Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Jangan sok ngatur hidup saya Tuan Arga, pernikahan kita hanya kontrak seperti yang Anda inginkan!" Kartini kali ini benar-benar emosi. Selama ini Arga selalu berkata yang menyakitkan hatinya, tapi Kartini tidak pernah ambil hati. Namun, sikap Arga semakin menguji kesabaran.
"Tapi tindakkan kamu itu bisa mencurigakan Ibu, tahu tidak!" Arga membanting jas di pinggir tempat tidur. "Pakai acara ajak boncengan Kenzo padahal kamu tahu, Kenzo itu tidak bisa dipercaya!" Arga pun tak kalah emosi.
"Anda itu tidak lebih baik dari Kenzo, ngaca dulu sebelum nge-judge orang lain!" tuding Kartini tanpa ampun.
"Aagghhh... masa bodo! Loe mau menilai gue seperti apa! Tapi loe harus jaga sikap!" Arga menyerang balik, ia marah dikatakan tidak lebih baik dari Kenzo.
"Saya harus menjaga sikap? Hahaha! Kok kedengerannya menggelikan sekali ya..." Kartini tertawa sumbang.
"Apapun yang Anda perintah, kapan saya pernah membantah? Tidak pernah bukan? Sementara kamu sendiri apa?! Dengan tidak tahu malunya mesra-mesraan di depan karyawan, di depan adikmu sendiri, tapi saya harus pura-pura menjadi istri yang sesungguhnya di depan keluargamu, apa ini adil?!" Kartini menekan dada Arga yang tidak bergerak itu dengan telunjuk.
"Lagi pula tidak ada yang aneh ketika saya berboncengan dengan Kenzo! Hanya duduk tidak menyentuhnya."
"Munafik!" Ujar Arga lalu melengos hendak ke kamar mandi.
"Tunggu! Siapa yang munafik?!" Kartini menghalangi langkah Arga, matanya merah dikatakan munafik.
"Kamu yang munafik, pacaran sama tetangga selama dua tahun, tapi ngaku tidak pernah dicium. Mana ada di jaman sekarang seperti itu?!" Arga merasa punya senjata, karena sering mendengar percakapan Kartini dengan Teguh di telpon.
"Hallo... jangan ngarang ya, selama ini kami LDR ran. Seandainya berdekatan pun saling menjaga! Selama ini memang saya belum ada pria yang menyentuh selain kamu!" Jujur Kartini, tapi Arga justru tertawa lebar.
Pertengkaran sengit pun terjadi, kali ini keduanya benar-benar emosi. Kemarahan Kartini dari dalam hati, bukan hanya di mulut seperti biasanya. Berakhir dengan pintu kamar mandi yang Arga banting dengan keras.
"Dasar pria egois!" Ucap Kartini menatap pintu kamar mandi yang sudah ditutup. Kartini pun keluar dari kamar itu dengan hati dongkol.
Lima belas menit kemudian, Arga sudah selesai mandi, tapi tidak ada Kartini di kamarnya. "Kemana si gembul," batin Arga mencari keberadaan Kartini. Tidak biasanya. Jas, kemeja, dan celana bahan itu berlama-lama di tempat tidur, secepatnya Kartini bawa ke mesin cuci. Namun, wanita itu sengaja mengabaikan.
"Paling juga si gembul itu sedang menyiapkan makan malam," Arga yakin dalam waktu 10 atau lima menit ke depan, Kartini yang tidak pernah marah itu kembali ke kamar memanggilnya untuk makan malam seperti biasanya.
Arga meletakkan jas di karpet lalu merebahkan tubuhnya di kasur sembari main handphone. Lima menit, sepuluh menit, hingga 30 menit jam berjalan, perut Arga sudah keroncongan tapi Kartini tidak juga memanggilnya.
Arga menatap jam dinding sudah menunjuk angka 8 lewat 30 menit. "Yah, sudah tiba waktu jam diet ini sih!" Arga pun keluar kamar sambil menggerutu.
Ketika menuruni anak tangga terdengar suara televisi, ia sudah hafal benar jika jam segini bibi sedang menonton sinetron kesukaan.
Dengan langkah pasti, Arga menuju meja makan membuka penutup saji. Namun kosong, tidak ada hidangan apapun di atas meja selain kerupuk dalam toples.
Tak!
Arga menjatuhkan penutup saji dengan sedikit membanting hingga berbunyi nyaring.
"Den Arga mau makan? Bibi siapkan ya," bibi yang mendengar suara itu segera mendekati Arga.
"Memang Tini tidak memasak Bi?" Arga tentu tidak selera masakan bibi yang selalu kemanisan, kadang keasinan, bahkan hambar.
"Tadi Kartini masak untuk Den Arga, tapi karena Kartini pikir Den Arga sudah makan di luar, jatah Den Arga dibawa Nyonya pulang. Untuk Ayah Aden katanya," papar bibi.
"Sekarang Tini kemana Bi?" Arga mengedarkan pandanganya ke ruang tamu dan ruang keluarga tapi sepi.
"Saya pikir di kamar Den Arga, berarti di kamar Tuan Chandresh," bibi hendak mencari Kartini ke kamar kakek tapi Arga mencegah.
"Biar saya saja," pungkasnya sembari berjalan menuju kamar kakek. Dia buka pintu kamar kakek perlahan-lahan. Yang pertama ia perhatikan adalah tempat tidur yang biasanya Kartini gunakan untuk istirahat, tapi wanita bertubuh kurus yang mengisi ranjang itu.
"Yang tidur di tempat itu Mbak Milah, terus kemana si gembul?" Arga hendak menutup pintu tapi suara berat menyapa.
"Ada apa Arga?"
"Aku mau menjenguk Kakek, karena sepi saya pikir Kakek sudah tidur," Arga pun akhirnya punya alasan.
Dahi kakek berkerut, karena selama ini cucunya itu tidak pernah ke kamarnya lewat dari jam 8 malam, tapi kakek pikir ketika Itu Arga risi kepada Kartini. Kakek Chandresh akhirnya menyuruh masuk, karena sekarang Kartini sudah menjadi istrinya tentu cucunya tidak akan ragu lagi masuk ke kamarnya kapan saja.
Mbak Milah yang baru lima menit merebahkan diri, melihat Arga dan kakek ngobrol ia membungkukkan badan lalu keluar.
"Istrimu sudah tidur?" Tanya Kakek menyelidik.
"Belum Kek," Arga tidak mengatakan jika ia sedang mencarinya
"Kalian tidak sedang bertengkar bukan?" Tanya kakek mengejutkan Arga.
"Ya tidaklah Kek," Arga membantah dengan ekspresi terkejut. Jika kakeknya tahu ia bertengkar dengan Kartini urusannya akan panjang karena kakek pasti akan memarahinya.
"Syukurlah, soalnya waktu makan malam tadi Kakek melihat istrimu selalu murung, makan hanya sedikit, sepertinya ada yang dia pikirkan."
Arga tidak menjawab lagi ketika mendengar pemaparan kakeknya, lalu pamit keluar mencari Kartini ke kamar tamu, kamar ibunya, dapur pun gelap, dan yang terakhir teras belakang rumah yang biasanya Kartini jadikan tempat untuk menyendiri. Namun, hanya angin malam yang berhembus membuat suasana semakin sepi.
"Lah, paling juga dia lagi ngumpet dan ngadu lewat telepon sama pacarnya di kampung halaman," gumam Arga lalu hendak kembali ke kamar. Ketika melewati ruang keluarga sudah tidak ada bibi. Sebenarnya ia bisa saja bertanya kepada Milah di mana Kartini, tapi pria itu gengsi.
"Nanti kalau Milah cerita kalau gue mencari Kartini, bisa-bisa si gembul itu merasa dibutuhkan lagi," batinya sembari naik ke lantai dua.
Arga pun merebahkan tubuhnya, tangannya meraih handphone yang ia tinggalkan di tempat tidur tadi. Malam ini tidak ada pesan maupun telepon dari Nadine karena seharian tadi ia bersamanya. Tidak ada yang bisa ia lakukan bila sedang boring time selain main game untuk menghibur diri.
Tidak terasa waktu sudah jam 11 malam, Arga menoleh ke karpet, tapi wanita yang biasanya sudah tidur dengan gaya aneh itu kini belum ada.
"Kemana dia? Kalau aku telepon, apa dia nanti tidak gede rasa?" Tanya Arga dalam hati. Telpon tidak, telepon tidak? Batin Arga berperang dan pada akhirnya mencari nama Si Gembul.
Tuuut... tuuut... tuuut...
Deerttt... deerttt... deerttt...
"Kampret!" Arga mengumpat ketika handphone Kartini yang ia hubungi berada di pinggir bantal ujung karpet.
"Apa mungkin dia kabur dari sini?" Arga panik. Jika Kartini benar-benar kabur besok pagi akan kena marah kakek. Arga pun bangun dari tempat tidur ambil jaket di lemari, setelah memasang di badan, ambil kunci motor. Tepat tengah malam itu ia memutuskan untuk mencari Kartini. Motor besarnya menembus dinginnya malam entah mau mencari kemana.
Plak! Plak! Plak!
"Kok tumben kamar bos banyak nyamuk, sih?" Wanita yang Arga cari bangun dari tidurnya masih setengah bermimpi menggeplak nyamuk di betis dan paha mulusnya.
"Hoaaammm..." Dia angop keras-keras karena sedang kantuknya nyamuk mengganggu tidurnya, angin malam terasa menembus pori-pori lalu meraba selimut di sebelah. Namun, tidak menemukan benda itu kemudian membuka mata.
Rembulan bersinar begitu terangnya seketika ia sadar sedang tidak tidur di kamar. "Ya ampun... aku ketiduran di balkon rupanya," gumamnya sembari bangkit dan masuk ke dalam kamar. Ia melirik tempat tidur Arga tapi kosong.
"Kemana pria bawel dan pemarah itu? Paling juga melanjutkan pacaran ke rumah Nadine. Emang gue pikirin. Tidur lagi ahh..." Kartini melanjutkan tidur di karpet tidak lama kemudian pulas.
Tepat jam tiga pagi Arga membuka pintu kamar, lalu masuk dengan wajah lelah. Ia menata hati dan pikiran esok ketika matahari belum terbit kakek pasti akan marah kepadanya karena mencari Kartini tidak ada di rumah ini. Entah bagaimana ia harus menjawab pertanyaan Kakek.
Ngerrr... Ngerrr... Ngerrr...
"Kok seperti mendengar ngoroknya si gembul? Tidak mungkin. Gue sudah gila," Arga pikir karena terlalu memikirkan wanita itu hingga pagi ini terngiang-ngiang.
Arga berjalan ke tempat tidur, seketika kaget, kesal, emosi menjadi satu. Ketika tatapan matanya tertuju ke arah karpet. Dia pusing tujuh keliling mencarinya tapi ternyata orang itu benar-benar ngorok. Posisi kaki diangkat ke atas tempat tidurnya. Arga mendelik gusar. "Jadi gue mencari selama 4 jam ternyata orang yang gue cari tidur begitu nyenyaknya? Dasar kampreeeeettttt...."
...~Bersambung~...
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭