusnya.

entah apa yang ada di pikirannya sehingga Ia menghela napas pelan, lalu kembali fokus ke jalan. Namun bayangan itu seolah enggan hilang—anaknya yang tertidur nyaman, dan seorang perempuan yang tanpa sadar menjadi tempat bersandar.

**

Pukul 04.45, mobil akhirnya tiba di garasi. Sejak tadi, Nayla sudah terbangun saat mobil melewati jalan berlubang. Tubuhnya sempat oleng, hampir tersungkur, jika sebuah tangan besar tidak sigap menahan kepalanya.

Saat menyadari itu, Nayla tersentak kaget. Ia segera menarik tubuhnya, duduk tegak, lalu menoleh ke samping.

“Maaf, Pak,” ucapnya pelan.

Pria itu hanya membalas dengan satu anggukan tanpa suara.

Setelah kejadian itu, Arkan ikut terbangun. Ia tampak gelisah, mencari posisi yang nyaman untuk kembali tidur. Namun, sepertinya ia tidak menemukannya. Tanpa banyak berpikir, Arkan langsung naik dan duduk di pangkuan Nayla. Barulah ia terlelap kembali.

Nayla membiarkannya. Ia memeluk Arkan erat, seolah takut anak itu terlepas.

Sesampainya di tujuan, Ayah Arkan segera mendekat dan berniat mengambil Arkan dari pangkuan Nayla. Namun, seperti sebelumnya, Arkan enggan melepaskan diri.

“Biar saya saja, Pak,” ujar Nayla lembut.

Ayah Arkan hanya bisa membiarkan. Ia tahu Nayla pasti pegal, bahkan mungkin kakinya mulai keram—terlihat dari cara jalannya.

Sekilas, tatapannya berhenti pada langkah Nayla yang sedikit tertatih. Ada jeda singkat, seolah ia ingin mengatakan sesuatu, namun urung. Ia hanya mengalihkan pandangan, lalu berjalan lebih dulu tanpa suara.

Setelah membukakan pintu kamar Arkan untuk Nayla, ia langsung berlalu tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Ucapan terima kasih Nayla pun tertahan di bibir.

“Makasih...” ucapnya pelan.

Namun Ayah Arkan sudah lebih dulu pergi.

Hmm... mungkin dia ke kamar mandi, batin Nayla santai.

Tanpa berpikir panjang, Nayla langsung mencoba membaringkan Arkan. Namun, ada yang terasa janggal. Ia menatap wajah anak itu lebih saksama.

Ternyata kamu pura-pura tidur ya... batinnya.

Setelah membaringkannya, Nayla tersenyum tipis penuh rencana. Bulu mata Arkan yang sejak tadi bergetar, sesekali tampak mengintip. Nayla pura-pura tidak menyadari dan ikut berbaring di sampingnya.

Hahaha... anak ini lucu sekali, batinnya geli.

Nayla pun mulai beraksi.

“Ya ampun... anak ini tampan sekali,” bisiknya dramatis.

Bibir Arkan langsung terkatup rapat, berusaha menahan senyum.

“Hidungnya lucu... imut,” lanjut Nayla.

“Pipinya juga empuk, seperti marshmallow...”

Ia hampir tertawa, tapi masih menahan diri.

“Tapi sayang...”

“Tampannya...”

“Hidungnya yang lucu...”

“Pipinya yang gemas...”

“Itu semua percuma...”

“Soalnya badannya bauuuuu banget! Huek! Kakak nggak kuat, nggak mau dekat-dekat sama bocah bau!”

Nayla langsung bangkit, menahan tawa.

Seketika Arkan melonjak bangun.

“Kakak! Arkan mau mandi!” serunya panik.

“Loh, Arkan sudah bangun?” Nayla pura-pura kaget.

“Iya! Arkan bau!” katanya sambil menciumi bajunya sendiri.

“Huek!”

“Eh, masa sih?” Nayla ikut mengendus.

Dan benar saja—

“Huek... ohok ohok!”

Wajahnya langsung memerah. Ia sampai tersungkur, memegang kepala.

“Kakak...” Arkan mendekat.

“STOP!” Nayla cepat-cepat menahan. “Buka bajumu dulu. Kakak ke kamar mandi sebentar!”

Arkan hanya bisa bengong. Jujur saja, ia belum pernah melepas baju sendiri.

 Ia mencoba menarik bajunya dari bawah ke atas.

Namun yang terjadi malah—

“Kakak! Kakak! Huhuhu...” suaranya mulai panik.

“Ada apa?” Nayla buru-buru kembali.

Dan begitu melihatnya—

Ia tak bisa menahan tawa.

“Hahaha!”

Arkan terjebak di dalam bajunya sendiri, menggeliat seperti ulat kecil.

“Ih, kakak... hiks!” Arkan merengek.

Dengan sisa tawa, Nayla akhirnya membantu melepaskan bajunya.

Arkan langsung melipat tangan di dada, cemberut. Wajahnya memerah—antara malu dan kesal.

Sementara Nayla masih tersenyum, jelas belum sepenuhnya berhenti menertawakannya.

Di balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, seseorang berdiri diam.

Ayah Arkan.

Entah sejak kapan ia kembali, punggungnya bersandar ringan pada dinding. Tatapannya mengarah ke dalam kamar, memperhatikan tanpa suara.

Tawa Nayla yang lepas, dan Arkan yang biasanya sulit diatur... kini menurut tanpa banyak protes.

Ada sesuatu yang terasa asing—namun juga... menenangkan.

Jemarinya sempat bergerak, seolah ingin membuka pintu lebih lebar. Namun ia mengurungkannya.

Beberapa detik kemudian, ia berbalik.

Langkahnya kembali terdengar menjauh—tetap pelan, tetap tanpa suara.

Seolah tidak pernah ada di sana.

**

Air hangat mulai memenuhi bak kecil.

Uap tipis perlahan naik, membuat suasana kamar mandi terasa nyaman.

Arkan berdiri diam di sudut, masih dengan wajah cemberutnya. Tangannya saling menggenggam, sesekali melirik ke arah Nayla.

“Kemarilah,” panggil Nayla lembut.

Arkan berjalan pelan, masih sedikit ragu.

Begitu Nayla mulai menyiram tubuhnya dengan air hangat—

“Ahh...” Arkan refleks bersuara pelan.

Wajahnya yang tadi tegang perlahan mengendur.

“Enak?” tanya Nayla sambil tersenyum kecil.

Arkan mengangguk.

Nayla mulai membersihkan tubuhnya dengan hati-hati. Saat sampai di bagian baju yang tadi ia lepas, Nayla kembali mencium bau yang cukup menyengat.

Ia menahan napas sebentar, lalu melirik Arkan.

“Kamu tadi muntah ya?”

Arkan langsung menunduk.

“Iya...” jawabnya pelan.

“Kenapa nggak bilang ke kakak?”

Arkan terdiam cukup lama.

“Arkan lupa...” suaranya lirih. “Ngantuk...”

Nayla menghela napas pelan, tapi bukan karena kesal.

Lebih ke arah… memahami.

“Lain kali kalau muntah atau nggak enak badan, bilang ya,” ucapnya sambil tetap menyabuni tangan kecil Arkan.

Arkan mengangguk pelan.

“Takut dimarahin?” tanya Nayla lagi, suaranya lebih lembut.

Arkan diam.

Itu sudah cukup jadi jawaban.

Gerakan tangan Nayla melambat. Ia menyiram kepala Arkan dengan hati-hati, memastikan air tidak masuk ke mata.

“Nggak akan dimarahin,” lanjutnya pelan. “Kalau sakit atau kotor, itu bukan salah Arkan.”

Arkan mengangkat wajahnya sedikit, menatap Nayla.

Seolah memastikan ucapan itu benar.

Nayla tersenyum tipis.

Air mengalir perlahan dari rambut Arkan, membasahi wajah kecilnya.

Untuk pertama kalinya sejak tadi—

Ekspresi Arkan benar-benar tenang.

Setelah selesai, Nayla membungkus tubuhnya dengan handuk, mengusap rambutnya pelan.

“Sekarang sudah wangi,” ucap Nayla ringan.

Arkan mengendus tangannya sendiri.

Lalu tersenyum kecil.

“Kakak...”

“Hmm?”

“Arkan nggak bau lagi kan?”

Nayla menahan tawa, lalu menggeleng.

“Nggak. Sekarang Arkan wangi.”

Arkan terlihat lega.

Ia langsung memeluk Nayla tanpa ragu.

Nayla sempat terkejut, lalu tersenyum dan membalas pelukannya.

“Terima kasih, Kak...”

Pelan. Tapi tulus.

Arkan tiba-tiba mendekat, lalu mengendus Nayla dengan serius. Matanya menatap tajam, seolah sedang menilai sesuatu.

“Kakak... bau,” ucapnya, lalu tertawa kecil mengejek.

Nayla langsung menoleh cepat.

“Apa kamu bilang?”

Arkan hanya menyeringai.

Nayla bersedekap dada, pura-pura ngambek.

“Kalau begitu, nggak usah dekat-dekat Kakak,” ucapnya jutek.

“Kakak pergi saja.”

Nayla benar-benar melangkah hendak pergi.

Namun—

Arkan buru-buru memeluk kaki Nayla.

“Kakaaak...” rengeknya, sambil mendongak dengan mata berkaca-kaca ala puppy eyes.

Nayla berusaha menahan ekspresi. Wajahnya dibuat tetap datar, meski sudut bibirnya mulai bergetar.

“Hm? Katanya Kakak bau?”

Arkan menggeleng cepat.

“Nggak... wangi...” ralatnya buru-buru.

Nayla tak tahan lagi.

Tawanya pecah begitu saja.

“Hahaha...”

Arkan ikut tertawa, memeluk kaki Nayla semakin erat.

Suasana kembali hangat, dipenuhi tawa kecil yang sederhana—namun terasa begitu dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!