Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Di Balik Pintu Itu
Pagi hari sebelum Perpustakaan Awan di buka langit masih abu-abu.
Wei Mou Sha tiba di gerbang Sekte Bunga Abadi dua puluh menit lebih awal.
Murid penjaga pagi ini berbeda dari yang kemarin, seorang perempuan muda yang menatapnya dengan ekspresi yang hormat, kemungkinan sudah diberitahu oleh penjaga sebelumnya tentang tamu yang mungkin datang pagi-pagi.
"Senior Lian belum keluar. Mau menunggu di dalam atau di luar?"
"Di luar."
Wei Mou Sha duduk di anak tangga batu di sisi gerbang.
Menunggu.
Lian Zhu Yue akhirnya keluar dua belas menit kemudian. Ia melihat Wei Mou Sha duduk di anak tangga dan berhenti sebentar.
"Kamu sudah lama menunggu di sini."
"Dua belas menit."
"Aku bilang datang sebelum Perpustakaan Awan di buka. Bukan dua belas menit sebelum aku keluar."
"Tidak ada perbedaan yang signifikan."
Lian Zhu Yue menatapnya dengan ekspresi aneh.
"Mari," katanya, dan mulai berjalan ke arah atas kota.
Wei Mou Sha berdiri dan mengikutinya.
Jalan menuju Perpustakaan Awan berbeda dari jalan-jalan lain di Wanhua.
Jalan disini lebih sempit di beberapa bagian, dengan batu-batu yang lebih tua dan tidak serapi jalan utama. Tapi ada pohon-pohon di kedua sisinya yang sudah cukup besar untuk menahan cahaya matahari yang membuat udara disini sangat sejuk.
Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang tidak terlalu dekat maupun tidak terlalu jauh.
Lian Zhu Yue tidak langsung berbicara. Wei Mou Sha juga sama.
Dua menit pertama berlalu dengan diam dan tiba tiba Lian Zhu Yue berbicara.
"Kamu bermimpi lagi semalam," kata Lian Zhu Yue akhirnya.
"Kamu bisa merasakan itu dari jauh?"
"Kalau segel yang bereaksi cukup kuat ya. Tidak detail, hanya seperti riak di permukaan air." Lian Zhu Yue memegang kipasnya lebih erat sebentar. "Kali ini lebih kuat dari sebelumnya."
"Hampir terdengar penuh."
"Apa?"
"Kalimat dalam mimpi itu." Wei Mou Sha berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Sebelumnya hanya satu kata dalam bahasa yang tidak kukenali. Semalam hampir satu kalimat. Tapi aku terbangun sebelum selesai."
Lian Zhu Yue berjalan beberapa langkah dalam diam.
"Bahasa yang tidak kamu kenali tapi terasa seperti seharusnya kamu kenali," katanya akhirnya.
"Ya."
"Di Sekte Bunga Abadi ada catatan tentang fenomena seperti itu," kata Lian Zhu Yue pelan. "Kultivator yang jiwa mereka punya lapisan lebih dari satu, bukan perpecahan jiwa, tapi lebih seperti jiwa yang pernah menempuh lebih dari satu perjalanan. Dalam kondisi tertentu, lapisan yang lebih dalam mulai berkomunikasi ke lapisan yang lebih luar melalui mimpi."
Wei Mou Sha memproses ini. "Dan bahasa yang tidak dikenali tapi terasa familiar adalah cara lapisan yang lebih dalam berkomunikasi."
"Itu teorinya."
"Teori yang didukung oleh apa?"
"Empat kasus dalam catatan sekte selama dua ratus tahun terakhir." Lian Zhu Yue menoleh sebentar. "Tidak banyak. Dan setiap kasusnya berbeda cukup signifikan."
Wei Mou Sha menyimpan semua ini.
"Dari empat kasus itu—apa yang terjadi akhirnya?"
Lian Zhu Yue tidak langsung menjawab.
Jeda yang cukup panjang untuk Wei Mou Sha menyadari bahwa jawabannya tidak sederhana.
"Dua di antaranya berhasil mengintegrasikan lapisan-lapisan jiwa mereka dan menjadi kultivator yang melampaui batas tingkat mereka sebelumnya." Ia berhenti sebentar.
"Satu tidak berhasil, jiwa berlapis yang tidak diintegrasikan dengan benar bisa menjadi konflik internal yang tidak bisa diselesaikan. Yang keempat... catatannya tidak selesai. Kami tidak tahu apa yang terjadi padanya."
keheningan terjadi di antara mereka selama beberapa langkah.
"keterangan yang tidak menggembirakan," kata Wei Mou Sha.
"Empat kasus terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan keterangan yang akurat."
"Benar."
"Tapi," kata Lian Zhu Yue, nadanya sedikit berubah, "dua dari empat adalah hasil yang baik. Dan kondisimu berbeda dari keempat kasus itu dengan cara yang belum bisa kita pahami sepenuhnya."
"Berbeda lebih baik atau lebih buruk?"
"Belum tahu."
Wei Mou Sha mengangguk. Jawaban yang jujur selalu lebih berguna dari jawaban yang menenangkan.
Mereka tiba di gerbang Perpustakaan Awan saat matahari baru saja cukup rendah untuk cahayanya menyentuh halaman depan bangunan itu secara langsung.
Perpustakaan Awan dari dekat lebih besar dari yang terlihat di bawah kota, sebuah bangunan yang tumbuh bersama bukit di belakangnya, setengah membangun ke atas dan setengah menggali ke dalam batu, dengan menara-menara kecil di setiap sudut yang puncaknya hampir menyentuh garis kabut pagi.
Dua penjaga di gerbang sudah memegang daftar pemenang turnamen.
Mereka berdua akhirnya masuk tanpa hambatan.
Di dalam, Perpustakaan Awan berbeda dari semua tempat penyimpanan pengetahuan yang Wei Mou Sha bayangkan.
Bukan baris-baris rak buku yang rapi. Lebih seperti labirin yang tumbuh, lorong-lorong yang berbelok mengikuti bentuk batu asli bangunannya, dengan gulungan dan lempengan dan benda-benda yang tidak punya nama.
Cahaya di dalam berasal dari bola-bola qi yang melayang di langit-langit dengan ketinggian yang berbeda-beda, memberikan pencahayaan yang tidak seragam tapi terasa lebih hidup dari lampu minyak biasa.
Dan di udara, ada sesuatu yang terasa seperti banyak percakapan yang berlangsung sekaligus tapi tidak bisa didengar dengan telinga biasa.
Segel di dada Wei Mou Sha berdenyut saat ia melewati pintu masuk.
"Kamu merasakannya," kata Lian Zhu Yue di sebelahnya
"Ya."
"Bagus atau buruk?"
Wei Mou Sha mempertimbangkan. "Bukan keduanya. Lebih seperti dikenali."
Lian Zhu Yue mengangguk pelan, seperti itu adalah jawaban yang ia harapkan sekalipun tidak yakin.
Mereka menghabiskan dua jam di Perpustakaan Awan.
Lian Zhu Yue memandunya melalui bagian-bagian yang bisa diakses dengan izin turnamen, catatan teknik kultivasi dari berbagai era yang tersimpan dalam lempengan giok, gulungan berisi sejarah sekte-sekte yang sudah tidak ada lagi.
Wei Mou Sha mengamati semuanya dengan cara yang sama, ia mengamati segala sesuatu dengan seksama, tidak terburu-buru, menyimpan apa yang terasa penting.
Tapi ada satu sudut yang membuat langkahnya berhenti lebih lama dari yang lain.
Di sisi barat bangunan, di ujung lorong yang agak lebih sempit, ada sebuah pintu.
Pintu kayu tua yang sama dengan dinding di sekitarnya, dengan ukiran yang hampir tidak terlihat di permukaan yang sudah menggelap karena usia. Tapi di sekelilingnya ada aliran qi yang berbeda dari bagian lain perpustakaan, lebih padat, lebih terstruktur, dengan lapisan yang terasa seperti pernah ia rasakan sebelumnya tapi tidak bisa langsung ia identifikasi di mana.
Segel di dadanya berdenyut panjang saat ia berdiri di depan pintu itu.
"Ini," kata Wei Mou Sha.
"Ya." Lian Zhu Yue berdiri di sebelahnya. "Ini bagian yang membutuhkan resonansi jiwa."
Wei Mou Sha mengangkat tangannya dan meletakkannya di permukaan kayu pintu itu.
Dingin. Lebih dingin dari suhu ruangan yang sudah cukup sejuk. Dan di bawah telapak tangannya, ada sesuatu yang berdenyut di dalam kayu, bukan qi biasa, tapi sesuatu yang terasa seperti qi yang sudah tersimpan selama waktu sangat panjang sampai berubah sifatnya menjadi lebih seperti memori daripada energi.
Segel di dadanya merespons.
Ini yang dicari, pikirnya.
Mereka keluar dari Perpustakaan Awan saat matahari sudah cukup tinggi.
Di gerbang, Lian Zhu Yue mengajukan formulir untuk pemeriksaan resonansi jiwa.
Penjaga membaca formulirnya, menatap Wei Mou Sha kemudian kembali ke formulir.
"Pemeriksaan resonansi untuk bagian Pra-Pemisahan Alam?" Nada yang tidak menyembunyikan bahwa ini permintaan yang tidak biasa.
"Ya," kata Lian Zhu Yue.
Penjaga menulis sesuatu, membubuhkan cap, dan mengembalikan separuh formulir itu.
"Hasilnya dalam empat sampai enam jam. Kalau disetujui, jadwal pemeriksaan akan dikirim ke tempat tinggal pemohon hari ini."
Di jalan pulang, mereka berjalan dengan arah yang sama. Wei Mou Sha berjalan di sebelah Lian Zhu Yue.
"Kamu akan kembali ke sekte setelah ini?" tanya Wei Mou Sha.
"Ada beberapa hal yang perlu kuselesaikan." Lian Zhu Yue menatap ke depan. "Kenapa?"
"Tidak kenapa kenapa."
Lian Zhu Yue menoleh sebentar.
"Paviliun Tiga Angin," katanya. "Kalau kamu tidak ada keperluan sampai konfirmasi dari Perpustakaan Awan, datang kesana."
"Kamu mengundangku."
"Aku menyebutkan sebuah lokasi."
"Dengan konteks yang menunjukkan bahwa kamu akan ada di sana."
Lian Zhu Yue tidak menyangkal itu.
Mereka akhirnya sampai di persimpangan.
"Satu jam aku kesana" kata Lian Zhu Yue. "Aku perlu membereskan beberapa hal dulu."
Ia berjalan ke kanan tanpa menunggu jawaban.
Wei Mou Sha berdiri di persimpangan itu.
Berjalan ke kiri ke penginapannya, Menunggu konfirmasi Perpustakaan Awan. Bermeditasi. Memeriksa segel.
Tapi kakinya tidak langsung bergerak ke kiri.
Satu jam.
Lima puluh delapan menit kemudian, Wei Mou Sha duduk di meja sudut Paviliun Tiga Angin dengan secangkir teh yang sudah dipesan lebih dahulu.
Meja yang sama. Kursi yang membelakangi dinding. Pandangan ke seluruh ruangan.
Lian Zhu Yue masuk tepat dua menit setelahnya, dan langsung berjalan ke meja sudut tanpa melihat ke tempat lain, seperti sudah tahu.
Kemudian memesan tehnya dan duduk.
"Sudah ada konfirmasi?" tanya Lian Zhu Yue setelah tehnya datang.
"Belum. Mereka bilang empat sampai enam jam."
"Masih tiga jam lagi setidaknya."
"Ya."
Lian Zhu Yue memutar cangkirnya perlahan. "Apa yang kamu rasakan saat menyentuh pintu itu?"
Wei Mou Sha memikirkan cara mendeskripsikannya dengan akurat.
"Seperti sesuatu di dalam segel tahu apa yang ada di balik pintu itu sebelum aku tahu." Ia berhenti sebentar. "Seperti ingatan yang bukan milikku tapi tersimpan di tempat yang seharusnya menjadi milikku."
Lian Zhu Yue mendengarkan tanpa menyela.
"Dan ada sesuatu yang bergerak ke arah pintu itu," lanjut Wei Mou Sha. "Dengan cara yang tidak bisa kuhalangi bahkan kalau aku mau."
"Tapi kamu tidak mau menghalanginya."
Wei Mou Sha menatapnya. "Bagaimana kamu tahu?"
"Karena kalau kamu mau, kamu tidak akan mengajukan formulir pemeriksaan itu bersamaku hari ini." Lian Zhu Yue mengangkat cangkirnya.
Wei Mou Sha duduk dengan kalimat itu.
Mereka duduk selama hampir dua jam di Paviliun Tiga Angin.