“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Efek Samping dan Keangkuhan yang Terusik
Keheningan pekat seketika menyergap ruang tengah begitu pintu kamar di lantai atas tertutup rapat. Narendra masih berdiri mematung di sisi sofa, tatapannya terpaku pada anak tangga teratas tempat Alika baru saja menghilang. Perlahan, jemarinya menyentuh kerah kemeja putih yang kini ternoda bercak merah keunguan. Ada panas yang mendidih di dadanya—bukan rasa bersalah, melainkan harga diri yang terkoyak hebat.
Sejak awal pernikahan mereka, Narendra selalu menjadi pusat gravitasi. Kesepakatan open marriage yang ia ajukan dua tahun lalu diterima Alika dengan kepatuhan yang membisu, tanpa drama maupun air mata di hadapannya. Narendra mengira ia telah menjinakkan wanita itu sepenuhnya. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Alika melemparkan aturan itu tepat ke wajahnya dengan ketenangan yang mematikan.
Narendra mendengus rendah. Ia merenggut kemejanya dengan gerakan kasar hingga satu kancingnya terlepas dan menggelinding di atas lantai marmer. Pria itu melemparkan kain putih mahal tersebut ke dalam keranjang pakaian kotor dengan kilat kemarahan yang menyala di matanya.
"Urusan pribadi?" desis Narendra pada kegelapan di dalam kamar mandinya.
Egonya yang setinggi langit terusik hebat. Selama ini, ia tahu persis ke mana Alika pergi, apa yang istrinya lakukan, dan dengan siapa dia bicara. Seluruh hidup Alika seolah hanya berputar di antara Artha Group dan rumah mereka di Menteng. Namun, kebohongan Alika hari ini mengenai lembur kantor menciptakan sebuah celah ketidaktahuan yang membuat Narendra merasa kehilangan kendali. Sifat posesifnya yang purba sebagai seorang penguasa mulai menggeliat, menolak kenyataan bahwa ada bagian dari hidup istrinya yang kini sengaja disembunyikan darinya.
Di balik pintu kamar yang terkunci, Alika meluruhkan tubuhnya. Napasnya memburu, bukan karena gejolak emosi setelah menghadapi Narendra, melainkan karena rasa nyeri yang tiba-tiba menghantam ulu hatinya bagai diremas oleh tangan besi.
Obat anti-radang dosis tinggi dari dr. Raditya yang ia telan setengah jam lalu sebelum sempat menyantap makan malam yang layak, mulai bekerja dengan agresif. Perutnya terasa seperti terbakar, memicu rasa mual hebat yang naik hingga ke tenggorokan.
Alika merangkak perlahan menuju kamar mandi, mencengkeram pinggiran wastafel, dan menumpahkan cairan lambungnya yang terasa pahit. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi pelipis serta tengkuknya, melunturkan sisa-isanya bedak tebal yang melekat di wajah. Di bawah sorot lampu wastafel yang terang, ruam kemerahan di pipinya tampak menyala, kontras dengan bibirnya yang mendadak membiru.
"Sakit..." bisik Alika lirih, air matanya menetes satu per satu ke dalam wastafel.
Ia teringat ucapan dr. Raditya: "Obat ini cukup keras... musuh terbesar Anda adalah stres emosional."
Alika tersenyum getir di tengah rasa sakitnya. Bagaimana mungkin ia tidak stres jika setiap sudut rumah ini adalah pemicu racun bagi jiwanya? Dengan sisa tenaga yang ada, ia berkumur, membersihkan wajah, lalu berjalan limbung menuju tempat tidur. Ia meringkuk di atas kasur sembari memeluk perutnya yang masih terasa melilit, mengabaikan fakta bahwa suaminya mungkin tidak akan sudi menginjakkan kaki di kamar ini karena amarah.
Keesokan paginya, ruang makan kediaman Pradipta diselimuti suasana mencekam. Kepala pelayan dan dua orang juru masak bergerak dengan sangat senyap, tidak berani menimbulkan denting piring sekecil apa pun karena menyadari aura dingin yang memancar dari tubuh sang tuan rumah.
Narendra duduk di ujung meja panjang, membaca koran bisnis digital di tabletnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Penampilannya sudah kembali sempurna dengan setelan jas abu-abu gelap yang kaku.
Langkah kaki ringan terdengar menuruni tangga. Narendra tidak mendongak, namun matanya melirik dari balik layar tablet saat Alika berjalan menuju meja makan.
Wanita itu mengenakan blus sutra lengan panjang berwarna putih gading yang menutup seluruh pergelangan tangannya. Wajahnya kembali tampak tanpa cela. Make-up tebal dengan teknik contouring yang rapi berhasil menutupi bengkak di bawah mata akibat muntah semalam, dan lipstik merah klasiknya kembali terulas sempurna. Topeng Nyonya Pradipta yang tangguh telah terpasang kembali.
Alika duduk di kursinya, hanya mengambil sepotong roti gandum panggang dan segelas air putih hangat. Ia tidak berani menyentuh teh atau kopi karena lambungnya masih terasa sensitif.
Narendra meletakkan tabletnya di atas meja dengan bunyi klak yang sengaja ditekankan. Ia menatap istrinya lekat-lekat, mencoba mencari celah retak pada topeng di hadapannya.
"Hari ini jadwal audit internal untuk divisi humas," Narendra membuka suara dengan nada datar namun penuh tekanan. "Saya minta semua berkas dari kuartal lalu sudah siap di meja saya sebelum makan siang."
"Semua berkas sudah disortir oleh Murni sejak kemarin sore, Mas. Jam sembilan nanti akan langsung dikirim ke sekretariat Anda," jawab Alika tenang, suaranya terdengar profesional tanpa ada nada dendam dari kejadian semalam.
Narendra menyipitkan mata. Ketenangan Alika justru membuat rasa penasarannya semakin membakar. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit, menumpu kedua tangan di atas meja. "Mengenai urusan pribadimu kemarin... saya harap itu tidak mengganggu kinerjamu di kantor. Artha Group tidak menggaji orang untuk membawa urusan domestik ke dalam ruang kerja."
Alika menghentikan gerakannya yang hendak menyuap roti. Ia menatap Narendra, matanya yang jernih memantulkan bayangan pria angkuh yang masih mengira dunia ini berputar hanya demi kepentingannya. Rasa perih di lambungnya kembali menyengat, namun Alika menahannya dengan senyuman tipis yang sangat dingin.
"Anda tidak perlu khawatir, Pak Narendra," ucap Alika, beralih menggunakan panggilan formal yang seketika membuat rahang Narendra mengeras. "Saya tahu batasan profesionalitas saya. Urusan pribadi saya... sama sekali tidak akan mengotori nama baik perusahaan Anda."
Alika bangkit dari kursinya, meninggalkan rotinya yang baru tergigit sedikit. Namun, saat ia berdiri, lututnya mendadak lemas dan tangannya yang memegang gelas air putih hangat gemetar hebat. Gelas kristal itu bergetar, membuat air di dalamnya beriak dan memercik ke atas meja.
Narendra menangkap detail kecil itu. Matanya langsung terkunci pada tangan Alika yang bergetar. Kilat kecurigaan baru mendadak melintas di benak sang CEO. Di dalam kepalanya yang dipenuhi keangkuhan dan ego, getaran tangan Alika tidak diterjemahkan sebagai tanda sakit fisik, melainkan sebagai tanda kegugupan seorang istri yang sedang menyembunyikan sebuah kebohongan besar.
Narendra berdiri, bersiap untuk mencengkeram pergelangan tangan Alika dan menuntut jawaban. Namun, ponsel di saku jasnya berdering keras—panggilan penting dari komisaris utama yang tidak bisa diabaikan. Narendra menatap Alika dengan pandangan mengancam sebelum akhirnya mengangkat telepon dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
Alika menarik napas perlahan setelah punggung Narendra menghilang. Ia mencengkeram tangannya yang gemetar, memasukkannya ke dalam saku blazer untuk menyembunyikan kelemahannya. Ia tidak menyadari bahwa kecurigaan Narendra yang keliru pagi ini justru akan menjadi bahan bakar bagi konflik yang jauh lebih besar di antara mereka.